14 June 2017

Penanganan Obstruksi Saluran Nafas (Choking) Pada Bayi

Sebagaimana pada orang dewasa, pada bayi yang mengalami obstruksi jalan nafas dibagi menjadi 2 yaitu bayi dalam keadaan sadar dan tidak sadar.

Pertolongan obstruksi jalan nafas pada bayi sadar.

Langkah 1: Pengkajian

Bayi sadar dan terdengar nafas stridor. Jika obstruksi memburuk (obstruksi nafas penuh), harus diperhatikan minimal satu gejala berikut:

  • Kehilangan suara
  • Kesulitan nafas meningkat
  • wajah bayi berubah biru

Segera lakukan tindakan membebaskan jalan nafas.

Langkah 2 : Cek mulut korban

Penolong membuka dan memeriksa mulut bayi dengan hati hati. Membuka mulut bayi dilakukan dengan ibu dan dan jari telunjuk (finger cross). Jika kelihatan benda asing lakukan finger sweep. Jika tidak kelihatan. lakukan langkah berikutnya.

Cek mulut bayi dengan cross finger 

Langkah 3: Lakukan posisi sandwich.

Letakkan bayi di atas lengan dan telapak tangan tangan dominan. Pertahankan posisi leher dan kepala sejajar. Tangan lainnya, mempertahankan posisi kepala dan leher. Balikkan / tengkurapkan bayi dengan kepala lebih rendah dari badan. 



Langkah 5: Lakukan Back Blows dan Chest Thrust.

Teknik melakukan back blows adalah sebagai berikut : Lakukan 5 (lima) kali pukulan dengan hati-hati diantara tulang belikat dengan menggunakan tumit telapak tangan. Balikkan bayi, pertahankan kepala, leher dan tubuh bayi di lengan penolong dan di sangga di atas paha. Kepala bayi lebih rendah dari tubuh dan kaki. Selanjutnya lakukan chest thrust yaitu : kompresi dada sebanyak 5 kali dengan 2 jari (jari tengah dan jari manis). Land mark: Posisi jari: 1 jari dibawah garis bayangan putting susu. Kedalaman: 1,5 inch (4 cm).

Back Blow

Chest Thrust

Langkah 6: Cek ulang mulut korban

Cara melakukan periksa ulang airway yaitu : Buka jalan napas/ mulut, Bila terlihat, lakukan finger swabs (korek benda asing), bila tidak terlihat ulangi langkah 4 dan 5 sampai benda asing keluar. Setelah benda asing dikeluarkan dan pernafasan normal maka korban dilakukan posisi mantap atau recovery position. Apabila benda asing belum keluar dan korban tidak sadar maka dilakukan penanganan pengeluaran benda asing pada korban tidak sadar. 

Finger Swab


Baca Juga: Penanganan Obstruksi Saluran Nafas (Choking) Pada Orang Dewasa


Pertolongan obstruksi jalan nafas pada bayi tidak sadar.

Langkah 1 : Pastikan Keamanan penolong dan korban

Pastikan penolong dan penderita aman. Kemudian, letakkan bayi terlentang pada permukaan datar dan keras. Pertahankan kepala dan leher ekstensi. Untuk bayi tidak sadar, Anda harus melakukan bayi di tempat yang datar, tidak boleh digendong.

Langkah 2 : Cek respon korban

Cek respon bayi dengan cara menepuk atau menggoyang pundak bayi dengan hati-hati atau memanggilnya. Jika tidak ada respon, letakkan bayi di atas permukaan datar.

Langkah 3 : Aktifkan EMS

Penolong meminta bantuan orang lain disekitarnya untuk mengaktifkan EMS (Emergensi Medical Service) atau memanggil 119.

Langkah 4 : Lakukan kompresi dada

Kompresi dada dilakukan bukan untuk memijat jantung, tetapi untuk menekan rongga dada sehingga benda asing bisa dikeluarkan. Adapun teknik dalam melakukan kompresi dada adalah : Tarik garis imajiner antara kedua putting susu dengan jari telunjuk dan berhenti di sternum. Letakkan jari tengah dan jari manis di sternum pada posisi 1 jari dibawah garis imajiner. Posisikan jari tengah dan jari manis tegak lurus dengan sternum. Angkat jari telunjuk sedangkan jari tengah dan jari manis berada pada posisi tetap. Lakukan kompresi dada sebanyak 30 kali. Kedalaman kompresi 1,5 inch (4 cm). Kecepatan kompresi minimal 100 kali per menit. Cara menghitung kompresi adalah :

1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 20
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 30

Langkah 5 : Cek kembali mulut korban.

Buka jalan nafas dengan cara manuver Head-tilt - Chin-lift. Cek mulut bayi, jika ada benda asing dimulutkan keluarkan dengan maneuver finger sweep. Jika tidak ada lakukan langkah berikutnya.

Langkah 6 : Beri tiupan (breathing) 2 kali

Cara memberi tiupan, tutup seluruh mulut dan hidung bayi dengan mulut penolong. selanjutnya sama dengan cara meniup pada orang dewasa. Setelah tiupan pertama dilakukan, nilai apakah terasa ringan atau berat. (ringan menunjukkan jalan nafas tidak tersumbat. Berat menunjukkan sumbatan benda asing masih ada). Jika tiupan pertama terasa ringan, lakukan tiupan kedua. Kemudian nilai lagi. Idealnya jika tiupan pertama terasa ringan, tiupan kedua juga terasa ringan yang menunjukkan bahwa sumbatan telah hilang. Jika tiupan kedua terasa ringan lakukan cek nadi dan nafas secara simultan.

Jika pada tiupan pertama terasa berat (jalan nafas masih tersumbat), lakukan reposisi kepala korban dengan cara kepala difleksikan 2 kali kemudian dikembalikan dalam posisi hiperekstensi. Reposisi dilakukan agar lidah tidak menutip jalan nafas. Karena pada orang yang tidak sadar seringkali lidah jatuh ke belakang sehingga menutup jalan nafas. Akibatnya, saat ditiup terasa berat. Jadi reposisi dilakukan agar pada tiupan kedua nanti penolong dapat menyimpulkan bahwa beratnya tiupan pertama kemungkinan disebabkan 2 hal, yaitu oleh benda asing atau karena lidah jatuh ke belakang.Semestinya, jika sumbatan benda asing sudah hilang maka tiupan terasa ringan. Jika pada tiupan kedua terasa masih berat maka penolong mengulang langkah ke-5. Namun, jika tiupan kedua terasa ringan, penolong melanjutkan ke langkah berikutnya.

Langkah 7 : Cek ulang nadi dan nafas korban

Setelah benda asing berhasil dikeluarkan lakukan cek nadi dan nafas korban. Hasil pemeriksaan ada tiga kemungkinan, yaitu:

  1. Nadi korban tidak ada nadi maka lanjutkan dengan tindakan BHD
  2. Bila nadi ada, tapi nafas tidak ada (gasping), maka beri bantuan nafas (rescue breathing
  3. Bila nadi dan nafas ada maka lakukan posisi recovery (mantap). Evaluasi nadi dan nafas bayi setiap 2 menit.

Dafar Pustaka

  1. SingHealth Alice Lee Institute of Advanced Nursing (2017). Basic Cardiac Life Support Course.
  2. AHA (2015). Guidelines CPR dan ECC



05 June 2017

Penanganan Obstruksi Saluran Nafas (Choking) pada Orang Dewasa.

Pernahkan Anda menyaksikan seorang anak kecil yang tersedak? atau bahkan orang dewasapun bisa mengalami kejadian ini. Masuknya benda asing ke dalam saluran pernafasan (Choking) sangat berbahaya. Dalam beberapa menit saja, jika tidak mendapat pertolongan seseorang yang tersedak bisa berakibat fatal. Oleh karena itu, tindakan ini penting untuk dikuasai oleh setiap orang, lebih-lebih oleh petugas kesehatan. Berikut adalah prosedur pertolongan pada orang dewasa yang mengalami obstruki saluran nafas oleh benda asing.

Pertolongan pada orang dewasa yang mengalami obstruksi benda asing dibagi menjadi 2, yaitu: korban dalam keadaan sadar dengan cara hemlick maneuver dan bila korban tidak sadar dengan cara kompresi dada.

Pertolongan Obstruksi Jalan Nafas Kondisi Sadar

Langkah 1: Pastikan keamanan lingkungan

Penolong dan korban harus sama-sama aman. Sebelum memberikan pertolongan, penolong harus mengkaji dan memperhatikan keamanan di sekitar kejadian. Kondisi yang membayakan seperti adanya api, bahan bakar, aliran listrik, resiko ledakan, gas beracun dan sebagainya di sekitar kejadian harus disingkirkan. Hal yang harus selalu diingat oleh penolong adalah jangan sampai penolong menjadi korban berikutnya justru karena menolong korban.

Langkah 2: Cek Respon Korban

Reaksi tersedak

Penilaian respon korban diakukan dengan cara bertanya: “apakah anda tersedak?”. Mungkin korban hanya akan mengangguk. Selanjutnya penolong memperkenalkan diri dan menyatakan akan membantu korban. Pernyataan yang disampaikan penolong adalah: “Saya akan membantu anda, mohon anda tenang dan ikuti instruksi saya”.


Menawarkan bantuan

Langkah 3 : Lakukan Heimlick Maneuver

Penolong melakukan Heimlick Maneuver dengan cara :

  1. Penolong berdiri di belakang korban
  2. Anjurkan korban untuk membuka atau melebarkan kakinya.
  3. Masukkan 1 kaki penolong di diantara 2 kaki korban.
  4. Letakan tangan dengan posisi menggenggam (ibu jari didalam) di perut korban (diatas pusar dan dibawah prosesus xipoideus).
  5. Tangan lainnya memegang dan mempertahankan tangan di perut.
  6. Anjurkan korban agak membungkuk
  7. Hentakkan tangan ke perut dengan arah ke dalam dan keatas sebanyak 5 kali.
  8. Setelah 5 kali hentakan Tanyakan pada korban “apakah benda asinynya sudah keluar ?”.
  9. Bila belum keluar, lanjutkan hentakan sebanyak 5 kali sampai benda asing keluar atau korban tidak sadar.
  10. Bila benda asing sudah keluar, anjurkan korban duduk dan latihan nafas dalam. 
    Salah satu kaki penolong masuk di antara kaki korban 

Perhatikan posisi tangan saat heimlick manuever

Langkah 4 : lakukan chest thrust (hentakan dada) maneuver (pada ibu hamil atau gemuk)

Penolong melakukan hentakan dada dengan cara :

  1. Penolong berdiri di belakang korban
  2. Anjurkan korban untuk membuka atau melebarkan kakinya.
  3. Masukkan 1 kaki penolong di diantara 2 kaki korban.
  4. Letakkan tangan dengan posisi menggenggam (ibu jari didalam) di dada (sternum) korban.
  5. Tangan lainnya memegang dan menggemgam tangan pertama di dada.
  6. Anjurkan korban agak membungkuk
  7. Hentakkan tangan ke dada dengan arah ke dalam sebanyak 5 kali.
  8. Setelah 5 kali hentakan Tanyakan pada korban “apakah benda asingnya sudah keluar ?”.
  9. Bila belum keluar, lanjutkan hentakan sebanyak 5 kali sampai benda asing keluar atau korban tidak sadar.
  10. Bila benda asing sudah keluar, anjurkan korban duduk dan latihan nafas dalam
Baca juga: Penanganan Obstruksi Saluran Nafas (Choking) Pada Bayi 
 

Pertolongan obstruksi jalan nafas pada korban dewasa tidak sadar

Langkah 1 : Pastikan keamanan lingkungan

Pastikan penolong dan penderita aman. Selanjutnya, letakkan korban terlentang pada permukaan datar dan keras. Pertahankan kepala dan leher ekstensi.

Langkah 2 : Cek respon korban

Penilaian respon korban dengan cara menepuk atau goyang pundak dengan hati-hati atau berteriak.

Cek respon

Langkah 3 : Aktifkan EMS

Penolong meminta bantuan orang lain disekitarnya untuk mengaktifkan EMS (Emergensi Medical Service) atau memanggil 119.

Langkah 4 : Lakukan kompresi dada

Setelah mengaktifkan EMS, kemudian lakukan kompresi dada sebanyak 30 kali. Adapun teknik dalam melakukan kompresi dada adalah :
  1. Letakkan telapak tangan penolong di atas setengah bawah sternum.
  2. Letakkan tangan lainnya diatas tangan pertama dan terkunci.
  3. Posisi lengan lurus, sternum tegak lurus dengan bahu.
  4. Siku terkunci dan badan penolong membungkuk.
  5. Gunakan berat badan untuk melakukan kompresi .
  6. Lakukan kompresi dada sebanyak 30 kali
  7. Kedalaman kompresi 2 inch (5 cm)
  8. Kecepatan kompresi minimal 100 kali per menit.
  9. Cara menghitung kompresi adalah :
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 20
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 30
 

Melakukan kompresi

Langkah 5 : Periksa rongga mulut

Buka jalan nafas dengan cara manuver head tilt - chin lift (bila tidak terjadi trauma kepala dan leher). Kemudian, periksa rongga mulut, adakah benda asing. Bila ada benda asing keluarkan dari mulut dengan jari telunjuk (finger sweep). Bila tidak kelihatan benda asing beri tiupan (breathing) ke mulut pasien untuk memastikan bahwa sumbatan masih ada atau sudah tidak ada.
 
Mengambil benda asing di rongga mulut

Langkah 6 : Beri tiupan (breathing) 2 kali 

Cara memberi tiupan adalah dengan cara menutup mulut korban dengan mulut penolong, dan hidung korban di pencet dengan jari penolong. Setelah tiupan pertama dilakukan, nilai apakah terasa ringan atau berat. (ringan menunjukkan jalan nafas tidak tersumbat. Berat menunjukkan sumbatan benda asing masih ada). Jika tiupan pertama terasa ringan, lakukan tiupan kedua. Kemudian nilai lagi. Idealnya jika tiupan pertama terasa ringan, tiupan kedua juga terasa ringan yang menunjukkan bahwa sumbatan telah hilang. Jika tiupan kedua terasa ringan lakukan cek nadi dan nafas secara simultan.

Jika pada tiupan pertama terasa berat (jalan nafas masih tersumbat), lakukan reposisi kepala korban  dengan cara kepala difleksikan 2 kali kemudian dikembalikan dalam posisi hiperekstensi. Reposisi dilakukan agar lidah tidak menutip jalan nafas. Karena pada orang yang tidak sadar seringkali lidah jatuh ke belakang sehingga menutup jalan nafas. Akibatnya, saat ditiup terasa berat. Jadi reposisi dilakukan agar pada tiupan kedua nanti penolong dapat menyimpulkan bahwa beratnya tiupan pertama kemungkinan disebabkan 2 hal, yaitu oleh benda asing atau karena lidah jatuh ke belakang.Semestinya, jika sumbatan benda asing sudah hilang maka tiupan terasa ringan. Jika pada tiupan kedua terasa masih berat maka penolong mengulang langkah ke-5. Namun, jika tiupan kedua terasa ringan, penolong melanjutkan ke langkah berikutnya.

 
Memberikan ventilasi


Reposisi kepala

 

Langkah 7 : Cek nadi dan nafas

Lakukan dengan cek nadi dan nafas. Pemeriksaan ini kemungkinan mendapatkan tiga kondisi:

  1. Bila nadi korban tidak ada maka lakukan tindakan BHD/CPR (tindakan lanjutan)
  2. Bila nadi ada namun nafas tidak ada/gasping, maka beribantuan nafas (rescue breathing).
  3. Bila nadi dan nafas ada dan adequat maka beri posisi recovery (posisi mantap). 

Daftar Pustaka

  1. SingHealth Alice Lee Institute of Advanced Nursing (2017). Basic Cardiac Life Support Course.
  2. AHA (2015). Guidelines CPR dan ECC