12 December 2022

Hipertermia

 

Image by peoplecreations on Freepik

Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh yang tidak terkontrol melebihi kemampuan tubuh untuk menghilangkan panas. Hipertermia dapat mengakibatkan suhu inti yang sangat tinggi dan dapat dengan cepat menjadi fatal (Mørch, Andersen, & Bestle, 2017). PPNI mendefinisikan hipertermia sebagai peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal tubuh (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017).

Hipertermia bisa disebabkan banyak hal seperti heat stroke, hipertermia karena keganasan, sindrom serotonin, sindrom neuroleptik, beberapa keadaan darurat endokrin serta keracunan dalam jumlah besar (Mørch, Andersen, & Bestle, 2017). PPNI Menetapkan penyebab hipertermia ada delapan yaitu dehidrasi, terpapar lingkungan panas, proses penyakit (infeksi, kanker), ketidaksesuaian pakaian dan suhu tubuh, peningkatan laju metabolism, respon trauma, aktivitas berlebihan dan penggunaan incubator (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017).

Suhu tubuh di atas normal merupakan tanda yang paling sering ditemukan. Disamping itu, beberapa tanda berikut bisa jadi ditemukan pada pasien yang menderita hipertermia seperti kulit merah, kejang, takikardi, takipnea, dan kulit teraba hangat.

Adapun kondisi klinis yang sering berhubungan dengan hipertermia adalah proses infeksi, hipertiroid, stroke, dehidrasi, trauma, dan prematuritas.

Referensi

  1. Mørch, S. S., Andersen, J. D. H., & Bestle, M. H. (2017). Ugeskrift for laeger, 179(30), V06160461.
  2. Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, Definisi dan Indikator Diagnostik. Edisi 1 (Cetakan III). Penerbit DPP PPNI


02 December 2022

Bagaimana Menyusun Tinjauan Literatur pada Tulisan Akademik

 

Image by drobotdean on Freepik


Tinjauan literatur sering juga disebut juga dengan tinjauan teori. Dalam Bahasa Inggris istilah ini disebut dengan Literature Review. Tinjauan literatur ini sangat penting dalam sebuah penelitian, karena ia memberikan pijakan terhadap penelitian yang akan dilakukan. Tinjauan literatur juga memberikan gambaran sejauhmana studi terfdahulu yang telah dilakukan sehingga peneliti tidak terjebak pada tema atau masalah penelitian yang sama. Dengan kata lain, repetisi tidak akan terjadi jika peneliti telah mengetahui perkembangan studi sebelumnya.

Bagi penulis atau peneliti pemula yang kurang pengalaman, tinjauan literatur biasanya dilakukan dengan memasukkan seluruh konsep ke dalam satu bab. Mereka memasukkan seluruh komponen dari sebuah konsep secara umum namun gagal mengaitkan variabel satu dengan variabel lainnya. Sehingga, walaupun jumlah halaman sangat banyak, namun tinjauan literatur tersebut tidak memberikan arah yang jelas tentang bagaimana pola hubungan antara variabel-variabel yang menjadi fokus studi. Kualitas tinjauan literatur yang baik bukan terletak pada banyaknya jumlah halaman namun bagaimana ia mampu menjelaskan hubungan antara variabel.

Contoh sebuah studi mengambil judul “Efek permen karet xylitol terhadap jumlah produksi saliva pada perokok lansia.” Untuk menyusun tinjauan literatur dari judul tersebut, penulis harus mengidentifikasi variabel penelitian. Setidaknya ada dua variabel penelitian, pertama permen karet xylitol, kedua produksi saliva pada perokok lansia. Setelah menentukan variabel tersebut, identifikasi unsur atau komponen masing-masing variabel. Pada variabel pertama, setidaknya ada dua komponen yang harus disertakan dalam tinjauan literatur yaitu permen karet dan Xylitol. Sedang yang kedua terdiri dari komponen saliva, produksi saliva, perokok, dan lansia. Berikut ilustrasi melihat hubungan masing-masing unsur pada tiap variabel (gambar 1 dan 2).


Gambar 1. Konsep permen karet xylitol (A). 


Untuk membuat konsep permen karet xylitol di atas, penulis hanya cukup menjelaskan area A secara Panjang lebar. Adapun komponen yang tidak berkaitan tidak perlu dijelaskan secara detail.


Gambar 2. Konsep Produksi saliva pada perokok lansia (A).


Pada gambar 2, penulis setidaknya menjelaskan area A, B, C, D dengan penekanan pada area A. Komponen yang tidak saling berhubungan tiak perlu ditulis secara detail. 

Jika tinjauan literatur di atas digunakan dalam studi tentang efektifitas perlakuan terhadap subyek penelitian maka penulis harus membuat kerangka konsep berupa bagan alur yang menunjukkan hubungan antara variabel. 

Gambar 3. Kerangka konsep efek permen karet xylitol terhadap produksi saliva pada perokok lansia. 
Warna menunjukkan jalur yang berbeda antar variabel.


Dari kerangka konsep di atas, penjelasan setiap kotak harus sudah diuraikan pada tinjauan literatur, sehingga kerangka konsep ini lebih berfungsi untuk menyederhanakan konsep dan memperjelas hubungan variabel yang telah dijelaskan Panjang lebar sebelumnya. Dengan demikian, tinjauan literatur harus benar-benar bisa menjelaskan dan mengarahkan kerangka berfikir penulis tanpa harus mempertimbangkan banyak tidaknya jumlah halaman yang harus ditulis. Dari sini pula peneliti akhirnya bisa merumuskan hipotesis penelitian mereka. Selamat menulis! 


17 November 2022

Trik Menulis Latar Belakang pada Penelitian Asosiatif

 

Image by jcomp on Freepik

Tulisan akademik atau dalam Bahasa Inggris disebut academic writing adalah gaya penulisan formal yang digunakan di perguruan tinggi dan universitas. Gaya penulisan ini biasanya dilakukan oleh para mahasiswa untuk tugas-tugas akademik mereka atau para guru dan peneliti di dalam menulis karya ilmiah mereka. Ada banyak tulisan akademik, salah satunya adalah proposal atau makalah penelitian. 

Makalah yang ditulis dalam gaya akademik setidaknya mencakup tiga bagian berbeda: pendahuluan (latar belakang), isi, dan kesimpulan. Tulisan berikut dimaksudkan untuk menjelaskan bagaimana menulis latar belakang yang menarik perhatian pembaca dan sesuai dengan desain penelitian asosiatif. Penulis memandang bahwa jenis penelitian akan mempengaruhi gaya penulisan di latar belakang.

Pada penelitian asosiatif (korelatif), latar belakang setidaknya ditulis dalam beberapa langkah sebagai berikut:

Langkah 1: Menyebutkan masalah di awal kalimat pada alinea pertama secara jelas. 

Penyebutan masalah di awal kalimat pada alinea pertama ini sangat penting bagi pembaca karena akan menarik perhatian mereka. Terkadang, masalah tidak disebutkan secara jelas di latar belakang atau disebutkan namun jauh di sela-sela antar alinea sehingga dibutuhkan upaya yang lebih untuk memahami isi tulisan. Oleh karena itu, tidak jarang pembaca melewati tulisan yang sesungguhnya berbobot namun tidak ditulis dengan gaya akademik yang bagus. 

Contoh penulisan masalah:

Masalah utama dalam penatalaksanaan pasien dengan diabetes melitus adalah rendahnya dukungan keluarga…”

Studi tentang manajemen diri pasien telah menjadi aspek penting dari penatalaksanaan diabetes melitus…”

Beberapa contoh kalimat pengantar yang menggambarkan masalah antara lain:

*Baru-baru ini, ada minat yang meningkat pada _____

*Hubungan antara _____ dan ______telah diselidiki oleh banyak peneliti.

*Kemungkinan _____ telah menimbulkan minat yang luas pada _____

*Perkembangan _____ adalah masalah klasik di _____

* _____ telah dipelajari secara ekstensif dalam beberapa tahun terakhir.

* Banyak penelitian terbaru berfokus pada _____ (Kayfetz, 2009).

dst.

Langkah 2: Menyebutkan bukti-bukti adanya masalah berdasarkan studi terdahulu

Masalah pada penelitian asosiatif biasanya berupa fenomena yang terjadi pada obyek atau populasi yang menjadi pengamatan. Misalnya seorang peneliti mengamati fenomena yang terjadi pada pasien diabetes. Dari studi terdahulu terdapat bukti bahwa dukungan keluarga pada penatalaksanaan pasien diabetes rendah. Di sisi lain, terdapat bukti bahwa manajemen diri pasien diabetes juga rendah.

Contoh:

Masalah utama dalam penatalaksanaan pasien dengan diabetes melitus adalah rendahnya dukungan keluarga. Sebuah studi melaporkan bahwa 30% pasien diabetes mengatakan keluarganya jarang mengingatkan diet yang harus dilakukan…. (Xxxx, 2020). Dst…”

Kalimat yang tercetak italic di atas adalah bukti studi terdahulu. Sertakan bukti-bukti lain yang relevan. Semakin banyak bukti disertakan semakin baik dalam mendukung adanya masalah yang perlu dipecahkan.

Langkah 3: Menyebutkan pentingnya masalah.

Setelah bukti-bukti adanya masalah diuraikan selanjutnya perlu ditekankan pentingnya masalah. Perlu diperhatikan bahwa pentingnya masalah juga diambil dari studi terdahulu. Contoh pentingnya masalah:

Dukungan keluarga sangat penting bagi pasien diabetes melitus. Sebuah studi melaporkan bahwa dukungan keluarga dibutuhkan oleh pasien dengan diabetes dalam menurunkan tingkat stress (Rahmi, Malini, & Huriani, 2020). Dukungan keluarga juga penting untuk meningkatkan kepatuhan diet pasien (Bangun, Jatnika, & Herlina, 2020). Sementara itu Meidikayanti, & Wahyuni (2017) melaporkan bahwa rendahnya dukungan keluarga dapat menyebabkan rendahnya kualitas hidup Pasien dengan diabetes melitus …”

Perhatikan kalimat yang tercetak italic menggambarkan pentingnya masalah dan menjadi alasan pentingnya dilakukan studi saat ini. Anda juga perlu menguraikan pentingnya semua variabel pada studi Anda, bukan hanya satu sebagaimana contoh di atas. Jika satu variabel lainnya adalah kepatuhan pasien terhadap penatalaksanaan, maka Anda juga harus menguraikan pentingnya variable tersebut.

Langkah 4: Menyebutkan dugaan keterkaitan masalah

Setelah dua fenomena dalam populasi atau obyek pengamatan disajikan maka Langkah selanjutnya adalah perlunya penekanan bahwa fenomena tersebut saling berhubungan. Contoh:

“…munculnya dua fenomena pada pasien dengan diabetes melitus diatas sepertinya memiliki benang merah…dst.”

Langkah 5: Menyebutkan belum adanya studi terdahulu sebagai alasan studi saat ini.

Langkah 4 diikuti dengan menyebutkan ada tidaknya penelitian sebelumnya yang sama. Jika ada, maka sebaiknya dicari apa nilai keterbaruan dari studi yang akan dilakukan. Jika tidak menemukan sebaiknya tinggalkan saja sebab melakukan penelitian yang sudah dilakukan oleh orang lain selain membuang waktu juga tidak begitu penting. Jika tidak menemukan studi terdahulu yang sama maka studi ini menjadi penting untuk dilakukan. Contoh berikut menggabungkan antara langkah ke-4 dan ke-5 sekaligus:

“…munculnya dua fenomena pada pasien dengan diabetes melitus diatas sepertinya memiliki benang merah. Sejauh penelusuran peneliti, belum ada studi dengan judul hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan manajemen diri pada pasien dengan diabetes melitus, maka peneliti tertarik untuk melakukan studi dengan judul di atas…dst.”

Referensi

  1. Bangun, A. V., Jatnika, G., & Herlina, H. (2020). Hubungan antara Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Diet pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2. Jurnal Ilmu Keperawatan Medikal Bedah, 3(1), 66-76.
  2. Kayfetz, J. L. (2009). Academic writing and great presentations workshops for CS grad students. Newsletter of the Department of Computer Science at Columbia University, 5(2).
  3. Meidikayanti, W., & Wahyuni, C. U. (2017). Hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup Diabetes melitus tipe 2 di puskesmas pademawu. Jurnal Berkala Epidemiologi, 5(2), 240-252.
  4. Rahmi, H., Malini, H., & Huriani, E. (2020). Peran dukungan keluarga dalam menurunkan diabetes distress pada pasien diabetes mellitus tipe ii. Jurnal Kesehatan Andalas, 8(4).


09 November 2022

Mengantuk Setelah Makan Kekenyangan, Berbahayakah Bagi Kesehatan?

 

Image by Freepik

Dalam sebuah kitab yang berjudul Ringkasan Siyar A’lam An-nubula karangan Imam Adz-dzahabi, Imam Asy-Syafi’i rahimahullah bernah berkata “Aku tidak pernah merasakan kenyang semenjak usia enam belas tahun kecuali hanya satu kali.” Alasannya adalah karena dengan rasa kenyang dapat menaikkan berat badan, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, menyebabkan banyak tidur dan menurunkan semangat beribadah. 

Ucapan Imam Syafi’i di atas seperti tidak pernah lekang waktu. Saat ini ucapan imam tersebut menggambarkan kondisi yang disebut dengan postprandial somnolence, food coma, after-dinner dip, postprandial sleepiness (Wikipedia, n.d) atau postprandial drowsiness (Kim & Lee, 2009). Postprandial berarti setelah makan sedangkan somnolence berarti mengantuk. Kondisi ini menggambarkan perasaan mengantuk setelah makan (Lewsley, 2021). 

Pertanyaannya adalah bagaimanakah terjadinya rasa mengantuk setelah makan dan apakah ia berbahaya bagi kesehatan?

Terdapat beberapa teori yang telah menjelaskan penyebab mengantuk setelah makan. Tiga teori yang menonjol adalah: Redistribusi darah setelah makan, peningkatan serotonin serebral, dan interaksi usus-otak. Teori redistribusi darah setelah makan adalah teori lama yang menjelaskan bahwa terjadi rasa mengantuk karena pengalihan distribusi darah dari otak ke pembuluh darah mesenteric. Namun, teori ini ditentang oleh fakta bahwa regulasi serebral atau jantung mempertahankan suplai darah dan oksigen serebral dalam berbagai kondisi, termasuk olahraga(Kim & Lee, 2009). Beberapa karya dari kishino menunjukkan anjloknya aliran darah ke otak setelah mereka makan siang khususnya di antara orang-orang yang melewatkan sarapan pagi (Heid, 2019). Teori kedua menjelaskan adanya peningkatan hormon triptofan dan serotonin yang diinduksi oleh insulin postprandial menyebabkan timbulnya rasa mengantuk. Namun, hipotesis insulin sendiri justru menunjukkan kontradiksi teoritis dan eksperimental. Teori ketiga menyebutkan efek zat neuroaktif yang diproduksi dalam pencernaan pada pusat pengaturan tidur di otak. Namun, hipotesis ini tidak menawarkan mekanisme timbulnya rasa mengantuksetelah makan (Kim & Lee, 2009).

Hipothesis terbaru mengusulkan bahwa sinyal keadaan kenyang atau metabolisme yang diterima oleh hipotalamus melalui stimulasi darah atau saraf vagus, dapat secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi area hipotalamus preoptik. Hipotesis tersebut didasari oleh studi sebelumnya yang menyatakan bahwa status metabolisme dan makan kenyang berhubungan dengan rasa kantuk. Dan faktanya, makanan tinggi kalori dari lemak, dilaporkan menyebabkan kantuk yang lebih hebat daripada makanan berkarbohidrat atau makanan rendah lemak berenergi. Dengan demikian, secara empiris, status energi dan rasa kenyang berhubungan dengan tidur (Kim & Lee, 2009). Sebuah studi pada pengemudi truk jarak pendek mengkonfirmasi bahwa yang makan siang porsi besar mengalami rasa kantuk daripada yang porsi hemat (Martins, Martini, & Moreno, 2019).

Lantas, apakah kondisi mengantuk setelah makan kenyang berbahaya bagi kesehatan? Sebagian besar pendapat menyatakan bahwa mengantuk setelah makan adalah kondisi yang normal (Toh, 2021; Wikipedia, n.d). Namun, jika rasa kantuk timbul saat makan dalam porsi standar dan setiap hari maka kondisi ini dikatakan tidak wajar. Beberapa hal yang menyebabkan kondisi tersebut antara lain: Perubahan aliran darah ke otak dan aktivasi aktivitas sistem saraf parasimpatis; Hipoglikemia reaktif; Resistensi insulin; Stres oksidatif yang diinduksi makanan; Asupan lemak tinggi; Endotoksemia metabolic; dan Peradangan kronis (Kresser, 2021).

Eksplanasi di atas membuat saya kagum dengan perkataan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah “Aku tidak pernah merasakan kenyang semenjak usia enam belas tahun kecuali hanya satu kali.” Alasannya adalah karena dengan rasa kenyang dapat menaikkan berat badan, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, menyebabkan banyak tidur dan menurunkan semangat beribadah. Untuk menjaga semangat ibadahnya, beliau tidak membiasanya makan hingga kenyang selama 38 tahun sisa hidupnya kecuali hanya sekali. Satu komitmen yang luar biasa dan menjadi teladan bagi pecinta kesehatan. 

Referensi:

Hasan, M., (n.d). Ringkasan Siyar A'lam An-nubula': Biografi Sahabat, Tabiin, Tabiut Tabiin, dan Ulama Muslim, Volume 2. Penerbit Buku Islam Rahmatan.

Heid, M., (2019). Why Do You Get Sleepy After Eating? These Are the Top Theories. Time Magazine. Diakses tanggal 9 November 2019.

Kim, S. W., & Lee, B. I. (2009). Metabolic state, neurohormones, and vagal stimulation, not increased serotonin, orchestrate postprandial drowsiness. Bioscience Hypotheses, 2(6), 422-427.

Kresser, C., (2021). Postprandial Somnolence: Why a “Food Coma” Happens. Kresser Institute. Postprandial Somnolence: Why a “Food Coma” Happens - Kresser Institute. Diakses tanggal 9 November 2019.

Lewsley, J., (2021). Food coma: What to know about postprandial somnolence. https://www.medicalnewstoday.com/articles/food-coma. Medical New Today. Diakses pada tanggal 8 November 2022.

Martins, A. J., Martini, L. A., & Moreno, C. R. (2019). Prudent diet is associated with low sleepiness among short-haul truck drivers. Nutrition, 63, 61-68.

Toh, M.P., (2021). Q&A: Why We Experience Food Coma and How Healthy Eating Habits Help. Health Hub. https://www.healthhub.sg/live-healthy/1913/Your-Medical-Questions-Answered-Food-Coma. Diakses pada tanggal 9 November 2022

Wikipedia. Postprandial somnolence. https://en.wikipedia.org/wiki/Postprandial_somnolence#cite_note-Keys2017-1. Diakses pada tanggal 8 November 2022.


27 October 2022

Batasan Makan Minum Seorang Muslim

Image by wayhomestudio on Freepik


Seorang tabib pribadi Khalifah Harun al-Rasyid yang beragama Nasrani pernah berkata kepada seorang yang alim, "dalam kitab kalian tidak sedikitpun dituliskan ilmu tentang kedokteran", kemudian sang alim menjawab : "sesungguhnya Allah telah mengumpulkan ilmu kedokteran dalam satu ayat dari kitab kami", sang tabib kemudian menimpali : "lalu apakah itu ?" , sang 'Alim kemudian membacakan firman Allah :

 وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ 

"makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan" (Al A’raf:31).

Tidak berlebih-lebihan adalah batasan makan dan minum bagi seorang muslim. Namun bagaimanakah pemahaman yang benar atas kalimat “tidak berlebih-lebihan” tersebut. Al Miqdam bin Ma'dikarib pernah berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah anak Adam memenuhi tempat yang lebih buruk dari pada perutnya, ukuran bagi (perut) anak Adam adalah beberapa suapan yang hanya dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika jiwanya menguasai dirinya, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk bernafas." 

Ucapan Miqdam di atas menunjukkan Batasan makan minum yang sangat jelas. Batasan minimal adalah beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggung seseorang. Rasa lapar terkadang menyebabkan perasaan seseorang sulit untuk mempertahankan posisi berdiri. Kakinya gemetar dan terjadi kelemahan diseluruh tubuhnya. Jika kemudian orang tersebut makan beberapa suap dan kemudian rasa lemah atau gemetar menghilang, maka cukup baginya untuk menghentikan suapannya. Ini adalah Batasan minimal. Namun jika kemudian orang tersebut tidak mampu untuk menghentikan keinginan makannya, maka makan minum yang dilakukan tidak sampai menyebabkan kesulitan bernafas karena rasa kenyang yang berlebihan. Ini adalah Batasan maksimal dan yang dimaksud dengan kalimat sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk bernafas." (Hadits Sunan Ibnu Majah No. 3340).

Sebagai gambaran berapa banyak seharusnya seorang muslim mengisi perutnya diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kedatangan tamu seorang kafir. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyuruh pembantunya memerah susu seekor kambing untuk tamu, lalu diminum habis oleh tamu tersebut. Kemudian beliau menyuguhkan lagi, dan habis pula diminumnya. Di suguhkannya lagi, ia pun masih tetap meminumnya, sehingga akhirnya dia meminum habis susu perahan tujuh ekor kambing. Beberapa waktu kemudian dia masuk Islam. Rasulullah memerintahkan supaya diperah seekor kambing untuknya. Susu itu diminumnya habis. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyuruh supaya diperah seekor lagi lalu diberikan pula kepadanya, tetapi dia tidak sanggup menghabiskannya. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang mukmin minum dengan satu usus (perut), dan orang kafir minum dengan tujuh usus (perut)." Kabar ini menjelaskan bahwa seorang muslim mengisi perutnya jauh lebih sedikit dibandingkan oran kafir 

Apakah dengan demikian seorang muslim tidak boleh makan hingga kenyang? Dikisahkan pada saat perang khandaq salah seorang sahabat bernama Jabir bin Abdulloh bermaksud mengundang Rosululloh dan beberapa sahabat lain untuk makan di rumahnya. Perang khandaq terjadi di musim dingin dan sulit mendapatkan makanan. Bahkan pada saat itu Rosululloh menahan lapar dengan mengganjal perutnya dengan batu. Di Luar dugaan Rosululloh mengajak seluruh pasukan yang sedang menggali parit sebanyak lebih 1000 orang untuk mendatangi rumah Jabir. Kekhawatiran Jabir karena makanannya sedikit ternyata tidak terbukti. Mukjizat Rosululloh menyebabkan makanan yang sedikit tidak habis dimakan oleh seluruh sahabat. Bahkan makanan masih tersisa seolah-olah makanan belum pernah disentuh. Tidaklah para sahabat keluar dari rumah Jabir kecuali perutnya dalam keadaan kenyang (Hadits Shahih Muslim No. 3843). 

Kesimpulannya adalah bahwa makan dan minum hendaknya jangan berlebih-lebihan. Namun tidak mengapa pada saat tertentu untuk makan hingga kentang. Terutama pada saat kondisi kelaparan dimana makanan sulit didapatkan.


02 October 2022

Asuhan Keperawatan Intraoperatif Bedah Katarak

 

Image by wavebreakmedia_micro on Freepik



Video Persiapan Bahan Habis Pakai Operasi Katarak:


Video Persiapan Instrumen Operasi Katarak:


Video Operasi Katarak (dari jauh):


Video operasi katarak (ECCE + IOL):



23 August 2022

Teori Keperawatan (bagian 2)

Story book photo created by freepik - www.freepik.com


Jenis/Tingkatan Teori


02 August 2022

TM-4. Bahan Belajar MK Falsafah dan Teori Keperawatan

Doctor avatar vector created by felicities - www.freepik.com


Pertemuan keempat perkuliahan mata kuliah Falsafah dan Teori Keperawatan bertemakan Teori & Model Konseptual Keperawatan. Tujuan mempelajari bab ini adalah agar mahasiswa mampu menjelaskan:

  • Pengertian teori & model konseptual keperawatan
  • Komponen & kerangka teori keperawatan
  • Tujuan teori keperawatan
  • Hubungan paradigma, teori, & praktik keperawatan
  • Keperawatan sebagai profesi

Untuk mencapai pembelajaran tersebut, perkuliahan akan di bagi menjadi beberapa sesi. Sesi pertama mahasiswa akan mendengarkan sedikit pengantar tentang tema pembelajaran. 

Teori ada di mana-mana di tengah masyarakat. Ada banyak teori tentang keluarga, tentang mesin pembakaran internal, tentang bagaimana sel kanker berkembang biak, tentang perubahan cuaca. Bahkan ada banyak teori tentang siapa yang membunuh Presiden John F. Kennedy atau Marilyn Monroe. Dunia ini penuh dengan teori, beberapa diuji sebagai akurat, beberapa belum teruji dan beberapa spekulatif. Maka, tidak mengherankan kalau ada teori keperawatan. Tapi apa yang dilakukan teori? Intinya, mereka hanya digunakan untuk menggambarkan, menjelaskan, atau memprediksi fenomena.

Perhatikan gambar di bawah ini:

Sapa photo created by prostooleh - www.freepik.com

Sebutkan teori-teori yang ada pada gambar di atas? Diskusikan jawaban Anda bersama kelompok! dan kirimkan jawaban melalui ketua kelompok ke dalam drive yang dikirim di chatbox zoom.

Selanjutnya jawablah pertanyaan berikut ini (secara kelompok):
  1. Apakah pengertian dari teori?
  2. Apakah pentingnya teori dalam keperawatan?
  3. Jelaskan komponen-komponen teori!

Perhatikan gambar di bawah, bayangkan ia adalah sebuah teori. Sebutkan komponen apa saja yang menyusun gambar tersebut!

Stone wall photo created by freepik - www.freepik.com

Setelah Anda memahami komponen teori, jawablah pertanyaan berikut. Bagaimana hubungan paradigma, teori dan praktik keperawatan?

Terakhir, jawablah pertanyaan berikut: Apakah yang muncul dalam benak saudara jika membaca kalimat berikut "Keperawatan sebagai Profesi?" 

Selamat belajar, semoga manfaat!

29 June 2022

Penurunan Kapasitas Adaptif Intrakranial

Bad sleep photo created by jcomp - www.freepik.com


Penurunan kapasitas adaptif intrakranial adalah salah satu masalah neurologis yang paling umum pada pasien sakit kritis. Ini adalah penyebab utama hipertensi intrakranial dan, jika tidak ditangani dengan benar, kemungkinan akan mempengaruhi prognosis pasien secara negatif dan dapat menyebabkan cedera otak lebih lanjut atau kematian (Wang & Kao, 2012).

Definisi

Penurunan kapasitas adaptif intrakranial diartikan sebagai gangguan dinamika mekanisme yang biasanya mengkompensasi peningkatan volume intrakranial, yang mengakibatkan peningkatan secara berulang yang tidak proporsional pada tekanan intrakranial (TIK) awal sebagai respons terhadap berbagai rangsangan berbahaya (Nanda Diagnoses, n.d.). Sementara, PPNI mendefinisikan sebagai gangguan mekanisme dinamika intrakranial dalam melakukan kompensasi terhadap stimulus yang dapat menurunkan kapasitas intracranial (PPNI, 2017).

Diagnosis keperawatan ini diusulkan pertama kali oleh Mitchell (1986) yang dalam bentuk aslinya adalah sebagai berikut:

  • Diagnosis Keperawatan: Penurunan kapasitas adaptif, intrakranial
  • Etiologi: Kegagalan mekanisme kompensasi intracranial normal
  • Karakteristik: Peningkatan TIK terus menerus secara tidak proporsional sebagai respon terhadap berbagai rangsang baik berbahaya maupun tidak.

Kapasitas adaptif adalah kapasitas sebuah sistem untuk merespon dan mengembalikan stabilitas saat menghadapi tantangan internal maupun eksternal. Kapasitas adaptif intracranial ditentukan oleh tiga komponen system intracranial yaitu darah, otak, dan cairan serebrospinal. Jika ketiga komponen tersebut dalam batas normal, tindakan seperti batuk, mengejan, dan manuver valsava tidak akan menyebabkan perubahan pada TIK. 

Penyebab

Penyebab utama dari penurunan kapasitas adaptif intracranial adalah kegagalan mekanisme kompensasi intracranial normal. Menurut tm Pokja PPNI (2017) penyebab diagnosis ini meliputi:

  1. Lesi menempati ruang (mis. space-occupaying lesion – akibat tumor, abses)
  2. Gangguan metabolisme (mis. akibat hiponatremia, ensefalotapi uremikum, ensefalopati hepatikum, ketoasidosis diabetik, septikemia)
  3. Edema serebral (mis. akibat cedera kepala [hematoma epidural, hematoma subdural, hematoma subarachnoid, hematoma intraserebral], stroke hemoragik, hipoksia, ensefalopati iskemik, pascaoperasi)
  4. Peningkatan tekanan vena (mis. akibat trombosis sinus vena serebral, gagal jantung, trombosis/obstruksi vena jugularis atau vena kava superior)
  5. Obstruksi aliran cairan serebrospinalis (mis. hidosefalus)
  6. Hipertensi intrakranial idiopatik

Gejala dan Tanda 

Secara subyektif pasien mengeluh sakit kepala (mayor). Data-data onyektif yang diperlukan unntuk menegakkan diagnosis ini adalah tekanan darah meningkat dengan tekanan nadi (pulse pressure) melebar, bradikardia, pola napas ireguler, tingkat kesadaran menurun, respon pupil melambat atau tidak sama, refleks neurologis terganggu (tanda mayor); gelisah, agitasi, muntah (tanpa disertai mual), tampak lesu/lemah, fungsi kognitif terganggu, tekanan intrakranial (TIK) >20mmHg, papilledema, postur desebrasi atau ektensi (tanda minor).

Diagnosis keperawatan ini sering dikaitkan dengan cedera kepala, iskemik serebral, tumor serebral, hidrosefalus, hematoma kranial, pembentukan arteriovenous, edema vasegenik atau sitotoksik serebral, hiperemia, dan obstruksi aliran vena.

Referensi

  1. Nanda Diagnoses (n.d.). 00049 Decreased intracranial adaptive capacity. https://www.nandadiagnoses.com/decreased-intracranial-adaptive-capacity/#. Dikutip pada tanggal: 29 Juni 2022. 
  2. Mitchell P. H. (1986). Decreased adaptive capacity, intracranial: a proposal for a nursing diagnosis. The Journal of neuroscience nursing : journal of the American Association of Neuroscience Nurses, 18(4), 170–175. https://doi.org/10.1097/01376517-198608000-00002
  3. Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, Definisi dan Indikator Diagnostik. Edisi 1 (Cetakan III). Penerbit DPP PPNI
  4. Wang, L. W., & Kao, C. W. (2012). [Clinical evaluation and nursing management of a patient with decreased intracranial adaptive capacity]. Hu Li Za Zhi the Journal of Nursing, 59(5), 91-6. https://doi.org/10.6224/JN.59.5.91


01 June 2022

Manajemen Diare

Incontinence photo created by jcomp - www.freepik.com

Manajemen diare adalah salah satu intervensi utama untuk diagnosis keperawatan diare yang tercantum di dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia, Definisi dan Tindakan Keperawatan. Intervensi ini memiliki no urut 1.03101 (tim SDKI PPNI, 2017). 

Manajemen diare didefinisikan sebagai mengidentifikasi dan mengelolah diare dan dampaknya (tim SDKI PPNI, 2017). Tindakan dari intervensi ini dikategorikan ke dalam empat domain yaitu observasi, terapeutik, edukasi, dan kolaborasi. 

Tindakan identifikasi yang dimaksudkan adalah mengidentifikasi frekuensi dan jumlah pengeluaran diare, mengidentifikasi penyebab diare seperti inflamasi gastrointestinal, iritasi gastrointestinal, proses infeksi, malabsorbsi, ansietas, stress, efek obat-obatan, pemberian botol/susu termasuk mengidentifikasi riwayat makanan sebelum terjadi diare atau memonitor keamanan penyiapan makanan. 

Dampak diare juga perlu dipantau seperti adanya tanda dan gejala hypovolemia misalnya takikardia, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, tugor kulit menurun, mukosa mulut kering, Waktu pengisian Kembali pembuluh darah kapiler (CRT) melambat, dan penurunan berat badan. Monitor juga area sekitar perianal adanya iritasi atau ulserasi kulit.

Tindakan-tindakan terapeutik dalam manajemen diare meliputi pemberian asupan cairan oral seperti larutan garam gula, oralit, pedialit. Jika perlu, pasang jalur intravena (IV line) dan pemberian infus misalnya cairan ringer laktat atau ringer asetat. Mengambilsampel darah untuk pemeriksaan darah lengkap dan elektrolit. Dan jika perlu, ambil sampel feses untuk pemeriksaan kultur bakteri.

Edukasi penting diberikan kepada penderita agar memiliki persepsi yang benar tentang penanganan diare. Edukasi ditekankan pada jumlah porsi makan yang kecil namun diberikan sesering mungkin. Hal ini dikarenakan penderita diare juga sering disertai perasaan mual. Tekankan juga untuk menghindari makanan pembentuk gas, pedas dan mengandung laktosa. Bagi bayi dianjurkan tetap diberikan ASI.

Tindakan kolaborasi mungkin dibutuhkan untuk menghentikan diare. Pemberian obat-obat anti motilitas atau antispasmodik seperti loperamide, difenosilat, papaverine, belladonna, mebeverine dapat menghnetikan diare dengan cara memperlambat motilitas usus, memperpanjang waktu transit isi usus dengan mengurangi volume tinja, mengurangi kehilangan cairan, elektrolit, meningkatkan viskositas, sebagian besar tinja (Kizior & Hodgson, 2019). Pemberian obat attapulgite khususnya pada anak-anak (Pane, 2020). Obat ini berfungsi sebagai absorber, menyerap cairan, racun, dan bakteria pada saluran gastrointestinal akibatnya membuat feses menjadi lebih padat dan frekuensi defekasi berkurang (Wihardji, n.d.). Diindikasikan pada diare akut dan keracunan makanan. Saat ini kaolin pektin sudah jarang digunakan sebagai anti diare (Ramanda, n.d.).

Referensi

  1. Kizior, R. J., & Hodgson, B. B. (2019). Saunders Nursing Drug Handbook 2013. Elsevier Health Sciences.
  2. Pane, MDC (2020). Attapulgit. https://www.alodokter.com/attapulgite. Diakses pada tanggal 1 Juni 2022.
  3. Ramanda, R. (n.d.). Kaolin Pektin. https://www.alomedika.com/obat/obat-untuk-saluran-cerna/obat-untuk-diare/kaolin-pectin. Diakses pada tanggal 1 Juni 2022.
  4. Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, Definisi dan Indikator Diagnostik. Edisi 1 (Cetakan III). Penerbit DPP PPNI
  5. Wihardji, T.A. (n.d.). attapulgite. https://www.alomedika.com/obat/obat-untuk-saluran-cerna/antispasmodik-dan-antidiare/attapulgite. Diakses pada tanggal 1 Juni 2022.

31 May 2022

Diare

Smart man photo created by 8photo - www.freepik.com

Pada tahun 2016, diare adalah penyebab utama kematian kedelapan di antara segala usia (1.655.944 kematian) dan penyebab utama kematian kelima di antara anak-anak di bawah 5 tahun (446.000 kematian). Penyebab utama kematian diare di antara anak-anak di bawah 5 tahun dan di segala usia adalah Rotavirus. Anak yang kurus, air yang tercemar, dan sanitasi yang buruk merupakan faktor risiko utama terjadinya diare dan bertanggung jawab atas kematian diare masing-masing sebesar 80,4%, 72,1%, dan 56,4%. Pencegahan berat badan rendah pada 1762 anak dapat mencegah satu kematian akibat diare.‎

Definisi Diare

‎Diare adalah buang air besar 3 kali atau lebih tinja encer atau cair dalam satu hari, atau frekwensi lebih sering dari biasanya (Health Direct, 2021).‎ Diare didefinisikan sebagai pengeluaran feses yang sering, lunak dan tidak terbentuk (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017). Nilai normal kadar air dalam tinja adalah sekitar 10 mL/kg/hari pada bayi dan anak kecil atau 200 g/hari pada remaja dan orang dewasa. Peningkatan kadar air dalam tinja karena ketidakseimbangan fungsi normal proses fisiologis usus halus dan kolon yang bertanggung jawab dalam penyerapan berbagai ion, substrat lain, dan akibatnya air (Nemeth & Pfleghaar, 2021).‎

‎Diare dikategorikan menjadi akut atau kronis dan menular atau tidak menular berdasarkan durasi dan jenis gejala. Diare akut didefinisikan sebagai episode yang berlangsung kurang dari dua minggu. Dan, infeksi merupakan penyebab yang paling sering dari diare akut. Sebaliknya, diare kronis didefinisikan sebagai durasi yang berlangsung lebih dari dua minggu dan cenderung tidak menular. Penyebab umum termasuk malabsorpsi, penyakit radang usus, dan efek samping obat‎ (Nemeth & Pfleghaar, 2021).

Penyebab

Berbagai faktor bisa menyebabkan diare seperti faktor fisiologis, seperti inflamasi gastrointestinal, iritasi gastrointestinal, proses infeksi, malabsorsi, dan psikologis. Faktor kecemasan, seperti tingkat stres yang tinggi, juga bisa menyebabkan diare. Situasional juga bisa menyebabkan diare seperti terpapar kontaminan, terpapar toksin, penyalahgunaan laksatif, penyalahgunaan zat, program pengobatan (Agen tiroid, analgesik, pelunak feses, ferosultat, antasida, cimetidine dan antibiotik), perubahan air dan makanan, dan bakteri pada air.

Gejala dan Tanda

Diare sering ditandai dengan kejadian defekasi lebih dari tiga kali dalam 24 jam, feses lembek atau bahkan cair. Tanda-tanda peningkatan frekuensi peristaltik dan bising usus hiperaktif juga bisa ditemukan. Keluhan urgency, nyeri/kram abdomen mungkin juga didapatkan pada pasien (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017). Selain itu pasien bisa mengalami mual, muntah, demam, sakit kepala, perut sebab dan kembung, hilang nafsu makan, lemah dan dehidrasi (Health Direct, 2021).‎

Beberapa penyakit yang sering ditandai dengan diare antara lain: kanker kolon, divericulitis, iritasi usus, crohn’s disease, ulkus peptikum, gastritis, spasme kolon, kolitis ulseratif, hipertiroidisme, demam typoid, malaria, sigelosis, kolera, disentri, hepatitis (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017).

Manajemen Keperawatan

Berikut ini adalah beberapa pertimbangan penting yang harus dilakukan saat mendiagnosis dan mengelola diare karena identifikasi agen etiologis sangat penting:‎ 

  • ‎Karakteristik tinja bervariasi tergantung penyebab, seperti konsistensi, warna, volume, dan frekuensi‎
  • ‎Ada atau tidak adanya gejala penyerta, seperti mual/muntah, demam, dan sakit perut‎
  • Paparan kuman patogen seperti rotavirus, astrovirus, calicivirus; Spesies Shigella, Campylobacter, Giardia, dan Cryptosporidium‎
  • Riwayat makanan yang terkontaminasi‎
  • ‎Riwayat paparan air dari kolam renang, berkemah, atau lingkungan laut‎
  • ‎Riwayat perjalanan. Beberapa patogen sering mempengaruhi wilayah tertentu; escherichia enterotoksigenik adalah patogen dominan
  • ‎Paparan hewan yang dikaitkan dengan diare, seperti anjing/kucing muda: Campylobacter; kura-kura: Salmonella
  • ‎Faktor predisposisi seperti rawat inap, penggunaan antibiotik, imunosupresi‎‎

Terlepas dari jenis diare, terapi rehidrasi untuk mengganti kehilangan cairan dan elektrolit adalah aspek penting dari manajemen setiap pasien dengan diare. Pasien harus didorong untuk minum jus buah encer atau oralit. Dalam kasus diare yang lebih parah, rehidrasi cairan IV mungkin diperlukan. ‎‎Makan makanan yang lebih rendah serat dapat membantu membuat tinja lebih kencang. berbagai jenis makanan termasuk pisang, roti panggang, oatmeal, nasi putih, saus apel dan sup / kaldu ditoleransi dengan baik dan dapat memperbaiki gejala.‎ Terapi anti-diare dengan agen anti-sekretori atau anti-motilitas dapat dimulai untuk mengurangi frekuensi tinja. Namun, terapi ini harus dihindari pada orang dewasa dengan diare berdarah atau demam tinggi karena terapi tersebut dapat memperburuk infeksi usus. Terapi antibiotik empirik dengan fluoroquinolone oral dapat dipertimbangkan pada pasien dengan gejala yang lebih parah. Suplemen probiotik bisa diberikan untuk mengurangi keparahan dan durasi gejala dan harus didorong pada pasien dengan diare akut (Nemeth & Pfleghaar, 2021). 

Dalam pendekatan keperawatan SDKI (2017), kondisi diare biasanya diatasi dengan beberapa intervensi. Intervensi paling utama adalah manajemen diare dan pemantauan cairan. Intervensi pendukung akan diberikan sesuai dengan kondisi seseorang/pasien. Intervensi pendukung bisa meliputi: dukungan Perawatan Diri: BAB/BAK, dukungan Kepatuhan Program Pengobatan Pemberian Makanan Enteral, edukasi Kemoterapi, Pemantauan Elektrolit, Pemberian Obat, Pemberian Obat Intradermal, Pemberian Obat Intravena, Pemberian Obat Oral, Konsultasi, Irigasi Kolostorni, Insersi Intravena, Manajemen Cairan, Manajemen Elektrolit, Manajemeii Eliminasi Fekal, Manajemen Kemoterapi, Manajemen Lingkungan, Manajemen Medikasi, Manajemen Nutrisi, Manajemen Nutrisi Parenteral, Pengontrolan Infeksi, Perawatan Kateter Sentral Perifer, Perawatan Perineum, Perawatan Selang Gastrointestinal, Perawatan Stoma, Promosi Berat Badan, Reduksi Ansietas, dan Terapi Intravena (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017).

Referensi

  1. Health Direct, 2021. Diarrhoea. https://www.healthdirect.gov.au/diarrhoea. Diakses pada tanggal 31 Mei 2022
  2. Nemeth V, Pfleghaar N. Diarrhea. [Updated 2021 Nov 29]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK448082/
  3. Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, Definisi dan Indikator Diagnostik. Edisi 1 (Cetakan III). Penerbit DPP PPNI
  4. Troeger, C., Blacker, B. F., Khalil, I. A., Rao, P. C., Cao, S., Zimsen, S. R., ... & Reiner Jr, R. C. (2018). Estimates of the global, regional, and national morbidity, mortality, and aetiologies of diarrhoea in 195 countries: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2016. The Lancet Infectious Diseases, 18(11), 1211-1228.


28 May 2022

Nausea

Stink photo created by karlyukav - www.freepik.com


Nausea atau yang kita sebut dengan mual adalah perasaan yang bersifat subyektif, tidak menyenangkan namun tidak menyakitkan. Biasanya berkaitan keinginan mau muntah (Hasler dan Chey, 2003). Namun, tidak setiap perasaan mual selalu disertai dengan muntah. Meski jarang, terdapat situasi di mana mual berat dapat terjadi tanpa muntah. Sebaliknya, muntah dapat terjadi tanpa mual sebelumnya walaupun sangat jarang (Singh, Yoon, & Kuo, 2016). Umumnya perasaan mual lebih sering terjadi dibandingkan muntah. Menurut SDKI (2017), muntah didefinisikan sebagai perasaan tidak nyaman di belakang tenggorokan atau dalam lambung yang dapat mengakibatkan muntah. Nausea merupakan standar diagnosa keperawatan Indonesia dengan no D.0075.

‎Mual adalah gejala yang umum terjadi pada orang sakit yang disebabkan oleh berbagai macam kondisi yang dikategorikan penyebab obat-obatan dan etiologi toksik dan gangguan usus & peritoneum (Tabel 1).

Tabel 1. Penyebab mual

Obat-obatan dan etiologi toksik

Gangguan usus dan peritoneum

Kemoterapi kanker

Analgesik

Obat kardiovaskular

Digoxin

Antiaritmia

Antihipertensi

β-Blocker

Calcium-channel antagonists

Sediaan/terapi hormonal

Antidiabetik oral

Kontrasepsi oral

Antibiotik/antivirus

Eritromisin

Tetrasiklin

Sulfonamida

Obat antituberkulosis

Asiklovir

Obat gastrointestinal

Sulfasalazine

Azathioprine

Nikotin

SSP aktif

Narkotika

Obat antiparkinson

Antikonvulsan

Terapi radiasi

Penyalahgunaan etanol

Penyebab-penyebab infeksi

Gastroenteritis

Otitis media

Porfiria intermiten akut

Penyebab lain-lain

Penyakit jantung

Infark miokard

Gagal jantung kongestif

Ablasi frekuensi radio

Kelaparan

Obstruksi mekanik

Obstruksi saluran keluar lambung

Obstruksi usus kecil

Gangguan gastrointestinal fungsional

Dispepsia fungsional

Nausea idiopatik kronis

Sindrom Muntah Siklik

Muntah idiopatik

Non-ulcer dyspepsia

Sindrom iritasi usus besar

Gangguan saluran cerna organik

Adenokarsinoma pankreas

Peptic ulcer disease

Kolesistitis

Pankreatitis

Hepatitis

Penyakit Crohn

Gangguan neuromuskular pada saluran pencernaan

Gastroperesis

Mual dan muntah pasca operasi

Obstruksi semu usus kronis

Penyebab-penyebab saraf pusat

Migrain

Peningkatan tekanan intrakranial

Keganasan

Perdarahan

Infark

Abses

Meningitis

Malformasi kongenital

Hidrosefalus

Pseudotumor serebri

Gangguan kejang

Gangguan demielinasi

Penyakit Psikiatri

Muntah psikogenik

Gangguan kecemasan

Depresi

Nyeri

Gangguan Makan

Gangguan labirin

Mabuk

Labirinitis

Tumor

penyakit Meniere

Iatrogenik

Penyebab endokrinologis dan metabolik

Kehamilan

Endokrin dan metabolisme lainnya

Uremia

Ketoasidosis diabetik

Hiperparatiroidisme

Hipoparatiroidisme

Hipertiroidisme

Penyakit Addison

Sumber: Singh & Kuo (2016).

Patofisiologi

Mekanisme dasar yang terlibat terjadinya mual cukup kompleks dan mencakup keadaan psikologis, sistem saraf pusat, sistem saraf otonom, disritmia lambung, dan sistem endokrin. Jalur sentral dan perifer terlibat dalam terjadinya mual. Informasi aferen dari berbagai rangsangan disampaikan ke nukleus traktus solitarius melalui empat jalur: vestibular dan serebelar, korteks serebral dan sistem limbik, area postrema dan saluran cerna melalui saraf vagus. Setelah salah satu jalur saraf ini diaktifkan, itu memuncak menjadi sensasi mual dengan atau tanpa muntah. Informasi eferen dari nukleus traktus solitarius juga bertanggung jawab untuk aktivasi respon saraf otonom melalui jalur vagal. Mual juga berhubungan dengan disritmia lambung dan pelepasan vasopresin. Namun, hubungan sebab-akibat dari triad ini tidak dipahami dengan baik dan memerlukan penelitian lebih lanjut.

Gambar1. Patofisiologi Mual


Gejala dan Tanda

Gejala yang sering terjadi pada nausea  adalah keluhan mual, merasa ingin muntah, dan tidak berselera makan. Ada gejala yang jarang muncul seperti rasa asam di mulut, sensasi panas/dingin, dan sering menelan. Nausea juga bisa ditandai dengan peningkatan saliva, pasien tampak pucat dan diafoeris, takikardi, dan pupil mengalami dilatasi.

Manajemen Keperawatan

Manajemen mual akut perlu dibedakan dengan mual kronis. Berkaitan dengan mual kronis, terdapat kekurangan literatur yang mengevaluasi terapi farmakologis. Hal ini dikarenakan perasaan mual muntah secara klinis sering kali berlangsung sebentar dan hilang dengan sendirinya. Literatur yang ada sering berfokus pada pada situasi klinis di mana risiko mual dan muntah tinggi, seperti pada kehamilan, periode waktu pasca operasi, pasca kemoterapi, dan pasca radiasi (Singh & Kuo, 2016).

Dalam pendekatan keperawatan SDKI (2017), nausea biasanya diatasi dengan beberapa intervensi. Intervensi paling utama adalah manajemen mual dan manajemen muntah. Adapun intervensi pendukung biasanya diberikan sesuai dengan kondisi pasien. Intervensi pendukung tersebut bisa meliputi: dukungan hypnosis diri, edukasi efek samping obat, kemoterapi, edukasi manajemen nyeri, edukasi perawatan kehamilan, edukasi Teknik nafas, manajemen efek samping obat, manajemen kemoterapi, manajemen nyeri, manajemen stress, pemberian obat secara IV atau oral, terapi akupungtur, akupresur, dan terapi relaksasi.

Referensi

  1. Singh, P., Yoon, S. S., & Kuo, B. (2016). Nausea: a review of pathophysiology and therapeutics. Therapeutic advances in gastroenterology, 9(1), 98–112. https://doi.org/10.1177/1756283X15618131
  2. Hasler, W. L., & Chey, W. D. (2003). Nausea and vomiting. Gastroenterology, 125(6), 1860–1867. 
  3. Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, Definisi dan Indikator Diagnostik. Edisi 1 (Cetakan III). Penerbit DPP PPNI


18 April 2022

Bahan Ajar: Asuhan Keperawatan Pasien dengan Gangguan Suhu Tubuh Disebabkan Penyakit Haemophilus Influenzae

 

Fever photo created by master1305 - www.freepik.com

Penyakit Haemophilus Influenzae sering menyebabkan pasien demam dan menggigil. Berikut adalah materi ajar Asuhan Keperawatan Pasien dengan Gangguan Suhu Tubuh yang disebabkan oleh Penyakit Haemophilus Influenzae.


17 April 2022

Daftar Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)



Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) adalah diagnosis keperawatan yang disusun oleh tim pokja SDKI DPP PPNI. SDKI memberikan acuan dalam penyusunan diagnosis keperawatan bagi seluruh perawat yang bekerja di Indonesia. Diagnosis keperawatan terdiri dari 149 diagnosis yang dikembangkan dari berbagai sumber dan literatur seperti buku teks, standar diagnosis keperawatan dari negara lain dan jurnal-jurnal ilmiah. Setiap butir diagnosis telah ditela'ah oleh reviewer yang berasal dari perawat praktisi dan akademisi. Berikut Diagnosis Keperawatan yang disusun berdasarkan kategori dan subkategori:  

Kategori: Fisiologis 

Subkategori: Respirasi 

D 0001 Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
D 0002 Gangguan Penyapihan Ventilator
D 0003 Gangguan Pertukaran Gas
D 0004 Gangguan Ventilasi Spontan
D 0005 Pola Napas Tidak Efektif
D 0006 Risiko Aspirasi

Subkategori: Sirkulasi 

D 0007 Gangguan Sirkulasi Spontan 
D 0008 Penurunan Curah Jantung
D.0009 Perfusi Perifer Tidak Efektif
D.0010 Risiko Gangguan Sirkulasi Spontan
D.0011 Risiko Penurunan Curah Jantung
D.0012 Risiko Perdarahan
D.0013 Risiko Perfusi Gastrointestinal Tidak Efektif
D.0014 Risiko Perfusi Miokard Tidak Efektif
D.0015 Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif
D.0016 Risiko Perfusi Renal Tidak Efektif
D.0017 Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif

Subkategori: Nutrisi dan Cairan

D.0018 Berat Badan Lebih
D.0019 Defisit Nutrisi 
D.0020 Diare
D.0021 Disfungsi Motilitas Gastrointestinal
D.0022 Hipervolemia
D.0023 Hipovolemia
D.0024 Ikterik Neonatus
D.0025 Kesiapan Peningkatan Keseimbangan Cairan
D.0026 Kesiapan Peningkatan Nutrisi
D.0027 Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
D.0028 Menyusui Efektif
D.0029 Menyusui Tidak Efektif
D.0030 Obesitas
D.0031 Risiko Berat Badan Lebih
D.0032 Risiko Defisit Nutrisi
D.0033 Risiko Disfungsi Motilitas Gastrointestinal
D.0034 Risiko Hipovolemia
D.0035 Risiko Ikterik Neonatus
D.0036 Risiko Ketidakseimbangan Cairan
D.0037 Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit
D.0038 Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah 
D.0039 Risiko Syok

Subkategori: Eliminasi 

D.0040 Gangguan Eliminasi Urin
D.0041 Inkontinensia Fekal
D.0042 Inkontinensia Urin Berlanjut
D.0043 Inkontinensia Urin Berlebih
D.0044 Inkontinensia Urin Fungsional
D.0045 Inkontinensia Urin Refleks
D.0046 Inkontinensia Urin Stres
D.0047 Inkontinensia Urin Urgensi
D.0048 Kesiapan Peningkatan Eliminasi Urin
D.0049 Konstipasi 
D.0050 Retensi Urin 
D.0051 Risiko Inkontinensia Urin Urgensi
D.0052 Risiko Konstipasi

Subkategori: Aktivitas dan Istirahat 

D.0053 Disorganisasi Perilaku Bayi
D.0054 Gangguan Mobilitas Fisik
D.0055 Gangguan Pola Tidur
D.0056 Intoleransi Aktivitas
D.0057 Keletihan 
D.0058 Kesiapan Peningkatan Tidur
D.0059 Risiko Disorganisasi Perilaku Bayi
D.0060 Risiko Intoleransi Aktivitas

Subkategori: Neurosensori 

D.0061 Disrefleksia Otonom
D.0062 Gangguan Memori
D.0063 Gangguan Menelan
D.0064 Konfusi Akut
D.0065 Konfusi Kronis 
D.0066 Penurunan Kapasitas Adaptif Intrakranial 
D.0067 Risiko Disfungsi Neurovaskuler Perifer 
D.0068 Risiko Konfusi Akut 

Subkategori: Reproduksi dan Seksualitas 

D.0069 Disfungsi Seksual 
D.0070 Kesiapan Persalinan 
D.0071 Pola Seksual Tidak Efektif 
D.0072 Risiko Disfungsi Seksual 
D.0073 Risiko Kehamilan Tidak Dikehendaki

Kategori: Psikologis 

Subkategori: Nyeri dan Kenyamanan

D.0074 Gangguan Rasa Nyaman
D.0075 Ketidaknyamanan Pasca Partum
D.0076 Nausea
D.0077 Nyeri Akut 
D.0078 Nyeri Kronis 
D.0079 Nyeri Melahirkan 

Subkategori: Integritas Ego 

D.0080 Ansietas 
D.0081 Berduka 
D.0082 Distres Spiritual 
D.0083 Gangguan Citra Tubuh 
D.0084 Gangguan Identitas Diri 
D.0085 Gangguan Persepsi Sensori 
D.0086 Harga Diri Rendah Kronis
D.0087 Harga Diri Rendah Situasional
D.0088 Keputusasaan 
D.0089 Kesiapan Peningkatan Konsep Diri 
D.0090 Kesiapan Peningkatan Koping Keluarga
D.0091 Kesiapan Peningkatan Koping Komunitas
D.0092 Ketidakberdayaan 
D.0093 Ketidakmampuan Koping Keluarga 
D.0094 Koping Defensif
D.0095 Koping Komunitas Tidak Efektif 
D.0096 Koping Tidak Efektif 
D.0097 Penurunan Koping Keluarga 
D.0098 Penyangkalan Tidak Efektif 
D.0099 Perilaku Kesehatan Cenderung Berisiko 
D.0100 Risiko Distres Spiritual 
D.0101 Risiko Harga Diri Rendah Kronis 
D.0102 Risiko Harga Diri Rendah Situasional 
D.0103 Risiko Ketidakberdayaan 
D.0104 Sindrom Pasca Trauma 

Subkategori: Pertumbuhan dan Perkembangan 

D.0106 Gangguan Tumbuh Kembang
D.0107 Risiko Gangguan Perkembangan
D.0108 Risiko Gangguan Pertumbuhan

Kategori: Perilaku 

Subkategori: Kebersihan Diri

D.0109 Defisit Perawatan Diri

Subkategori: Penyuluhan dan Pembelajaran 

D.0110 Defisit Kesehatan Komunitas
D.0111 Defisit Pengetahuan
D.0112 Kesiapan Peningkatan Manajemen Kesehatan
D.0113 Kesiapan Peningkatan Pengetahuan
D.0114 Ketidakpatuhan
D.0115 Manajemen Kesehatan Keluarga Tidak Efektif
D.0116 Manajemen Kesehatan Tidak Efektif
D.0117 Pemeliharaan Kesehatan Tidak Efektif

Kategori: Relasional 

Subkategori: Interaksi Sosial 

D.0118 Gangguan Interaksi Sosial
D.0119 Gangguan Komunikasi Verbal
D.0120 Gangguan Proses Keluarga
D.0121 Isolasi Sosial
D.0122 Kesiapan Peningkatan Menjadi Orang Tua
D.0123 Kesiapan Peningkatan Proses Keluarga
D.0124 Ketegangan Peran Pemberi Asuhan
D.0125 Penampilan Peran Tidak Efektif
D.0126 Pencapaian Peran Menjadi Orang Tua
D.0127 Risiko Gangguan Perlekatan
D.0128 Risiko Proses Pengasuhan Tidak Efektif

Kategori: Lingkungan 

Subkategori: Keamanan dan Proteksi 

D.0129 Gangguan Integritas Kulit/Jaringan
D.0130 Hipertermia 
D.0131 Hipotermia
D.0132 Perilaku Kekerasan
D.0133 Perlambatan Pemulihan Pascabedah 
D.0134 Risiko Alergi
D.0135 Risiko Bunuh Diri
D.0136 Risiko Cedera
D.0137 Risiko Cedera pada Ibu
D.0138 Risiko Cedera pada Janin
D.0139 Risiko Gangguan Integritas Kulit/Jaringan
D.0140 Risiko Hipotermia
D.0141 Risiko Hipotermia Perioperatif
D.0142 Risiko Infeksi
D.0143 Risiko Jatuh
D.0144 Risiko Luka Tekan
D.0145 Risiko Mutilasi Diri
D.0146 Risiko Perilaku Kekerasan
D.0147 Risiko Perlambatan Pemulihan Pascabedah
D.0148 Risiko Termoregulasi Tidak Efektif
D.0149 Termoregulasi Tidak Efektif

Referensi

Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, Definisi dan Indikator Diagnostik. Edisi 1 (Cetakan III). Penerbit DPP PPNI