Hantavirus: Jejak Epidemiologi dari Perang Korea hingga Indonesia


Hantavirus adalah kelompok virus zoonosis yang ditularkan melalui hewan pengerat (rodent). Virus ini dapat menyebabkan dua sindrom klinis utama pada manusia: Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS/HCPS). Epidemiologi hantavirus menunjukkan distribusi global dengan variasi manifestasi klinis sesuai wilayah endemik.

Sejarah dan Kronologi 

1950-an, Perang Korea: Ribuan tentara mengalami demam berdarah dengan sindrom ginjal. Inilah awal dikenalnya hantavirus sebagai penyebab HFRS (Lee & van der Groen, 1989). 

Asia & Eropa: HFRS banyak dilaporkan di Tiongkok, Korea, Rusia, dan Eropa Timur. Distribusi kasus sangat dipengaruhi oleh ekologi rodent lokal (Jonsson et al., 2010).

Amerika (1993): Wabah besar di Four Corners, Amerika Serikat, menandai munculnya HPS dengan mortalitas tinggi (Nichol et al., 1993).

Skandinavia: Bentuk ringan Nephropathia epidemica ditemukan di Eropa Barat, dengan prognosis baik (Clement et al., 1995).

Situasi di Indonesia

Penelitian serologis menunjukkan adanya paparan hantavirus di berbagai daerah. Ibrahim (2002) melaporkan prevalensi antibodi hantavirus pada manusia sehat berkisar 1,1%–28,9%, dengan angka tertinggi di Maumere. Hal ini menandakan hantavirus telah lama beredar di Indonesia, meskipun kasus klinis jarang terdokumentasi. Studi lain menegaskan ekologi rodent di pelabuhan dan pedalaman berperan besar dalam epidemiologi lokal (Wijayanti, 2009).

Reservoir dan Penularan

Hantavirus ditularkan melalui inhalasi partikel dari kotoran, urin, atau saliva rodent yang terinfeksi. Gigitan rodent juga dapat menjadi jalur penularan (Wijayanti, 2009). Reservoir utama berbeda sesuai wilayah:

  • Rattus norvegicus (Asia, Eropa)
  • Peromyscus maniculatus (Amerika Utara)
  • Myodes glareolus (Eropa)
  • Sigmodon hispidus (Amerika Selatan)

Setiap strain hantavirus biasanya beradaptasi dengan satu spesies rodent tertentu (Sironen et al., 2018).

Manifestasi Klinis

Berikut tanda dan gejala klinis yang bisa ditemukan pada beberapa sindrom yang diakibatkan oleh hantavirus:

  1. HFRS: Demam, nyeri kepala, hipotensi, oliguria, hingga gagal ginjal (Wibowo, 2011).
  2. HCPS: Gangguan respirasi berat akibat kebocoran kapiler dan edema paru (Avsic-Zupanc, 2012).
  3. Nephropathia epidemica: Bentuk ringan dengan mortalitas rendah (Clement et al., 1995).

Pengobatan dan Pencegahan

Belum ada terapi antivirus atau vaksin spesifik yang disetujui. Penatalaksanaan bersifat suportif, termasuk dialisis untuk gagal ginjal akut atau ventilasi mekanik pada kasus HCPS berat (Koehler et al., 2022). Pencegahan difokuskan pada pengendalian populasi rodent dan mengurangi kontak manusia dengan reservoir virus (Bi et al., 2008).

Daftar Pustaka

  1. Avsic-Zupanc, T. (2012). Hantavirus infections in Europe: Epidemiology and clinical aspects.
  2. Bi, Z., Formenty, P. B., & Roth, C. E. (2008). Hantavirus infections: Epidemiology and prevention.
  3. Clement, J., Maes, P., & Van Ranst, M. (1995). Nephropathia epidemica in Europe: Clinical features and epidemiology.
  4. Ibrahim, I. N. (2002). Seroprevalensi hantavirus pada manusia sehat di Indonesia.
  5. Jonsson, C. B., Figueiredo, L. T. M., & Vapalahti, O. (2010). Hantavirus infections: Epidemiology and clinical features.
  6. Koehler, F. C., et al. (2022). Supportive treatment strategies for hantavirus infections.
  7. Lee, H. W., & van der Groen, G. (1989). Hemorrhagic fever with renal syndrome: Historical perspectives and epidemiology.
  8. Manigold, T., & Vial, P. (2014). Human hantavirus infections: Epidemiology, clinical features, and pathogenesis.





No comments

Abi. Powered by Blogger.