Jejak Filsafat Milton Mayeroff dalam Theory of Human Caring Jean Watson
Perkembangan sains keperawatan sebagai disiplin ilmu yang mandiri tidak lepas dari persinggungannya dengan cabang ilmu lain, khususnya filsafat dan humaniora. Sebelum konsep kepedulian (caring) dirumuskan secara terstruktur dalam praktik klinis keperawatan, Milton Mayeroff—seorang filsuf Amerika—telah meletakkan fondasi konseptualnya melalui buku fenomenalnya, On Caring, yang diterbitkan pada tahun 1971.
Gagasan filosofis Mayeroff tersebut kemudian memberikan arah baru bagi pakar keperawatan Jean Watson dalam merumuskan Theory of Human Caring pada tahun 1979. Watson mengadopsi pemikiran Mayeroff untuk mentransformasi keperawatan dari sekadar tindakan teknis-medis menjadi sebuah sains pelayanan kemanusiaan yang berpusat pada martabat manusia.
Integrasi Pemikiran Mayeroff ke Dalam Teori Watson
1. Pergeseran Objek Menjadi Subjek: Orientasi Tumbuh Bersama
Inti dari gagasan Mayeroff (1971) menyatakan bahwa caring adalah proses membantu orang lain untuk tumbuh dan mengaktualisasikan dirinya (helping the other grow and actualize himself). Dalam pandangannya, caring melarang seseorang memperlakukan orang lain semata-mata sebagai objek untuk memenuhi kebutuhan pribadi.
Jean Watson menyerap prinsip ini dan membawanya ke ranah pelayanan kesehatan. Pada era 1970-an, pendekatan medis cenderung melihat pasien secara reduksionis sebagai "objek penyakit". Mengadopsi prinsip Mayeroff, Watson menolak cara pandang tersebut dan menegaskan bahwa hubungan perawat-pasien harus bersifat transpersonal. Dalam hubungan ini, baik perawat maupun pasien saling menghargai otonomi dan keutuhan martabat manusia (personhood), sehingga proses penyembuhan menjadi momen pertumbuhan spiritual dan kemanusiaan bagi kedua belah pihak.
2. Adopsi Komponen Karatif (Caring Ingredients)
Mayeroff merumuskan delapan komponen utama caring, di antaranya knowledge (pengetahuan), honesty (kejujuran), trust (kepercayaan), dan hope (harapan). Komponen-komponen filosofis ini diadaptasi secara nyata oleh Watson ke dalam 10 Carative Factors (yang kemudian berkembang menjadi Caritas Processes):
Kejujuran dan Kepercayaan (Honesty & Trust): Mayeroff menekankan bahwa caring membutuhkan keterbukaan dan rasa percaya yang mendalam. Watson menerjemahkan hal ini menjadi faktor karatif “developing a helping-trusting caring relationship”, di mana perawat membangun komunikasi yang jujur dan penuh empati bersama pasien.
Pengetahuan (Knowledge/Knowing): Mayeroff menyatakan bahwa untuk merawat, seseorang harus sungguh-sungguh memahami kebutuhan pihak yang dirawat. Watson menggunakannya untuk menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan dasar manusia secara holistik (fisik, mental, dan spiritual).
Harapan (Hope): Konsep harapan Mayeroff diserap Watson ke dalam faktor “instilling faith-hope”, yaitu peran perawat dalam memelihara iman dan harapan pasien sebagai elemen kunci proses penyembuhan (healing).
Dari Filsafat Umum Menuju Sains Keperawatan Klinis
Meskipun Watson sangat terpengaruh oleh fondasi pemikiran Mayeroff, terdapat batas transformasi yang jelas di antara keduanya. Mayeroff membingkai caring sebagai etika dan dinamika hubungan antarmanusia secara umum (seperti hubungan guru-murid atau orang tua-anak). Sementara itu, Watson mengambil abstraksi filosofis tersebut dan memfinalisasinya menjadi sebuah sains dan metodologi keperawatan klinis.
Watson memformulasikan Carative Factors sebagai kerangka tandingan akademis terhadap pendekatan Curative (pengobatan medis kedokteran). Melalui sentuhan Watson, konsep caring yang tadinya merupakan wacana filsafat humaniora bertransformasi menjadi panduan praktis, etis, dan ilmiah yang melandasi pendidikan serta praktik keperawatan profesional hingga saat ini.
Kesimpulan
Sinergi antara pemikiran Milton Mayeroff dan Jean Watson menunjukkan bagaimana filsafat humanisme dapat membentuk identitas sebuah profesi kesehatan. Mayeroff menyediakan dasar filosofis mengenai bagaimana manusia saling memedulikan dan membantu tumbuh, sedangkan Watson mentransformasikan gagasan tersebut menjadi disiplin ilmu keperawatan yang terukur, holistik, dan bermartabat.

Leave a Comment