Filariasis

 

Pasien Filariasis

Pengertian

Filariasis (disebut juga dengan kaki gajah) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing nematoda (filaria) yang menyerang saluran dan kelenjar getah bening serta jaringan subkutan (Mendoza, 2009). Cacing ini ditularkan melalui gigitan berbagai jenis nyamuk yang membawa larva infektif. Terdapat tiga spesies cacing filaria yang menginfeksi manusia: Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori (Olanrewaju, 2024). Di antara ketiganya, W. bancrofti bertanggung jawab atas sebagian besar kasus secara global.

Epidemiologi

Penyakit ini tersebar luas di wilayah tropis dan subtropis, termasuk Asia, Afrika, Pasifik Barat, dan sebagian Amerika Latin. Diperkirakan lebih dari 120 juta orang terinfeksi di seluruh dunia, dengan miliaran orang berisiko tertular (Keatinga, 2014).

Di Nigeria, filariasis menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan dengan tingkat prevalensi yang bervariasi di berbagai negara bagian (Waje, 2024). Sementara itu, spesies B. timori secara spesifik bersifat endemik di wilayah tenggara Indonesia, khususnya di pulau Timor dan Flores (Mendoza, 2009). Faktor lingkungan seperti sanitasi yang buruk dan keberadaan air menggenang menjadi tempat berkembang biak nyamuk vektor, yang mempercepat penyebaran penyakit ini.

Mekanisme Kejadian Penyakit

Mekanisme terjadinya penyakit dimulai ketika nyamuk yang terinfeksi menggigit manusia dan melepaskan larva infektif (larva stadium ketiga/L3) ke permukaan kulit. Larva ini kemudian menembus luka gigitan dan bermigrasi ke pembuluh limfatik (Shaukat, 2023).

Di dalam sistem limfatik, larva tersebut berkembang menjadi cacing dewasa dalam waktu 6 hingga 12 bulan. Cacing dewasa dapat hidup selama bertahun-tahun di dalam kelenjar getah bening, di mana mereka menyebabkan kerusakan mekanis dan memicu respons imun inang (Mendoza, 2009). Kehadiran cacing dewasa menyebabkan pelebaran pembuluh darah (limfangiektasis) dan disfungsi katup limfatik.

Kerusakan ini mengakibatkan gangguan aliran cairan limfa, yang memicu akumulasi cairan di jaringan atau limfedema (Bockarie, 2009). Selain itu, kematian cacing dewasa dapat melepaskan antigen yang memicu reaksi peradangan akut yang parah. Jika terjadi infeksi bakteri sekunder pada kulit yang sudah bengkak, proses fibrosis atau pengerasan jaringan akan semakin cepat, yang pada akhirnya menyebabkan kondisi elephantiasis (Mendoza, 2009).

Manifestasi Klinis

Infeksi filariasis dapat bersifat asimtomatik (tanpa gejala) dalam waktu lama, namun kerusakan pada sistem limfatik tetap terjadi (Bockarie, 2009). Secara klinis, penyakit ini dapat berkembang menjadi:

Akut: Ditandai dengan demam berulang dan peradangan saluran getah bening (limfangitis).

Kronis: Mengakibatkan penyumbatan aliran limfa yang menyebabkan pembengkakan ekstremitas (limfedema) atau skrotum (hidrokel). Pada tahap lanjut, kulit akan menebal dan mengeras, kondisi yang dikenal sebagai elephantiasis atau kaki gajah (Mendoza, 2009).

Diagnosis

Penegakan diagnosis filariasis telah mengalami kemajuan pesat. Beberapa metode yang digunakan meliputi:

  1. Pemeriksaan Mikroskopis: Mendeteksi mikrofilaria dalam sediaan darah tebal yang diambil pada malam hari (Shaukat, 2023).

  2. Tes Antigen (ICT): Menggunakan kartu tes cepat untuk mendeteksi sirkulasi antigen cacing dalam darah (Olanrewaju, 2024).

  3. Teknik Molekuler (PCR): Metode yang sangat sensitif untuk mendeteksi DNA parasit dalam darah (Shaukat, 2023).

  4. Ultrasonografi (USG): Digunakan untuk memvisualisasikan pergerakan cacing dewasa di dalam pembuluh limfa (Mendoza, 2009).

Penatalaksanaan Penyakit

Strategi utama dalam menangani filariasis berfokus pada dua pilar: memutus rantai penularan dan manajemen morbiditas.

Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM): Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemberian dosis tunggal obat kombinasi setahun sekali kepada seluruh penduduk di daerah endemik. Kombinasi yang sering digunakan adalah Albendazole dengan Diethylcarbamazine (DEC) atau Ivermectin (Bockarie, 2009).

Manajemen Morbiditas: Bagi penderita limfedema kronis, perawatan kebersihan kulit sangat krusial untuk mencegah infeksi sekunder. Ini mencakup mencuci area yang bengkak dengan sabun dan air, serta melakukan latihan fisik ringan (Bockarie, 2009).

Intervensi Bedah: Prosedur pembedahan mungkin diperlukan untuk kasus hidrokel guna meningkatkan kualitas hidup pasien (Keatinga, 2014).


Referensi

Bockarie, M. J., Taylor, M. J., & Gyapong, J. O. (2009). Current practices in the management of lymphatic filariasis. Expert Review of Anti-infective Therapy, 7(5), 595–605.

Keatinga, J., Yukich, J. O., Mollenkopfb, S., & Tediosi, F. (2014). Lymphatic filariasis and onchocerciasis prevention, treatment, and control costs across diverse settings: A systematic review. Acta Tropica, 135, 86–95.

Mendoza, N., Lit, A., Gill, A., & Tyrings, S. (2009). Filariasis: Diagnosis and treatment. Dermatologic Therapy, 22(6), 475–490.

Olanrewaju, J., Shamsudin, A., Shamsuddeen, Y. M., Orinya, A., Bello, K., Musa, A. I., Usman, A., Joseph, G. I., & Balogun, E. O. (2024). Diagnosis of filariasis: A case report of a reemerging neglected tropical disease. German Journal of Microbiology, 4(1), 25–31.

Shaukat, A., Aleem, M. T., Kanwal, A., Kalim, A., Kalim, F., Memoon, A., Siddique, M. H., Samad, M. A., Shaukat, R., & Shaukat, I. (2023). Recent advances in diagnosis of filariasis. Dalam R. Z. Abbas et al. (Eds.), Zoonosis (hlm. 43–58). Unique Scientific Publishers.

Waje, T., Iliyasu, C., Yaki, L. M., & Auta, I. K. (2024). A review of epidemiology of lymphatic filariasis in Nigeria. Pan African Medical Journal, 47(142).


No comments

Abi. Powered by Blogger.