Hipertensi
Hipertensi, atau yang lebih populer dengan sebutan tekanan darah tinggi, sering kali dijuluki sebagai "the silent killer". Istilah ini muncul karena hipertensi sering kali berkembang tanpa disertaai gejala yang nyata, namun tiba-tiba memicu komplikasi fatal seperti stroke, serangan jantung, hingga gagal ginjal (Lukitaningtyas & Cahyono, 2023).
Secara klinis, seseorang didiagnosis menderita hipertensi jika hasil pengukuran Tekanan Darah Sistolik (TDS) ≥ 140 mmHg dan/atau Tekanan Darah Diastolik (TDD) ≥ 90 mmHg setelah dilakukan pemeriksaan berulang (Ardiana, 2021; Lukitaningtyas & Cahyono, 2023).
Penyebab Hipertensi
Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi dua jenis (Hendra et al., 2021):
1. Hipertensi Primer (Esensial): Merupakan jenis yang paling sering terjadi (sekitar 80–95% kasus). Penyebabnya bersifat multipel dan tidak spesifik, umumnya dipengaruhi oleh faktor genetik, usia, dan gaya hidup (Adrian, 2019).
2. Hipertensi Sekunder: Kondisi tekanan darah tinggi yang disebabkan oleh penyakit lain yang mendasarinya (memiliki penyebab spesifik), seperti gangguan ginjal atau kelainan tiroid.
Mekanisme Patofisiologis
Secara fisiologis, tekanan darah ditentukan oleh dua faktor utama: curah jantung (cardiac output) dan tahanan perifer total (total peripheral resistance). Pada hipertensi primer, terjadi gangguan pada satu atau kedua faktor tersebut melalui beberapa mekanisme (Kusyani & Wulandari, 2024; Pikir, 2015):
1. Hiperaktivitas Sistem Saraf Simpatis. Peningkatan aktivitas saraf simpatis memicu jantung berdetak lebih cepat dan kuat (meningkatkan curah jantung) serta Menyebabkan penyempitan pembuluh darah (vasokonstriksi).
2. Aktivasi Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron (SRAA). Ginjal melepaskan enzim renin yang memicu pembentukan Angiotensin II (suatu vasokonsktriktor kuat) dan menstimulasi hormon aldosteron. Akibatnya, terjadi retensi (penahanan) air dan natrium di dalam tubuh yang meningkatkan volume darah.
3. Disfungsi Endotel. Kerusakan pada lapisan terdalam pembuluh darah membuat pembuluh darah kaku dan kehilangan kemampuan untuk berelaksasi, sehingga tahanan perifer meningkat.
Tanda dan Gejala
Sebagian besar penderita hipertensi tidak merasakan gejala apa pun pada tahap awal. Namun, ketika tekanan darah sudah sangat tinggi atau mulai berdampak pada tubuh, gejala yang dapat muncul meliputi (Kusyani & Wulandari, 2024; Soares et al., 2023):
- Jantung berdebar-debar (palpitasi)
- Penglihatan kabur
- Rasa berat atau kaku di tengkuk
- Kelelahan dan sesak napas saat beraktivitas
Pemeriksaan Diagnostik
Menegakkan diagnosis hipertensi tidak bisa hanya mengandalkan satu kali pengukuran di klinik karena tekanan darah bersifat fluktuatif. Prosedur diagnostik yang direkomendasikan meliputi (Hendra et al., 2021; Saputra et al., 2023; Suling, 2018):
1. Pengukuran Tekanan Darah di Luar Klinik
HBPM (Home Blood Pressure Monitoring): Pengukuran mandiri oleh pasien di rumah menggunakan tensimeter digital yang tervalidasi.
ABPM (Ambulatory Blood Pressure Monitoring): Pemantauan otomatis selama 24 jam untuk mendeteksi white-coat hypertension (tekanan darah naik hanya saat di klinik) atau masked hypertension (tekanan darah normal di klinik tetapi tinggi di luar).
2. Pemeriksaan Penunjang (Laboratorium & Klinis).
Dilakukan untuk mencari penyebab sekunder atau melihat adanya kerusakan organ (Kusyani & Wulandari, 2024):
- Urinalisis (cek kadar protein dalam urine).
- Elektrokardiogram (EKG) untuk melihat kondisi kelistrikan jantung.
Komplikasi yang Dapat Terjadi
Jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, tekanan darah tinggi yang berlangsung terus-menerus akan merusak pembuluh darah dan organ-organ vital. Komplikasi tersebut meliputi (Kusyani & Wulandari, 2024; Lukitaningtyas & Cahyono, 2023):
Jantung: Memicu penyakit jantung koroner, serangan jantung, dan gagal jantung.
Ginjal: Mengakibatkan nefropati hipertensif yang dapat berkembang menjadi gagal ginjal kronis.
Penatalaksanaan Hipertensi
Manajemen hipertensi berfokus pada kontrol jangka panjang untuk meningkatkan kualitas hidup serta menurunkan angka kecacatan dan kematian (Saputra et al., 2023). Tatalaksananya melibatkan kombinasi dua pilar utama (Adrian, 2019):
1. Terapi Non-Farmakologis (Modifikasi Gaya Hidup)
Langkah awal dan fondasi utama bagi semua penderita hipertensi mencakup (Ardiana, 2021; Saputra et al., 2023):
- Kontrol Berat Badan: Menurunkan berat badan bagi yang obesitas.
- Berhenti Merokok dan Membatasi Alkohol.
- Terapi Latihan (Olahraga): Melakukan latihan aerobik dinamis intensitas sedang (seperti jalan cepat atau bersepeda) minimal 30 menit per hari selama 5–7 hari dalam seminggu, ditambah latihan beban 2–3 kali seminggu. Olahraga rutin ini terbukti menurunkan tekanan sistolik rata-rata hingga 7 mmHg.
2. Terapi Farmakologis (Obat-obatan)
Karena mekanismenya yang multipel, pengobatan hipertensi primer sering kali membutuhkan terapi kombinasi sejak awal (Hendra et al., 2021; Pikir, 2015). Obat-obatan yang diberikan disesuaikan dengan stadium penyakit dan kondisi komorbid pasien, seperti (Adrian, 2019; Kusyani & Wulandari, 2024):
- Diuretik * Beta-Blocker
Daftar Pustaka
- Adrian, S. J. (2019). Hipertensi esensial: diagnosis dan tatalaksana terbaru pada dewasa. Cermin Dunia Kedokteran, 46(3), 172–178. https://doi.org/10.55175/cdk.v46i3.491.
- Ardiana, M. (2021). Buku ajar rehabilitasi jantung pada populasi khusus. Airlangga University Press.
- Hendra, P., Virginia, D. M., & Setiawan, C. H. (2021). Teori dan kasus manajemen terapi hipertensi. Sanata Dharma University Press.
- Kusyani, A., & Wulandari, D. (2024). Standar asuhan keperawatan pada pasien hipertensi. Penerbit Lembaga Pustaka Karya.
- Lukitaningtyas, D., & Cahyono, E. A. (2023). Hipertensi; Artikel review. Jurnal Ilmu Dan Praktik Keperawatan, 1(2), 55–62. https://doi.org/10.56586/pipk.v2i2.272
- Pikir, B. S. (2015). Hipertensi manajemen komprehensif. Airlangga University Press.
- Saputra, P. B. T., Lamara, A. D., & Saputra, M. E. (2023). Diagnosis dan terapi non-farmakologis pada hipertensi. Cermin Dunia Kedokteran, 50(4), 185–190. https://doi.org/10.55175/cdk.v50i6.624.
- Soares, D., Ulkhasanah, M. E., Rahmasari, I., & Firdaus, I. (2023). Penatalaksanaan hipertensi. SPI Pers.
- Suling, F. R. W. (2018). Hipertensi. Universitas Kristen Indonesia. http://repository.uki.ac.id/2680/1/BukuHipertensi.pdf.

Leave a Comment