Lamtoro: Si 'Petai Cina' yang Kaya Nutrisi, Tapi Hati-hati dengan Efek Sampingnya!
Lamtoro atau petai cina (nama ilmiah: Leucaena leucocephala) adalah tanaman polong-polongan yang berasal dari Amerika Tengah dan Meksiko. Tanaman ini diperkenalkan ke Indonesia oleh bangsa Portugis dan Belanda untuk berbagai kepentingan, termasuk reboisasi dan tanaman pelindung di perkebunan. Di berbagai daerah di Indonesia, lamtoro dikenal dengan beragam nama lokal seperti mlandhing, metir, selamtara, atau kemlandingan.
Tanaman ini memiliki karakteristik yang sangat menguntungkan bagi lingkungan dan pertanian, di antaranya:
- Ketahanan Tinggi: Lamtoro mampu tumbuh subur di lahan kritis yang miskin air dan unsur hara, seperti di daerah berkapur.
- Kesuburan Tanah: Memiliki bintil akar yang dapat mengikat nitrogen dari udara, sehingga mampu mengembalikan kesuburan tanah secara alami.
- Multifungsi: Selain sebagai tanaman peneduh untuk kopi dan kakao, kayu lamtoro dapat digunakan sebagai bahan bakar (arang), sementara daunnya menjadi pakan ternak yang kaya protein.
Dari aspek konsumsi manusia, biji lamtoro sering digunakan sebagai bahan makanan fungsional. Biji lamtoro memiliki kandungan protein yang tinggi (sekitar 46,4 gram per 100 gram biji tanpa kulit) dan kaya akan serat. Masyarakat lazim mengolahnya menjadi lalapan, campuran botok, atau difermentasi menjadi tempe lamtoro sebagai alternatif pengganti kedelai.
Selain sebagai sumber pangan, lamtoro juga memiliki potensi dalam dunia kesehatan. Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak biji, daun, dan kulit batang lamtoro memiliki aktivitas antidiabetes yang dapat membantu mengontrol kadar glukosa darah. Secara tradisional, bijinya juga dipercaya efektif untuk mengatasi infeksi cacing gelang dan cacing kremi karena kandungan alkaloid dan tanin yang bersifat anthelmintik.
Namun, perlu diperhatikan bahwa lamtoro mengandung senyawa toksik alami yang disebut mimosin. Jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan tanpa pengolahan yang benar, mimosin dapat menyebabkan efek samping seperti kerontokan rambut (alopesia). Oleh karena itu, biji lamtoro disarankan untuk direndam dalam air panas atau melalui proses fermentasi untuk mengurangi kadar mimosin hingga batas aman sebelum dikonsumsi.
Berdasarkan sumber yang tersedia, tanaman lamtoro mengandung beberapa senyawa anti-gizi atau toksik yang perlu diwaspadai, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah besar atau tanpa pengolahan yang tepat.
Manfaat bagi Penderita Diabetes Melitus
Lamtoro mengandung berbagai senyawa yang terbukti secara ilmiah dapat membantu mengontrol kadar gula darah:
- Penghambat Enzim --glukosidase: Ekstrak etanol dari kulit batang, daun, dan biji lamtoro bertindak sebagai agen antidiabetes oral dengan menghambat enzim -glukosidase. Penghambatan ini menunda penyerapan glukosa di usus sehingga menurunkan kadar glukosa darah setelah makan (postprandial). Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit batang memiliki aktivitas penghambatan tertinggi ( 33,75 g/ml), bahkan lebih kuat dibanding kontrol positif kuersetin.
- Kandungan Serat dan Glukomanan yang Tinggi: Biji lamtoro kaya akan serat kasar dan glukomanan yang berperan vital dalam menurunkan kadar gula darah pada penderita Diabetes Melitus Tipe 2. Konsumsi serat yang cukup (20-35 gram/hari) sangat dianjurkan untuk membantu mengontrol respon glukosa.
- Indeks Glikemik (IG) Rendah: Produk olahan seperti tempe lamtoro memiliki nilai Indeks Glikemik dan Beban Glikemik yang rendah. Makanan dengan IG rendah mencegah kenaikan kadar glukosa darah secara drastis, sehingga membantu mencegah kondisi hiperglikemia.
- Aktivitas Antioksidan: Lamtoro mengandung fenol dan flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan. Antioksidan ini melindungi tubuh dengan menstabilkan radikal bebas yang sering dikaitkan dengan komplikasi diabetes.
Manfaat bagi Kesehatan Tubuh Lainnya
Selain potensi antidiabetes, lamtoro juga memberikan manfaat kesehatan menyeluruh:
- Sumber Nutrisi Tinggi: Biji lamtoro adalah sumber protein nabati yang sangat baik (sekitar 46,4 gram per 100 gram biji tanpa kulit). Selain itu, bijinya mengandung energi (367 kkal), kalsium, fosfor, zat besi, serta vitamin A, B1, dan C.
- Obat Cacing Alami (Anthelmintik): Secara tradisional, biji lamtoro digunakan untuk mengatasi infeksi cacing gelang dan cacing kremi. Kandungan alkaloid (leukanin) dan tanin di dalamnya bekerja dengan melumpuhkan cacing dan memutus siklus hidupnya di saluran pencernaan. Serat alaminya juga membantu mempercepat pengeluaran cacing bersama feses.
- Meningkatkan Absorpsi Zat Besi: Proses fermentasi biji lamtoro menjadi tempe terbukti meningkatkan absorpsi zat besi (Fe) secara signifikan di dalam tubuh dibandingkan dengan mengonsumsi biji lamtoro mentah. Hal ini menjadikan tempe lamtoro sebagai sumber zat besi yang baik untuk mencegah anemia.
- Kesehatan Pencernaan: Kandungan serat yang tinggi dan fermentasi pada tempe lamtoro membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan dan meningkatkan daya cerna protein hingga sekitar 72%.
- Kegunaan Tradisional Lainnya: Lamtoro juga dipercaya dapat membantu mengatasi masalah susah tidur (insomnia), radang ginjal, disentri, memperlancar haid, hingga membantu penyembuhan luka dan bisul.
Meskipun bermanfaat, lamtoro tidak boleh dikonsumsi berlebihan dalam keadaan mentah karena adanya senyawa mimosin yang bersifat toksik. Sangat disarankan untuk mengolahnya terlebih dahulu melalui proses perendaman, perebusan, atau fermentasi menjadi tempe guna menurunkan kadar mimosin hingga batas aman. Berikut adalah rincian senyawa tersebut dan cara menghilangkannya:
Senyawa Beracun dan Anti-Gizi dalam Lamtoro
- Mimosin: Senyawa ini adalah asam amino non-protein (asam beta-3-hidroksi-4 piridon amino) yang ditemukan pada biji dan daun lamtoro. Kadar mimosin pada biji kering secara alami mencapai sekitar 5% atau 5.000 mg per 100 gram. Konsumsi berlebih dapat menyebabkan kerontokan rambut (alopesia), gangguan hati, ginjal, katarak, hingga menghambat hormon tiroid.
- Asam Fitat: Senyawa ini terdapat pada biji-bijian termasuk lamtoro dan bersifat menghambat penyerapan mineral penting seperti zat besi (Fe), zink (Zn), dan tembaga oleh tubuh.
- Tanin: Senyawa ini dapat menurunkan daya cerna protein dalam tubuh dan juga menghambat penyerapan zat besi non-heme dengan cara membentuk ikatan kompleks yang tidak larut.
- Aflatoksin: Ini bukan senyawa alami lamtoro, melainkan racun dari jamur Aspergillus flavus yang bisa muncul jika biji lamtoro disimpan dalam kondisi lembap. Tandanya adalah biji terasa pahit saat dimakan.
Cara Menghilangkan atau Mengurangi Senyawa Beracun
Senyawa-senyawa di atas dapat dikurangi secara signifikan melalui beberapa metode pengolahan tradisional maupun modern:
- Perendaman: Mimosin bersifat sangat mudah larut dalam air. Merendam biji lamtoro dalam air suhu 70°C selama 24 jam dapat menurunkan kadar mimosin dari 5% menjadi 0,2%. Perendaman air dingin selama 24 jam juga umum dilakukan sebelum pengolahan lebih lanjut.
- Perebusan: Merebus biji lamtoro dalam air mendidih selama 4 menit dapat menekan kadar mimosin secara drastis. Dalam proses pembuatan tempe, perebusan sering dilakukan selama 3-4 jam untuk memastikan biji lunak dan kulitnya mudah lepas, yang juga membantu melarutkan racun.
- Fermentasi (Menjadi Tempe Lamtoro): Ini adalah cara yang paling efektif. Proses fermentasi menjadi tempe diketahui dapat menurunkan kadar mimosin hingga 99%. Selain itu, fermentasi menghasilkan enzim fitase yang dapat menguraikan asam fitat sekitar 32%, sehingga meningkatkan ketersediaan mineral bagi tubuh.
- Pengovenan dan Penggorengan: Penelitian menunjukkan bahwa pengovenan selama 5 menit atau penggorengan selama 3 menit sudah mampu menurunkan kandungan mimosin, tanin, dan asam fitat secara signifikan.
- Pengupasan Kulit: Mengupas kulit luar biji setelah proses perebusan atau perendaman juga membantu mengurangi akumulasi zat anti-gizi yang menempel pada kulit.
Sebagai langkah pertolongan pertama jika terjadi gejala keracunan mimosin (seperti mual atau pusing), penderita dapat diberikan tablet norit atau air kelapa hijau yang dicampur garam dapur untuk menghambat penyerapan racun di saluran pencernaan.
Daftar Pustaka
Astuty, M., Indrati, R., & Atmajaya, Y. (n.d.). Tempe lamtoro (Leucena leucocephala), pengaruhnya terhadap absorpsi zat besi pada tikus. Neliti.,
Darmawan, T. P. (2023). Indeks glikemik dan beban glikemik tempe kedelai dengan substitusi biji lamtoro (Leucaena leucocephala) [Skripsi, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta]. Repository UPN Veteran Jakarta.,,
Keban, F. (2025, 18 Maret). Benarkah biji lamtoro bisa sembuhkan cacingan? Ini fakta ilmiahnya! Victory News.,,
Mala, M. R. (2023). Pengaruh substitusi kedelai dengan biji lamtoro (Leucaena leucocephala) pada tempe terhadap kandungan serat, glukomanan dan flavonoid untuk penderita diabetes melitus tipe 2 [Skripsi, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta]. Repository UPN Veteran Jakarta.,,
MuJiB. (n.d.). Panduan budidaya lamtoro [Dokumen PDF]. Scribd.,,
Muzakki, W. A. (2022). Perubahan karakteristik senyawa gizi, anti gizi dan kecernaan protein in vitro biji lamtoro [Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit] selama pengovenan dan penggorengan [Tesis, Universitas Gadjah Mada]. ETD UGM.,,
Nugraha, R. F. (n.d.). Manfaat dan karakteristik lamtoro [Dokumen PDF]. Scribd.,,
Rachmatiah, T., Nurvita, H., & Triana D, R. (2015). Potensi antidiabetes pada tumbuhan petai cina (Leucaena leucocephala (Lam).De Wit). Sainstech, 25(1), 115-123.,,
Suryadjaja, F. (2012, 26 November). Mimosin, senyawa toksik lamtoro. Rumah Pengetahuan.,,,
Wardani, L., Sartika., & Anwar, T. F. S. (n.d.). Teks prosedur "Tempe dari Biji Lamtoro" [Dokumen PDF]. Scribd.,,

Leave a Comment