Efusi Pleura
| Gambar: Efusi Pleura |
Pernahkah Anda mendengar istilah "paru-paru basah"? Dalam dunia medis, salah satu kondisi yang sering dikaitkan dengan istilah awam ini adalah Efusi Pleura. Kondisi ini bukan merupakan penyakit tunggal yang berdiri sendiri, melainkan sebuah manifestasi atau komplikasi dari gangguan kesehatan lain yang sedang terjadi di dalam tubuh.
Mari kita bedah lebih dalam mengenai apa itu efusi pleura, seberapa sering kasus ini terjadi, apa penyebabnya, hingga bagaimana dokter menanganinya.
Apa Itu Efusi Pleura?
Secara anatomi, paru-paru kita dibungkus oleh dua lapis selaput tipis yang disebut pleura (pleura parietalis di dinding dada dan pleura viseralis yang menempel pada paru). Di antara kedua lapisan ini terdapat rongga kecil bernama rongga pleura (cavum pleura). Dalam kondisi normal, rongga ini berisi sedikit cairan yang berfungsi sebagai pelumas agar paru-paru dapat mengembang dan mengempis dengan mulus saat kita bernapas.
Efusi pleura adalah kondisi patologis ketika terjadi penumpukan atau akumulasi cairan yang berlebihan dan abnormal di dalam rongga pleura tersebut (Supriantarini & Afifah, 2025; Trihatmoko & Setiailani, 2025). Penumpukan ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara laju pembentukan cairan dengan laju penyerapan kembali oleh pembuluh darah kapiler dan sistem limfatik (Wahyuni, 2024; Clara, n.d.).
Epidemiologi: Seberapa Sering Ini Terjadi?
Meskipun data epidemiologi global bervariasi tergantung pada penyakit yang mendasarinya, efusi pleura merupakan salah satu masalah respirasi yang paling sering ditemui di ruang gawat darurat maupun bangsal perawatan rumah sakit. Kondisi ini dapat menyerang siapa saja, mulai dari usia muda hingga lansia.
Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, kasus efusi pleura sangat sering dikaitkan dengan infeksi paru-paru kronis. Sementara di negara maju, kasusnya lebih didominasi oleh penyakit kardiovaskular kronis dan keganasan (kanker).
Gejala dan Penyebab Umum
Ketika cairan mulai memenuhi rongga pleura, paru-paru akan tertekan dan tidak dapat mengembang secara maksimal (Loilatu, 2026). Akibatnya, pasien biasanya akan mengeluhkan gejala-gejala berikut:
- Nyeri dada pleuritik (nyeri tajam saat menarik napas dalam atau batuk).
Mengapa Cairan Bisa Menumpuk?
Berdasarkan jenis cairannya, penyebab efusi pleura umumnya dibagi menjadi dua kategori besar (Clara, n.d.; Fadila, 2022):
Efusi Pleura Transudatif: Terjadi akibat ketidakseimbangan tekanan hidrostatik dan osmotik (misalnya, tubuh kekurangan protein atau ada bendungan cairan). Penyebab paling sering adalah Gagal Jantung Kongestif, gangguan hati (sirosis), dan gagal ginjal.
Efusi Pleura Eksudatif: Terjadi karena peradangan atau kerusakan pada pleura itu sendiri yang meningkatkan permeabilitas kapiler. Penyebab utamanya meliputi infeksi bakteri seperti Pneumonia/Bronkopneumonia, Tuberkulosis (TB) paru, serta keganasan (kanker paru atau metastasis) (Supriantarini & Afifah, 2025; Trihatmoko & Setiailani, 2025).
Bagaimana Penatalaksanaan Efusi Pleura?
Penatalaksanaan efusi pleura bersifat multidisiplin dan memiliki dua tujuan utama: meringankan gejala sesak napas dengan mengeluarkan cairan, serta mengobati penyakit dasar yang memicu penumpukan cairan tersebut (Wahyuni, 2024; Sirait et al., 2025).
Berikut adalah beberapa metode penatalaksanaan medis yang umum dilakukan:
1. Manajemen Konservatif & Terapi Farmakologis
Jika volume cairan sangat sedikit dan pasien tidak mengeluhkan sesak napas yang mengganggu, dokter mungkin akan memilih pemantauan intensif sambil mengobati penyebab utamanya (Supriantarini & Afifah, 2025).
Antibiotik diberikan jika efusi disebabkan oleh pneumonia atau infeksi bakteri (Trihatmoko & Setiailani, 2025).
Obat Diuretik diberikan jika penyebabnya adalah gagal jantung untuk membantu membuang kelebihan cairan dalam tubuh.
2. Torakosentesis (Pungsi Pleura)
Tindakan ini dilakukan dengan cara menusukkan jarum khusus melalui sela iga ke dalam rongga pleura untuk menyedot cairan yang menumpuk (Supriantarini & Afifah, 2025). Selain untuk mengurangi sesak napas secara cepat, sampel cairan yang diambil akan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa (apakah termasuk transudat atau eksudat) guna menegakkan diagnosis pasti.
3. Pemasangan Selang Dada / WSD (Water Seal Drainage) atau Kateter Pleura
Untuk kasus di mana cairan sangat banyak atau terus-menerus berproduksi kembali, dokter akan memasang selang dada (chest tube) yang dihubungkan ke sistem WSD atau kateter pleura (Wahyuni, 2024; Salamba, 2022). Alat ini berfungsi untuk mengalirkan cairan keluar secara berkelanjutan agar paru-paru dapat kembali mengembang dengan optimal.
4. Pleurodesis
Pada kasus efusi pleura berulang, terutama yang disebabkan oleh penyakit keganasan (kanker), prosedur pleurodesis dapat dilakukan. Dokter akan memasukkan zat kimia khusus (seperti talk medis atau antibiotik tertentu) ke dalam rongga pleura untuk memicu peradangan sengaja, sehingga lapisan pleura saling menempel dan menutup rongga agar cairan tidak bisa menumpuk lagi (Hapipah & Kep, 2022).
5. Fisioterapi Dada dan Pengaturan Posisi
Selain tindakan medis, perawatan suportif non-farmakologis sangat penting. Pengaturan posisi tidur pasien seperti posisi Fowler atau Semi-Fowler (setengah duduk) terbukti efektif membantu melonggarkan jalan napas dan mengurangi sesak (Salamba, 2022). Fisioterapi dada juga diberikan untuk menjaga fungsi pernapasan tetap optimal (Sirait et al., 2025).
Kesimpulan
Efusi pleura adalah alarm dari dalam tubuh yang menandakan adanya gangguan kesehatan lain yang lebih serius. Kunci utama kesembuhan dari kondisi ini bukan sekadar mengeluarkan cairannya, melainkan menuntaskan penyakit yang menyebabkannya. Jika Anda atau orang terdekat mengalami sesak napas disertai nyeri dada yang tidak biasa, segera konsultasikan ke dokter spesialis paru untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
Daftar Pustaka
- Clara, F. R. H. (n.d.). Studi kasus: Asuhan keperawatan pasien dengan efusi pleura.
- Fadila, A. (2022). Asuhan keperawatan gangguan kebutuhan oksigenasi pada pasien efusi pleura di RS Bhayangkara Polda Lampung tahun 2022 [Doctoral dissertation, Poltekkes Tanjungkarang].
- Hapipah, N., & Kep, M. (2022). Asuhan sistem pernapasan, gangguan dan penatalaksanaan medis. Ilmu Keperawatan Medikal Bedah.
- Loilatu, F. (2026). Asuhan keperawatan pada pasien dengan diagnosa medis efusi pleura [Doctoral dissertation, Itskes Insan Cendekia Medika].
- Salamba, S. (2022). Analisis praktik klinik keperawatan pada pasien efusi pleura dengan intervensi positioning dan monitoring water seal drainase [Doctoral dissertation, Poltekkes Kemenkes Jayapura].
- Sirait, S. F. D., Tarigan, M., & Afriani, D. (2025). Asuhan keperawatan pada Tn. I dengan diagnosis medis efusi pleura di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik: Case report. Vitalitas Medis: Jurnal Ilmu Kesehatan, 2(1).
- Supriantarini, D., & Afifah, F. (2025). Efusi pleura: Literature review. Jurnal Biologi Tropis, 25(1). Jurnal FKIP Unram.
- Trihatmoko, F. M., & Setiailani, M. R. (2025). Seorang wanita usia 35 tahun dengan penyakit bronkopneumonia disertai efusi pleura: Laporan kasus. Proceeding Book Call for Papers. Proceedings UMS.
- Wahyuni, H. (2024). Kateter pleura pada efusi pleura jinak. Diagnosis: Jurnal Ilmiah Kesehatan, 2(2). OJS Institut NH.
Leave a Comment