Ulkus Peptikum (Peptic Ulcer Disease)
Ulkus peptikum (peptic ulcer disease) merupakan salah satu gangguan pencernaan yang umum ditemui di masyarakat. Kondisi ini dapat menyebab rasa nyeri dan ketidaknyamanan berlebih di area perut bagian atas yang berdampak langsung pada kualitas hidup penderitanya. Untuk memahami kondisi ini secara mendalam, berikut adalah ulasan lengkap mengenai ulkus peptikum mulai dari pengertian, penyebab, hingga langkah pencegahannya.
Pengertian Ulkus Peptikum
Ulkus peptikum adalah luka erosi atau defek pada lapisan mukosa saluran cerna bagian atas terutama pada lambung (ulkus gastrik) dan usus halus bagian atas atau duodenum (ulkus duodenal) yang meluas hingga mencapai lapisan submukosa atau muscularis propria.
Secara klinis, defek jaringan ini umumnya didefinisikan sebagai luka dengan ukuran diameter melebihi 3–5 mm dengan kedalaman yang terlihat jelas. Lesi yang lebih kecil dan dangkal biasanya dikategorikan sebagai erosi mukosa sederhana. Ulkus ini terbentuk akibat terpaparnya dinding saluran cerna secara terus-menerus oleh asam lambung dan enzim pepsin.
Etiologi (Penyebab)
Terbentuknya ulkus peptikum tidak terjadi begitu saja, melainkan dipicu oleh faktor-faktor utama berikut:
Infeksi Helicobacter pylori: Infeksi bakteri H. pylori merupakan penyebab paling dominan dari sebagian besar kasus ulkus peptikum di seluruh dunia.
Penggunaan Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid (OAINS) dan Aspirin: Konsumsi obat pereda nyeri golongan OAINS (seperti ibuprofen, naproxen) dan aspirin dalam jangka panjang atau dosis tinggi mengganggu perlindungan alami mukosa lambung.
Kondisi Kritis (Stress-Related): Pasien dengan penyakit kritis di unit perawatan intensif dapat mengalami luka lambung akibat respons stres tubuh yang berat.
Gaya Hidup: Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol berlebih diketahui meningkatkan risiko peradangan mukosa dan memicu pembentukan ulkus.
- Idiopatik: Pada sebagian kecil kasus, ulkus peptikum dapat terjadi tanpa adanya faktor penyebab yang teridentifikasi secara jelas.
Patofisiologi
Patofisiologi ulkus peptikum berpusat pada ketidakseimbangan antara faktor agresif dan faktor defensif pada lapisan mukosa saluran cerna.
Faktor Agresif: Meliputi produksi asam lambung (asam klorida) berlebih, enzim pepsin, infeksi bakteri H. pylori, serta paparan zat eksogen seperti obat OAINS.
Faktor Defensif: Meliputi ketebalan lapisan mukosa, sekresi bikarbonat lambung, aliran darah mukosa untuk regenerasi sel, dan peran prostaglandin dalam menjaga keutuhan dinding mukosa.
Ketika infeksi H. pylori terjadi, bakteri memproduksi enzim urease dan merangsang respons inflamasi yang merusak jaringan mukosa lokal. Di sisi lain, penggunaan OAINS bekerja menghambat enzim siklooksigenase (COX-1), yang berdampak pada penurunan sintesis prostaglandin. Penurunan prostaglandin ini mengurangi sekresi bikarbonat dan aliran darah mukosa, sehingga dinding lambung menjadi sangat rentan tererosi oleh asam lambung dan pepsin.
Tanda dan Gejala
Gejala ulkus peptikum dapat bervariasi dari tanpa gejala (asimtomatik) hingga gejala khas yang mengganggu kegiatan sehari-hari.
Nyeri Epigastrium: Rasa nyeri seperti terbakar atau perih di ulu hati (epigastrium) merupakan gejala paling utama.
Sensasi Cepat Kenyang dan Begah: Perasaan penuh di perut bagian atas setelah makan.
Kembung (Bloating): Perut terasa kencang dan dipenuhi gas.
Mual dan Muntah: Kehilangan selera makan yang terkadang disertai mual hingga muntah.
Gejala Bahaya (Alarm Symptoms): Pada kasus berat atau komplikasi, penderita dapat mengalami muntah darah (hematemesis), buang air besar berwarna hitam seperti ter (melena), anemia berat, hingga penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya.
Pemeriksaan Diagnostik
Untuk memastikan diagnosis ulkus peptikum dan menentukan langkah penanganan yang tepat, dokter biasanya melakukan beberapa prosedur medis:
Endoskop Saluran Cerna Atas (EGD): Prosedur baku mas (gold standard) berupa pengamatan langsung dinding lambung dan duodenum menggunakan kamera kecil untuk melihat lokasi, ukuran, dan kedalaman ulkus.
Uji Pemeriksaan H. pylori: terdiri dari Metode Non-Invasif: Berupa Urea Breath Test (tes napas urea), pemeriksaan antigen feses (stool antigen test), atau tes serologi darah. Metode Invasif: Melalui biopsi jaringan mukosa lambung saat prosedur endoskopi dilakukan.
Pemeriksaan Laboratorium: Pemeriksaan darah lengkap untuk mendeteksi adanya anemia akibat perdarahan ulkus yang tersembunyi (occult bleeding).
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan ulkus peptikum berfokus pada penyembuhan luka, meredakan gejala, dan mencegah komplikasi atau kekambuhan.
Terapi Penekan Asam Lambung: Proton Pump Inhibitors (PPI) seperti omeprazole, lansoprazole, atau esomeprazole merupakan obat pilihan utama yang diminum selama 4–8 minggu untuk memfasilitasi penyembuhan ulkus. Obat golongan H2-Receptor Antagonists (H2RA) juga dapat digunakan sebagai alternatif.
Eradikasi H. pylori: Jika terinfeksi H. pylori, pasien diberikan terapi kombinasi (terapi kuadrupel berbasis bismut atau terapi komplikasi konkomitan) yang menggabungkan PPI dengan dua atau tiga jenis antibiotik (seperti amoksisilin, klaritromisin, atau metronidazol).
Hentikan Obat Pemicu: Menghentikan konsumsi OAINS atau aspirin. Jika penggunaan OAINS tetap diperlukan untuk kondisi medis lain, dokter akan meresepkan terapi pendamping berupa PPI atau protektan mukosa.
Intervensi Bedah: Tindakan operasi seperti resek lambung atau vagotomi saat ini jarang dilakukan dan hanya diindikasikan untuk komplikasi darurat seperti perdarahan hebat yang tak tertangani atau perforasi (lambung bocor).
Pencegahan
Langkah-langkah pencegahan sangat penting untuk menghindari risiko munculnya ulkus peptikum maupun mencegah kekambuhan di masa mendatang:
Penggunaan Obat Pereda Nyeri secara Bijak: Hindari konsumsi obat pereda nyeri golongan OAINS tanpa petunjuk dokter, dan selalu minum obat tersebut bersamaan dengan makanan.
Terapkan Higienitas: Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan mengonsumsi makanan/minuman yang matang untuk mencegah penularan bakteri H. pylori.
Hindari Konsumsi Alkohol dan Merokok: Rokok dan alkohol dapat memperlemah jaringan pertahanan mukosa lambung dan memicu sekresi asam berlebih.
Kelola Stres dengan Baik: Lakukan aktivitas relaksasi, olahraga teratur, dan istirahat yang cukup untuk menjaga keseimbangan sistem pencernaan.
Daftar Pustaka
Ali, M. S., & Tanya, S. (2026). Peptic Ulcer Disease & It's Treatment: A Review. Pharma Erudition.
Almadi, M. A., Lu, Y., Alali, A. A., & Barkun, A. N. (2024). Peptic ulcer disease. The Lancet.
Jaswanth, K., & Kumar, K. (2022). A review on peptic ulcer. UPI Journal of Pharmaceutical Sciences.
Kavitt, R. T., Lipowska, A. M., & Anyane-Yeboa, A. (2019). Diagnosis and treatment of peptic ulcer disease. The American Journal of Medicine.
Kumar, V., Goel, V., Bajaj, S., & Garg, K. (2025). Peptic ulcer disease: a comprehensive review on conventional therapy and herbal treatment. Current Drug Targets.
Kuna, L., Jakab, J., Smolic, R., & Raguz-Lucic, N. (2019). Peptic ulcer disease: a brief review of conventional therapy and herbal treatment options. Journal of Clinical Medicine.
Lanas, A., & Chan, F. K. L. (2017). Peptic ulcer disease. The Lancet.
Laucirica, I., Iglesias, P. G., & Calvet, X. (2023). Peptic ulcer. Medicina ClĂnica.
Malfertheiner, P., Chan, F. K. L., & McColl, K. E. L. (2009). Peptic ulcer disease. The Lancet.
McConaghy, J. R., Decker, A., & Nair, S. (2023). Peptic ulcer disease and H. pylori infection: common questions and answers. American Family Physician.
Narayanan, M., Reddy, K. M., & Marsicano, E. (2018). Peptic ulcer disease and Helicobacter pylori infection. Missouri Medicine.
Prabhu, V., & Shivani, A. (2014). An overview of history, pathogenesis and treatment of perforated peptic ulcer disease with evaluation of prognostic scoring in adults. Annals of Medical and Health Sciences Research.
Sverdén, E., Agréus, L., Dunn, J. M., & Lagergren, J. (2019). Peptic ulcer disease. BMJ.
Tuerk, E., Doss, S., & Polsley, K. (2023). Peptic ulcer disease. Primary Care: Clinics in Office Practice.
Vakil, N. (2024). Peptic ulcer disease: a review. JAMA.
van Schoor, J. (2025). A brief update on peptic ulcer disease. SA Pharmacist's Assistant.
Leave a Comment