Tuberkulosis (TBC)
Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis (Sarifah, 2025; Rahmat, 2024). Bakteri ini bersifat aerobik, yang artinya mereka membutuhkan oksigen untuk tumbuh subur. Oleh karena itu, bakteri TBC paling sering menyerang organ paru-paru (TBC Paru).
Namun, TBC tidak hanya merusak paru-paru. Bakteri ini juga dapat menyebar melalui aliran darah atau sistem limfatik ke organ tubuh lain, seperti kelenjar getah bening, tulang, ginjal, hingga selaput otak. Kondisi ini dikenal sebagai TBC ekstra paru (Rahmat, 2024).
Epidemiologi
Secara global, TBC dikategorikan sebagai salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia yang menyebabkan jutaan kematian setiap tahunnya (Nyarko et al., 2021). Bahkan, penyakit ini menjadi salah satu penyebab kematian utama dari agen infeksius tunggal di seluruh dunia (Njoku, 2005; Bandgar, 2023).
Di Indonesia dan berbagai negara berkembang lainnya, beban kasus TBC masih sangat tinggi. Munculnya kasus multidrug-resistant TB (TB-MDR) atau Tuberkulosis Resisten Obat (TB-RO) menjadi tantangan epidemiologi baru yang semakin mempersulit upaya eliminasi TBC (Sarifah, 2025; Rahmat, 2024).
Penularan dan Gejala Umum
Bakteri TBC menyebar dengan sangat mudah melalui udara (airborne transmission). Ketika seorang penderita TBC paru aktif batuk, bersin, atau berbicara, percikan dahak kecil (droplet) yang mengandung bakteri akan terlepas ke udara dan dapat terhirup oleh orang di sekitarnya (Rahmat, 2024).
- Gejala utama yang harus diwaspadai meliputi:
- Batuk berdahak secara terus-menerus (biasanya berlangsung lebih dari 2–3 minggu).
- Batuk berdarah.
- Demam dan meriang yang hilang timbul.
- Berkeringat di malam hari tanpa melakukan aktivitas fisik.
- Penurunan berat badan dan nafsu makan secara drastis.
Pemeriksaan Diagnostik
Untuk memastikan apakah seseorang benar-benar terinfeksi bakteri TBC, tim medis akan melakukan serangkaian prosedur diagnosis (Amin, 2006; Agyeman & Ofori-Asenso, 2017):
1. Pemeriksaan Dahak Mikroskopis (BTA)
Metode klasik ini dilakukan dengan mengambil sampel dahak (sputum) pasien selama dua kali (biasanya Sewaktu-Pagi atau Pagi-Pagi). Dahak tersebut kemudian diwarnai secara khusus dan diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat keberadaan Bakteri Tahan Asam (BTA) (Alisjahbana et al., 2020).
2. Tes Cepat Molekuler (TCM)
Merupakan standar emas baru yang direkomendasikan secara luas karena hasilnya sangat cepat dan akurat (Alisjahbana et al., 2020). Menggunakan teknologi berbasis DNA (seperti GeneXpert), tes ini tidak hanya mampu mendeteksi keberadaan bakteri Mycobacterium tuberculosis dalam hitungan jam, tetapi juga bisa langsung mendeteksi apakah bakteri tersebut sudah resisten (kebal) terhadap obat rifampisin atau belum (Sarifah, 2025).
3. Foto Rontgen Dada (Thorax)
Pemeriksaan radiologi ini digunakan untuk melihat gambaran visual kondisi paru-paru pasien. Dokter akan mencari tanda-tanda khas infeksi TBC, seperti adanya flek, lubang (kavitas), atau jaringan parut pada area paru bagian atas.
4. Diagnosis pada Anak (Sistem Skoring)
Mengingat anak-anak sering kali sulit mengeluarkan dahak, diagnosis TBC pada anak umumnya menggunakan pendekatan klinis yang disebut Sistem Skoring TBC Anak (Alisjahbana et al., 2020). Skor ini dinilai berdasarkan parameter seperti kontak dengan pasien TBC dewasa, uji tuberkulin (Mantoux test) yang positif, status gizi, demam, batuk kronis, serta pembengkakan kelenjar getah bening.
Penatalaksanaan dan Pengobatan TBC
Prinsip utama penatalaksanaan TBC adalah pemberian Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang adekuat, kombinasi, berkesinambungan, dan di bawah pengawasan langsung (Rahmat, 2024; Sari, 2021). Pengobatan yang berhasil tidak hanya menyembuhkan pasien, tetapi juga membatasi penyebaran infeksi lebih lanjut di masyarakat (Nyarko et al., 2021).
Berdasarkan status resistensi bakterinya, tatalaksana TBC dibagi menjadi dua kategori utama (Sarifah, 2025):
1. Tatalaksana TB Sensitif Obat (TB-SO)
Bagi pasien yang bakterinya masih sensitif terhadap OAT lini pertama, pengobatan standar WHO umumnya berlangsung selama 6 bulan (Rahmat, 2024; Sandhyarani & Swati, 2018). Rejimen pengobatan ini menggunakan kombinasi empat jenis obat utama untuk mencegah timbulnya resistensi (Rahmat, 2024; Sari, 2021) dan dibagi menjadi dua fase (Bandgar, 2023; Alisjahbana et al., 2020):
Fase Intensif (2 Bulan Pertama): Pasien meminum kombinasi empat obat sekaligus setiap hari, yaitu Isoniazid (INH), Rifampisin, Pirazinamid, dan Etambutol (atau ditambah Streptomisin pada kasus tertentu). Fase ini bertujuan untuk membunuh bakteri yang aktif secara cepat dan menurunkan risiko penularan.
Fase Lanjutan (4 Bulan Berikutnya): Pasien melanjutkan pengobatan dengan dua jenis obat utama, yaitu Isoniazid dan Rifampisin. Fase ini bertujuan untuk membunuh sisa-sisa bakteri yang tidur (dormant) agar pasien sembuh total dan tidak kambuh.
2. Tatalaksana TB Resisten Obat (TB-RO)
Jika pasien mengalami resistensi terhadap OAT lini pertama (akibat putus obat atau tertular bakteri yang sudah kebal), maka pasien harus menjalani pengobatan TB-RO menggunakan OAT lini kedua (Sandhyarani & Swati, 2018).
Tatalaksana TB-RO saat ini sudah lebih maju dengan memanfaatkan paduan obat oral tanpa suntikan (Rahmat, 2024). Berdasarkan rekomendasi terbaru, durasi pengobatannya terbagi menjadi dua skema (Rahmat, 2024):
- Paduan jangka panjang: Berlangsung selama 18–20 bulan.
Pentingnya Strategi DOTS (Direct Observation of Treatment): Karena durasi pengobatan TBC yang sangat lama, kepatuhan pasien adalah kunci utama. Strategi DOTS mewajibkan adanya Pengawas Menelan Obat (PMO), baik dari tenaga kesehatan maupun keluarga, untuk memastikan pasien meminum obatnya secara teratur tanpa terputus (Rahmat, 2024; Njoku, 2005).
Daftar Pustaka
- Agyeman, A. A., & Ofori-Asenso, R. (2017). Tuberculosis—an overview. Journal of Public Health and Emergency, 1.
- Alisjahbana, B., Hadisoemarto, P., Lestari, B. W., & Afifah, N. (2020). Diagnosis dan pengelolaan tuberkulosis untuk dokter praktik swasta. Universitas Padjadjaran.
- Amin, Z. (2006). Clinical tuberculosis problems and management. Acta Medica Indonesiana, 38(4), 224-229.
- Bandgar, H. R. (2023). Side effects of TB therapy and recent therapeutic approaches for tuberculosis management. Asian Journal of Pharmaceutical Research, 13(3), 163-168.
- Njoku, A. K. (2005). Tuberculosis: Current trends in diagnosis and treatment. Nigerian Journal of Clinical Practice, 8(2), 116-121.
- Nyarko, R. O., Prakash, A., Kumar, N., & Saha, P. (2021). Tuberculosis a globalized disease. Asian Journal of Pharmaceutical Research and Development, 9(4), 93-99.
- Rahmat, A. M. (2024). Faktor risiko kejadian tuberkulosis resisten obat (TB-RO) di RSUD Labuang Baji Makassar [Doctoral dissertation, Universitas Hasanuddin].
- Sandhyarani, R. R., & Swati, R. D. (2018). Tuberculosis: A review. Asian Journal of Pharmaceutical Research, 8(3), 185-190.
- Sari, M. (2021). Terapi tuberkulosis. Jurnal Medika Hutama, 3(1), 145-149.
- Sarifah, N. (2025). Gambaran pemetaan penyebaran pasien tuberkulosis sensitif obat dan tuberkulosis resisten obat di RSUD KRT. Setjonegoro Kabupaten Wonosobo [Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Magelang].
Leave a Comment