Cara-Cara Mengetahui dalam Keperawatan

 

Bedah Buku: Nursing Theories and Models Bab 2

Dalam dunia keperawatan, pengetahuan bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja. Ia dibangun melalui proses panjang, berakar pada filsafat, pengalaman, dan penelitian. Bab kedua dari buku Nursing Theories and Models karya Hugh McKenna, berjudul Ways of Knowing, membahas secara mendalam bagaimana perawat memperoleh pengetahuan dan menggunakannya untuk membentuk teori serta praktik. Artikel ini akan mengelaborasi isi bab tersebut dan menunjukkan relevansinya bagi profesi keperawatan masa kini.

Pengetahuan sebagai Fondasi Keperawatan

Keperawatan adalah profesi yang unik karena berada di persimpangan antara ilmu pengetahuan dan seni. Perawat tidak hanya mengandalkan keterampilan teknis, tetapi juga intuisi, empati, dan pengalaman. Oleh karena itu, memahami cara-cara mengetahui (ways of knowing) menjadi penting agar perawat dapat menyeimbangkan aspek ilmiah dan humanistik dalam praktiknya.

McKenna menekankan bahwa pengetahuan keperawatan lahir dari berbagai sumber, dan setiap sumber memiliki kelebihan serta keterbatasan. Dengan memahami beragam cara mengetahui, perawat dapat lebih kritis dalam memilih pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan pasien.

Tiga Cara Utama Mengetahui

Dalam bab ini, McKenna menguraikan tiga pendekatan utama dalam memperoleh pengetahuan: rasionalisme, empirisme, dan historisisme.

1. Rasionalisme

Rasionalisme menekankan bahwa pengetahuan diperoleh melalui akal dan logika. Dalam konteks keperawatan, rasionalisme mendorong perawat untuk menggunakan penalaran deduktif: dari prinsip umum menuju praktik khusus. Contoh: jika teori menyatakan bahwa lingkungan memengaruhi kesehatan, maka perawat akan memastikan ruangan pasien bersih, tenang, dan nyaman. Kelebihan rasionalisme adalah konsistensi dan sistematisasi. Namun, kelemahannya adalah kurang memperhatikan pengalaman nyata pasien.

2. Empirisme

Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman dan observasi. Perawat yang berorientasi empiris akan mengandalkan data klinis, hasil penelitian, dan pengalaman langsung dalam merawat pasien. Contoh: jika perawat melihat bahwa pasien yang mendapat dukungan emosional pulih lebih cepat, maka ia akan mengintegrasikan intervensi psikososial dalam praktiknya. Kelebihan empirisme adalah kedekatannya dengan realitas. Namun, kelemahannya adalah data empiris bisa terbatas pada konteks tertentu dan tidak selalu berlaku universal.

3. Historisisme

Historisisme menekankan bahwa pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari konteks sejarah dan budaya. Dalam keperawatan, historisisme mengingatkan bahwa praktik dan teori berkembang sesuai dengan zaman, nilai, dan norma masyarakat. Contoh: praktik keperawatan di era Florence Nightingale sangat menekankan kebersihan lingkungan, karena saat itu penyakit menular menjadi masalah utama. Kelebihan historisisme adalah sensitivitas terhadap konteks sosial. Namun, kelemahannya adalah risiko relativisme, yaitu menganggap semua praktik benar sesuai zamannya tanpa kritik.

Ways of Knowing dalam Praktik Keperawatan

Ketiga cara mengetahui ini tidak berdiri sendiri. Dalam praktik nyata, perawat sering menggabungkan rasionalisme, empirisme, dan historisisme. Rasionalisme memberi kerangka teoritis. Empirisme menyediakan bukti nyata. Historisisme mengingatkan akan konteks sosial dan budaya.

Sebagai contoh, ketika menghadapi pasien dengan penyakit kronis, perawat menggunakan teori (rasionalisme) untuk memahami perjalanan penyakit, mengandalkan data klinis (empirisme) untuk menentukan intervensi dan mempertimbangkan latar belakang budaya pasien (historisisme) agar intervensi lebih diterima.

Pentingnya Refleksi Kritis

McKenna menekankan bahwa perawat tidak boleh hanya menerima pengetahuan secara pasif. Mereka harus merefleksikan cara pengetahuan diperoleh dan digunakan. Refleksi kritis membantu perawat:

Menyadari bias dalam teori atau penelitian.
Menghindari penerapan teori secara dogmatis.
Mengembangkan pengetahuan baru dari pengalaman praktik.

Dengan demikian, perawat menjadi bukan sekadar pengguna teori, tetapi juga kontributor dalam pengembangan ilmu keperawatan.

Bab kedua buku Nursing Theories and Models mengajarkan bahwa pengetahuan keperawatan lahir dari berbagai cara mengetahui: rasionalisme, empirisme, dan historisisme. Ketiganya saling melengkapi, membentuk fondasi yang kokoh bagi teori dan praktik. Bagi perawat, memahami ways of knowing bukan hanya soal akademis. Ia adalah keterampilan reflektif yang membantu mereka memberikan asuhan yang lebih holistik, kritis, dan kontekstual. Dengan menggabungkan logika, pengalaman, dan sensitivitas budaya, perawat dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik, sekaligus memperkaya ilmu keperawatan untuk masa depan.

No comments

Abi. Powered by Blogger.