Pengantar Teori-Teori Keperawatan
Bedah Buku: Nursing Theories and Models Bab 4
Mengapa Kita Membutuhkan Teori? Dalam diskursus keperawatan modern, teori sering kali dianggap sebagai beban akademis yang jauh dari realitas klinis. Namun, dalam Bab 4 bukunya yang berjudul "Introduction to nursing theories", Hugh McKenna menegaskan bahwa teori adalah kompas yang memberikan arah, tujuan, dan legitimasi bagi praktik keperawatan. Bab ini berfungsi sebagai gerbang untuk memahami bagaimana pemikiran abstrak dapat ditransformasikan menjadi tindakan profesional yang terukur dan sistematis.
Mencari Kompas dalam Praktik: Evolusi dari Florence Nightingale
McKenna membuka bab ini dengan menelusuri akar sejarah teori keperawatan. Ia menyoroti kontribusi Florence Nightingale bukan sekadar sebagai tokoh sejarah, melainkan sebagai teoritikus pertama yang mendefinisikan hubungan antara lingkungan dan penyembuhan manusia. Evolusi ini menunjukkan pergeseran krusial: keperawatan tidak lagi dipandang sebagai "pekerjaan tangan" yang hanya mengikuti instruksi medis, melainkan sebuah disiplin ilmu yang memiliki basis pengetahuan sendiri. Tanpa dasar teoretis ini, keperawatan berisiko tetap berada di bawah bayang-bayang model medis yang reduksionistik.
Melepaskan Belenggu Model Medis: Antara Teori Pinjaman dan Teori Asli
Salah satu poin paling tajam dalam bab ini adalah perdebatan mengenai borrowed theories (teori pinjaman) versus unique nursing theories (teori asli keperawatan). McKenna menjelaskan bahwa pada awalnya, keperawatan banyak mengadopsi teori dari psikologi, sosiologi, dan biologi. Meskipun bermanfaat, ketergantungan ini menciptakan krisis identitas. Bab 4 mengajak pembaca memahami pentingnya mengembangkan teori yang lahir langsung dari rahim praktik keperawatan sendiri, sebuah upaya untuk menjawab fenomena unik yang hanya ditemui oleh perawat di samping tempat tidur pasien.
Peta Pemikiran
Membedah Paradigma Totality dan Simultaneity Untuk memudahkan pemahaman terhadap kompleksitas teori yang ada, McKenna mengklasifikasikan teori-teori besar (Grand Theories) ke dalam dua paradigma utama yang sangat kontras:
Paradigma Totality
Teori dalam kelompok ini melihat manusia sebagai makhluk bio-psiko-sosial-spiritual yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berinteraksi. Fokusnya adalah mencapai keseimbangan atau stabilitas (seperti pada model Orem atau Roy).
Paradigma Simultaneity
Sebaliknya, paradigma ini melihat manusia sebagai satu kesatuan utuh yang tidak dapat dibagi-bagi dan terus berubah secara dinamis dengan lingkungannya (seperti pada teori Rogers atau Parse). Pemilahan ini sangat penting bagi praktisi untuk menentukan filosofi mana yang paling sesuai dengan unit tempat mereka bekerja.
Menjembatani Menara Gading:Menguji Utilitas dan Kritik Teori
McKenna tidak hanya memuja teori; ia juga menghadirkan perspektif kritis. Bab ini secara jujur membahas mengapa banyak perawat merasa terasing dari teori. Kritik mengenai bahasa yang terlalu muluk dan tingkat abstraksi yang terlalu tinggi diakui sebagai hambatan. Namun, McKenna memberikan pembelaan bahwa teori berfungsi sebagai "bahasa profesional" yang menyatukan perawat di seluruh dunia. Tanpa teori, praktik keperawatan akan menjadi tidak konsisten dan sulit untuk dievaluasi kualitasnya.
Membawa Teori ke Dalam Genggaman Praktisi, Bab 4 dari karya McKenna ini memberikan pesan kuat bahwa pengantar teori bukanlah sekadar hafalan nama-nama tokoh. Ini adalah tentang pengembangan pola pikir kritis. Memahami teori memungkinkan perawat untuk menjelaskan mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Dengan menguasai fondasi teoretis, perawat bertransformasi dari sekadar pelaksana teknis menjadi ilmuwan klinis yang mampu memberikan asuhan yang manusiawi, efektif, dan berbasis pengetahuan yang kokoh.
Reterensi:
McKenna, H. (1997). Nursing Theories and Models. Routledge. Chapter 4: Introduction to nursing theories.
Leave a Comment