Menghitung Digit HP Baru, Menakar Harga Sapi: Sebuah Renungan tentang Ego dan Kesadaran Berqurban

 


Pernahkah kita mendadak jadi ahli matematika yang sangat sensitif ketika menjelang Hari Raya Idul Adha?

Saat melihat brosur harga hewan qurban, kalkulator di kepala kita langsung bekerja aktif. "Wah, kambing sekarang tiga juta ya, sapi patungan sudah empat juta lebih. Lumayan juga ya..." Ada semacam rasa berat yang merayap di dada.

Namun uniknya, kalkulator yang sama sering kali mendadak "rusak" atau mati fungsi ketika kita sedang melihat-lihat gawai (HP) keluaran terbaru, memesan tiket liburan akhir tahun, atau memodifikasi kendaraan kesayangan. Angka jutaan rupiah mendadak terasa rasional, ringan, dan sangat bisa diusahakan.

Fenomena ini membawa kita pada satu pertanyaan reflektif: Apakah kita benar-benar belum mampu, atau kesadaran kita yang belum sampai ke sana?

Bukan Soal Isi Dompet, tapi Soal Menundukkan Ego

Jika kita kembali menengok sejarah, ibadah qurban berakar dari ujian maha berat yang diterima oleh Nabi Ibrahim AS. Beliau diminta mengorbankan putra tercintanya, Ismail AS. Sebuah perintah yang secara logika manusia sangat menguras emosi dan air mata.

Namun, esensi dari ujian tersebut sejatinya bukanlah tentang merenggut nyawa, melainkan tentang kepasrahan total dan kerelaan menyembelih "ego" serta keterikatan duniawi yang berlebihan.

Tuhan tahu kita manusia biasa yang tidak akan sanggup jika diuji di level itu. Maka, syariat ini diturunkan dengan sangat membumi: objeknya diganti menjadi hewan ternak. Sebuah simbol yang sangat realistis untuk diusahakan.

Nabi Muhammad SAW memberikan pengingat yang cukup tegas bagi kita yang sebenarnya memiliki kelapangan rezeki namun sering kali absen karena alasan "belum siap". Beliau bersabda:

"Barangsiapa yang memiliki kelapangan (rezeki) namun tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Hadits ini bukan sekadar ancaman, melainkan sebuah sentilan keras bagi kesadaran kita. Sering kali, benteng terbesar yang menghalangi seseorang untuk berqurban bukanlah kemiskinan, melainkan rasa kikir dan prioritas hidup yang masih berputar pada kesenangan pribadi.

Yang Sampai ke Langit Bukan Dagingnya, tapi Getaran Niatnya

Di era digital seperti sekarang, tantangan berqurban tidak berhenti sampai pada urusan membeli hewannya saja. Setelah hewan terbeli, ego kita diuji lagi lewat penyakit hati yang bernama riya atau ingin dipuji.

Keinginan untuk mendokumentasikan hewan qurban yang paling besar, memamerkan harganya di media sosial, atau sekadar ingin dipandang sebagai orang dermawan oleh tetangga, sering kali menyelip tanpa kita sadari.

Padahal, dalam QS. Al-Hajj ayat 37, Allah SWT telah menegaskan dengan sangat indah:

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya."

Ayat ini adalah rem darurat bagi hati kita. Tuhan tidak melihat seberapa gemuk sapi yang kita beli secara fisik, atau seberapa riuh tepuk tangan orang saat nama kita disebut oleh panitia di masjid. Yang mendahului tetesan darah hewan itu sampai ke haribaan-Nya adalah keikhlasan dan rasa takwa yang bergetar di dalam dada kita.

Mengubah "Beban" Menjadi "Syukur"

Berqurban pada akhirnya adalah momen detox hati. Ia adalah cara paling konkret untuk bilang, "Terima kasih, ya Tuhan. Tahun ini saya masih diberi napas, kesehatan, dan rezeki yang cukup."

Ketika kita mengubah cara pandang dari "Duh, uangku berkurang tiga juta," menjadi "Alhamdulillah, tahun ini saya dititipkan rezeki untuk bisa berbagi bahagia dengan mereka yang jarang makan daging," maka seketika itu juga urusan "mengusahakan" hewan qurban akan terasa sangat ringan.

Ibadah ini adalah tentang pilihan. Mau terus menuruti ego yang tidak akan pernah ada habisnya, atau mulai menyisihkan sebagian kecil titipan-Nya demi mengetuk pintu langit dan merajut kepedulian di bumi.

Jadi, bagaimana dengan kalkulator kita hari ini? Sudah siapkah ia digunakan untuk menghitung investasi terbaik di akhirat nanti?

No comments

Abi. Powered by Blogger.