Dialog di Langit Ketujuh: Mengapa Shalat Adalah Kebutuhan, Bukan Beban

 

Gambar dibuat dengan Gemini AI

Pernah nggak sih, saat adzan berkumandang, yang terlintas di pikiran kita justru: "Duh, baru juga duduk, udah adzan lagi?" atau "Bentar deh, tanggung, satu video lagi,"? Jujur saja, bagi sebagian besar dari kita, shalat sering kali terasa seperti "interupsi" di tengah kesibukan. Kita melakukannya karena takut dosa, karena kewajiban, atau sekadar menggugurkan kewajiban biar hati nggak merasa bersalah.

Tapi, pernahkah kita berhenti sejenak dan berpikir: Kenapa Allah harus "memanggil" Rasulullah SAW langsung ke langit ketujuh hanya untuk memberikan perintah shalat?

Oleh-oleh Paling Istimewa

Kalau kita pergi liburan, biasanya kita bawa oleh-oleh untuk orang tersayang. Nah, Isra Mikraj adalah perjalanan paling luar biasa sepanjang sejarah umat manusia. Rasulullah melintasi batas ruang dan waktu, melewati galaksi-galaksi, menembus lapisan langit, hingga sampai ke Sidratul Muntaha. Di sana, beliau berdialog langsung dengan Allah SWT.

Hasilnya? Oleh-olehnya bukan emas, bukan kekuasaan, melainkan Shalat.

Berbeda dengan perintah zakat, puasa, atau haji yang cukup disampaikan melalui Malaikat Jibril di bumi, shalat dijemput langsung oleh Rasulullah ke "Arsy. Ini menunjukkan bahwa shalat bukan ibadah sembarangan. Ini adalah jalur VIP bagi kita, rakyat biasa, untuk bisa berkomunikasi langsung dengan Sang Raja Diraja.

Shalat: Kebutuhan atau Beban?

Mari kita jujur. Kenapa shalat sering terasa berat? Jawabannya karena kita menempatkannya sebagai "beban". Beban itu sifatnya menekan. Semakin banyak beban, kita semakin lelah.

Padahal, hakikat shalat adalah kebutuhan. Bayangkan ponsel pintar Anda. Secanggih apa pun fiturnya, semahal apa pun harganya, kalau baterainya habis, dia cuma jadi sebongkah besi yang nggak berguna. Shalat adalah charging station-nya jiwa manusia. Kita adalah mahluk yang mudah lelah, mudah kecewa, dan gampang stres. Dunia ini tempat yang bising. Kita butuh "berhenti" sejenak untuk mengisi ulang energi spiritual kita.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk." (QS. Al-Baqarah: 45)

Ayat ini secara jujur mengakui kalau shalat itu memang berat. Tapi Allah kasih bocoran: shalat hanya akan terasa ringan bagi orang yang khusyuk. Khusyuk itu apa? Simpelnya, khusyuk adalah saat kita sadar bahwa kita sedang menghadap Zat yang paling mencintai kita.

Dialog Privat di Atas Sajadah

Dalam sebuah hadist qudsi yang sangat menyentuh, Allah menjelaskan bahwa shalat (khususnya bacaan Al-Fatihah) adalah dialog dua arah. Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT berfirman:

قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ

"Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian..." (HR. Muslim)

Saat kita mengucap "Alhamdulillahirabbil 'alamin", Allah menjawab, "Hamba-Ku memuji-Ku." Saat kita bilang "Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in", Allah menjawab, "Ini adalah antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta."

Bayangkan! Kita ini siapa? Cuma titik kecil di semesta. Tapi Allah, Pemilik Galaksi, meluangkan "waktu"-Nya untuk menjawab setiap baris doa kita di dalam shalat. Masihkah kita merasa shalat itu beban kalau kita tahu kita sedang diprioritaskan oleh Allah?

Shalat sebagai "Self-Healing" Terbaik

Di zaman sekarang, banyak orang mencari healing dengan jalan-jalan jauh atau menghabiskan uang. Nggak salah, sih. Tapi itu sifatnya sementara. Begitu pulang, masalah masih ada.

Shalat adalah healing yang aksesnya gratis dan bisa dilakukan kapan saja. Saat kita sujud, kita sedang meletakkan ego kita di tempat paling rendah (tanah), dan di saat itulah posisi kita paling dekat dengan Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

"Keadaan paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa (di dalamnya)." (HR. Muslim)

Sujud adalah momen kita "curhat" tanpa perlu takut di-ghibah-in. Sujud adalah momen kita menangis tanpa perlu takut dianggap lemah. Di sana ada ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan saldo rekening apa pun.

Menata Ulang Niat di Hari Isra Mikraj

Mumpung hari ini kita memperingati Isra Mikraj, yuk kita tata ulang pikiran kita. Jangan lagi jadikan shalat sebagai daftar yang harus "dicentang" biar cepat selesai.

Jadikan shalat sebagai waktu istirahat. Kalau kata Rasulullah kepada Bilal bin Rabah saat waktu shalat tiba: "Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat." Beliau tidak bilang "selesaikan shalatnya biar cepat beres", tapi "istirahatkan kami". Artinya, shalat adalah tempat istirahat dari lelahnya urusan dunia.

Mikraj Kita Masing-Masing

Kita memang bukan Nabi yang bisa naik ke langit ketujuh dengan Buraq. Tapi kita punya "alat" untuk melakukan perjalanan vertikal kita sendiri. Shalat adalah mikraj-nya orang beriman (As-shalatu Mi'rajul Mu'minin).

Setiap kali kita takbiratul ihram, kita sebenarnya sedang meninggalkan bumi dan segala keruwetannya menuju hadirat Allah. Jangan terburu-buru. Nikmati setiap detiknya. Karena mungkin saja, di satu sujud yang kita lakukan dengan penuh rasa butuh, di situlah Allah memberikan jawaban atas doa-doa yang selama ini kita langitkan.

Jadi, besok-besok kalau adzan berkumandang, katakan pada diri sendiri: "Asyik, waktunya istirahat sama Allah." Karena shalat bukan tentang apa yang Allah dapatkan dari kita, tapi tentang apa yang kita dapatkan dari Allah.

Selamat memperingati Isra Mikraj!

No comments

Abi. Powered by Blogger.