Demam Berdarah Dengue
| Nyamuk Aedes Aegypti |
Penyakit Demam Berdarah Dengue atau dalam bahasa Inggrisnya Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) merupakan masalah kesehatan global yang signifikan, terutama di wilayah tropis dan subtropis (Ottay dkk, 2025; Parveen dkk, 2023). Di Indonesia, penyakit ini merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang paling serius dengan angka kejadian yang fluktuatif namun cenderung tinggi di berbagai provinsi (Ottay dkk, 2025). Memahami konsep penyakit ini secara menyeluruh sangat penting untuk pencegahan dan penanganan yang tepat.
Apa Itu Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)?
DHF adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh virus dengue (Rosmaini & Setiawati, 2024). Virus ini termasuk dalam keluarga Flaviviridae dan memiliki empat serotipe yang berbeda namun saling berkaitan, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4 (Setiawan dkk, 2023).
Penyakit ini ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk betina dari spesies Aedes aegypti atau Aedes albopictus yang telah terinfeksi. Karakteristik utama yang membedakan DHF dari demam dengue biasa adalah adanya kebocoran plasma yang dapat menyebabkan penumpukan cairan di rongga tubuh, perdarahan hebat, hingga syok yang mengancam jiwa (Rosmaini & Setiawati, 2024).
Gejala dan Kriteria Diagnosis
Manifestasi klinis DHF sangat bervariasi, mulai dari tanpa gejala hingga kondisi yang mematikan. Berdasarkan kriteria WHO, diagnosis DHF memerlukan kehadiran kondisi berikut:
- Demam tinggi: Terjadi mendadak, berlangsung selama 2-7 hari, dan seringkali bersifat bifasik (dua puncak) (Rosmaini & Setiawati, 2024).
- Manifestasi perdarahan: Setidaknya satu tanda seperti uji bendung (tourniquet) positif, petekie (bintik merah), perdarahan gusi, hingga muntah darah.
- Trombositopenia: Penurunan jumlah trombosit di bawah 100.000/µL.
- Bukti Kebocoran Plasma: Ditandai dengan peningkatan hematokrit lebih dari 20% dibandingkan nilai standar atau adanya efusi pleura dan asites.
Jika kondisi ini berlanjut tanpa penanganan, pasien dapat jatuh ke dalam Dengue Shock Syndrome (DSS) yang ditandai dengan kegagalan sirkulasi, nadi cepat dan lemah, serta tekanan darah yang tidak terukur (Ottay dkk, 2025; Rosmaini & Setiawati, 2024; Riaz,2024).
Patogenesis: Mengapa Terjadi Kebocoran Plasma?
Hingga saat ini, belum ada teori tunggal yang sepenuhnya menjelaskan patogenesis DHF. Namun, kebocoran plasma diketahui terjadi karena aktivasi sel endotel pembuluh darah oleh berbagai faktor inflamasi dan sitokin yang dilepaskan selama infeksi (Rosmaini & Setiawati, 2024; Setiawan dkk, 2023).
Salah satu fenomena yang krusial adalah Antibody-Dependent Enhancement (ADE). Dalam kondisi ini, antibodi dari infeksi sebelumnya tidak menetralkan virus dari serotipe yang berbeda, melainkan justru membantu virus bereplikasi lebih banyak di dalam sel makrofag. Hal ini memicu pelepasan zat inflamasi yang merusak integritas dinding pembuluh kapiler, sehingga cairan plasma merembes keluar ke jaringan sekitarnya (Rosmaini & Setiawati, 2024; Setiawan dkk, 2023).
Faktor Risiko
Penelitian menunjukkan beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena DHF:
Pendidikan: Tingkat pendidikan yang lebih rendah berhubungan dengan risiko DHF yang lebih tinggi karena keterbatasan akses informasi dan pengetahuan pencegahan (Ottay dkk, 2025).
Mobilitas: Usia dewasa muda (15-44 tahun) seringkali menjadi kelompok yang paling banyak terdampak karena tingginya aktivitas luar ruangan dan mobilitas antar wilayah (Rosmaini & Setiawati, 2024; Setiawan dkk, 2023) .
Kondisi Lingkungan: Curah hujan yang tinggi menciptakan tempat perkembangbiakan nyamuk, sementara kepadatan penduduk mempermudah penyebaran virus (Ottay dkk, 2025; Rosmaini & Setiawati, 2024; Riaz dkk, 2024).
Komorbid: Penyakit seperti diabetes melitus secara signifikan meningkatkan peluang berkembangnya DVI menjadi DHF yang parah (Riaz dkk, 2024; Parveen dkk, 2023).
Pencegahan dan Penatalaksanaan
Karena belum ada obat antiviral spesifik untuk mematikan virus dengue, pengobatan DHF bersifat simtomatik dan suportif (Riaz dkk, 2024).
Penatalaksanaan Medis:
Hidrasi: Terapi cairan (oral maupun intravena) sangat penting untuk mengganti volume plasma yang hilang akibat kebocoran (Rosmaini & Setiawati, 2024).
Pemantauan: Observasi ketat terhadap nilai hematokrit, jumlah trombosit, dan tanda-tanda vital sangat diperlukan untuk mendeteksi syok sedini mungkin (Riaz dkk, 2024).
Obat-obatan: Pemberian asetaminofen/parasetamol untuk demam. Penggunaan obat anti-inflamasi non-steroid (NSAID) tertentu harus dihindari karena risiko perdarahan (Riaz dkk, 2024).
Strategi Pencegahan
Pencegahan utama tetap berfokus pada pengendalian vektor melalui gerakan 3M Plus:
- Menguras: Membersihkan wadah penampungan air secara rutin untuk memutus siklus hidup nyamuk.
- Menutup: Menutup rapat tempat penyimpanan air.
- Mendaur ulang: Mengelola barang bekas yang berpotensi menampung air hujan.
- Plus: Menggunakan kelambu, obat nyamuk, dan memelihara ikan pemakan jentik (Rosmaini & Setiawati, 2024).
Pengembangan vaksin seperti Dengvaxia dan kandidat vaksin lainnya terus diuji untuk memberikan perlindungan jangka panjang bagi masyarakat di daerah endemik.
Referensi
Ottay, R. I., Sapulete, I. M., Sapulete, M. R., Sumampouw, O. J., & Nelwan, J. E. (2025). The demographic and socioeconomic factors in dengue hemorrhagic fever incidence: A cross-sectional analysis in Manado, Indonesia. International Journal of Applied and Scientific Research (IJASR), 3(8), 755-764.
Parveen, S., Riaz, Z., Saeed, S., Ishaque, U., Sultana, M., Faiz, Z., Shafqat, Z., Shabbir, S., Ashraf, S., & Marium, A. (2023). Dengue hemorrhagic fever: A growing global menace. Journal of Water and Health, 21(11), 1632-1650.
Riaz, M., Harun, S. N. B., Mallhi, T. H., Khan, Y. H., Butt, M. H., Husain, A., Khan, M. M., & Khan, A. H. (2024). Evaluation of clinical and laboratory characteristics of dengue viral infection and risk factors of dengue hemorrhagic fever: A multi-center retrospective analysis. BMC Infectious Diseases, 24(500), 1-13.
Rosmaini, & Setiawati, E. (2024). Pathogenesis, symptoms and diagnosis, and prevention of dengue hemorrhagic fever in adults. Oshada Jurnal Kesehatan, 1(3), 1-9.
Setiawan, A. F., Wajib, Y. Y. P., Handono, K., & Sakti, S. P. (2023). Leucocytes, thrombocytes and immature platelets in patients with dengue hemorrhagic fever. Bali Medical Journal, 12(2), 2067-2069.
Leave a Comment