Memahami Terminologi dalam Teori Keperawatan

 

Bedah Buku: Nursing Theories and Models Bab 2

Dalam dunia keperawatan, teori bukan sekadar kumpulan konsep abstrak. Ia adalah fondasi yang membentuk cara perawat memahami pasien, lingkungan, kesehatan, dan praktik profesional. Namun, sebelum kita bisa mengaplikasikan teori, ada satu tantangan besar yang sering kali membuat bingung: terminologi.

Bab pertama dari buku Nursing Theories and Models karya Hugh McKenna, berjudul The Trouble with Terminology, membahas secara mendalam persoalan istilah-istilah yang digunakan dalam teori keperawatan. Artikel ini akan mengelaborasi isi bab tersebut dan menunjukkan mengapa memahami terminologi adalah langkah awal yang krusial bagi setiap perawat maupun mahasiswa keperawatan.

Mengapa Terminologi Penting?

Bayangkan seorang perawat baru yang sedang belajar teori keperawatan. Ia menemukan istilah seperti metaparadigm, concept, construct, model, dan theory. Tanpa penjelasan yang jelas, istilah-istilah ini bisa terasa membingungkan, bahkan menakutkan. McKenna menekankan bahwa kebingungan ini bukan hal sepele. Jika perawat tidak memahami istilah dasar, maka penerapan teori dalam praktik akan sulit dilakukan.

Terminologi adalah bahasa yang digunakan untuk membangun pengetahuan. Sama seperti dokter yang harus memahami istilah medis, perawat juga harus menguasai istilah teoritis agar dapat berkomunikasi secara profesional dan kritis.

Global Terms: Pandangan Luas dalam Keperawatan

McKenna membagi istilah ke dalam tiga kategori: global terms, working terms, dan middle terms. Global terms mencakup istilah yang memberikan gambaran luas tentang disiplin keperawatan, seperti metaparadigm, domain, dan philosophy. Metaparadigm misalnya, adalah kerangka paling luas yang mencakup empat elemen utama: nursing, health, person, dan environment. Hampir semua teori keperawatan berangkat dari empat komponen ini, meskipun tiap tokoh menekankan aspek yang berbeda. Florence Nightingale, misalnya, menekankan pentingnya lingkungan dalam proses penyembuhan. Sementara Martha Rogers lebih menyoroti hubungan manusia dengan lingkungannya sebagai sistem energi. Perbedaan penekanan ini menunjukkan betapa kaya dan beragamnya cara pandang dalam keperawatan.

Working Terms: Dari Fenomena ke Konsep

Kategori kedua adalah working terms, yang meliputi fenomena, konsep, konstruk, dan proposisi. Fenomena adalah kejadian atau perilaku yang diamati, misalnya pasien yang gelisah sebelum operasi. Ketika fenomena diberi label, ia menjadi konsep — dalam contoh tadi, fenomena tersebut bisa disebut “kecemasan”. Jika konsep semakin abstrak dan sulit diukur, ia disebut konstruk, seperti “harga diri” atau “kasih sayang”. Hubungan antar konsep kemudian dirumuskan dalam bentuk proposisi, yang bisa berkembang menjadi hipotesis dan diuji melalui penelitian. Dengan memahami working terms, perawat dapat menelusuri bagaimana pengalaman nyata di lapangan bisa diubah menjadi teori yang berguna.

Middle Terms: Model dan Teori

Kategori terakhir adalah middle terms, yang mencakup model, teori, paradigma, disiplin, riset, dan sains.

Di sinilah perdebatan sering muncul: apakah suatu gagasan disebut “model” atau “teori”? McKenna menjelaskan bahwa sebagian ahli menganggap model lebih abstrak dan umum, sementara teori lebih spesifik dan dapat diuji. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa perbedaan ini tidak terlalu penting; yang lebih penting adalah bagaimana gagasan tersebut memengaruhi praktik keperawatan.

Sebagai contoh, teori adaptasi Callista Roy sering disebut sebagai “grand theory” karena cakupannya luas. Namun, bagian tertentu dari teorinya bisa dikembangkan menjadi teori tingkat menengah (middle-range theory) yang lebih praktis untuk penelitian atau intervensi klinis.

Tantangan dan Peluang

Bab ini menyoroti bahwa perbedaan definisi dan istilah sering kali menimbulkan kebingungan. Namun, McKenna justru melihat hal ini sebagai peluang. Dengan adanya beragam definisi, perawat didorong untuk berpikir kritis, membandingkan, dan memilih istilah yang paling relevan dengan konteks praktik mereka.

Lebih jauh, pemahaman terminologi membantu perawat untuk:

  • Menghindari penerimaan teori secara dogmatis.
  • Mengembangkan kemampuan analisis dan refleksi.
  • Menghubungkan teori dengan fenomena nyata di lapangan.
  • Berkontribusi pada pengembangan ilmu keperawatan melalui penelitian.

Penutup

Bab pertama buku Nursing Theories and Models mengingatkan kita bahwa memahami teori keperawatan bukan hanya soal menghafal nama tokoh atau model. Lebih dari itu, kita harus menguasai bahasa teori — terminologi yang menjadi fondasi ilmu keperawatan.

Dengan memahami global terms, working terms, dan middle terms, perawat dapat menelusuri perjalanan dari fenomena nyata hingga menjadi teori yang teruji. Inilah langkah awal untuk menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik, serta memastikan bahwa teori benar-benar berkontribusi pada peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.

No comments

Abi. Powered by Blogger.