Kebijakan dan Prinsip Pencegahan Infeksi di Kamar Operasi

 


Pendahuluan

Kamar operasi merupakan salah satu unit pelayanan di rumah sakit yang memiliki tingkat risiko infeksi sangat tinggi. Infeksi Daerah Operasi (IDO) atau Surgical Site Infections (SSI) merupakan bentuk Infeksi Terkait Layanan Kesehatan (Healthcare-Associated Infections/HAIs) yang paling sering menimbulkan komplikasi serius setelah tindakan pembedahan (Retnawati et al., 2024). Kejadian infeksi pascaoperasi tidak hanya memperpanjang durasi perawatan dan meningkatkan biaya medis, tetapi juga dapat memicu morbiditas hingga mortalitas pasien. Oleh karena itu, penanganannya menuntut regulasi yang ketat serta komitmen penuh dari seluruh tim perioperatif (Al-Otaibi et al., 2025; Silalahi, 2025).

Dasar Kebijakan dan Prinsip Pencegahan Infeksi

Dasar Kebijakan Pencegahan Infeksi

A. Standar Nasional (Indonesia)

  1. Permenkes RI No. 27 Tahun 2017 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di Fasilitas Pelayanan Kesehatan: Regulasi utama yang mengatur penerapan kewaspadaan standar, isolasi, prinsip sterilitas, manajemen lingkungan, serta pengelolaan limbah medis.
  2. Standar Akreditasi Rumah Sakit (STARKES / KARS): Mengatur regulasi proteksi area kamar operasi melalui Kelompok Kerja (Pokja) PPI dan SKP (Sasaran Keselamatan Pasien). Ini mencakup kewajiban penerapan Surgical Safety Checklist.
  3. Pedoman Pelayanan Kamar Bedah Rumah Sakit (Kemenkes RI): Mengatur zonasi tata ruang kamar bedah, alur lalu lintas manusia dan barang, pemeliharaan sistem tata udara (HEPA filter dan tekanan udara positif), serta pengelolaan instrumen steril.

B. Standar Internasional

  1. WHO Guidelines for Safe Surgery & Guidelines for the Prevention of Surgical Site Infections (SSI): Acuan global untuk penerapan Surgical Safety Checklist, kebersihan tangan (hand hygiene), preparasi kulit pasien, serta penggunaan antibiotik profilaksis.
  2. AORN (Association of periOperative Registered Nurses) Standards and Recommended Practices: "Gold standard" untuk praktik keperawatan perioperatif yang mengatur teknik aseptik, prosedur gowning & gloving, tata kelola lingkungan, dan pembatasan personel.
  3. CDC / HICPAC Guidelines for the Prevention of Surgical Site Infection: Panduan berbasis bukti (evidence-based) yang mengontrol faktor risiko infeksi pada fase pra-, intra-, dan pasca-bedah.
Untuk menekan angka kejadian IDO, rumah sakit diwajibkan menyusun dan menerapkan standar operasional prosedur (SOP) serta kebijakan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) yang berbasis bukti (evidence-based practice) (Al-Otaibi et al., 2025; Hilda et al., 2025; Isrofah et al., 2025). Kebijakan ini mencakup:
  1. Pengawasan dan Evaluasi Rutin: Implementasi sistem surveilans infeksi yang berkesinambungan serta evaluasi berkala terhadap kebijakan teknis di ruang bedah (Isrofah et al., 2025; Retnawati et al., 2024).
  2. Penggunaan Daftar Periksa Bedah: Penerapan Surgical Safety Checklist untuk memastikan bahwa seluruh prosedur keamanan dan kebersihan intraoperasi telah dipenuhi dengan benar sebelum insisi dilakukan (Wulandari et al., 2026).
  3. Penerapan Bundel IDO: Penegakan kepatuhan terhadap protokol bundel pencegahan IDO pada fase pra-operasi, intra-operasi, hingga pasca-operasi (Retnawati et al., 2024).
  4. Desain dan Pengendalian Lingkungan: Penataan zonasi area aseptik (seperti Area Aseptik 0, 1, 2, serta area nuclei steril) serta pemilihan material dinding, lantai, dan langit-langit yang tidak berpori dan mudah dibersihkan menggunakan agen antimikroba (Baradero et al., 2005; Widodo, 2024).

Prinsip-Prinsip Asepsis dan Antisepsis

Prinsip dasar pencegahan infeksi di kamar operasi berpusat pada upaya menciptakan dan mempertahankan lingkungan serta bidang bedah yang steril (Afrila et al., 2025; Wibawa, 2026). Terdapat empat pilar utama dalam penerapan teknik aseptik:

1. Asepsis Personel

Tenaga kesehatan dan tim bedah diwajibkan mematuhi prosedur kebersihan tangan steril (surgical scrub), penggunaan gaun operasi steril (gowning), serta sarung tangan steril (gloving) (Apriliyana, 2019; Silalahi, 2025). Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) secara lengkap—termasuk masker, penutup kepala, dan sepatu pelindung—bertujuan meminimalkan perpindahan mikroorganisme dari petugas ke pasien (Afrila et al., 2025; Dunders et al., 2020; Kusnan et al., 2022).

2. Asepsis Instrumen dan Alat Medis

Seluruh peralatan bedah dikategori sebagai alat kritis yang berhubungan langsung dengan jaringan steril tubuh (Hilda et al., 2025). Oleh karena itu, instrumen harus melalui proses dekontaminasi dan sterilisasi yang adekuat, umumnya menggunakan autoklaf (uap panas bertekanan) atau teknik sterilisasi kimia yang tervalidasi (Afrila et al., 2025; Dunders et al., 2020; Rustini et al., 2023).

3. Asepsis Pasien dan Antiseptik Profilaksis

Persiapan area tindakan dilakukan melalui teknik antiseptik pada kulit pasien sebelum insisi bedah (Wibawa, 2026; Wulandari et al., 2026). Selain itu, pemberian antibiotik profilaksis yang tepat waktu dan indikasi merupakan prinsip operasional penting untuk mengontrol penyebaran mikroba pada operasi bersih-terkontaminasi (Apriliyana, 2019; Lubis et al., 2024).

4. Asepsis Lingkungan dan Perawatan Pasca-Operasi

Pengendalian mikroorganisme mencakup alur lalu lintas petugas yang teratur, dekontaminasi ruangan, serta pengelolaan limbah dan linen medis (Silalahi, 2025; Widodo, 2024). Setelah tindakan selesai, perawatan luka pasca-operasi harus dilakukan dengan mempertahankan perban steril selama 24–48 jam pertama serta pemantauan tanda-tanda infeksi secara dini (Al-Otaibi et al., 2025; Lubis et al., 2024).

Kesimpulan

Pencegahan infeksi di kamar operasi membutuhkan keterpaduan antara kebijakan rumah sakit yang terstruktur dan kepatuhan tim bedah terhadap prinsip-prinsip asepsis. Melalui penerapan standar sterilisasi instrumen, kebersihan tangan steril, tata kelola lingkungan, serta kepatuhan pada daftar periksa keselamatan bedah, risiko komplikasi infeksi pascaoperasi dapat ditekan secara signifikan.

Referensi

Afrila, M. G., Wardani, N. F., & Putri, G. T. (2025). Literature review: Peran aseptik dan antiseptik dalam pencegahan infeksi daerah operasi. Jurnal Kedokteran Universitas Lampung, 14(1).

Al-Otaibi, B., Mariee, A. A., & Ahmed, A. F. (2025). The role of operation room's nursing interventions on surgical site infection and patient outcomes: A scoping review. Haya Saudi Journal of Life Sciences, 10(2), 45–52.

Apriliyana, R. (2019). Hubungan peran perawat dalam merawat pasien dengan resiko infeksi post operasi [Karya Tulis Ilmiah, Universitas Muhammadiyah Surabaya]. Repository UM Surabaya.

Baradero, M., Dayrit, M. W., & Siswadi, Y. (2005). Prinsip dan praktik keperawatan perioperatif. EGC.

Dunders, G., Morein, N., & Kumars, M. (2020). Mikrobiologi medis II: Sterilisasi, diagnosis laboratorium, dan respon imun. Cambridge Stanford Books.

Hilda, M. K., Arsyawina, N., & ST, S. (2025). Keselamatan pasien dalam asuhan keperawatan. PT. Sonpedia Publishing Indonesia.

Isrofah, I., Kaligis, Y. A., Sahran, S., Masithoh, R. F., & Priskila, E. (2025). Keperawatan perioperatif. Penerbit Media Pustaka.

Kusnan, N. A., Rahmawati, S. K., Hafizah, I., & Haryati, S. K. (2022). Pengantar pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI). PT Global Eksekutif Teknologi.

Lubis, A., Wintoko, R., & Ismunandar, H. (2024). Surgical site infection. Profession Journal of Medical and Health Sciences, 3(1), 12–19.

Nugroho, I. A., & Sulistyaningrum, N. D. P. (2025). Bunga rampai keperawatan bedah: Pendekatan dan perawatan pasien pre operasi, intra-operasi, dan pasca-operasi. PT. Sonpedia Publishing Indonesia.

Retnawati, Y., Sukesi, N., & Hadi, C. (2024). Kepatuhan perawat dalam penerapan bundles IDO dengan kejadian infeksi daerah operasi. Jurnal Keperawatan, 16(2), 211–220.

Rustini, S. A., Putri, N. M. M. E., Hurai, R., & Suarningsih, N. K. A. (2023). Layanan keperawatan intensif: Ruang ICU & OK. Yayasan Kita Tulis.

Silalahi, D. D. E. (2025). Laporan penelitian analisis faktor yang mempengaruhi kepatuhan surgical scrub dikamar operasi Rumah Sakit Siloam Mampang [Laporan Penelitian, STIKES Panti Rapih]. Repository STIKES Panti Rapih.

Wibawa, P. C. (2026). Ilmu bedah dasar: Teori dan keterampilan klinis. CV. Media Edukasi Indonesia.

Widodo, H. (2024). Manajemen dasar kamar operasi: Dengan pendekatan evidence based practice. PT. RajaGrafindo Persada.

Wulandari, R., Asti Nurhayati, S., & MMR, F. (2026). Aplikasi praktis keselamatan pasien: Dari teori ke ruang perawatan. CV. Penerbit Cendikia.


No comments

Abi. Powered by Blogger.