30 December 2021

Jari-jari Kaku, Penyebab dan Perawatannya


Memiliki jari-jari kaku akan sangat mengganggu. Meskipun arthritis (radang sendi) adalah penyebab utama kekakuan jari, namun masih ada faktor-faktor lain yang perlu dipertimbangkan. 

‎Seseorang mungkin mengalami jari-jari kaku pada pagi atau malam hari. Kekauan jari pada waktu tertentu ini dapat membantu mendiagnosis penyakit. Nah, untuk menentukan ‎‎pengobatan terbaik‎‎ pada  jari kaku, maka perlu ditentukan penyebabnya.‎

‎Artikel ini menyajikan berbagai penyebab jari kaku dan perawatannya seperti peregangan dan latihan yang dapat dilakukan seseorang di rumah untuk membantu mengembalikan fleksibilitas ke tangan.‎

Jika Terjadi di Pagi Hari

‎Seseorang mungkin mengalami kekakuan pada jari-jarinyanya di pagi hari. Berikut beberapa kondisi yang menyebabkan jari-jari kaku di pagi hari.‎

1. Osteoarthritis

‎Osteoarthritis‎‎ adalah bentuk ‎‎arthritis‎‎ yang mengakibatkan peradangan di sekitar sendi. Penyakit ini mempengaruhi lebih dari ‎‎32,5 juta ‎‎ orang dewasa di Amerika Serikat. ‎‎Kondisi ini terjadi akibat adanya tulang rawan di daerah sendi setelah tulang mengalami kerusakan. ‎‎Kurangnya gerakan yang berkepanjangan‎‎ selama tidur dapat menyebabkan sendi mengencang.‎ 

‎Gejala lain yang mungkin dialami seseorang dengan osteoarthritis meliputi ‎nyeri sendi berskala ringan hingga berat‎, ‎pembengkakan dan ‎kekakuan setelah bangun tidur‎, penurunan rentang gerak sendi, dan penurunan fleksibilitas.

‎Menurut ‎‎American Society for Surgery of the Hand,‎‎osteoarthritis tangan umumnya mempengaruhi ‎pangkal sendi ibu jari, ‎sendi yang paling dekat dengan ujung jari, sendi tengah jari-jari‎. ‎Selain jari-jarinya, seseorang mungkin mendapati gejala osteoarthritis ditempat lain seperti di‎‎ punggung bawah, leher, dan di beberapa sendi seperti lutut, pinggul, dan kaki.‎

2. Rheumatoid arthritis

‎Rheumatoid arthritis‎‎ adalah bentuk lain dari arthritis. Kondisi ini merupakan gangguan ‎‎autoimun‎‎ dan inflamasi, yang berarti bahwa sel-sel kekebalan dalam tubuh ‎‎menyerang sel-sel sehat‎‎ dan menyebabkan peradangan di bagian-bagian tertentu dari tubuh.‎

‎Seseorang mungkin mengalami jari-jari kaku di pagi hari yang dapat berlangsung selama ‎‎beberapa jam‎‎‎‎. Beberapa tanda dan gejala dari rheumatoid arthritis ‎‎antara lain ‎nyeri dan kekakuan disertai pembengkaan di lebih dari satu sendi‎. Penderita juga bisa merasa demam, ‎kelelahan, ‎kelemahan‎, dan ‎penurunan berat badan‎. Selain mengenai jari-jari, kekakuan juga bisa menyerang sendi pergelangan tangan. Gejala unik rheumatoid arthritis adalah jari-jari menjauh dari ibu jari. ‎‎Jari-jari juga dapat berubah bentuk, seperti jari tengah yang terlalu berlebihan dan bengkok. Kondisi ini disebut sebagai deformitas Boutonniere atau deformitas leher-angsa. Seorang dengan rheumatoid arthritis mungkin juga mengalami kesulitan menekuk jari-jari mereka.‎

‎3. ‎Jari Pelatuk‎ (Trigger Fingers)

‎Jari pelatuk‎‎, atau ‎tenosynovitis‎ terjadi ketika cairan dalam selubung pelindung di sekitar tendon di jari yang terkena mengalami peradangan. Jari pelatuk umumnya mempengaruhi jari manis dan ibu jari, tetapi dapat pula mengenai jari-jari lainnya. ‎

‎Kondisi ini dapat menyebabkan kesulitan menggerakan sendi yang terkena, seseorang juga merasakan nyeri saat menekuk atau meluruskan jari‎, kemerahan, ‎pembengkakan‎, ‎jari yang terkena menjadi terjebak dalam posisi menekuk, ‎benjolan di pangkal jari di sisi telapak tangan‎, ‎sensasi terkunci saat jari digerakkan mirip pelatuk pistol.‎

‎Beberapa penyebab potensial jari pelatuk meliputi ‎kondisi autoimun seperti rheumatoid arthritis dan ‎‎diabetes‎; ‎terlalu sering menggunakan sendi yang terkena, atau ‎‎cedera regangan berulang‎; ‎organisme menular, seperti bakteri stafiluskokus yang tahan methicillin. ‎Mungkin juga tidak ada penyebab yang jelas dari jari pelatuk ini. ‎

‎Menurut ‎‎American Academy of Orthopaedic Surgeons,‎‎ kekakuan  jari yang terkena seringkali memburuk jika jari lama tidak digerakkan, seperti di pagi hari setelah bangun tidur.‎

4. Kontraktur Dupuytren

Kontaktur Dupuytren adalah kondisi yang ‎‎mempengaruhi‎‎ fasia tangan, yaitu jaringan ikat yang mengelilingi tulang. Kondisi ini paling sering menyerang jari manis dan kelingking. 

‎Seseorang dengan kontraktur Dupuytren mungkin merasakan nodul di sisi telapak tangan. Nodul membentuk tali yang menghasilkan deformitas kontraktur dalam pita fasia dan jaringan tangan. Tali menjadi tebal dan memendek, mengakibatkan hilangnya rentang gerak di tangan. Jari-jari yang terkena akhirnya menjadi sulit untuk diluruskan.‎

‎Penyebab kontraktur Dupuytren adalah kelainan genetik yang sering diwariskan secara autosom dominan, tetapi etiologi multifaktorial sering dijumpai seperti diabetes, gangguan kejang, merokok, alkoholisme, HIV, dan penyakit vaskular.‎

‎Jika Terjadi di Malam Hari‎

‎Bisa jadi seseorang mengalami jari-jari kaku di malam hari. Berikut adalah beberapa kondisi yang menyebabkan jari kaku di malam hari.‎

1. ‎Carpal tunnel syndrome

Carpal tunnel syndrome (CTS) ‎‎ terjadi ketika saraf yang berjalan dari lengan bawah ke telapak tangan, yang disebut saraf tengah, mengalami tekanan atau penyempitan di pergelangan tangan.‎

‎Seseorang dengan CTS mungkin sering mengalami mati rasa atau sensasi kesemutan di jari, terutama di ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah.‎

‎Gejala sering muncul ‎‎di malam hari‎‎ dan biasanya menjadi lebih baik pada siang hari. Namun, seiring perkembangan, seseorang juga dapat mengalami gejala di siang hari.

2. ‎Tendonitis tangan‎

Tendonitis‎ ‎‎ adalah peradangan dan pembengkakan tendon. Ini terjadi sebagai akibat dari aktivitas berulang seperti bermain olahraga dan terlibat dalam kerja manual.‎

‎Seseorang dengan tendonitis tangan mungkin mengalami rasa sakit di luar sendi, terutama ketika menggerakkan sendi. Mereka mungkin juga mengalami pembengkakan di daerah yang terkena.‎

Perawatan Jari-jari Kaku

Terdapat banyak opsi penanganan jari-jari kaku, tergantung pada beberapa faktor, seperti penyebab terjadinya kekakuan, ‎tingkat keparahan gejala, ‎usia dan status kesehatan secara umum. Selain herbal dan obat-obatan serta tindakan medis lainnya, peregangan dan latihan sederhana dapat membantu mengurangi kekakuan. Cobalah tiga dari beberapa latihan di bawah untuk mengurangi nyeri sendi, menjaga jari-jari Anda lentur, dan meningkatkan produktivitas dan kemandirian Anda.

1. Latihan Tekuk Jari

‎Stabilkan lengan Anda dengan menempatkan siku di atas meja atau sandaran tangan. Jaga pergelangan tangan Anda tetap lurus. Mulailah dengan menekuk jari-jari Anda. Setelah melakukan beberapa kali, perlahan-lahan membuat tinju dengan tangan Anda dan tahan selama 10 detik. Kemudian, buka dan lepaskan jari-jari Anda ke atas dan tahan selama 10 detik.‎

‎Ingatlah untuk melatih perlahan. Radang sendi kecil jari-jari Anda dapat menyulitkan gerakan menekuk jari. Cobalah merendam dengan air hangat tangan Anda sebelum memulai latihan.‎

2. Latihan Sentuh Jari

‎Mulailah dengan telapak tangan menghadap ke atas dan jari-jari Anda sepenuhnya diluruskan. Tekuk ibu jari Anda dan regangkan di telapak tangan Anda sampai menyentuh jari kelingking Anda. Setelah memegang selama 5 detik, bawa ibu jari Anda kembali ke posisi semula.‎

‎Terus sentuh sisa jari-jari Anda berturut-turut. Ingatlah untuk kembali ke posisi netral (dengan telapak tangan Menghadap ke atas) di antara setiap sentuhan jari.‎

3. Latihan Geser Jari

‎Letakkan telapak tangan Anda di atas meja. Jari-jari Anda harus direnggangkan. Geser jari telunjuk Anda ke arah ibu jari Anda tanpa menekuknya. Lanjutkan latihan dengan menggeser masing-masing jari Anda ke arah ibu jari Anda. Setelah selesai, kembalikan jari-jari Anda ke posisi awal.‎

4. Latihan Mengepal Jari

‎Mulailah dengan merelaksasi lengan Anda di atas meja atau sandaran tangan. kepalkan jari-jari Anda bersama-sama secara perlahan dan lembut, pastikan bahwa ibu jari Anda melilit semua jari-jari Anda. Tahan posisi ini selama sekitar 45 detik, dan kemudian lepaskan jari-jari Anda dengan posisi yang renggang antar jari.‎

5. Peregangan Ujung Jari

‎Tempatkan tangan santai Anda di atas meja atau permukaan yang datar. Perlahan-lahan regangkan jari-jari Anda sampai mereka meluruskan dan tangan Anda benar-benar rata. Jaga tangan Anda tetap rata di meja selama 30 hingga 60 detik.‎

6. Latihan Penguatan Pegangan

‎Untuk melatih kekuatan pegangan, ambil bola kecil dan lembut dan peras erat-erat di tangan Anda. Tahan selama beberapa detik, lalu lepaskan. Ulangi ini selama sekitar 45 detik per tangan. Istirahatkan tangan Anda selama sekitar 1 sampai 2 hari setelah menyelesaikan peregangan ini.‎

7. Latihan Penguatan Cubitan

‎Latihan ini dilakukan dengan bola kecil dan lembut dan mencubitnya di antara jari dan ibu jari Anda. Lakukan selama sekitar 30 hingga 60 detik sebelum melepaskan. Istirahatkan tangan Anda selama sekitar 1 sampai 2 hari setelah menyelesaikan peregangan ini.‎

Referensi:

  1. Johnson, J., (2021). Causes and treatments for stiff fingers. https://www.medicalnewstoday.com/articles/326867
  2. Roth, E., (2021). Easy Exercises to Prevent Hand Stiffness. https://www.healthline.com/health/psoriatic-arthritis/prevent-stiffness
  3. Walthall J, Anand P, Rehman UH. Dupuytren Contracture. [Updated 2021 Sep 14]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK526074/


21 December 2021

Kelopak Mata Bengkak dan Perawatannya

Man photo created by cookie_studio - www.freepik.com


Dikutip dari www.medicalnewstoday.com, bahwa mata bengkak bisa disebabkan oleh banyak hal. yaitu:

1. Tembel.

Yach siapa yang tidak tahu tempel, kalian semua pasti pernah mengalaminya bukan. Tembel (hordeolum) adalah infeksi kelenjar di kelopak mata. Jenis tembel yang paling umum menginfeksi kelenjar air mata yang berada di dasar bulu mata. Tembelan juga terkadang terjadi di dalam kelopak mata karena kelenjar minyak yang terinfeksi. Tembelan biasanya dimulai sebagai benjolan merah, gatal, nyeri, bengkak. Selama beberapa jam atau beberapa hari, mereka mulai menyerupai jerawat. Beberapa memiliki bintil putih. Dalam kebanyakan kasus, infeksi hanya mempengaruhi satu air mata atau kelenjar minyak dan tidak memerlukan pengobatan. Kompres hangat dapat membantu mengurangi rasa sakit. Orang harus menghindari produk mata, termasuk riasan dan krim mata sampai bintil menghilang. Mereka juga tidak boleh mencoba memencet tembel karena ini dapat menyebarkan infeksi dan merusak mata. Antibiotik dapat membantu dalam situasi berikut:

  • muncul beberapa tembel sekaligus
  • tembel terasa sangat sakit
  • gejalanya memburuk
  • disertai demam 
  • penglihatan terganggu

Jika kalian mengalami tembelan dengan salah satu gejala tersebut, segera hubungi dokter mata anda agar mata anda tidak terganggu terlalu lama.

2. Kalazion

Kalazion tampak seperti tembel, tetapi ia bukan infeksi. Sebaliknya, kalazion terjadi ketika kelenjar minyak di kelopak mata tersumbat. Orang yang memiliki satu kalazion cenderung mendapatkan lebih banyak, dan benjolan bisa tumbuh cukup besar. Namun, chalazia jarang sakit. Mereka biasanya mengekspresikan diri mereka sendiri setelah beberapa hari, seperti jerawat. Kompres hangat dapat membantu membersihkan kalazion lebih cepat. Ketika kalazion tumbuh sangat besar, mereka dapat mengganggu penglihatan dan mungkin menjadi menyakitkan. Mungkin juga sulit untuk membedakan antara chalazion, tembel, atau infeksi mata. Jika benjolan tidak hilang setelah beberapa hari atau ada tanda-tanda infeksi lain, seperti demam, seseorang harus menghubungi dokter mata.

3. Konjungtivitis 

Konjungtivitis, juga dikenal sebagai mata merah, adalah peradangan pada konjungtiva mata, yang merupakan jaringan tipis bening yang melapisi kelopak mata dan bola mata. Orang dengan mata merah biasanya memiliki bola mata merah dan mungkin mengalami rasa sakit, gatal, dan kelopak mata bengkak.

Bentuk paling umum dari konjungtivitis adalah infeksi virus yang hilang dengan sendirinya setelah 7-10 hari. Namun, infeksi bakteri juga dapat menyebabkan konjungtivitis. Kadang-kadang, alergi atau iritasi seperti parfum mengiritasi mata, menyebabkan konjungtivitis. Kompres hangat dapat membantu mengurangi rasa sakit. Orang juga harus:

  • menjaga mata tetap bersih dan bebas dari kosmetik
  • hindari menggosok atau menyentuh mata
  • cuci tangan sesering mungkin untuk mencegah penyebaran infeksi

Jika gejala memburuk, rasa sakit menjadi parah, atau mata merah tidak hilang dalam beberapa hari, dokter mungkin akan meresepkan antibiotik.

4. Blefaritis

Beberapa orang memiliki lebih banyak bakteri di dalam dan di sekitar kelopak mata mereka daripada yang lain. Bakteri ini dapat menyebabkan kondisi yang disebut blepharitis. Orang dengan blepharitis mungkin memiliki kelopak mata berminyak dan serpihan seperti ketombe di sekitar bulu mata mereka. Beberapa orang dengan blepharitis kelopak matanya meradang dan terasa sangat sakit. Blefaritis adalah kondisi kronis yang tidak ada obatnya. Sebaliknya, itu cenderung berjangkitnya gejala yang menjadi lebih baik dan kemudian lebih buruk. Kompres hangat, menghilangkan riasan mata dengan hati-hati, dan menggosok kelopak mata dapat membantu. Seorang dokter mata mungkin meresepkan salep antibiotik. Terkadang, blepharitis menyebabkan infeksi yang lebih parah. Jika blepharitis memburuk atau jika rasa sakitnya bertambah hebat, hubungi dokter mata.

5. Selulitis mata

Selulitis mata adalah infeksi jauh di dalam jaringan kelopak mata. Ini dapat menyebar dengan cepat dan seringkali sangat menyakitkan. Bahkan luka kecil pun dapat menyebabkan cukup banyak bakteri untuk memicu selulitis mata. Jika kelopak mata sangat sakit, merah, bergaris, atau bengkak, seseorang harus mencari perawatan medis darurat. Selulitis adalah infeksi serius yang memerlukan pengobatan antibiotik. Tergantung pada tingkat keparahan infeksi, mungkin perlu untuk menerima antibiotik intravena (IV).

6. Penyakit Graves

Penyakit Graves adalah gangguan endokrin yang menyebabkan tiroid terlalu aktif. Kondisi ini dapat menyebabkan tiroid keliru melepaskan sel untuk melawan infeksi yang sebenarnya tidak ada di mata. Antibodi yang dilepaskannya dapat menyebabkan pembengkakan dan peradangan pada mata. Berbagai perawatan tersedia untuk penyakit Graves, termasuk operasi tiroid dan berbagai obat.

7. Herpes mata

Herpes okular adalah infeksi herpes di dalam dan di sekitar mata. Meskipun siapa pun dapat mengembangkan herpes okular, ini paling sering terjadi pada anak-anak. Herpes okular dapat sangat mirip dengan mata merah muda tetapi tidak selalu menghasilkan lesi yang berbeda. Untuk mendiagnosis herpes, dokter perlu mengambil kultur mata untuk memeriksa keberadaan virus. Meskipun virus tetap berada di dalam tubuh dan tidak ada obatnya, obat antivirus dapat mengatasi gejalanya.

8. Saluran air mata tersumbat

Ketika saluran air mata tersumbat, maka air mata tidak dapat mengalirkan dengan lancar, akibatnya timbul rasa sakit dan kemerahan pada kelopak mata. Orang dengan kelopak mata yang tersumbat mungkin akan mendapati kerak pada saluran mata. Mata mereka mungkin tertutup rapat saat bangun tidur. Bayi baru lahir dan anak usia di bawah 1 tahun sangat rentan mengalami sumbatan saluran air mata. Gejala sering membaik pada saat mereka berusia 1 tahun. Dalam kebanyakan kasus, saluran air mata yang tersumbat dapa mengganggu tetapi tidak berbahaya. Kompres hangat dapat meredakan pembengkakan dan membantu saluran air mata mengalir. Cobalah memijat area tersebut dengan lembut untuk mengurangi tekanan dan mengeringkan saluran. Saluran air mata yang tersumbat terkadang bisa terinfeksi. Jika kelopak mata sangat sakit, atau jika seseorang mengalami demam, mereka harus mencari perawatan segera. Infeksi mungkin memerlukan antibiotik. Jika saluran air mata yang tersumbat tidak sembuh, dokter mungkin perlu melakukan prosedur medis untuk membukanya.

9. Alergi

Jika mata gatal, merah, dan berair menyertai kelopak mata yang bengkak, bisa jadi penyebabnya adalah alergi mata. Debu, serbuk sari, dan alergen umum lainnya dapat mengiritasi mata, memicu reaksi alergi. Alergi mata jarang berbahaya, tetapi bisa mengganggu. Menghindari alergen yang diketahui adalah pengobatan terbaik, tetapi beberapa orang mendapatkan bantuan dari penggunaan antihistamin, seperti Benadryl. Obat tetes mata yang dijual bebas, juga dapat membantu mengatasi gatal dan kekeringan, tetapi jika gejalanya menetap, orang harus menghubungi dokter mata. Dokter mungkin merekomendasikan tes alergi atau perawatan resep.

10. Kelelahan

Kelelahan bisa membuat kelopak mata terlihat bengkak. Retensi air semalaman juga dapat mempengaruhi kelopak mata. Itu bisa membuat mereka terlihat bengkak di pagi hari, terutama jika orang tersebut kurang tidur. Pemberian kompres dingin sambil berbaring dengan kepala ditinggikan di atas bantal dapat membantu. Minum segelas air juga dapat membantu mengurangi retensi cairan dan pembengkakan.

11. Menangis

Menangis dapat merusak pembuluh darah kecil di mata dan kelopak mata, terutama jika menangis tersedu-sedu dan lama. Kelopak mata bengkak yang terjadi setelah seseorang menangis bisa jadi akibat dari retensi cairan yang disebabkan oleh peningkatan aliran darah ke area sekitar mata. Istirahat, kompres dingin, meninggikan kepala, dan minum air putih dapat membantu meredakan.

12. Kosmetik

Ketika produk kosmetik dan perawatan kulit masuk ke mata, mereka dapat mengiritasi mata dan jaringan di sekitarnya, menyebabkan mata bengkak, merah, dan terasa sakit. Reaksi alergi terhadap produk ini juga bisa memicu kelopak mata bengkak. Jika orang mengalami mata seperti terbakar dan bengkak, mereka harus menggunakan air mata buatan yang tersedia di toko obat, untuk membantu meredakan ketidaknyamanan. Jika rasa terbakar berlanjut atau semakin parah, orang tersebut harus periksa ke  dokter mata. Hindari menggunakan obat tetes mata atau produk lain untuk menghilangkan rasa sakit. Produk-produk ini dapat memiliki reaksi kimia yang tidak terduga dengan produk kosmetik dan perawatan kulit.


18 December 2021

Seberapa Bahaya Omicron Dibanding Varian COVID-19 Lainnya.

Health photo created by freepik


Omicron adalah varian terbaru dari severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) dengan kode B.1.1.529. Pada tanggal 26 November 2021 yang lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan varian ini sebagai varian yang menjadi perhatian (Kannan et al., 2021). Awalnya virus ini diidentifikasi di Botswana negara sebelah utara perbatasan dengan Afrika Selatan pada tanggal 11 November 2021 (Chan et al., 2021). Nama omicron sendiri berasal dari huruf alfabet Yunani. Sebagaimana diketahui WHO telah mengganti nama-nama varian COVID-19 dari berdasarkan negara menjadi huruf alfabet Yunani kuno seperti alpha, beta, delta dll.

Riwayat Mutasi COVID-19

Pada akhir 2020 dan awal 2021, ada tanda-tanda bahwa SARS-CoV-2 telah mencapai puncak. Para peneliti di Inggris menemukan varian yang disebut B.1.1.7 yang mengandung banyak mutasi pada protein Spike (S). Varian itu — sejak berganti nama menjadi Alpha — menyebar setidaknya 50% lebih cepat daripada garis keturunan yang beredar sebelumnya. Pejabat kesehatan masyarakat Inggris mengaitkannya dengan peningkatan misterius kasus di Inggris tenggara selama penguncian nasional pada November 2020. Pada waktu yang hamper sama, pemburu virus di Afrika Selatan menghubungkan varian sarat mutasi lain yang disebut B.1.351 — sekarang dikenal sebagai Beta — dengan gelombang kedua infeksi di sana. Tidak lama kemudian, varian yang sangat menular, sekarang disebut Gamma, dilacak ke negara bagian Amazonas di Brasil (Callaway, 2021).

Varian Delta diidentifikasi di negara bagian Maharashtra India selama gelombang ganas COVID-19 yang melanda negara itu pada musim semi 2021, dan para peneliti masih memperhitungkan konsekuensinya terhadap pandemi. Begitu tiba di Inggris, varian itu menyebar dengan cepat dan ahli epidemiologi menentukan bahwa itu sekitar 60% lebih mudah menular daripada Alpha, membuatnya beberapa kali lebih menular seperti strain pertama SARS-CoV-2.Delta adalah jenis super (Callaway, 2021).

Tim di Botswana dan Afrika Selatan mengidentifikasi varian terbaru Omicron pada akhir November – meskipun para peneliti mengatakan varian itu bukan berasal dari kedua negara tersebut – dan pejabat kesehatan telah menghubungkannya dengan wabah yang berkembang pesat yang berpusat di provinsi Gauteng Afrika Selatan. Varian ini menyimpan sekitar 30 mutasi protein S dan para ilmuwan di seluruh dunia sedang bekerja untuk mengukur ancaman yang ditimbulkannya (Callaway, 2021)..

Seberapa Jauh Persebaran Omicron 

Varian Omicron dengan cepat menyebar ke negara-negara tetangga, dan sekarang telah ditemukan di setidaknya 26 negara di seluruh dunia, termasuk kasus pertama yang dilaporkan di California, AS, per 1 Desember 2021 (Kannan et al., 2021).

Peningkatan pesat Omicron di Afrika Selatan adalah yang paling mengkhawatirkan para peneliti, karena ini menunjukkan varian tersebut dapat memicu peningkatan eksplosif dalam kasus COVID-19 di tempat lain. Pada 1 Desember, Afrika Selatan mencatat 8.561 kasus, naik dari 3.402 yang dilaporkan pada 26 November dan beberapa ratus per hari pada pertengahan November, dengan sebagian besar pertumbuhan terjadi di Provinsi Gauteng, tempat Johannesburg (Callaway & Ledford, 2021).

Hingga tanggal 15 Desember 2021, Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus menjelaskan bahwa Omicron telah terdeteksi di 77 negara setelah baru ditemukan akhir bulan lalu.

Perbedaan Dengan Varian Lain

Hingga saat ini, informasi tentang varian Omicron sangat terbatas. Sebuah studi analisis distribusi mutasi menunjukkan bahwa ada 46 mutasi pada varian Omicron. Dua puluh tiga di antaranya terlokalisasi dalam protein spike (S) dan sisanya terlokalisasi pada 3 protein struktural virus lainnya, amplop (E), membran (M), dan nukleokapsid (N). Analisis filogenetik menunjukkan bahwa Omikron berkerabat dekat dengan varian Gamma (P.1) (Kannan et al., 2021).

Apakah Vaksin Bisa Mencegah/meredakan Keparahan?

Analisis struktural menunjukkan bahwa beberapa mutasi terlokalisasi ke wilayah protein S yang merupakan target utama antibodi, menunjukkan bahwa mutasi pada varian Omicron dapat mempengaruhi afinitas pengikatan antibodi terhadap protein S (Kannan et al., 2021).

Sebuah studi yang menggunakan model kecerdasan buatan (AI), yang telah dilatih dengan puluhan ribu titik data eksperimental dan divalidasi secara ekstensif oleh data eksperimental pada SARS-CoV-2, mengungkapkan bahwa Omicron mungkin lebih dari sepuluh kali lebih menular daripada virus asli atau sekitar dua kali lebih menular daripada varian Delta. Berdasarkan 132 struktur tiga dimensi (3D) kompleks antibodi-Domain Pengikatan Reseptor, studi ini juga mengungkap bahwa Omicron mungkin dua kali lebih mungkin lolos dari vaksin saat ini daripada varian Delta. Antibodi monoklonal (mAbs), salah satu terapi COVID-19 yang digunakan saat ini juga dapat terganggu secara serius sehingga berkurang efisiensinya (Chen et al., 2021).

Seberapa Bahayakah Omicron

Cara penularan dan tingkat keparahan varian Omicron hingga masih belum diketahui. Laporan awal mengaitkan Omicron dengan kondisi penyakit yang ringan, meningkatkan harapan bahwa varian tersebut mungkin tidak terlalu parah dibandingkan beberapa pendahulunya. Tetapi laporan-laporan ini, yang sering didasarkan pada anekdot atau sedikit data, dapat menyesatkan (Callaway & Ledford, 2021).

Tantangan utama ketika menilai tingkat keparahan varian adalah bagaimana mengontrol banyak variabel pengganggu yang dapat mempengaruhi perjalanan penyakit, terutama ketika wabah secara geografis terlokalisasi. Misalnya, laporan penyakit ringan akibat infeksi Omicron di Afrika Selatan dapat mencerminkan fakta bahwa negara tersebut memiliki populasi yang relatif muda, banyak di antaranya telah terpapar SARS-CoV-2 (Callaway & Ledford, 2021).

Selama hari-hari awal wabah Delta, ada laporan bahwa varian tersebut menyebabkan penyakit yang lebih serius pada anak-anak daripada varian lainnya — sebuah asosiasi yang bubar setelah lebih banyak data dikumpulkan (Callaway & Ledford, 2021).

Penelitian-penelitian yang ada saat ini lebih kearah studi laboratorium. Studi komputasi untuk memeriksa varian Delta dan Omicron menemukan bahwa varian Omicron memiliki afinitas yang lebih tinggi dengan ACE2 manusia daripada varian Delta karena sejumlah besar mutasi pada domain pengikatan reseptor SARS-CoV-2, menunjukkan potensi penularan yang lebih tinggi. Berdasarkan studi docking, mutasi Q493R, N501Y, S371L, S373P, S375F, Q498R, dan T478K berkontribusi signifikan terhadap afinitas pengikatan tinggi dengan ACE2 manusia (Kumar, 2021).

Beberapa tulisan ilmiah menyebutkan bahwa galur baru sering dianggap lebih berbahaya daripada galur lama, karena lebih menular. Omicron bisa lebih menular daripada Delta. Namun, karena Omicron memiliki perbedaan struktur dengan varian lain yang sangat menular, yaitu kurang tersinkronisasi di S-2, di atas tempat pembelahan, Omicron seharusnya kurang efektif dalam membentuk unit fusi trimerik dan oleh karena itu bisa kurang berbahaya (Philips, 2021).

Referensi

  1. Callaway, E. (2021). Beyond Omicron: what’s next for COVID’s viral evolution. Nature, 600(7888), 204-207.
  2. Callaway, E., & Ledford, H. (2021). How bad is Omicron? What scientists know so far. Nature, 600(7888), 197-199.
  3. Chen, J., Wang, R., Gilby, N. B., & Wei, G. W. (2021). Omicron (B. 1.1. 529): Infectivity, vaccine breakthrough, and antibody resistance. ArXiv.
  4. Kannan, S. R., Spratt, A. N., Sharma, K., Chand, H. S., Byrareddy, S. N., & Singh, K. (2022). Omicron SARS-CoV-2 variant: Unique features and their impact on pre-existing antibodies. Journal of Autoimmunity, 126, 102779.
  5. Kumar, S., Thambiraja, T. S., Karuppanan, K., & Subramaniam, G. (2021). Omicron and Delta Variant of SARS-CoV-2: A Comparative Computational Study of Spike protein. bioRxiv.
  6. Phillips, J. C. (2021). What Omicron Does, and How It Does It. arXiv preprint arXiv:2112.04915.

16 December 2021

Apakah Boleh Minum Parasetamol Sesaat Setelah Pemberian Vaksin COVID-19?

Health photo created by freepik

Untuk membantu menghentikan pandemi penyakit coronavirus 2019 (COVID-19), vaksin saat ini menjadi alat yang sangat penting. Namun, vaksin mRNA COVID-19 sering menyebabkan efek samping sistemik segera setelah injeksi, seperti demam, sakit kepala, dan kelelahan umum. Dalam sebuah survei, setelah menerima dosis kedua vaksin COVID-19, 80% mengalami demam, 62% sakit kepala, dan 69% kelelahan umum (Kazama & Senzaki, 2021).

Pengalaman penulis, gejala-gejala di atas biasanya berlangsung selama 2-3 hari. Untuk meredakan gejala-gejala tersebut, sebagian orang akan meminum parasetamol entah karena diberi obat oleh petugas atau karena keinginan sendiri. Pemberian parasetamol atau obat antipiretik umumnya cukup efektif meredakan kejadian ikutan pasca imuninasi tersebut. Namun, bagaimana dengan respon imun yang akan dibentuk nantinya? Apakah respon imun terhadap vaksin akan terpengaruh dengan pemberian obat tersebut?

Park et al., (2021) melakukan peneltian tentang Efek Samping Sistemik dan Penggunaan Antipiretik pada penerima vaksin ChAdOx1 (AstraZeneca/Oxford) dan menyatakan tidak ada bukti yang mendukung respon antibodi tumpul dengan penggunaan asetaminofen. Oleh karena itu, studinya merekomendasikan asetaminofen untuk dipertimbangkan dalam manajemen gejala aktif efek samping vaksin.

Secara historis, antipiretik seperti ibuprofen atau acetaminophen telah digunakan untuk mengontrol efek samping fase akut sekunder dari vaksin yang berbeda. Namun, beberapa penelitian telah menyarankan bahwa menggunakan antipiretik segera sebelum atau segera setelah menerima vaksin dapat mengganggu imunogenisitasnya, tetapi penelitian yang lain tidak. Sebuah penelitian percobaan acak yang mengevaluasi efek asetaminofen profilaksis (diminum segera setelah vaksinasi) pada bayi menunjukkan titer antibodi yang lebih rendah secara signifikan dibandingkan dengan subjek kontrol (Etminan et al., 2021).

Lebih lanjut Etminan et al., (2021) menjelaskan mekanisme penurunan sirkulasi antibodi yang disebabkan oleh pemberian antipiretik pasca-vaksinasi tidak dipahami dengan baik. Namun, beberapa mekanisme potensial telah didalilkan. Antipiretik seperti asetaminofen dan ibuprofen dapat mengganggu komunikasi antara sistem imun bawaan dan adaptif dalam jaringan limfatik, yang terjadi dalam beberapa jam setelah pemberian antigen.

(Etminan et al., 2021) menambahkan bahwa tidak ada penelitian yang secara khusus meneliti efek antipiretik pada imunogenisitas vaksin COVID-19. Sebuah laporan baru-baru ini dari uji coba acak tersamar tunggal dari AstraZeneca (vaksin vektor adenovirus) menyebutkan bahwa penggunaan asetaminofen profilaksis tidak mengganggu imunogenisitas vaksin, meskipun tidak ada data yang diberikan, dan hasil ini mungkin tidak berlaku untuk vaksin tipe mRNA lainnya. Selanjutnya, tidak ada data yang diberikan tentang penggunaan antipiretik dalam percobaan Moderna, dan percobaan Pfizer hanya menyebutkan bahwa penggunaan antipiretik meningkat dengan meningkatnya konsentrasi dosis dan jumlah dosis, tetapi data tentang imunogenisitas tidak diberikan.

Apakah yang sebaiknya dilakukan?

Di tahun 2015, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan bahwa penggunaan antipiretik tidak dianjurkan sebelum atau sesaat setelah pemberian vaksinasi tetapi disetujui pada hari-hari setelah vaksinasi. Namun, adanya potensi interaksi negatif antara penggunaan antipiretik dan vaksin COVID-19 yang bisa berdampak pada kemanjuran vaksin respons imun tubuh. Di sisi yang lain, kekhawatiran tentang interaksi ini dapat menyebabkan penggunaan antipiretik yang rendah dan berpotensi menyebabkan ketidakpatuhan dengan dosis kedua. Maka Langkah yang terbaik adalah penggunaan antipiretik (parasetamol atau ibuprofen) tidak dilakukan sesaat sebelum atau sesudah pemberian vaksin COVID-19. Minimal minum obat parasetamol/ibuprofen dilakukan pada malam hari saat gejala-gejala efek samping imunisasi mulai terasa. 

Referensi:

  1. Etminan, M., Sodhi, M., & Ganjizadeh-Zavareh, S. (2021). Should Antipyretics Be Used to Relieve Acute Adverse Events Related to COVID-19 Vaccines? Chest, 159(6), 2171–2172. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.chest.2021.01.080
  2. Kazama, I., & Senzaki, M. (2021). Does immunosuppressive property of non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) reduce COVID-19 vaccine-induced systemic side effects? Drug Discoveries & Therapeutics, 15(5), 278–280. https://doi.org/10.5582/ddt.2021.01094
  3. Park, J. Y., Choi, S.-H., Chung, J.-W., Hwang, M.-H., & Kim, M.-C. (2021). Systemic Adverse Events and Use of Antipyretics Predict the Neutralizing Antibody Positivity Early after the First Dose of ChAdOx1 Coronavirus Disease Vaccine. In Journal of Clinical Medicine  (Vol. 10, Issue 13). https://doi.org/10.3390/jcm10132844


04 December 2021

Reduksi Ansietas dan Gangguan yang berkaitan dengan Cemas

Background photo created by evening_tao - www.freepik.com


Kecemasan sesekali adalah bagian yang diharapkan dari kehidupan. Anda mungkin merasa cemas ketika menghadapi masalah di tempat kerja, sebelum mengikuti ujian, atau sebelum mengambil keputusan penting. Tetapi gangguan kecemasan melibatkan lebih dari sekadar kekhawatiran atau ketakutan sementara. Untuk seseorang dengan gangguan kecemasan, kecemasan tidak hilang dan bisa bertambah buruk dari waktu ke waktu. Gejala tersebut dapat mengganggu aktivitas sehari-hari seperti kinerja pekerjaan, pekerjaan sekolah, dan hubungan.

Penanganan kecemasan secara luas dapat dikategorikan sebagai: 1) Psikoterapi; 2) Medikasi; dan 3) Terapi Komplementer dan Alternatif. Pasien yang didiagnosis dengan kecemasan dapat mengambil manfaat dari satu atau kombinasi dari berbagai terapi ini (Ogbonmwan, n.d.). Berdasarkan evidence-based therapy, terdapat bermacam-macam terapi untuk menurunkan cemas dan gangguan terkait kecemasan.

Konseling

Konseling adalah bentuk terapi bicara di mana penyedia layanan kesehatan mental membantu pasien mengembangkan strategi dan keterampilan mengatasi untuk mengatasi masalah tertentu seperti manajemen stres atau masalah interpersonal. Konseling umumnya dirancang untuk menjadi terapi jangka pendek.

Psikoterapi

Ada banyak jenis psikoterapi yang digunakan untuk mengobati kecemasan. Tidak seperti konseling, psikoterapi lebih bersifat jangka panjang dan menargetkan masalah yang lebih luas seperti pola perilaku. Diagnosis kecemasan khusus pasien dan preferensi pribadi memandu terapi apa yang paling cocok untuk mengobatinya. Tujuan akhir dengan semua jenis psikoterapi adalah untuk membantu pasien mengatur emosi mereka, mengelola stres, memahami pola perilaku yang mempengaruhi hubungan interpersonal mereka. Terapi berbasis bukti seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), Prolonged Exposure Therapy (PE), dan Dialectical Behavioral Therapy (DBT) adalah beberapa yang paling efektif untuk mengobati kecemasan.

Cognitive Behavioral Therapy (CBT)

CBT adalah pengobatan jangka pendek yang dirancang untuk membantu pasien mengidentifikasi pemikiran yang tidak akurat dan negatif dalam situasi yang menyebabkan kecemasan seperti serangan panik. CBT dapat digunakan dalam terapi satu lawan satu atau dalam sesi terapi kelompok dengan orang-orang yang menghadapi masalah serupa. CBT terutama berfokus pada masalah yang sedang berlangsung dalam kehidupan pasien dan membantu mereka mengembangkan cara baru untuk memproses perasaan, pikiran, dan perilaku mereka untuk mengembangkan cara yang lebih efektif dalam menghadapi hidup mereka. Pada pasien yang menderita PTSD, CBT dapat mengambil pendekatan yang berfokus pada trauma, di mana tujuannya adalah untuk memproses dan membingkai ulang pengalaman traumatis yang mengarah pada gejala. Rata-rata, lama pengobatan adalah sekitar 10-15 sesi satu jam mingguan tergantung pada jenis dan tingkat keparahan gejala.

Prolonged Exposure Therapy (PE)

PE adalah jenis CBT khusus yang digunakan untuk mengobati PTSD dan fobia. Tujuan dari terapi ini adalah untuk membantu pasien mengatasi tekanan luar biasa yang mereka alami ketika diingatkan akan trauma masa lalu atau dalam menghadapi ketakutan mereka. Dengan bimbingan terapis berlisensi, pasien dengan hati-hati diperkenalkan kembali ke ingatan atau pengingat trauma. Selama pemaparan, terapis memandu pasien untuk menggunakan teknik koping seperti mindfulness atau terapi/gambaran relaksasi. Tujuan terapi ini adalah untuk membantu pasien menyadari bahwa ingatan terkait trauma (atau fobia) tidak lagi berbahaya dan tidak perlu dihindari. Jenis perawatan ini biasanya berlangsung 8-16 sesi mingguan.

Eye Movement Desensitization Reprocessing Therapy (EMDR)

EMDR adalah psikoterapi yang meredakan tekanan dan gangguan emosional yang ditimbulkan dari ingatan akan peristiwa traumatis. Ini terutama diberikan untuk mengobati PTSD dan sangat mirip dengan terapi paparan. Terapi ini membantu pasien untuk memproses trauma sehingga bisa sembuh. Selama terapi, pasien memperhatikan gerakan maju mundur atau suara sambil menceritakan kenangan traumatis mereka. Pasien melanjutkan sesi ini sampai ingatannya berkurang. Sesi EMDR biasanya berlangsung 50-90 menit dan diberikan setiap minggu selama 1-3 bulan, meskipun banyak pasien melaporkan mengalami pengurangan gejala setelah beberapa sesi EMDR.

Dialectical Behavioral Therapy (DBT)

DBT menggunakan pendekatan berbasis keterampilan untuk membantu pasien mengatur emosi mereka. Ini adalah pengobatan pilihan untuk Borderline Personality Disorder, tetapi panggilan juga efektif untuk gangguan kecemasan seperti PTSD. Perawatan ini mengajarkan pasien bagaimana mengembangkan keterampilan untuk mengatur emosi, manajemen stres, perhatian penuh, dan efektivitas interpersonal. Ini dikembangkan untuk digunakan dalam sesi terapi satu lawan satu atau sesi kelompok. Jenis terapi ini biasanya berjangka panjang, dan pasien biasanya menjalani pengobatan selama satu tahun atau lebih.

Acceptance and Commitment Therapy (ACT)

ACT adalah jenis CBT yang mendorong pasien untuk mendapatkan perilaku positif bahkan di hadapan pikiran dan perilaku negatif. Tujuannya adalah untuk meningkatkan fungsi sehari-hari meskipun memiliki gangguan tersebut. Ini sangat berguna untuk Gangguan Kecemasan Umum dan Depresi yang resisten terhadap pengobatan. Lama pengobatan bervariasi tergantung pada tingkat keparahan gejala.

Terapi Keluarga

Terapi Keluarga adalah jenis terapi kelompok yang melibatkan keluarga pasien untuk membantu mereka meningkatkan komunikasi dan mengembangkan keterampilan yang lebih baik untuk memecahkan konflik. Terapi ini berguna jika keluarga berkontribusi terhadap kecemasan pasien. Selama terapi jangka pendek ini, keluarga pasien belajar bagaimana tidak memperburuk gejala kecemasan dan memahami pasien dengan lebih baik. Lama pengobatan bervariasi tergantung pada tingkat keparahan gejala.

Medikasi

Obat-obatan terkadang digunakan bersamaan dengan psikoterapi. Obat yang paling sering diresepkan umumnya aman, meskipun beberapa memiliki efek samping yang perlu dipertimbangkan. Jenis obat tertentu yang diberikan kepada pasien akan ditentukan oleh penyedia mereka berdasarkan gejala spesifik pasien dan faktor lain seperti kesehatan umum.

Antidepresan

Antidepresan adalah obat yang digunakan untuk mengobati gejala depresi tetapi juga dapat digunakan untuk mengobati gejala kecemasan. Secara khusus, selective serotonin re-uptake inhibitors (SSRI) dan selective norepinephrine re-uptake inhibitors (SNRI) adalah kelas utama antidepresan yang digunakan untuk mengobati kecemasan. SSRI yang biasa digunakan untuk mengobati kecemasan adalah escitalopram (Lexapro) dan paroxetine (Paxil, Pexeva). Obat SNRI yang digunakan untuk mengobati kecemasan termasuk duloxetine (Cymbalta), venlafaxine (Effexor XR).

Buspiron

Buspirone adalah obat yang diindikasikan untuk pengobatan kecemasan. Obat ini memiliki kemanjuran tinggi untuk Gangguan Kecemasan Umum dan sangat efektif dalam mengurangi masalah kognitif dan interpersonal yang terkait dengan kecemasan. Tidak seperti benzodiazepin, buspirone tidak memiliki efek sedatif atau berinteraksi dengan alkohol. Yang paling penting, ada risiko rendah mengembangkan ketergantungan pada buspirone. Efek sampingnya minimal tetapi bisa termasuk pusing, gugup, dan sakit kepala. BuSpar dan Vanspar adalah nama merek yang terkait dengan buspirone.

Benzodiazepin

Benzodiazepin adalah obat penenang yang diindikasikan untuk kecemasan, epilepsi, penarikan alkohol, dan kejang otot. Benzodiazepin menunjukkan efektivitas jangka pendek dalam pengobatan Gangguan Kecemasan Umum dan dapat membantu gangguan tidur. Seorang dokter mungkin meresepkan obat ini untuk jangka waktu terbatas untuk meredakan gejala kecemasan akut. Namun, penggunaan obat-obatan ini dalam jangka panjang tidak disarankan karena memiliki efek sedatif yang kuat dan dapat membentuk kebiasaan. Juga, mengambil benzodiazepin sementara juga terlibat dalam psikoterapi seperti PE dapat mengurangi efektivitas terapi paparan. Beberapa nama merek terkenal adalah Librium, Xanax, Valium, dan Ativan.

Beta Blocker

Beta Blocker, juga dikenal sebagai agen penghambat beta-adrenergik, bekerja dengan memblokir neurotransmitter epinefrin (adrenalin). Memblokir adrenalin memperlambat dan mengurangi kekuatan kontraksi otot jantung, mengakibatkan penurunan tekanan darah. Beta-blocker juga meningkatkan diameter pembuluh darah yang mengakibatkan peningkatan aliran darah. Secara historis, beta-blocker telah diresepkan untuk mengobati gejala somatik kecemasan (denyut jantung dan tremor), tetapi mereka tidak terlalu efektif untuk mengobati kecemasan umum, serangan panik, atau fobia. Lopressor dan Inderal adalah beberapa nama merek yang mungkin sudah Anda kenal.

Terapi Pelengkap dan Alternatif

Terapi Pelengkap dan Alternatif dapat digunakan bersamaan dengan terapi konvensional untuk mengurangi gejala kecemasan. Ada minat yang berkembang pada jenis terapi alternatif ini karena tidak invasif dan dapat bermanfaat bagi pasien. Mereka biasanya tidak dimaksudkan untuk menggantikan terapi konvensional melainkan dapat menjadi terapi tambahan yang dapat meningkatkan kualitas hidup pasien secara keseluruhan.

Manajemen stres

Kumpulan aktivitas yang terfokus di mana seorang individu secara sadar menghasilkan respon relaksasi dalam tubuhnya. Respons ini terdiri dari pernapasan yang lebih lambat, menghasilkan tekanan darah yang lebih rendah dan perasaan sejahtera secara keseluruhan. Kegiatan ini meliputi: relaksasi progresif, imajinasi terbimbing, biofeedback, dan latihan self-hypnosis dan pernapasan dalam.

Meditasi

Sebuah praktik pikiran dan tubuh di mana individu diinstruksikan untuk memperhatikan pikiran, perasaan dan sensasi dengan cara yang tidak menghakimi. Telah terbukti bermanfaat dalam mengurangi gejala stres psikologis pada pasien dengan kecemasan.

yoga

Latihan mindfulness yang menggabungkan meditasi, postur fisik, latihan pernapasan, dan filosofi yang berbeda. Telah terbukti bermanfaat dalam mengurangi beberapa gejala kecemasan dan depresi.

Referensi

  1. Ogbonmwan, Y., (n.d.). What is Anxiety? https://www.anxiety.org/what-is-anxiety#treatment-options
  2. National Institute of Mental Health. (n.d.). Anxiety disorders. https://www.nimh.nih.gov/health/topics/anxiety-disorders


30 November 2021

RakeR II Polkesma



Selasa, 30 November 2021 pagi ini jajaran Poltekkes Kemenkes Malang melaksanakan Raker II tahun 2021. Acara dilaksanakan di hotel Harris Hotel & Conventions Malang selama tiga hari mulai hari ini tanggal 30 November hingga 2 Desember 2021. Acara dihadiri oleh seluruh jajaran pejabat dan seluruh pegawai Polkesma. Hadir dari kalangan pejabat direktur, wadir 1-3, kabag, kapusat, kaur, kajur dan kaprodi. 

Secara singkat wadir II Polkesma menyampaikan laporannya bahwa tujuan dari pelaksanaan raker II adalah melaksanakan monitor dan evaluasi Pencapaian Rencana Strategis dan IKU tahun 2021, menyusun dan menetapkan Rencana Kerja dan Anggaran (RKAT) dan rencana Penarikan Dana (RPD) tahun 2022, menyusun mapping pengembangan kompetensi keahlihan dan kompetensi dosen, menyusun mapping pengembangan kompetensi tenaga fungsional, menyusun anggaran dan program keahlian dosen, menyusun anggaran dan program kelompok fungsional tenaga kependidikan, dan meningkatkan komunikasi di antara pegawai Poltekkes malang

Peserta raker adalah seluruh pegawai di lingkungan kampus utama dan kampus 1-6 yang terdiri dari dosen sebanyak 190 dan tenaga kependidikan  sebanyak 201 total jumlah peserta adalah 391 orang. 

Ketentuan pelaksanaan raker meliputi rapat kerja dilaksanakan dengan penerapan protocol Kesehatan, seluruh peserta telah mendapat vaksinasi minimal dosis pertama, serta seluruh peserta telah melaksanakan saliva antigen test 1x24 jam dan dengan hasil negative.



Dalam sambutannya direktur menyampaikan beberapa raihan penghargaan dan prestasi Poltekkes Malang pada beberapa kegiatan atau kompetisi. Penghargaan nasional misalnya diberikan kepada dosen-dosen yang berhasil membuat produk unggulan. Penghargaan nasional juga diraih oleh dosen yang berhasil menembus publikasi Scopus Q1. Sementara itu, untuk dosen teladan tingkat nasional, Polkesma mampu menempatkan salah seorang dosen menembus 5 besar. Pada acara Edu Health Fair 2021, Polkesma menyabet gelar Juara 2 Stand pameran Poltekkes terfavorit. Prestasi mahasiswa Polkesma tidak kalah membanggakan. Beberapa penghargaan yang diraih oleh para mahasiswa misalnya juara umum PIMNAKES tahun 2021, Juara 1 karate tingkat nasional dan masih banyak lagi prestasi lainnya.

Raker II Polkesma 2021 yang mengambil tema “di balik lulusan yang sukses terdapat tenaga pendidik dan kependidikan yang hebat” diharapkan mampu memompa semangat semua pegawai di Polkesma untuk mewujudkan visi dan misi organisasi di tahun 2024. (abiasa).


29 November 2021

Manajemen Nyeri

Business photo created by katemangostar - www.freepik.com


Masalah keperawatan yang berkaitan dengan rasa nyeri biasanya digolongkan ke dalam nyeri akut, nyeri kronis, nyeri melahirkan dan sindroma nyeri kronis (Ackley, ladwig, Makic (2017). Apapun masalahnya, manajemen nyeri nampaknya menjadi intervensi utama untuk meredakan rasa nyeri. 

Manajemen nyeri didefinisikan sebagai upaya mengidentifikasi dan mengelola pengalaman sensorik dan emosional dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat dan konstan (Tim Pokja DPP PPNI, 2017). 

Tindakan ini dimulai dengan mengobservasi nyeri dalam hal karakteristik, frekwensi, kualitas, intensitas nyeri, skala nyeri, respon nyeri nonverbal, faktor-faktor yang memperberat dan memperingannya. Biasanya tindakan ini digunakan untuk menentukan tindakan terapeutik selanjutnya.

Tindakan terapeutik non farmakologis yang meningkatkan rasa nyaman seperti pijat, menggosok punggung, kompres hangat atau dingin, akupressor, TENS dan terapi sentuhan bisa mengurangi nyeri tergantung dari berat ringannya. Teknik-teknik manajemen stress direkomendasikan pada nyeri ringan hingga sedang seperti relaksasi progresif, biofeedback, aromaterapi, visualisasi, imajinasi terbimbing, self-hypnosis, pernapasan terkontrol, dan terapi musik. Tindakan di atas bisa dilakukan oleh penderita sendiri atau dengan bantuan seorang perawat professional. 

Bila nyeri terasa berat, penderita mungkin membutuhkan medikasi. Beberapa obat yang bisa meredakan nyeri antara lain obat golongan analgesik opioid dan nonopioid, seperti morfin, meperidin, atau hydrocodone; obat-obat golongan anti inflamasi nonsteroid (NSAID’s) baik  suntik dan oral, seperti ketorolak atau ibuprofen. Obat-obat relaksan otot, seperti cyclobenzaprine atau carisoprodol bisa juga untuk meredakan nyeri. Pemberian obat-obatan membutuhkan resep dokter karena itu penderita nyeri harus berkonsultasi dengan professional Kesehatan untuk penggunaannya.

Pada kondisi nyeri hebat penggunaan PCA (patient-controlled analgesia) akan sangat membantu meredakan nyeri baik akut, kronis, nyeri post operatif dan karena persalinan . Namun yang terakhir ini hanya bisa dilakukan di rumah sakit karena tindakan ini diberikan secara intra vena. 

Baca juga: Nyeri akut

Referensi

  1. Ackley, B. J., Ladwig, G. B., & Makic, M. B. F. (2017). Nursing diagnosis handbook: an evidence-based guide to planning care. Elsevier Health Sciences.
  2. Pastino A, Lakra A. Patient Controlled Analgesia. [Updated 2021 Jul 24]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK551610/
  3. Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, Definisi dan Indikator Diagnostik. Edisi 1 (Cetakan III). Penerbit DPP PPNI


25 November 2021

Ansietas

Hand photo created by wayhomestudio - www.freepik.com


Ansietas adalah reaksi pikiran dan tubuh terhadap situasi stres, berbahaya, atau asing. Ini adalah perasaan tidak nyaman, tertekan, atau takut yang Anda rasakan sebelum peristiwa penting (Jovanovic, n.d.). Bangguan kecemasan adalah gangguan kejiwaan yang paling umum dan berhubungan dengan beban penyakit yang tinggi. Kejadiannya lebih banyak pada wanita yaitu 1,5 sampai dua kali dibandingkan pria (Bandelow, Michaelis, & Wedekind, 2017).

Cemas didefinisikan sebagai perasaan tidak nyaman atau takut yang samar-samar dan tidak nyaman disertai dengan respons otonom (sumbernya seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan ketakutan yang disebabkan oleh antisipasi bahaya. Perasaan Ini merupakan tanda peringatan akan bahaya yang akan datang dan memungkinkan individu untuk mengambil tindakan untuk menghadapi ancaman (Ackley, Ladwig, & Makic, 2017). 

Kecemasan berhubungan dengan rasa takut dan bermanifestasi sebagai keadaan suasana hati berorientasi masa depan yang terdiri dari sistem respons kognitif, afektif, fisiologis, dan perilaku yang kompleks yang terkait dengan persiapan untuk peristiwa atau keadaan yang diantisipasi yang dianggap mengancam (Chand & Marwaha, 2021). 

Klasifikasi Ansietas

Menurut Lott & Stenson (n.d.) Ada banyak gangguan yang berhubungan dengan kecemasan, dan umumnya dibagi menjadi tiga kategori utama:

  1. Gangguan kecemasan: Gangguan kecemasan dicirikan oleh ciri umum ketakutan yang berlebihan (yaitu respons emosional terhadap ancaman yang dirasakan atau nyata) dan/atau kecemasan (yaitu kekhawatiran tentang ancaman di masa depan) dan dapat memiliki konsekuensi perilaku dan emosional yang negatif.
  2. Gangguan obsesif-kompulsif dan terkait: Gangguan obsesif-kompulsif dan terkait ditandai oleh obsesif, pikiran yang mengganggu (misalnya, terus-menerus khawatir tentang tetap bersih, atau tentang ukuran tubuh seseorang) yang memicu perilaku kompulsif terkait (misalnya mencuci tangan berulang kali, atau olahraga berlebihan). Perilaku ini dilakukan untuk mengurangi kecemasan yang terkait dengan pikiran obsesif.
  3. Gangguan terkait trauma dan stresor: Gangguan kecemasan terkait trauma dan stres terkait dengan pengalaman trauma (misalnya, kematian tak terduga dari orang yang dicintai, kecelakaan mobil, atau insiden kekerasan seperti perang atau penyerangan seksual) atau stresor (misalnya, perceraian, mulai kuliah, pindah).

Penyebab

Berbagai kondisi bisa menyebabkan cemas meliputi:

Krisis situasional
Kebutuhan tidak terpenuhi
Krisis maturasional
Ancaman terhadap konsep diri
Ancaman terhadap kematian
Kekhawatiran terhadap kegagalan
Disfungsi sistem keluarga
Hubungan orang tua anak tidak memuaskan
Faktor keturunan (temperamen mudah teragitasi sejak lahir)
Penyalahgunaan zat
Terpapar bahaya lingkungan (misalnya toksin, polutan, dll)
Kurang terpapar informasi

Gejala dan tanda mayor

Subyektif: merasa bingung, merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapi, sulit berkonsentrasi

Obyektif: tampak gelisah, tampak tegang, sulit tidur

Gejala dan tanda minor

Subyektif: mengeluh pusing, anoreksia, palpitasi, merasa tidak berdaya

Obyektif: frekwensi nafas meningkat, frekwensi nadi meningkat, tekanan darah meningkat, diaphoresis, tremor, muka tampak pucat, suara bergetar, kontak mata buruk, sering berkemih, berorientasi pada masa lalu.

Kondisi klinis terkait

Kecemasan dihubungkan dengan berbagai kondisi medis sbb: penyakit kronis progresif (misalnya kanker, penyakit autoimun), penyakit akut, hospitalisasi, rencana operasi, kondisi diagnosis penyakit belum jelas, penyakit neurologis dan tahap tumbuh kembang.

Baca juga: Reduksi ansietas

Referensi

  1. Ackley, B. J., Ladwig, G. B., & Makic, M. B. F. (2017). Nursing diagnosis handbook: an evidence-based guide to planning care. Elsevier Health Sciences.
  2. Bandelow, B., Michaelis, S., & Wedekind, D. (2017). Treatment of anxiety disorders. Dialogues in clinical neuroscience, 19(2), 93–107. https://doi.org/10.31887/DCNS.2017.19.2/bbandelow
  3. Chand, S.P. & Marwaha, R. Anxiety. [Updated 2021 Jul 26]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470361/
  4. Lot, A.P., & Stenson, A. (n.d.). What is Anxiety? https://www.anxiety.org/what-is-anxiety
  5. Jovanovic, T., (n.d.). What is Anxiety? https://www.anxiety.org/what-is-anxiety
  6. Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, Definisi dan Indikator Diagnostik. Edisi 1 (Cetakan III). Penerbit DPP PPNI


23 November 2021

Pemeriksaan Ascites

Asites adalah akumulasi patologis cairan di dalam rongga peritoneum. Ascites adalah komplikasi sirosis yang paling umum dan terjadi pada sekitar 50% pasien dengan sirosis (Chiejina, Kudaravalli, Samant, 2021). Akibat dari akumulasi cairan, abdomen akan mengalami distensi. Untuk membedakan distensi abdomen yang disebabkan oleh ascites dengan penyebab lain seperti kanker, sirosis, obstruksi usus besar dan penyebab distensi lainnya maka perlu pemeriksaan ascites. Berikut cara pemeriksaan untuk mendeteksi ascites:

Shifting Dullness

Shifting dullness bisa diartikan sebagai pergeseran bunyi pekak saat abdomen diperkusi. Pergeseran bunyi tersebut terjadi akibat perubahan posisi. Untuk lebih jelasnya, berikut cara pemeriksaan shifting dullness:

Langkah 1. Dalam posisi supine, perkusi dari umbilikus ke luar ke panggul. Buat garis pada kulit pasien untuk menandai perubahan dari timpani menjadi pekak/tumpul.


Langkah 2. Miringkan pasien ke samping. (Perhatikan bahwa posisi ini menyebabkan cairan asites bergeser.) Perkusi lagi, dan tandai perubahan dari timpani menjadi redup. Perbedaan antara garis-garis ini dapat mengindikasikan asites.



Fluid Wave

Mintalah pasien meletakkan tangan pada sisi jari kelingking menekan perutnya di garis tengah pasien untuk mencegah getaran menjalar di sepanjang dinding perut. Tempatkan salah satu telapak tangan Anda di salah satu panggul pasien. Pukul sisi yang berlawanan dengan tangan Anda yang lain. Jika Anda merasakan pukulan di telapak tangan yang berlawanan, maka terdaat asites.



Puddle Sign

Posisikan pasien merangkak dengan menunpu pada siku dan lututnya. Posisi ini menyebabkan cairan asites terkumpul di bagian perut yang paling bawah. Perkusi abdomen dari panggul ke garis tengah. Nada perkusi menjadi lebih keras di tepi genangan air, atau kolam asites.



Referensi

  1. Borchers, Andrea Ann. (2015). Handbook of Signs & Symptoms 5th Edition. Wolter Kluwer
  2. Chiejina M, Kudaravalli P, Samant H. Ascites. [Updated 2021 Aug 11]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NB. K470482/

22 November 2021

Sahabat yang Shaleh

Background vector created by rawpixel.com - www.freepik.com


عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال :

( حَتَّى إِذَا خَلَصَ الْمُؤْمِنُونَ مِنْ النَّارِ ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ بِأَشَدَّ مُنَاشَدَةً لِلَّهِ فِي اسْتِقْصَاءِ الْحَقِّ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ لِلَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِإِخْوَانِهِمْ الَّذِينَ فِي النَّارِ ، يَقُولُونَ : رَبَّنَا كَانُوا يَصُومُونَ مَعَنَا ، وَيُصَلُّونَ ، وَيَحُجُّونَ . فَيُقَالُ لَهُمْ : أَخْرِجُوا مَنْ عَرَفْتُمْ . فَتُحَرَّمُ صُوَرُهُمْ عَلَى النَّارِ ، فَيُخْرِجُونَ خَلْقًا كَثِيرًا قَدْ أَخَذَتْ النَّارُ إِلَى نِصْفِ سَاقَيْهِ ، وَإِلَى رُكْبَتَيْهِ ، ثُمَّ يَقُولُونَ : رَبَّنَا مَا بَقِيَ فِيهَا أَحَدٌ مِمَّنْ أَمَرْتَنَا بِهِ .


Dari Abu Said Al Khudri semoga Allah meridhainya, bahwa Nabi Sallallahu alaihi wasallam bersabda : “Setelah orang-orang Mukmin itu dibebaskan dari Neraka, demi Allah, Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memerjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam Neraka pada Hari Kiamat. Mereka memohon: Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di Neraka) pernah berpuasa bersama kami, salat, dan juga haji. Dijawab: ”Keluarkan (dari Neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api Neraka. Para Mukminin inipun MENGELUARKAN BANYAK SAUDARANYA yang telah dibakar di Neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya. Kemudian orang Mukmin itu lapor kepada Allah: ”Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dientaskan dari Neraka sudah tidak tersisa.” Allah berfirman: ”Kembali lagi, keluarkanlah yang masih memiliki iman seberat Dinar.” Maka dikeluarkanlah orang Mukmin banyak sekali yang disiksa di Neraka. Kemudian mereka melapor, ”Wahai Tuhan kami, kami tidak meninggalkan seorang pun orang yang Engkau perintahkan untuk dientas…” [HR. Muslim no. 183]. 

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:
  1. Sungguh bersahabat dengan orang-orang yang saleh adalah nikmat yang sangat besar. Umar bin Khattab berkata:                                                                                                                                ما أعطي العبد بعد الإسلام نعمة خيراً من أخ صالح فإذا وجد أحدكم وداً من أخيه فليتمسك به “Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh, maka peganglah erat-erat.” [Quutul Qulub 2/17] 
  2. Dari semua keutamaan memiliki sahabat yang saleh, ada keutamaan yang juga merupakan kenikmatan besar, yaitu persahabatan orang yang saleh akan berlanjut sampai Surga dan akan kekal selamanya. Tentu ini kenikmatan yang sangat besar, karena antara sahabat dekat pasti tidak ingin berpisah dengan sahabat lainnya. Persahabatan sementara di dunia kemudian dipisahkan dengan kematian begitu saja, tentu bukan akhir yang indah. 
  3. Salah satu dalil bahwa ada persahabatan di Hari Kiamat yang akan berlanjut, bahwa orang yang saling mencintai (termasuk para sahabat), akan dikumpulkan bersama di Hari Kiamat. Rasulullah ﷺ bersabda:  الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ “Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’” [HR. Bukhari, no. 6170; Muslim, no. 2640].
  4. Untuk memfasilitasi hal ini, Allah ta'ala memberikan keutaamaan kepada seseorang untuk memberikan syafaat kepada sahabatnya yang lain, agar mereka bisa sama-sama masuk Surga dan berkumpul kembali. Hasan Al- Bashri berkata:                                                                                                                استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة  ”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman, karena mereka memiliki syafaat pada Hari Kiamat.” [Ma’alimut Tanzil 4/268].
  5. Terlalu banyak kenangan bersama dalam ketaatan langkah bersama yang akan menjadi hujjah saling bertanya keberadaan kita di surga, tentunya akan menjadi kenangan indah saat reuni di surga insyaAllah. Tanyakanlah jika engkau tidak menjumpaiku di surga. Ibnul Jauzi berkata kepada sahabat-sahabatnya,                                                                               إن لم تجدوني في الجنة بينكم فاسألوا عني وقولوا : يا ربنا عبدك فلان كان يذكرنا بك ”Jika kalian tidak menemukan aku di surga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah. Ucapkan: ’Wahai Rabb kami, hambaMu fulan, dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau.” 
  6. Para ulama menerangkan, sesungguhnya orang yang mendapatkan syafa'at sahabat mukmin yaitu, seseorang yang mengucapkan, لا إله إلا الله dan datang dengan membawa iman yang tauhid kadang belum pernah beramal sama sekali. Tema hadist yang berkaitan dengan Al qur'an : - Manusia dalam hidupnya membutuhkan teman, karena memang ia adalah mahluk sosial. Namun demikian, kalau salah dalam memilih teman akan berdampak buruk di kehidupan akhirat nanti. Karena persahabatan dan kecintaan yang dibangun di atas kekafiran dan kemaksiatan maka pada hari kiamat nanti akan berubah menjadi permusuhan. Maka orang yang akan selamat darinya hanyalah orang-orang  yang  bertakwa  yaitu  yang  benar-benar  mentauhidkan Allah ta’ala  الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ “Pada hari itu -hari kiamat- orang-orang yang berteman dekat akan berubah menjadi musuh satu dengan yang lainnya kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67). 


Gangguan Rasa Nyaman

People photo created by freepik

Gangguan Rasa Nyaman (impaired comfort) didefinisikan sebagai perasaan kurang puas (ease), lega (relief), dan transendensi dalam empat dimensi yaitu dimensi fisik, psikospiritual, lingkungan, budaya dan/atau social (Kolcaba, 2003)

Dari literatur keperawatan, Kolcaba menggunakan tiga teori keperawatan untuk menggambarkan tiga jenis kenyamanan yang berbeda. Relief disintesis dari karya Orlando (1961/1990), yang menyatakan bahwa perawat meringankan kebutuhan yang diungkapkan oleh pasien. Ease disintesis dari karya Henderson (1978), yang menggambarkan 13 fungsi dasar manusia yang perlu dipertahankan untuk homeostasis. Transendensi berasal dari Paterson dan Zderad (1976), dapat mengatasi kesulitan mereka dengan bantuan perawat. 

Gangguan rasa nyaman berbeda dengan nyeri dalam hal penyebab. Gangguan rasa nyaman ditegakkan apabila rasa tidak nyaman muncul tanpa ada cidera jaringan. Jika disebabkan karena kerusakan jaringan, diagnosis yang disarankan adalah nyeri akut atau kronis (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017).

Penyebab

Gangguan rasa nyaman bisa disebabkan berbagai kondisi seperti gejala penyakit, kurang pengendalian situasional/lingkungan, ketidakadekuatan sumber daya (mis. dukungan finansial, sosial dan pengetahuan), kurangnya privasi, gangguan stimulus lingkungan, efek samping terapi (mis. medikasi, radiasi, kemoterapi), dan gangguan adaptasi kehamilan. 

Gejala dan Tanda Mayor

Subyektif: mengeluh tidak nyaman
Obyektif: Gelisah

Gejala dan Tanda Minor 

Subjektif: Mengeluh sulit tidur, tidak mampu rileks, Mengeluh kedinginan/kepanasan, Merasa gatal, Mengeluh mual, Mengeluh Lelah.
Obyektif: Menunjukkan gejala distress, Tampak merintih/menangis, Pola eliminasi berubah, postur tubuh berubah, Iritabilitas 

Kondisi Klinis terkait

  • Penyakit kronis
  • Keganasan
  • Distres psikologis
  • Kehamilan 

Referensi

  1. Kolcaba, K. (2003). Comfort theory and practice: a vision for holistic health care and research. Springer Publishing Company.
  2. Smith, M. C. & Parker, M.E. (2015). Nursing theories and nursing practice, 4th edition. F. A. Davis Company
  3. Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, Definisi dan Indikator Diagnostik. Edisi 1 (Cetakan III). Penerbit DPP PPNI

18 November 2021

Mnemonik PQRST dalam Pengkajian Riwayat Nyeri

Heart photo created by wayhomestudio - www.freepik.com

Nyeri adalah keluhan yang paling sering dijumpai pada seorang pasien. Penyakit jantung, kanker, cidera hingga sakit gigi adalah contoh dari sekian banyak kasus pasien dengan gangguan rasa nyeri. 

Menurut NANDA, nyeri didefinisikan sebagai perasaan yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan (Herdman & Shigemi, 2014). Jaringan yang rusak tersebut akan meningkatkan konsentrasi mediator kimiawi seperti histamin, bradikinin, dan prostaglandin nyeri yang selanjutnya memicu impuls nosisetif dan berakhir dengan dipersepsinya rasa nyeri di otak (McHugh & Mc Huch, 2000).

Sebagai masalah keperawatan, nyeri dibagi dua macam yaitu nyeri akut dan nyeri kronik. Nyeri akut biasa dirasakan pasien kurang dari tiga bulan. Sedangkan, nyeri kronis dirasakan lebih dari tiga bulan. Dalam kondisi tertentu seperti persalinan, nyeri dikategorikan sendiri sebagai nyeri persalinan. Nyeri disebut sebagai sindrom nyeri kronis bila nyeri berulang setidaknya selama tiga bulan, dan yang secara signifikan mempengaruhi fungsi atau kesejahteraan sehari-hari (Herdman & Shigemi, 2014).

Dalam sumber rujukan ditemukan beberapa cara dalam mengkaji riwayat nyeri seperti mnemonic OLDCART, PEG, PQRST, WILDA (Fink, 2010). Namun di Indonesia, pengkajian nyeri sering menggunakan pendekatan PQRST. Pendekatan ini sebenarnya juga memiliki beberapa variasi seperti PQRST (A) atau OPQRST. Pada saat ini, saya akan uraikan bagaimana melakukan pengkajian dengan PQRST saja.

P adalah kepanjangan dari Provocative/Palliative. Apa penyebab nyeri dan apa yang bisa mengurangi nyeri. 

Q adalah kepanjangan dari Qualitative. Nyerinya seperti apa?

R adalah kepanjangan dari Region/Radiation. Dimana lokasi nyeri? Apakah nyerinya menjalar?

S adalah kepanjangan dari Severity. Bagaimana beratnya nyeri pada skala 0 – 10?

T adalah kepanjangan dari Timing. Konstan atau intermittent (hilang timbul)?


Contoh dokumentasi pengkajian riwayat nyeri pada pasien yang mengalami angina:

Riwayat Penyakit Sekarang

P: Pasien mengeluh nyeri timbul dan bertambah jika untuk berjalan, beraktivitas berat. Nyeri berkurang jika istirahat atau berbaring di tempat tidur. 

Q: Nyeri terasa berat seperti ditusuk

R: Nyeri terasa di dada sebelah kiri dan menjalar ke leher, tangan dan punggung kiri

S: Nyeri berskala 8

T: Nyeri terasa merus menerus selama 10 menit.

12 November 2021

Persiapan Alat Untuk Pemeriksaan Fisik

People photo created by jcomp - www.freepik.com

Dalam pengkajian keperawatan, selain data subyektif seperti keluhan dan riwayat penyakit, seorang perawat juga mengkaji data obyektif dalam bentuk pemeriksaan fisik. Sebelum Anda memulai pemeriksaan fisik, perawat harus mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan. Penting memilih pendekatan yang sesuai terhadap pasien, sikap profesional, dan membuat pasien merasa nyaman dan santai saat pemeriksaan fisik. Berikut adalah langkah-langkah dalam mempersiapkan pemeriksaan fisik:

  1. Memikirkan pendekatan terhadap pasien.
  2. Mengatur pencahayaan dan lingkungan.
  3. Mengecek peralatan yang dibutuhkan.
  4. Memperhatikan kenyamanan pasien.
  5. Memperhatikan kewaspadaan standar dan universal.
  6. Memperhatikan urutan, ruang lingkup, dan posisi pemeriksaan.

Berkaitan dengan peralatan yang dibutuhkan dalam pemeriksaan fisik, berikut adalah alat-alat yang dibutuhkan:

  1. Oftalmoskop digunakan untuk memeriksa mata bagian dalam
  2. Otoskop digunakan untuk memeriksa telingan bagian dalam
  3. Lampu senter digunakan dalam pemeriksaan mata
  4. Spatel lidah digunakan untuk menekan lidah ke bawah dalam pemeriksaan rongga mulut 
  5. Penggaris digunakan dalam pemeriksaan tekanan vena jugularis (JVP)
  6. Metelin digunakan mengukur lingkar lengan atau lingkar perut
  7. Termometer digunakan untuk mengukur suhu tubuh
  8. Arloji/jam tangan dengan jarum detik digunakan untuk mengukur nadi
  9. Sphygmomanometer digunakan untuk mengukur tekanan darah
  10. Stetoskop digunakan untuk mendengar suara internal tubuh seperti suara/bunyi nafas, bunyi jantung, peristaltic usus dan bising usus.
  11. Kartu snelen digunakan untuk memeriksa ketajaman penglihatan jarak jauh
  12. Kartu baca digunakan untuk mengetahui ketajaman penglihatan saat membaca 
  13. Reflex hammer digunakan untuk memeriksa reflek-reflek tendon dalam (reflek fisiologis)
  14. Garpun tala berfrekwensi 128 Hz and 512 Hz digunakan untuk mengetahui ketajaman pendengaran
  15. Kapas swabs, peniti, atau benda disposibel lainnya digunakan untuk uji sensasi dan diskriminasi (perbedaan) dua titik
  16. Kapas untuk menguji rasa sentuhan ringan
  17. Dua tabung reaksi (opsional) untuk menguji sensasi suhu
  18. Sarung tangan dan pelumas untuk pemeriksaan kondisi mulut, vagina, dan dubur
  19. Spekula vagina digunakan untuk memeriksa bagian dalam vagina
  20. Peralatan untuk pemeriksaan sitologi dan bakteriologis
  21. Kertas dan pena atau pensil, atau komputer desktop atau laptop untuk dokumentasi. Kertas juga digunakan untuk pemeriksaan JVP

Referensi:
  1. Annisa, F., Diana, M., & Putra, K.W.R. (2016). Pemeriksaan Fisik Head to Toe. Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo
  2. Bickley, L.S. & Szilagyi, P.G., (2016). Bates’ guide to physical examination and history taking. Lippincott Williams & Wilkins



23 October 2021

Berperilaku Caring, Menuju Praktek Keperawatan Profesional




Oleh: Arief Bachtiar, PhD.NS*)

Beberapa waktu lalu, kejadian tidak diharapkan kembali terjadi di dunia kesehatan yang menciderai nama baik profesi perawat. Seorang pasien di RSUD Pirngadi Medan meninggal dunia diduga akibat pemberian tabung oksigen yang kosong. Keluarga menyalahkan salah seorang perawat yang tidak mengganti tabung tersebut (m.merdeka.com, 30/5/2021). Bulan April yang lalu, tepatnya tanggal 5 April 2021, terjadi penganiayaan seorang perawat oleh keluarga pasien (mediaindonesia.com, 17/4/2021) karena disangka tidak kompeten melakukan pelepasan infu sehingga mengakibatkan perdarahan pada bekas infus.

Banyak masalah-masalah serius yang terjadi berkaitan dengan hubungan antara petugas kesehatan dengan pasien dan keluarganya. Namun, tidak lama berselang, kasus tersebut sering berlalu begitu saja tanpa ada pemberitaan yang jelas bagaimanakah penyelesaian kasusnya baik dari perspektif hukum maupun etika. Padahal masyarakat luas membutuhkan informasi yang jelas apakah masalah yang terjadi antara petugas kesehatan dengan pasien merupakan kelalaian petugas ataukah karena kesalahpahaman karena ketidaktahuan pasien terhadap prosedur layanan kesehatan yang berujung munculnya rasa ketidakpuasan. 

Informasi tersebut sangat penting, bukan sekedar sebagai pembuktian siapakah pihak yang bersalah, namun informasi tersebut bisa menjadi alat korektif terhadap hubungan petugas kesehatan dengan pasien dan keluarganya. Malangnya, tidak adanya informasi lanjutan pada setiap masalah yang terjadi, akhirnya memunculkan opini yang buruk bahkan stigma negatif terhadap petugas kesehatan tertentu khususnya perawat. 

Pertanyaannya, kenapa perawat yang sering dipermasalahkan? Jawabannya adalah karena perawat adalah lini terdepan di dalam pelayanan kesehatan pasien. Perawat berada disamping pasien 24 jam dalam sehari. Pasien dan keluarganya jika merasa tidak puas pasti akan melampiaskan ketidakpuasannya kepada petugas yang mudah ditemui. Oleh karena petugas yang sering ditemui adalah perawat, maka pasien sering melampiaskan rasa ketidakpuasan kepada perawat dibandingkan kepada profesi kesehatan lainnya. Ironisnya, perawat juga yang menjadi sasaran kesalahan atau teguran dari atasan jika ada kelalaian dalam menjalankan prosedur tindakan, walaupun di luar tanggung jawab dan wewenangnya. 

Caring Penentu Kepuasan Pasien

Rasa puas bersifat relatif dan sangat subyektif. Ia dipengaruhi oleh banyak faktor. Di antara faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pasien terhadap layanan kesehatan di rumah sakit adalah kualitas layanan kesehatan. Dan diantara layanan kesehatan, kualitas perawatan interpersonal penyedia layanan adalah penentu penting dari kepuasan pasien (Batbaatar et al, 2017).

Berkaitan dengan kualitas interpersonal penyedia layanan kesehatan, perilaku caring perawat sering dijadikan indikator dari kualitas layanan keperawatan. Beberapa temuan studi mengindikasikan bahwa kepuasan pasien berhubungan secara signifikan dengan perilaku caring perawat (Azini-Fini, Maosavi, Mazroui-Sabdani, & Adib-Hajbaghery, 2012; Calong & Soriano, 2018).

Studi di beberapa rumah sakit di Indonesia menunjukkan bahwa umumnya perilaku caring perawat masih jauh dari tingkat yang diinginkan. Di kota serang misalnya ditemukan 43,1% perawat disebuah rumah sakit menunjukkan perilaku caring yang kurang (Rahayu & Sulistiawati, 2018). Demikian pula di kota Padang, ditemukan 46,4% perawat di suatu rumah sakit menunjukkan perilaku caring yang buruk (Mailani & Fitri, 2017). Sementara itu, studi di Lampung juga mengungkapkan hal yang sama, 56,3% perawat di satu rumah sakit menunjukkan perilaku caring yang rendah (Tiara and Lestari, 2017). Kurangnya perilaku caring perawat menurunkan tingkat kepuasan pasien terhadap layanan yang diberikan oleh perawat (Mailani and Fitri, 2017; Tiara and Lestari, 2017). Berangkat dari rasa ketidakpuasan pasien dan keluarganya terhadap kualitas interpersonal penyedia layanan inilah muncul tindak kekerasan terhadap petugas kesehatan khususnya perawat sebagai lini terdepan layanan kesehatan. Mensikapi masalah di atas, kiranya perlu dirkursus tentang peran caring bagi perawat.

Berbicara tentang caring, sebenarnya bukanlah hal baru di dunia keperawatan. Konsep ini muncul pada era 70-an. Sayangnya, hampir setengah abad kemudian konsep ini masih belum banyak dipahami apalagi diterapkan oleh perawat di Indonesia. Pertemuan illmiah yang diselenggarakan oleh organisasi profesi, lembaga, atau event organiser baik berupa seminar, workshop, maupun pelatihan umumnya terkait dengan teknis keperawatan dan jarang sekali membahas konsep ini.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan caring? Bagaimana perspektif caring menurut para ahli? Dan, apakah urgensinya dalam praktik keperawatan profesional? Tulisan ini diharapkan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas agar setiap perawat di Indonesia mampu menanamkan dan mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam praktik keperawatan profesional.

Makna Caring

Sejak diperkenalkan oleh sang legenda keperawatan, Jean Watson, caring telah menjadi arus utama baru yang sangat kuat dalam paradigma keperawatan. Paradigma ini merubah konsep perawatan yang saat itu banyak didominasi oleh aliran empirisme atau positivisme dengan mengekor kepada konsep-konsep ilmu kedokteran. Dengan paradigma ini, positioning perawat semakin mudah dibedakan dari profesi dokter sekaligus merubah pandangan bahwa perawat bukanlah pembantu dokter. Perawat memfokuskan diri pada perawatan (care atau caring) baik pada orang sakit maupun sehat, Sementara dokter berfokus pada cure atau penanganan penyakit pasien. Sayangnya, hampir setengah abad kemudian konsep ini masih juga belum banyak dipahami oleh perawat di Indonesia. Praktik keperawatan di rumah sakit masih mengesankan perawat sebagai pembantu dokter. Bahkan, di daerah-daerah terpencil dan pelosok di Indonesia, secara formal perawat masih diberikan peran “dokter kecil” karena jumlah sumber daya dokter yang tidak tercukupi. Sehingga peran “caring” perawat dirasakan terkadang masing kurang.

Berkaitan dengan makna caring, menurut English Oxford Living Dictionary, caring memiliki dua makna. Pertama, sebagai kata benda, caring diartikan sebagai pekerjaan atau praktik merawat mereka yang tidak mampu merawat diri mereka sendiri terutama karena usia atau penyakit. Kedua, sebagai kata sifat caring didefinisikan menampilkan kebaikan dan kepedulian terhadap orang lain.

Mosby's Medical Dictionary mendefinisikannya caring sebagai tindakan atau tanggapan dalam memberikan layanan kepada pasien. Lebih lanjut, kamus ini menjelaskan perilaku caring sebagai karakteristik tindakan kepedulian terhadap kesejahteraan pasien, seperti kepekaan, kenyamanan, mendengarkan dengan penuh perhatian, kejujuran, dan penerimaan yang tidak menghakimi. Kamus ini merangking 10 peringkat tertinggi perilaku caring yang dikutip dari literatur keperawatan, yang dipilih oleh perawat sebagai evidence (bukti) dalam situasi caring bersama pasien meliputi: mendengarkan dengan penuh perhatian, menghibur, kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, memberikan informasi sehingga pasien dapat membuat keputusan yang tepat, sentuhan, kepekaan, rasa hormat, menyapa pasien.

Seorang filsuf Amerika, Mayeroff (1971) mengatakan dalam bukunya “On Caring” bahwa caring adalah “helping others to grow”. Hubungan orang yang merawat dan dirawat bukan seperti parasit yang mencoba mendominasi atau bahkan memiliki orang lain. Itu artinya orang yang caring menginginkan orang yang dirawat bertumbuh dalam perspektifnya, bukan seperti gambaran dari orang yang merawat. Orang yang caring hanya memfasilitasi orang yang dirawat agar bisa mencapai tujuannya, membantu orang tersebut menjadi lebih mampu menentukan diri sendiri atau membuat keputusan berdasarkan nilai-nilainya sendiri.

Roach (2002), mengatakan bahwa caring adalah “Human Mode of Being”, artinya caring itu adalah keberadaan eksistensi manusia. Menurut Roach, manusia itu bersifat caring. Pernyataan ini seolah-olah menyatakan jika tidak caring berarti bukan manusia. Definisi Roach ini tampaknya berlebihan, mengingat secara realitas tidak setiap manusia bisa bersikap dan berperilaku caring. Sangat absurd jika mengatakan setiap manusia bisa bersikap dan berperilaku caring setiap saat. Boykin and Schoenhofer (1993) mengatakan bahwa meskipun caring adalah bawaan setiap orang, namun aktualisasi potensinya untuk mengekspresikan kepedulian bervariasi pada satu saat dan berkembang dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, caring perlu dihayati secara terus menerus. Menjadi orang yang caring berarti menghidupkan rasa peduli, dan saling memelihara satu sama lain sebagai wujud kepedulian. Dengan semikian, menjadikan caring sebagai sebuah cita-cita moral bagi perawat sangat penting untuk mewujudkan praktik keperawatan profesional.

Roach (2002) lebih jauh menjelaskan bahwa caring adalah kehidupan yang berbudi luhur (virtuous life), yang diungkapkan melalui atribut-atribut seperti kasih sayang (Compassion), kompetensi (Competence), kepercayaan diri (Confidence), hati nurani (Conscience), komitmen (Commitment), dan sikap (Comportment). Banyak cendekiawan perawat kemudian merinci caring dalam bentuk perilaku-perilaku luhur yang diinginkan baik oleh perawat sendiri lebih-lebih oleh pasien yang dirawat. Adapun perilaku caring tersebut meliputi mendengarkan dengan penuh perhatian; memberi kesempatan pasien mengungkapkan perasaan, menghibur; jujur; sabar; tanggung jawab; menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan; memberi sentuhan; peka; menghormati; serta menyapa pasien dengan memanggil namanya (Wolf, 2013).

Perspektif Tentang Caring

Para pakar di bidang caring telah mengelompokkan caring ke dalam 5 perspekstif, namun kategori ini tidak bersifat kaku dan bisa berkembang. Pertama, caring sebagai ciri manusia (human trait). Dari perspektif ini, caring dipandang sebagai sifat bawaan manusia, "Human Mode of Being", bagian dari sifat manusia, dan esensial bagi keberadaan manusia. Meskipun semua manusia memiliki potensi untuk berperilaku caring, namun kemampuan ini tidak seragam. Roach (2002) mengatakan bahwa pengalaman sendiri saat dirawat dan kemampuan mengekspresikan caring mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berperilaku caring.

Kedua, caring sebagai kewajiban atau cita-cita moral. Perspektif ini memandang caring sebagai nilai fundamental atau cita-cita moral dalam keperawatan. Jadi, caring tidak tampak sebagai seperangkat perilaku atau sikap yang dapat diidentifikasi pada individu perawat. Sebaliknya, Caring adalah kepatuhan terhadap komitmen menjaga martabat atau integritas pasien. Caring memberikan dasar untuk semua tindakan keperawatan.

Ketiga, caring sebagai sebuah emosi atau perasaan. Perspektif ini menekankan bahwa sifat caring meluas dari keterlibatan emosional dengan atau perasaan empati untuk pengalaman pasien. Caring menandakan perasaan, perhatian, minat, pengawasan dengan tujuan untuk perlindungan. Caring merupakan sebuah perasaan dedikasi, perasaan yang memotivasi tindakan keperawatan. Ini adalah respons yang terutama difokuskan pada peningkatan keintiman antara perawat dan pasien, yang pada gilirannya meningkatkan aktualisasi diri bersama antara perawat dan pasien.

Keempat, caring sebagai hubungan interpersonal perawat-pasien. Perspektif ini memandang bahwa hubungan perawat-pasien adalah esensi dari caring. Caring mencakup perasaan dan perilaku yang terjadi dalam hubungan tersebut. Misalnya, hubungan (yaitu, perasaan) dan konten (yaitu, perilaku) dari caring mencakup aspek-aspek seperti "menunjukkan kepedulian" dan "pengajaran kesehatan." Atau, ini dapat dimanifestasikan dalam hubungan suportif yang dimiliki perawat dengan pasien mereka.

Dan, kelima, caring sebagai intervensi terapeutik. Perspektif ini menghubungkan caring secara langsung dengan tugas-tugas keperawatan. Tindakan-tindakan caring dapat spesifik seperti mendengarkan dengan penuh perhatian, pengajaran pasien, advokasi pasien, sentuhan, "berada di sana (bersama pasien)," dan kompetensi teknis, atau caring bisa juga mencakup semua prosedur atau intervensi keperawatan dalam membantu pasien. Penekanan ditempatkan pada perlunya pengetahuan dan keterampilan yang memadai sebagai dasar untuk tindakan caring ini serta pada kesesuaian antara tindakan keperawatan dan persepsi kebutuhan pasien.

Kelima perspektif caring ini menggambarkan sebuah konsep yang utuh dan harus menjadi panduan bagi perawat dalam merawat pasien. Caring hanya bisa dipahami dengan mengabungkan pemahaman sebagaimana pemahaman tiga orang buta tentang seekor gajah. Seorang memegang telinganya dan mengatakan bahwa gajah adalah tipis dan lebar. Seorang lagi memegang perutnya dan mengatakan gajah adalah besar seperti papan, dan seorang lagi memegang ekornya dan mengatkan gajah seperti tali yang pendek. Kita tidak bisa mengetahui gajah yang sebenarnya jika hanya memahami pada satu aspek dari gajah tersebut. Kita baru bisa mendapatkan pemahaman yang benar saat mengabungkan seluruh aspek tentang gajah. Demikian pula tentang caring, hanya bisa dipahami dengan menggabungkan dari banyak perspektif.

Teori Caring Manusia Watson

Berbicara tentang caring dalam keperawatan, sepertinya tidak lengkap tanpa menghadirkan gagasan Dr. Jean Watson, sang legenda keperawatan pencetus teori caring manusia (The Theory of Human Caring). Teori ini membingkai perawatan manusia secara lebih manusiawi yang meliputi empat elemen utama yaitu Transpersonal Caring, Caring MomentCaring Occasion, Caring Consciousness, dan 10 Caritas Processes.

Hubungan caring transpersonal adalah dasar dari gagasan Watson ini. Hubungan ini mengisyaratan bahwa hubungan yang terjadi bukan sekedar hubungan interpersonal yang bersifat fisik, namun menjangkau hubungan yang lebih dalam hingga hubungan ruh. Oleh karena itu keduanya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh pihak lain. Caring transpersonal membuat perawat mampu menyelami dan menghayati perasaan pasien yang menderita saat itu, dan menempatkan dirinya pada posisi pasien yang sedang menderita. Perasaan tersebut melahirkan kesadaran caring yang mendorong perawat untuk membantu pasien dengan penuh perhatian. Jika suatu saat perawat yang menderita sakit, tentu perasaan yang sama akan muncul bahwa ia perlu dibantu untuk meringankan penderitaannya. Uniknya meskipun perawat mencoba membantu orang mengatasi penderitaan, namun bantuan yang diberikan tetap berada dalam kerangka acuan orang lain tersebut bukan menurut perawat. Itulah sebabnya pasien lebih terbuka dan siap bersama-sama perawat mengatasi masalahnya.

Tidak hanya kesadaran caring, hubungan caring transpersonal juga menuntut kehadiran perawat secara autentik. Perawat harus hadir di hadapan pasien baik secara fisik maupun emosi. Perawat harus mendatangi pasien dengan niat tulus tidak saja tubuhnya, namun fikirannya juga harus hadir dihadapan pasien. Oleh karena itu, perawat yang memiliki masalah baik masalah personal atau masalah keluarga di rumah bisa mengalihkan perhatian penuh perawat dari pasien. Perawat harus menyelesaikan setiap masalah pribadinya sebelum mendatangi pasien. Masalah perawat, jika tidak diselesaikan, berpotensi mengganggu hubungan caring antara perawat pasien yang berdampak pada ketidakpuasan.

Bertemunya perawat dan pasien dalam satu waktu yang unik menciptakan sejarah hidup bagi keduanya. Pertemuan ini disebut dengan momen caring (caring moment). Momen ini bergerak melampaui ruang dan waktu menjadi peristiwa caring (caring occasion) yang sebenarnya. Ibarat kerikil yang dilempar ke kolam yang tenang, momen tersebut menimbulkan beriak ke segala arah.

Momen caring melibatkan tindakan dan pilihan antara perawat dan pasien. Momen kebersamaan menghadirkan kesempatan untuk memutuskan bagaimana berada di momen tersebut dan membuka peluang untuk memilih bagaimana terlibat dalam momen itu. Jika momen caring bersifat transpersonal, maka masing-masing akan merasakan hubungan satu sama lain di tingkat roh, sehingga melampaui ruang dan waktu, membuka kemungkinan baru untuk penyembuhan dan hubungan manusia pada tingkat yang lebih dalam daripada sekedar berinteraksi fisik. Konsep inilah yang menjadi titik tekan penyembuhan caring (Caring Healing). Bahwa sakit dan penyakit bisa disembuhkan melalui proses caring. Terkadang pasien sudah merasa membaik kondisinya karena diperlakukan secara manusiawi saat sakit oleh perawat.

Konsep terakhir dari Teori Caring Watson adalah 10 Caritas Processes . "Caritas" berasal dari bahasa Latin yang berarti menghargai, dan memberikan perhatian khusus atau penuh cinta, kasih sayang, dan kemurahan hati. Sepuluh aritas Processes adalah panduan yang dikembangkan oleh Watson untuk memandu perawat dan orang lain dalam menerapkan konstruksi teoretisnya, dan menumbuhkan momen caring dan peristiwa caring dalam praktik profesional mereka sendiri. Sepuluh aritas Processes juga dapat digunakan untuk membentuk landasan praktik filosofis dan profesional pada tingkat yang lebih luas dalam pengaturan klinis dan akademik. Karena keterbatasan ruang, kesepuluh konsep ini tidak bisa diuraikan pada kesempatan saat ini.

Penutup

Melihat uraian tentang caring di atas, tampaknya tidak bisa dipungkiri bahwa caring sangat penting dan dibutuhkan bagi setiap orang. Caring tidak saja dibutuhkan oleh orang yang sedang dirawat (pasien) namun orang yang merawatpun sebenarnya membutuhkan caring dari orang yang di rawat. Hal ini disebabkan hubungan mereka adalah hubungan timbal balik yang tidak ada dominasi satu sama lain. Sebuah hubungan yang tidak memaksakan kehendak. Sebuah hubungan yang berusaha memahami satu sama lain. Perawat tidak akan bisa berperilaku caring jika yang dirawat juga tidak memiliki rasa yang sama. Kedua belah pihaklah yang menciptakan sebuah momen caring yang mereka butuhkan. Masing-masing bisa merasakan jika ada keterbukaan diantara mereka.

Selanjutnya, Roach (2002) menyatakan bahwa caring itu unik dalam keperawatan dalam arti di antara gambaran karakteristik-karakteristik lain keperawatan. Namun, caring bukanlah hal yang unik untuk keperawatan dalam arti membedakan keperawatan dari profesi lain. Artinya, caring merupakan hal yang utama bagi perawat. Namun, setiap profesi yang melibatkan hubungan dengan orang lain, baik hubungan dengan sesama profesi maupun dengan customer seyogyanya memiliki dan mampu untuk berperilaku caring.

Caring sangat dibutuhkan pada setiap hubungan antar manusia tanpa memandang apakah hubungan tersebut bersifat transaksional yang menguntungkan secara finansial. Nilai-nilai universal caring seharusnya mampu mendorong seseorang untuk saling membantu, menolong dan menghormati sesama atas dasar kemanusiaan. Kita harus caring dengan sesama disebabkan kita adalah manusia. Dengan motiv seperti itu, tidak akan ada lagi seseorang yang bekerja secara tidak profesional sesuai profesinya. Tidak akan ada lagi perawat yang menelantarkan pasiennya. Tidak akan ada lagi guru yang menelantarkan muridnya. Tidak akan ada lagi jaksa yang menuntut terdakwa secara sewenang-wenang. Tidak akan ada lagi si miskin yang kelaparan. Tidak akan ada lagi korban bencana yang tidak terurus. Semua orang akan berbuat yang terbaik bagi orang lain. Itulah esensi dari caring. Sebuah rasa kepedulian yang timbul dari seorang ibu kepada anaknya. Dan dengan rasa itu pula melahirkan rasa yang sama kepada sesama.

Rujukan

  1. Azizi-Fini, I., Mousavi, M. S., Mazroui-Sabdani, A., & Adib-Hajbaghery, M. (2012). Correlation between nurses' caring behaviors and patients' satisfaction. Nurs Midwifery Stud, 1(1), 36-40.
  2. Batbaatar, E., Dorjdagva, J., Luvsannyam, A., Savino, M. M., & Amenta, P. (2017). Determinants of patient satisfaction: a systematic review. Perspectives in public health, 137(2), 89-101.
  3. Boykin, A., & Schoenhofer, S. (1993). Nursing as caring. A model for transforming practice. Nueva York: National League of Nursing Publications.
  4. Calong, K. A. C., & Soriano, G. P. (2018). Caring behavior and patient satisfaction: Merging for satisfaction. International Journal of Caring Sciences, 11(2), 697-703.
  5. Mailani, F., & Fitri, N. (2017). Hubungan perilaku caring perawat dengan tingkat kepuasan pasien BPJS di ruang rawat inap RSUD dr. Rasidin padang. Jurnal Endurance: Kajian Ilmiah Problema Kesehatan, 2(2), 203-208.
  6. Mayeroff, M. (1971). On caring. Harper & Row Publisher, USA
  7. Roach, M. S. (2002). Caring, the human mode of being: A blueprint for the health professions. Canadian Hospital Association Press.
  8. Tiara, T., & Lestari, A. (2017). Perilaku Caring Perawat Dalam Meningkatkan Kepuasan Pasien Rawat Inap. Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai Betik, 9(2), 115-119.
  9. Wolf, Z. R., Dillon, P. M., Townsend, A. B., & Glasofer, A. (2017). Caring behaviors inventory-24 revised: CBI-16 validation and psychometric properties. International Journal of Human Caring, 21(4), 185-192.

*) Arief Bachtiar Dosen Jurusan  Keperawatan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Doktor Filsafat dalam Ilmu Keperawatan Alumni St. Paul University Philippines