31 August 2020

Uji Normalitas dan Uji Homogenitas


 

Untuk melakukan uji statistik parametrik dibutuhkan persyaratan antara lain:

  1. Distribusi sampel diambil dari dari distribusi populasi yang terdistribusi secara normal.
  2. Sampel diperoleh secara random (mewakili populasi).
  3. Skala pengukuran harus kontinyu (rasio/interval) atau skala nominal yang diubah menjadi proporsi.

Uji Normalitas Data

Asumsi normalitas merupakan prasyarat kebanyakan prosedur statistik inferensial (Uyanto, 2009). Uji Normalitas adalah sebuah uji yang dilakukan dengan tujuan untuk menilai sebaran data pada sebuah kelompok data atau variabel, apakah sebaran data tersebut berdistribusi normal atau tidak. Berdasarkan pengalaman empiris ahli statistik, data lebih dari 30 (n > 30), dapat diasumsikan berdistribusi normal. N > 30 biasa dikatakan sebagai sampel besar. Namun untuk memberikan kepastian, sebaiknya data yang telah terkumpul dilakukan uji normalitas. Karena belum tentu data yang lebih dari 30 mesti berdistribusi normal. Demikian sebaliknya, data yang kurang dari 30 belum tentu tidak berdistribusi normal. Untuk itu perlu suatu pembuktian. Ada beberapa cara untuk mengeksplorasi asumsi normalitas ini antara lain: Shapiro Wilk, Lilliefors (Kolmogorov Smirnov) (Uyanto, 2009); Chi-Square, Jarque Bera (Hidayat, 2013); One Way Anova (Raharjo, n.d.). 

Uji Kolmogorov Smirnov (KS) dengan SPSS

Uji Kolmogorov Smirnov adalah pengujian normalitas yang banyak dipakai, terutama setelah adanya banyak program statistik yang beredar. Kelebihan dari uji ini adalah sederhana dan tidak menimbulkan perbedaan persepsi di antara satu pengamat dengan pengamat yang lain, yang sering terjadi pada uji normalitas dengan menggunakan grafik. Seperti pada uji beda biasa, jika signifikansi di bawah 0,05 berarti terdapat perbedaan yang signifikan, dan jika signifikansi di atas 0,05 maka tidak terjadi perbedaan yang signifikan. Penerapan pada uji Kolmogorov Smirnov adalah bahwa jika signifikansi di bawah 0,05 berarti data yang diuji mempunyai perbedaan yang signifikan dengan data normal baku, berarti data tersebut tidak normal (Hidayat, 2012).

Syarat untuk melakukan Uji Kolmogorov Smirnov adalah data berskala interval atau ratio (kuantitatif), data tunggal / belum dikelompokkan pada tabel distribusi frekuensi, dan dapat untuk n besar maupun n kecil (Hidayat, 2013).

Syarat untuk melakukan Uji Kolmogorov Smirnov adalah data berskala interval atau ratio (kuantitatif), data tunggal / belum dikelompokkan pada tabel distribusi frekuensi, dan dapat untuk n besar maupun n kecil (Hidayat, 2013).

Berikut adalah langkah-langkah untuk melakukan uji normalitas menggunakan Kolmogorov-Smirnov di SPSS: 

Buka SPSS

Buka program SPSS dan muat dataset yang ingin diuji. 

Pilih Menu Analyze

Pada menu utama, klik Analyze. 

Pilih Submenu Descriptive Statistics

Arahkan kursor ke submenu Descriptive Statistics. 

Pilih Explore

Dari submenu yang muncul, pilih Explore. 

Pilih Variabel

Di kotak dialog Explore, pindahkan variabel yang ingin diuji normalitasnya ke kotak Dependent List. Jika kamu ingin memeriksa normalitas berdasarkan kelompok (misalnya, kelompok umur), maka masukkan variabel pengelompokan tersebut ke kotak Factor List. Jika tidak, biarkan kosong.

Pilih Opsi Plot

Klik tombol Plots di sisi kanan kotak dialog. Di kotak dialog yang muncul, di bawah bagian Descriptive, pastikan opsi Normality plots with tests dicentang. Jika kamu hanya tertarik pada uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dan tidak membutuhkan plot, kamu bisa melewati bagian ini. Klik Continue untuk kembali ke kotak dialog utama.

Pilih Opsi Tambahan (Opsional)

Jika kamu ingin melihat statistik deskriptif lainnya seperti mean, median, standar deviasi, dll., pastikan untuk mencentang Descriptives di bagian bawah kotak dialog utama.

Jalankan Uji

Klik OK untuk menjalankan analisis.

Interpretasi Has: 

SPSS akan menghasilkan output yang mencakup tabel Test of Normality. Di dalam tabel ini, kamu akan menemukan hasil uji Kolmogorov-Smirnov, yang mencakup nilai statistik K-S dan nilai signifikansi (p-value).

Interpretasi

  1. Jika nilai p-value > 0.05, maka data berdistribusi normal.
  2. Jika nilai p-value ≤ 0.05, maka data tidak berdistribusi normal.

Contoh Interpretasi Hasil

Jika hasil menunjukkan nilai K-S dengan p-value 0.20 untuk variabel tertentu, ini berarti data tersebut berdistribusi normal. Jika p-value 0.03, ini berarti data tersebut tidak berdistribusi normal.

Uji Homogenitas

Uji homogenitas adalah pengujian mengenai sama tidaknya varians dua buah distribusi atau lebih. Uji Homogenitas berbeda dengan uji normalitas meski keduanya digunakan sebagai syarat dalam uji parametris. Letak perbedannya adalah, jika uji normalitas diperlukan pada semua uji parametris, sedangkan uji homogenitas tidak selalu digunakan. Uji homogenitas hanya digunakan pada uji parametris yang menguji perbedaan antara kedua kelompok atau beberapa kelompok yang berbeda subjeknya atau sumber datanya. Oleh karena itu, uji homogenitas diperlukan sebagai asumsi dari uji independen t test dan uji Anova. Sedangkan pada uji regresi linear, homogenitas tidak diperlukan sebagai syarat sebab uji regresi linear tidak menguji perbedaan beberapa kelompok. Contoh uji homogenitas antara lain Uji Levene Test, Fisher F dan Bartlett Test (Hidayat, 2017; Raharjo, n.d).

Sebagaimana uji statistik lainnya, uji homogenitas digunakan sebagai bahan acuan untuk menentukan keputusan uji statistik berikutnya. Pedoman pengambilan keputusan dalam uji homogenitas adalah sbb:
  1. Jika nilai Sig. < 0,05 berarti varian dari dua atau lebih kelompok populasi data adalah tidak homogen (tidak sama).
  2. Jika nilai Sig. > 0,05 berarti varian dari dua atau lebih kelompok populasi data adalah homogen (sama).
Berikut adalah langkah-langkah untuk melakukan uji homogenitas (Levene's Test) di SPSS:

Buka SPSS dan Muat Dataset

Buka SPSS dan masukkan atau muat dataset yang akan digunakan untuk uji homogenitas. Pastikan dataset tersebut berisi variabel dependen (yang berskala interval atau rasio) dan variabel independen (biasanya kategorikal).

Pilih Menu Analyze

Klik Analyze di menu utama SPSS.

Pilih Submenu Compare Means

Arahkan kursor ke Compare Means, kemudian pilih One-Way ANOVA jika kamu ingin menguji homogenitas varians untuk lebih dari dua kelompok.

Pilih Variabel

Di kotak dialog One-Way ANOVA, masukkan variabel dependen (misalnya, nilai tes, berat badan, atau hasil pengukuran lainnya) ke dalam kotak Dependent List. Masukkan variabel independen (biasanya variabel kategorikal seperti kelompok eksperimen atau kategori perawatan) ke dalam kotak Factor.

Klik Tombol Options

Setelah itu, klik tombol Options di sebelah kanan kotak dialog.

Centang Homogeneity of Variance Test

Di kotak dialog Options, centang kotak Homogeneity of variance test untuk memilih uji Levene's sebagai uji homogenitas varians. Kamu juga bisa mencentang opsi tambahan seperti Descriptive jika ingin melihat deskripsi statistik tambahan dari dataset. Klik Continue untuk kembali ke kotak dialog utama.

Jalankan Uji

Klik OK untuk menjalankan analisis. SPSS akan menjalankan uji Levene sebagai bagian dari output ANOVA.

Interpretasi Hasil Levene's Test

Hasil uji Levene akan muncul di tabel Test of Homogeneity of Variances pada output. Tabel ini akan menunjukkan:
Levene Statistic: Nilai statistik Levene.
df1 dan df2: Derajat kebebasan.
Sig.: Ini adalah p-value yang akan menunjukkan apakah varians antar kelompok adalah homogen.
Interpretasi Hasil Uji Homogenitas:
Jika p-value (nilai Sig.) > 0.05, maka tidak ada perbedaan signifikan dalam varians antar kelompok, sehingga asumsi homogenitas terpenuhi. Dalam hal ini, varians antar kelompok dianggap homogen, dan kamu bisa melanjutkan dengan uji ANOVA atau t-test yang mengasumsikan homogenitas.
Jika p-value (nilai Sig.) ≤ 0.05, maka ada perbedaan signifikan dalam varians antar kelompok, yang berarti asumsi homogenitas tidak terpenuhi. Dalam kasus ini, kamu mungkin perlu menggunakan uji non-parametrik atau melakukan koreksi untuk perbedaan varians (seperti Welch's ANOVA).

Contoh Hasil:
Misalnya, jika hasil uji menunjukkan:
  • Levene Statistic = 1.452
  • df1 = 2
  • df2 = 57
  • Sig. = 0.235
Karena p-value 0.235 > 0.05, kamu dapat menyimpulkan bahwa varians antar kelompok adalah homogen, dan asumsi homogenitas terpenuhi.

Daftar Pustaka

Hidayat, A., (2013). Penjelasan Tentang Uji Normalitas dan Metode Perhitungan. https://www.statistikian.com/2013/01/uji-normalitas.html. Diakses tanggal 31 Agustus 2020.

_________ (2012).Tutorial Uji Normalitas Kolmogorov Smirnov dengan SPSS. https://www.statistikian.com/2012/09/uji-normalitas-dengan-kolmogorov-smirnov-spss.html. Diakses tanggal 31 Agustus 2020.

_________ (2012). Penjelasan Rumus Kolmogorov Smirnov Uji Normalitas. https://www.statistikian.com/2013/01/rumus-kolmogorov-smirnov.html. Diakses tanggal 31 Agustus 2020.

_________ (2017). Perbedaan Uji Normalitas dan Homogenitas. https://www.statistikian.com/2017/03/perbedaan-uji-normalitas-dan-homogenitas.html. Diakses tanggal 31 Agustus 2020.

Raharjo, S., (n.d.). Cara Uji Normalitas untuk One Way Anova dengan SPSS Lengkap. https://www.spssindonesia.com/2018/11/uji-normalitas-one-way-anova-spss.html. Diakses tanggal 31 Agustus 2020.

_________ (n.d.), Cara Melakukan Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov dengan SPSS. https://www.spssindonesia.com/2014/01/uji-normalitas-kolmogorov-smirnov-spss.html. Diakses tanggal 31 Agustus 2020.

_________ (n.d.), Cara Melakukan Uji Homogenitas dengan SPSS beserta Contoh Lengkap. https://www.spssindonesia.com/2014/02/uji-homogenitas-dengan-spss.html. Diakses tanggal 31 Agustus 2020.

Uyanto, S.,S. (2009). Pedoman Analisis Data dengan SPSS, Edisi 3. Graha Ilmu

30 August 2020

Tehnik Instrumentasi Bedah ORIF dengan Plate-Screw

Definisi

Open reduction internal fixation (ORIF) adalah prosedur pembedahan yang dilakukan untuk memperbaiki tulang yang patah. Open reduction (reduksi terbuka) bermakna perlu pembedahan untuk mengarahkan patah tulang ke posisi normal sebelum patah. Sedangkan fiksasi internal mengacu kepada perangkat keras seperti metal pin, steel rod, screw, atau plate yang digunakan untuk menjaga agar fraktur tulang tetap stabil untuk menyembuhkan dengan cara yang benar dan untuk membantu mencegah infeksi (Sommer et al, 2013; Singapore Sports and Orthopaedic Clinic). 

Bedah ORIF pada kasus fraktur femur tertutup

Indikasi

ORIF adalah tindakan yang biasa digunakan untuk menangani patah tulang di seluruh tubuh. Termasuk yang paling sering adalah fraktur femur bagian distal. Adapun Indikasi ORIF meliputi:
- Fraktur terbuka
- Fraktur terkait dengan gangguan neurovaskular
- Semua patah tulang yang berpindah tempat (displaced fractur)
- Fraktur ekstremitas bawah ipsilateral
- Fraktur patologis (Thomson, & Jonna, 2020).

Tujuan

Teknik instrumentasi bedah ORIF dengan plate-screw adalah untuk mengatur alat secara sistematis di meja instrument untuk memperlancar handling instrument, dan mempertahankan kesterilan alat-alat instrument saat operasi berlangsung. 

Persiapan Operasi

Persiapan edah ORIF dengan plate-screw meliputi persiapan tempat dan alat. Persiapan alat tediri dari alat tidak steril dan alat steril. Alat steril mencakup instrument dasar bedah ortopedi intrument tambahan, dan bahan habis pakai. Berikut rincian instrument yang dibutuhkan pada bedah ORIF dengan plate-screw: 

Persiapan alat

Alat tidak steril:

- Meja Operasi.
- Lampu Operasi.
- Papan pelindung X-ray
- Meja Instrumen.
- Meja Mayo.
- Mesin Diatermi.
- Mesin Suction.
- Mesin anetesi
- Standar Infus.
- Trolley tempat waskom
- Plester lebar.
- Gunting Verban/ Bandage scissors.
- Tempat Sarnpah.

Alat steril, set dasar bedah ortopedi:

- Desinfeksi klem (dressing and washing forcep) 2
- Hand Vas Mess No. 3 & 4 ( Scalpel Blade and Handle) 1
- Klem Pean Mosquito kecil (Delicate Haemostatic Forsep Pean Curve) 2
- Klem pean tanggung (Delicate Haemostatic Forcep Pean Curve) 2
- Kocher bengkok tanggung (Delicate Haemostatic Forcep Kocker Curve) 2
- Klem pean lurus tanggung (Delicate Haemostatic Forcep Straight) 2
- Krome klem panjang (Delicate Haemostatic Forcep Curve) 2
- Nald Voerder panjang 2
- Nald Voerder pendek 1
- Kocher Lurus panjang 2
- Gunting Metzenbaum (Metzenbaum Scissor) 1
- Gunting Preparasi (Surgical Scissor Curve) 1
- Gunting Benang Besar (Surgical Scissor Curve Big) 1
- Gunting Benang Lurus (Surgical Scissor Straight) 1
- Langen Beck (US Army retractor) 2
- Claw Hack 2
- Volkmann Retraktor ( Hack bergigi tajam) 2
- Pincet Anatomis ( Tissue Forcep) 2
- Pincet Chirurgic (Dessecting Forcep) 2
- Towel Clamps (Doek Klem) 5
- Round Bowls (Mangkok Sedang) 2
- Round Bowls (Mangkok Kecil) 2
- Kidney Tray (Bengkok) 2

Alat steril, set tambahan bedah ORIF:

- Elevator 1
- Rasparatorim Besar / Kecil 2
- Bone Holder (Reposition Forcep) 2
- Reduction Forcep (Muller) 2
- Bone Levers (Hohmann / Cobra) 2
- Bone Holding Forcep (Verbrugge) 2
- Bone Clamps (Lowman) 2
- Bone Rongeurs (Knable Tang) Besar / Kecil 1 / 1
- Mallets (Hammer) 2
- Bone Chissels Straight Besar / Kecil 1 / 1
- Gouges Besar / Kecil 1 / 1
- Bone Currettes Besar / Kecil 1 / 1
- Bone Retractor (Intande Hack) 2
- Electro Surgical Motor (Bor Listrik) 1
- Drills (Mata Bor) 2,7 / 3,2 1
- Drills Sleaves 1
- Depth Gauge 1
- Tappers 2
- Banding Plate 2
- Screw Driver 1
- Container Inplant Set 1 set
- Elastic Banded / Verband Rol 10 cm (steril)
- Gown dan Doek steril 1 set

Bahan habis pakai:

- Handschoen
- Larutan Desinfektan
- Mess 20 / 10
- Spuit 10 cc
- Cairan Normal Saline 0,9%
- Drainage Set
- Elastic Bandage
- Benang (sesuai kebutuhan)
- Tulle-Dressing
- Velband / Softband

Prosedur ORIF

  1. Instrumentator melakukan Surgical scrub, Gowning, Gloving, Setting instrument di meja mayo
  2. Circulating Nurse membantu mengatur posisi dan mencuci area operasi dan dikeringkan dengan doek steril, k/p pasang tourniquets oleh asisten operator
  3. Operator dan asisten melakukan surgical scrub, Bantu gowning dan gloving
  4. Berikan desinfeksi klem dan larutan Desinfektan untuk desinfeksi lapangan operasi
  5. Drapping lapangan operasi sesuai prosedur dan difiksasi dengan Doek Klem
  6. Dekatkan meja instrument, pasang alat Cauter, Slang Suction, Bor Listrik dan laporkan instrument siap
  7. Berikan double handschoen pada operator dan asisten
  8. Berikan HV Mess 1 untuk insisi, rawat perdarahan* dengan mousquito klem dan elektro cauter
  9. Berikan HV Mess 2 (k/p gunting) untuk memperdalam insisi, hack tajam sampai lemak, otot memakai claw hack, periosteum di incisi dengan mess 2
  10. Berikan rasparatories untuk expose fraktur, pasang Bone levers, tulang dipegang dg Bone Tang
  11. Berikan Bone Curettes / Bone Rongeur untuk membersihkan stolsel dan jaringan necrotic, k/p cuci dengan NS 0,9%
  12. Berikan Reposition Forcep /Reduction klem untuk reposisi fraktur dan bantu traksi bila diperlukan
  13. Berikan inplant (Plate) sesuai ukuran (k/p banding) dan dipegang dengan Bone Holding Forceps (Verbrugge), berikan Bor Tulang dengan mata bor sesuai ukuran dengan pelindung (Drills Sleaves).
  14. Berikan Depth Gauge untuk pengukuran, berikan Tapper, Screw dan Screw Driver (sesuai ukuran) sampai screw terpasang semua**
  15. Berikan larutan NS dan desinfektan untuk cuci, k/p dilakukan pemasangan drainage
  16. Berikan benang sesuai kebutuhan untuk menjahit lapis demi lapis sampai kulit
  17. Inventarisasi instrument dan kassa
  18. Dressing luka operasi dan pasang elastic bandage

Catatan :
- *) Dilakukan sesuai kondisi selama operasi.
- **) Circulating nurse mencatat inplant yang di pakai
- Untuk Bor, Depth Gauge, Tapper dan screw diberikan secara berurutan dan berkesinambungan pada tiap lubang plate yang dipasang screw

Sumber Rujukan

  1. Sommer, S., et all. (2013). RN Adult Medical Surgical Nursing Review Module Edition 9.0. ATI Nursing. 
  2. Singapore Sports and Orthopaedic Clinic. ORIF (Open Reduction Internal Fixation) Surgery. https://www.orthopaedics.com.sg/treatments/orthopaedic-surgeries/screw-fixation/ diakses pada 20 Agustus 2020. 
  3. Thomson, J.D. & Jonna, K. (2020). Open Reduction and Internal Fixation of Distal Femoral Fractures in Adults. https://emedicine.medscape.com/article/2000429-overview#a2. Diakses pada tanggal 20 Agustus 2020.

20 August 2020

MUHASABAH: SAAT UMUR TERUS BERLALU


 

Hari ini tanggal 20 Agustus 2020, marilah mengawali tahun baru hijriyah 1 Muharrom 1442 H dengan muhasabah. Al-Imam Sufyan Ats-Tsaury rahimahullah mengingatkan kepada kita,

‎من لعب بعمره ضيع أيام حرثه، ومن ضيع أيام حرثه ندم أيام حصاده.

"Siapa yang bermain-main dengan umurnya maka dia akan menyia-nyiakan hari-hari yang seharusnya dia gunakan untuk menanam (beramal shalih). Dan siapa yang menyia-nyiakan hari-hari untuk menanam, maka dia akan menyesal pada hari-hari menuai (akhirat)."

Saudaraku,
Dalam pergantian tahun baru 1442 Hijriyah ini marilah kita evaluasi untuk meningkatkan keberkahan dalam hidup kita. Barakah atau berkah adalah kondisi yang diinginkan oleh hampir semua hamba yang beriman, karenanya orang akan mendapat limpahan kebaikan dalam hidupnya...

Barakah bukanlah serba cukup dan mencukupi saja, akan tetapi barakah ialah bertambahnya ketaatanmu kepada Allah  Azza wa Jalla dengan segala keadaan yang ada, baik  berlimpah ataupun berkekurangan...

Barakah itu: "...albarakatu tuziidukum fii tha'ah." Barakah itu menambah taatmu kepada Allah Azza wa Jalla...

Saudaraku,
Hidup yang barakah bukan hanya sehat, tapi kadang sakit itu justru menjadi barakah sebagaimana Nabi Ayyub AS, sakitnya menambah taatnya kepada Allah Azza wa Jalla...

Barakah itu tak selalu panjang umur, ada yang umurnya pendek tapi dahsyat taatnya layaknya Musab ibn Umair...

Tanah yang barakah itu bukan karena subur dan panoramanya indah, karena tanah yang tandus seperti Makkah mempunyai keutamaan di hadapan Allah Azza wa Jalla... tiada banding... tiada tanding.

Makanan barakah itu bukan yang komposisi gizinya lengkap, tapi makanan itu mampu mendorong pemakannya menjadi lebih taat kepada Allah Azza wa Jalla setelah memakannya...

Ilmu yang barakah itu bukan yang banyak riwayat dan catatan kakinya, akan tetapi yang barakah ialah yang mampu menjadikan seorang meneteskan keringat dan darahnya dalam beramal dan berjuang untuk agama Allah Azza wa Jalla...

Penghasilan barakah juga bukan gaji yang beredar dan berlimpah, tetapi sejauh mana ia bisa jadi jalan rejeki bagi yang lainnya dan semakin banyak orang yang terbantu dengan penghasilan tersebut...

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa bertaubat, memperbaiki diri, mohon ampunan-Nya, mencukupkan bekal di akhirat dengan amal-amal shalih untuk meraih ridha-Nya...
Amiin Ya Rabb.

Wallahua'lam bishawab

Sumber: WAG Pengajian At TaqwaManila

05 August 2020

E-learning



E-Learning adalah bagian dari perubahan terbesar dalam cara kita melakukan proses pembelajaran sejak penemuan papan tulis atau mungkin alfabet (Horton, 2000). E-learning berasal dari dua kata yaitu electronic dan learning. Dari namanya dapat dipahami bahwa e-learning adalah suatu proses pembelajaran yang menggunakan perangkat elektronik sebagai sarana pembelajaran. Batasan e-learning di literatur sangat banyak dan definisinya sangat beragam. Definisi yang tepat menuntut bahwa media elektronik harus memberikan dukungan khusus untuk proses pembelajaran itu sendiri, yang mungkin tidak dapat dicapai oleh media lain (Moore, Dickson-Deane, & Galyen, 2011). Definisi Harley (2001) sepertimya bisa diterima oleh banyak kalangan. Beliau mendefinisikan e-Learning  sebagai suatu  jenis  proses belajar  mengajar  yang  memungkinkan  tersampaikannya  bahan  ajar  ke  siswa  dengan  menggunakan  media  Internet,  Intranet atau media jaringan komputer lain.

Menurut Simonson & Smaldino (2019) e-Learning merupakan bagian dari pendidikan jarak jauh. e-Learning dipilih karena berbagai alasan termasuk keinginan untuk: (1) Memberikan pelatihan yang konsisten dan di banyak tempat sekaligus; (2) Mengurangi jumlah kegiatan jika peserta didik sangat banyak; (3) Meningkatkan kenyamanan peserta didik karena fleksibilitas waktu dan bisa mandiri.  Asalkan memiliki teknologi yang diperlukan, mereka memiliki akses ke e-learning setiap saat; (4) Mengurangi kelebihan informasi. E-learning memiliki potensi untuk mengelola pertumbuhan dalam jumlah informasi yang perlu dipelajari peserta didik. Pertumbuhan ini sering menyebabkan kelebihan informasi selama pelatihan, yang mengakibatkan pelatihan tidak efektif ketika peserta didik tidak dapat menyimpan semua informasi yang disajikan kepada mereka ; (5) meningkatkan pelacakan dalam hal kegiatan pembelajaran dan penguasaan materi; dan (6) efisiensi biaya lebih rendah khususnya ketika peserta didik ingin mengurangi biaya perjalanan dan ruang kelas, dan waktu tidak bekerja, terkait dengan pelatihan di luar lokasi. (Welsh, Wanberg, Brown, & Simmering, 2003).

Disamping kelebihan, e-Learning juga memeliki kekurangan. Misalnya: 1) Kurangnya interaksi di antara peserta membuat e-learning kurang menarik bagi pembelajar; 2) E-learning lebih banyak memberikan informasi dibandingkan praktek, bimbingan, dan umpan balik; 3) e-learning yang efektif membutuhkan upaya dan perencanaan yang signifikan. Jika perhatian yang cukup tidak diberikan pada implementasi, e-learning tidak akan berhasil.

Tiga area yang perlu dipertimbangkan selama perencanaan implementasi: desain pelatihan, infrastruktur teknologi informasi (TI), dan manajemen perubahan. Masalah penting dari desain termasuk apakah pembelajar dapat menggunakan teknologi, bagaimana memastikan acara pembelajaran yang dirancang dengan baik (menggabungkan prinsip-prinsip pembelajaran orang dewasa) dan bagaimana memastikan motivasi pelajar. Masalah TI yang penting termasuk apakah pengguna memiliki teknologi yang diperlukan untuk mengakses konten dan apakah sumber daya yang diperlukan, termasuk perangkat keras, perangkat lunak, dan dukungan teknis untuk peluncuran dan pemeliharaan, tersedia. Akhirnya, isu-isu manajemen perubahan penting termasuk bagaimana mempersiapkan pengguna dan staf pendidikan untuk perubahan.

Baca juga artikel: 3 aplikasi e-learning yang populer

Perkembangan  e-Learning  dari  masa  ke  masa  digambarkan oleh Cross (2002) dalam Wahono (2003) sebagai berikut:

1990: Computer Based Training (CBT). Era dimana mulai bermunculan aplikasi e-Learning yang berjalan dalam PC standalone ataupun berbentuk  kemasan  CD-ROM.  Isi  berupa  materi  dalam  bentuk  tulisan  maupun  multimedia  (video  dan  audio)  dalam  format  MOV,  MPEG-1  atau  AVI.  Perusahaan  perangkat  lunak  Macromedia  mengeluarkan  tool  pengembangan  bernama  Authorware,  sedangkan  Asymetrix (sekarang bernama Click2learn) juga mengembangkan perangkat lunak bernama Toolbook.

1994: Paket-Paket CBT Seiring dengan mulai diterimanya CBT oleh masyarakat, sejak tahun 1994 muncul CBT dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara massal.

1997: LMS (Learning Management System) Seiring  dengan  perkembangan  teknologi  internet  di  dunia,  masyarakat  dunia  mulai  terkoneksi  dengan  Internet.  Kebutuhan  akan  informasi  yang  cepat  diperoleh  menjadi  mutlak,  dan  jarak    serta  lokasi  bukanlah  halangan  lagi.  Disinilah  muncul  sebutan  Learning  Management  System  atau biasa disingkat dengan LMS. Perkembangan LMS yang semakin pesat membuat pemikiran baru  untuk  mengatasi  masalah  interoperability  antar  LMS  yang  ada  dengan  suatu  standard.  Standard yang muncul misalnya adalah standard yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Committee), IMS, IEEE LOM, ARIADNE, dsb.

1999: Aplikasi e-Learning Bebasis Web. Perkembangan LMS  menuju  ke  aplikasi  e-Learning  berbasis  Web  secara  total,  baik  untuk  pembelajar   (learner)   maupun   administrasi   belajar   mengajarnya.   LMS   mulai   digabungkan   dengan situs-situs portal yang pada saat ini boleh dikata menjadi barometer situs-situs informasi, majalah,  dan  surat  kabar  dunia.  Isi  juga  semakin  kaya  dengan  berpaduan  multimedia,  video  streaming,  serta  penampilan  interaktif  dalam  berbagai  pilihan  format  data  yang  lebih  standard,  berukuran kecil dan stabil.

Daftar Rujukan:

  1. Hartley, D. E. (2001). Selling e-learning. American Society for Training and Development.
  2. Horton, W. (2000), Designing Web-based Training. New York: John Wiley and Sons.
  3. Moore, J. L., Dickson-Deane, C., & Galyen, K. (2011). e-Learning, online learning, and distance learning environments: Are they the same?. The Internet and Higher Education, 14(2), 129-135.
  4. Simonson, M., Zvacek, S. M., & Smaldino, S. (2019). Teaching and Learning at a Distance: Foundations of Distance Education 7th Edition. IAP
  5. Wahono, R. S. (2003). Pengantar e-Learning dan pengembangannya. Diakses pada tanggal, 5 Agustus 2020.
  6. Welsh, E. T., Wanberg, C.G., Brown, K. G., & Simmering, M. J., (2003). E-learning, emerging uses, emperical results and future directions. International Journal of Training and Development, 7(4), 245-258.

03 August 2020

Model Asuhan Keperawatan Perioperatif



Selamat pagi mahasiswa! Bagaimana kabar Anda? Semoga sehat, dan tetap semangat. Kuliah kita hari ini berjudul “Model  Asuhan Keperawatan Perioperatif”, merupakan kuliah yang akan menambah wawasan Anda dengan cara mengeksplorasi sumber-sumber yang tersedia baik online maupun off line. Sejauh penelusuran saya, sepertinya belum ada referensi yang definitif yang menggambarkan bagaimana model asuhan keperawatan di area perioperatif. Oleh karena itu, kita mencoba untuk menyelidiki berbagai sumber yang ada dan diakhiri dengan kesimpulan bagaimanakah model asuhan keperawatan perioperatif itu?

Tujuan pembelajaran topik ini adalah agar mahasiswa mampu memilih model asuhan keperawatan pada area keperawatan perioperatif dan menjelasan alasan pemilihannya. Adapun outline kuliah hari ini adalah :

  1. Pengertian Model Asuhan Keperawatan
  2. Jenis model keperawatan
  3. Model Asuhan Keperawatan Perioperatif


Marilah kita awali belajar kita dengan memahami gambar di atas. Terdapat beberapa istilah yaitu: teori, konsep, dan model. Di dalam sain keperawatan, ketiga istilah tersebut  sering digunakan secara bergantian. Namun, sesungguhnya istilah tersebut berbeda, meskipun kadang sulit untuk dibedakan. Teori adalah seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang memproyeksikan pandangan sistematis tentang fenomena dengan menunjuk hubungan timbal balik khusus antara konsep untuk tujuan menggambarkan, menjelaskan, memprediksi, dan / atau mengendalikan fenomena (Chinn & Jacobs, 1987, hal. 71). Sedangkan, konsep adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu fenomena atau sekelompok fenomena (Meleis, 2012). Adapun model dalam kaitannya dengan sain keperawatan, Terdapat 2 istilah menurut Brazen (1992), yaitu:

  1. Model konseptual, dan
  2. Model pemberian asuhan keperawatan.

Berikut adalah Contoh-contoh Model Konseptual Keperawatan:

  1. Model konseptual keperawatan adalah
  2. Roy’s adaptation model,
  3. Orem’s self-care model,
  4. Peplau’s developmental model,
  5. Newman’s system Model,
  6. Johnson’s behavioral system model, dll

Adapun macam-macam model pemberian asuhan keperawatan dapat dilihat pada gambar di bawah: