27 May 2024

Batuk

Batuk adalah refleks pelindung vital saluran udara, berfungsi untuk membersihkan saluran pernapasan dari benda asing, lendir, dan iritasi untuk mencegah aspirasi dan menjaga kesehatan jalan napas. Ini melibatkan proses neurogenik kompleks dengan reseptor, jalur aferen dan eferen, dan efektor, yang pada akhirnya mengarah ke ekspirasi eksplosif yang membantu menghilangkan sekresi dan partikel dari paru-paru [1] [2] [3]. Mekanisme terjadinya batuk tergantung pada faktor-faktor seperti kekuatan otot pernapasan, koordinasi, dan mekanika paru-paru, yang dapat dipengaruhi oleh gangguan neuromuskuler atau penyakit saluran napas obstruktif, yang berpotensi menyebabkan batuk yang tidak efektif [4]. Berbeda dari refleks saluran napas lainnya seperti refleks ekspirasi, batuk memainkan peran penting dalam pertahanan jalan napas dengan membersihkan puing-puing dan lendir, sementara juga berfungsi sebagai gejala berbagai kondisi medis yang mempengaruhi saluran udara bagian atas [5].

Batuk Tidak Efektif

Batuk yang tidak efektif mengacu pada kemampuan sistem pernapasan yang terganggu untuk membersihkan saluran udara secara efisien, seringkali karena berbagai kondisi yang mendasarinya [6]. 

Batuk Produktif

Batuk produktif adalah batuk dengan produksi dahak dari saluran pernapasan. Hal ini ditandai dengan pengeluaran lendir atau dahak selama episode batuk. Batuk produktif dapat menjadi indikasi berbagai kondisi pernapasan seperti penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), asma, atau pneumonia [7][8]. Kebalikannya, batuk non-produktif mengacu pada batuk yang tidak menghasilkan produksi lendir atau dahak [8]. Batuk non produktif disebut juga dengan batuk kering [9].


Referensi

  1. Yong, He. (2023). Cough. doi: 10.1016/b978-0-323-76174-1.00003-1
  2. Francesco, Andrani., Marina, Aiello., Giuseppina, Bertorelli., Ernesto, Crisafulli., Alfredo, Chetta. (2019). Cough, a vital reflex. mechanisms, determinants and measurements. doi: 10.23750/ABM.V89I4.6182
  3. Giovanni, A., Fontana. (2008). Before we get started: what is a cough?. Lung, doi: 10.1007/S00408-007-9036-8
  4. Ilse, Truter. (2007). Evidence Based PHARMACY PRACTICE COUGH. SA Pharmaceutical Journal,  
  5. Peter, Smith. (2018). Rhinitis and Cough. doi: 10.1007/978-3-319-75370-6_9
  6. Francesco, Andrani., Marina, Aiello., Giuseppina, Bertorelli., Ernesto, Crisafulli., Alfredo, Chetta. (2019). Cough, a vital reflex. mechanisms, determinants and measurements.. doi: 10.23750/ABM.V89I4.6182
  7. Rod, Hughes., Eleni, Rapsomaniki., Christer, Janson., Christina, Keen., Barry, J., Make., Pierre-Régis, Burgel., Erin, Tomaszewski., Hana, Müllerová., Helen, K., Reddel. (2022). Frequent productive cough: Symptom burden and future exacerbation risk among patients with asthma and/or COPD in the NOVELTY study.. Respiratory medicine,  doi: 10.1016/j.rmed.2022.106921.
  8. Eskild, Landt., Yunus, Çolak., B., Nordestgaard., Peter, Lange., Morten, Dahl. (2022). Productive vs non-productive chronic cough associated with worse lung health and higher morbidity and mortality in the general population. doi: 10.1183/13993003.congress-2022.4029.
  9. Thierry, Zenone., Marie, Puget. (2013). Dry cough is a frequent manifestation of giant cell arteritis. Rheumatology International, doi: 10.1007/S00296-012-2415-3.

23 May 2024

Gangguan Ventilasi Spontan


Diagnosis Keperawatan Gangguan Ventilasi Spontan di SDKI memiliki No D.0004. Termasuk ke dalam kategori fisiologis dengan subkategori respirasi. Di dalam buku NANDAi Nursing Diagnoses edisi ke-11 2018-2020, diagnosis keperawatan ini berbunyi Impaired spontaneous ventilation (Herdman & Shigemi, 2018). Diagnosis keperawatan ini disetujui pertama kali oleh NANDA pada tahun 1992 dan baru dilakukan sekali revisi pada tahun 2017. 

Definisi

Penurunan cadangan energi yang mengakibatkan individu tidak mampu bernapas secara adekuat. 

Penyebab

  1. Gangguan metabolisme.
  2. Kelelahan otot pernafasan

Gejala dan tanda mayor 

Subjektif: 

dispnea.

Obyektif:

  1. Penggunaan otot  atas meningkat.
  2. Volume tidal menurun.
  3. PCO2 meningkatkan.
  4. PO2 menurun.
  5. SaO2 menurun.

Gejala dan tanda minor 

Subjektif : 

tidak tersedia.

Objektif :

  1. Gelisah.
  2. Takikardia.

Kondisi Klinis Terkait 

  1. Penyakit paru obstruktif  kronis (PPOK).
  2. Asma.
  3. Cedera kepala.
  4. Gagal nafas
  5. Bedah jantung
  6. Adult respiratory distress syndrome (ARDS)
  7. Persistent pulmonary hypertension of newborn (PPHN)
  8. Prematuritas
  9. Infeksi saluran nafas

Referensi

  1. Herdman, T. H., & Shigemi, K. (2018). NANDA-I Nursing Diagnoses: Definitions and Classification 2018–2020 (11th ed.). Oxford, UK: Wiley Blackwell.
  2. Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, Definisi dan Indikator Diagnostik. Edisi 1 (Cetakan III). Penerbit DPP PPNI.


20 May 2024

Ganguan Pertukaran Gas

 


Diagnosis Keperawatan Gangguan Pertukaran Gas di SDKI memiliki No D.0003. Termasuk ke dalam kategori fisiologis dengan subkategori respirasi.

Definisi

Gangguan Pertukaran Gas diartikan sebagai  Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan atau eleminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler.

Penyebab

Etiologi dari diagnosis ini adalah ketidakseimbangan ventilasi-perfusi dan perubahan membran alveolus-kapiler.

Gejala dan Tanda Mayor

Subjektif: Dispnea.

Objektif: PCO2 meningkat / menurun, PO2 menurun, takikardia, pH arteri meningkat/menurun, dan bunyi napas tambahan.

Gejala dan Tanda Minor

Subjektif: Pusing, penglihatan kabur.

Objektif: Sianosis, diaforesis, gelisah, napas cuping hidung, pola napas abnormal (cepat / lambat, regular/iregular, dalam/dangkal), warna kulit abnormal (mis. pucat, kebiruan), dan kesadaran menurun.

Kondisi Klinis Terkait

  1. Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
  2. Gagal jantung kongestif.
  3. Asma.
  4. Pneumonia.
  5. Tuberkulosis paru.
  6. Penyakit membran hialin.
  7. Asfiksia.
  8. Persistent pulmonary hypertension of newborn (PPHN).
  9. Prematuritas.
  10. Infeksi saluran napas.

Referensi

  1. Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, Definisi dan Indikator Diagnostik. Edisi 1 (Cetakan III). Penerbit DPP PPNI


18 May 2024

Gangguan Sirkulasi Spontan

 


Di dalam SDKI, diagnosis keperawatan "Gangguan Sirkulasi Spontan" memiliki nomor D.00007. Termasuk ke dalam kategori fisiologis dengan subkategori sirkulasi. Dalam bahasa Inggris diagnosis keperawatan tersebut bisa diterjemahkan menjadi Impaired Spontaneous Circulation. Sayangnya, dalam bahasa Inggris frasa Impaired Spontaneous Circulation tidak ditemukan dalam berbagai mesin pencarian literatur. Bahkan pencarian menggunakan Google Scholar tidak menghasilkan satupun artikel yang memuat frasa tersebut. Frasa ini juga tidak terdapat pada buku Diagnosis Keperawatan NANDA dalam 3 edisi terakhir 2012-2014, 2015-2017 dan 2020-2023. 

Penggunaan AI (ChatGPT) terhadap frasa tersebut menghasilkan jawaban sebagai berikut "Impaired spontaneous circulation" merupakan istilah yang lebih sering digunakan dalam konteks medis daripada keperawatan. Diagnosis keperawatan dalam NANDA-I (North American Nursing Diagnosis Association International) lebih cenderung menggunakan istilah yang lebih terkait dengan aspek keperawatan, seperti diagnosa pada proses-proses keperawatan, intervensi, dan evaluasi perawatan.

Dalam konteks keperawatan, istilah yang mungkin lebih relevan adalah "Impaired tissue perfusion" atau "Ineffective tissue perfusion" yang merujuk pada gangguan aliran darah ke jaringan. Diagnosis keperawatan seperti ini berfokus pada pengamatan dan perawatan terhadap masalah sirkulasi darah yang dapat mempengaruhi kesehatan dan keseimbangan tubuh pasien.

Jadi, sementara "Impaired spontaneous circulation" tidak secara langsung terdaftar dalam daftar diagnosis NANDA-I, konsep yang terkait dengan masalah sirkulasi darah dapat diidentifikasi dan diatasi melalui diagnosis keperawatan yang sesuai dengan prinsip-prinsip keperawatan yang ada.

Terlepas dari  minimnya referensi terkait dengan diagnosis keperawatan tersebut, berikut ini dipaparkan diagnosis tersebut menurut PPNI (2017). 

Definisi

Gangguan sirkulasi spontan diartikan sebagai ketidakmampuan untuk mempertahankan sirkulasi yang adekuat untuk menunjang kehidupan (PPNI, 2017). 

Penyebab

  1. Abnormalitas kelistrikan jantung.
  2. Abnormalitas struktur jantung.
  3. Penurunan fungsi ventrikel.

Gejala dan Tanda Mayor 

Subyektif: 

  • Tidak berespon.

Objektif:

  1. Frekuensi nadi <50 kali / menit atau >150kali / menit.
  2. Tekanan darah sistolik <60 mmHg atau >200 mmHg.
  3. Frekuensi nasa <6 kali/menit atau >30 kali/menit.
  4. Kesadaran menurun atau tidak sadar.

Gejala dan Tanda Minor 

Subjektif: 

  • tidak tersedia

Objektif:

  1. Suhu tubuh <34,5 derajat Celcius.
  2. Tidak ada produksi urin dalan 6 jam.
  3. Saturasi oksigen <85%.
  4. Gambaran EKG menunjukkan aritmia letal (mis. Ventricular Tachycardia [VT], Ventricular Fibrillation [VF], Asistol, Pulseless Electrical Activity [PEA] ).
  5. Gambaran EKG menunjukkan aritmia mayor ( mis. AV block derajat 2 tipe 2, AV block total, takiaritmia / bradiaritmia, Supraventricular Tachycardia [SVT], Ventricular Extrasystole [VES], Ventricular Extrasystole [VES], simptomatik ).
  6. ETCO2 <35 mmHg.

Kondisi Klinis Terkait

  1. Henti Jantung.
  2. Bradikardia.
  3. Takikardia.
  4. Sindrom koroner akut.
  5. Gagal Jantung.
  6. Kardiomiopati.
  7. Miokarditis.
  8. Disritmia.
  9. Trauma.
  10. Perdarahan (mis. perdarahan gastrointestinal, ruptur aorta, perdarahan intrakranial).
  11. Keracunan.
  12. Overdosis.
  13. Tenggelam.
  14. Emboli paru.

Referensi

  1. Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, Definisi dan Indikator Diagnostik. Edisi 1 (Cetakan III). Penerbit DPP PPNI

10 May 2024

Uji Distribusi Data dengan Saphiro-Wilk

 


Uji Shapiro-Wilk adalah alat statistik yang umum digunakan untuk menilai normalitas distribusi data (Shapiro & Wilk, 1965). Alat ini sangat efektif untuk distribusi simetris dengan ekor pendek (Wah & Sim, 2011). Distribusi simetris dengan ekor pendek mengacu pada bentuk distribusi data yang memiliki sifat simetri di sekitar titik tengahnya (misalnya, rata-rata atau median). Artinya, bagian kiri dan kanan dari distribusi tersebut memiliki bentuk yang mirip atau hampir sama, sehingga tidak terdapat skewness (kemiringan distribusi ke kanan atau kiri) yang signifikan. 

Diperkenalkan pada tahun 1965, uji ini banyak digunakan dalam berbagai bidang seperti kedokteran, statistik, dan ilmu kedokteran hewan (Shapiro & Wilk, 1965). Uji ini terbukti kuat dalam mendeteksi normalitas dalam distribusi asimetris dan menunjukkan kinerja yang superior dibandingkan dengan uji normalitas lainnya dalam hal akurasi dan keandalan (Korkmaz & Demir, 2023).

Studi yang membandingkan uji Shapiro-Wilk dengan uji normalitas lain umumnya menemukan bahwa uji ini memberikan hasil yang lebih baik untuk distribusi normal maupun non-normal (Korkmaz & Demir, 2023). Uji ini sering digunakan sebagai tolak ukur untuk menguji hipotesis normalitas karena kekokohan dan efisiensinya (Guo et al., 2010). Selain itu, uji Shapiro-Wilk juga dikaitkan dengan uji statistik lain seperti uji Anderson-Darling dan uji Bera, yang secara kolektif berkontribusi pada penilaian normalitas dalam berbagai konteks (Jarque, 1987). Studi empiris telah lebih lanjut memvalidasi kinerja uji ini, menunjukkan superioritasnya dibandingkan dengan uji normalitas alternatif (Jo et al., 2016).

Perbandingan Uji Saphiro-Wilk dengan Uji Kolmogorov-Smirnov

Uji Kolmogorov-Smirnov dan uji Shapiro-Wilk adalah dua metode statistik yang digunakan untuk menilai normalitas distribusi data, namun keduanya berbeda dalam pendekatan dan aplikasinya. Uji Kolmogorov-Smirnov adalah uji non-parametrik yang membandingkan fungsi distribusi kumulatif data dengan distribusi teoritis, umumnya distribusi normal. Uji ini sensitif terhadap perbedaan lokasi dan bentuk dari distribusi yang dibandingkan (Wah & Sim, 2011). Di sisi lain, uji Shapiro-Wilk adalah uji parametrik yang dirancang khusus untuk menguji normalitas data. Uji ini mengevaluasi seberapa baik data cocok dengan distribusi normal dengan mempertimbangkan korelasi antara data dan nilai normal yang diharapkan.

Meskipun kedua uji ini umum digunakan untuk menilai normalitas, penelitian telah menunjukkan bahwa uji Shapiro-Wilk lebih kuat dalam mendeteksi penyimpangan dari normalitas, terutama pada kasus ukuran sampel yang lebih kecil dan distribusi yang asimetris (Wah & Sim, 2011). Uji Shapiro-Wilk terbukti lebih unggul dibandingkan uji Kolmogorov-Smirnov dalam hal akurasi dan keandalan untuk menilai normalitas dalam berbagai konteks (Wah & Sim, 2011). Selain itu, uji Shapiro-Wilk sering dipilih ketika asumsi normalitas menjadi penting untuk analisis statistik berikutnya karena kekokohan dan efisiensinya.

Jumlah Minimum Sampel Untuk Uji Saphiro-Wilk

Uji Shapiro-Wilk direkomendasikan untuk ukuran sampel kurang dari 50 (Ghasemi & Zahediasl, 2012). Uji ini terutama efisien dan berhasil untuk ukuran sampel yang lebih kecil, sehingga cocok untuk kumpulan data dengan observasi yang terbatas (Nabou et al., 2021). Di sisi lain, uji Kolmogorov-Smirnov, yang merupakan metode umum lainnya untuk menilai normalitas, tidak memiliki persyaratan ukuran sampel khusus seperti uji Shapiro-Wilk. Namun, uji Shapiro-Wilk umumnya lebih disukai untuk ukuran sampel yang lebih kecil karena kinerjanya yang lebih unggul dalam mendeteksi penyimpangan dari normalitas, terutama pada kasus distribusi asimetris dan jumlah data yang terbatas (Ghasemi & Zahediasl, 2012).

Oleh karena itu, untuk melakukan uji Shapiro-Wilk untuk normalitas, disarankan untuk memiliki ukuran sampel kurang dari 50 untuk memastikan efektivitas dan akurasi uji dalam mengevaluasi asumsi normalitas dalam kumpulan data.

Referensi

  1. Ghasemi, A. and Zahediasl, S. (2012). Normality tests for statistical analysis: a guide for non-statisticians. International Journal of Endocrinology and Metabolism, 10(2), 486-489. https://doi.org/10.5812/ijem.3505.
  2. Guo, J., Alemayehu, D., & Shao, Y. (2010). Tests for normality based on entropy divergences. Statistics in Biopharmaceutical Research, 2(3), 408-418. https://doi.org/10.1198/sbr.2009.08089
  3. Jarque, C. M. and Bera, A. K. (1987). A test for normality of observations and regression residuals. International Statistical Review / Revue Internationale De Statistique, 55(2), 163. https://doi.org/10.2307/1403192.
  4. Jo, A., Bm, G. K., & George, F. (2016). Performances of several univariate tests of normality: an empirical study. Journal of Biometrics &Amp; Biostatistics, 07(04). https://doi.org/10.4172/2155-6180.1000322.
  5. Korkmaz, S. and Demir, Y. (2023). Investigation of some univariate normality tests in terms of type-i errors and test power. Journal of Scientific Reports-A, (052), 376-395. https://doi.org/10.59313/jsr-a.1222979.
  6. Nabou, A., Laanaoui, M. D., Ouzzif, M., & houssaini, M. A. E. (2021). Shapiro-wilk test to detect the routing attacks in manet.. https://doi.org/10.21203/rs.3.rs-473896/v1.
  7. Shapiro, S. S. and Wilk, M. B. (1965). An analysis of variance test for normality (complete samples). Biometrika, 52(3-4), 591-611. https://doi.org/10.1093/biomet/52.3-4.591.
  8. Wah, Y. B. and Sim, C. H. (2011). Comparisons of various types of normality tests. Journal of Statistical Computation and Simulation, 81(12), 2141-2155. https://doi.org/10.1080/00949655.2010.520163.

08 May 2024

Kaji Tiru Polkesma Ke Poltekkes Surakarta

 


Selasa pagi, tanggal 7 Mei 2024 sekitar pukul 09.00 WIB rombongan dari Poltekkes Kemenkes malang (Polkesma) yang akan melaksanakan Kaji Tiru terkait dengan Persiapan Reakreditasi Prodi STr Keperawatan dan Ners tiba di Kampus 1 Poltekkes Kemenkes Surakarta (Polkesta). Rombongan Polkesma yang dipimpin oleh Wadir II langsung disambut oleh Wadir II Polkesta beserta Kajur Keperawatan. Selesai penyambutan, rombongan yang terdiri dari 17 orang dipandu menuju ruang pertemuan di gedung direktorat Polkesta.

Acara kaji tiru diawali dengan sambutan Direktur yang diwakili oleh Wadir III yang juga merangkap Wadir I. Dalam sambutannya Bu Afnani, Wadir II Polkesma menyampaikan bahwa tujuan kaji tiru Polkesma ke Polkesta adalah untuk mendapatkan gambaran dan upaya-upaya yang dilakukan dalam mempersiapkan akreditasi Prodi STr Keperawatan dan Ners agar bisa meraih predikat Unggul, sebagaimana Polkesta yang telah berhasil menmperoleh predikat tersebut. Pada kesempatan tersebut, Wadir II Polkesma juga memperkenalkan seluruh rombongan kepada pimpinan Polkesta yang hadir pada acara tersebut. 

Sementara itu, Wadir III, Bapak Budi Utomo, SKM, SST, M.Kes, mewakili Direktur Polkesta menyambut gembira kedatangan rombongan dari Polkesma. Beliau menganggap bahwa Polkesma juga merupakan salah satu poltekkes yang memiliki banyak keunggulan yang menjadi banyak tujuan kaji tiru bagi poltekkes yang lain. Beliau meminta kepada seluruh pihak Polkesta yang hadir untuk memberikan informasi, tips dan trik dalam persiapan reakreditasi sehingga tujuan kaji tiru yang dilaksanakan Polkesma bisa mencapai tujuan.

Setelah sambutan, kedua pimpinan Poltekkes saling memberikan cinderamata sebagai kenang-kenangan.  

Kegiatan kaji tiru diawali dengan presentasi tentang kiat sukses reakreditasi dari Kapus Penjaminan Mutu Polkesta dan dilanjutkan dengan presentasi pengelolaan kelas internasional oleh Kaprodi STr Keperawatan dan Ners Ibu Sri Lestari, S.Kep., Ns, M.Kep. Setelah diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan visitasi sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Polkesta.


 Geser ke kanan/kiri untuk melihat foto lainnya

06 May 2024

Monev RPS Berbasis OBE


Pagi ini, Prodi Sarjana Terapan Keperawatan dan Ners kedatangan Kepala Pusat Pengembang Pendidikan (Kapus Bangdik) beserta Penanggung Jawab Pengembang Pendidikan. Kedatangan beliau berdua di Prodi adalah dalam rangka melaksanakan Monev RPS berbasis OBE.

OBE singkatan Outcome-Based Education atau Pendidikan Berbasis Hasil adalah pendekatan pendidikan yang memusatkan setiap aspek sistem pendidikan pada tujuan atau hasil yang telah ditetapkan sebelumnya (Mirza & Javed, 2022). Pendekatan ini menekankan pencapaian siswa dalam program akademik dengan fokus pada hasil belajar dan kompetensi (Tshai et al., 2014). OBE bertujuan untuk mengalihkan fokus pendidikan dari pengajaran menjadi pembelajaran, dari keterampilan menjadi pemikiran, dari konten menjadi proses, dan dari instruksi guru menjadi demonstrasi siswa (Hassan, 2012). Implementasi OBE memerlukan faktor-faktor seperti dukungan administrasi, komitmen guru, dan penerimaan siswa untuk memfasilitasi adopsi yang berhasil (Iringan & Bansig, 2019). Menilai sikap guru terhadap PBH sangat penting untuk implementasi efektif dari pergeseran paradigma pendidikan ini (Baguio, 2019).

Dalam sambutannya Kapusbangdik menyampaikan bahwa monev ini dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh prodi di polkesma telah melaksanakan kurikulum OBE. Bukti dukung dalam bentuk RPS terpantau sudah tersedia, namun terkadang pelaksanaan dalam pembelajaran terdapat kendala sehingga belum terlaksana maksimal. Dengan monev ini akan diketahui kendala pelaksanaan selama ini sehingga dapat dicarikan solusi ke depan.

Dalam kesempatan tersebut, PJ akademik bapak Taufan Arif, S.Kep., Ns, M.Kep mempresentasikan salah satu RPS yang berbasis OBE sebagai contoh pelaksnaan di Prodi STr Keperawatan dan Ners. 

Referensi:

  1. Baguio, J. B. (2019). Outcomes-based education: teachers’ attitude and implementation. University of Bohol Multidisciplinary Research Journal, 7(1), 110-127. https://doi.org/10.15631/ubmrj.v7i1.113
  2. Hassan, M. (2012). Challenges of implementing outcome based engineering education in universities in bangladesh. 2012 7th International Conference on Electrical and Computer Engineering. https://doi.org/10.1109/icece.2012.6471562
  3. Iringan, E. M. and Bansig, I. C. (2019). Implementation of outcomes—based education in the graduate school level at st. paul university philippines. World Journal of Educational Research, 6(2), 188. https://doi.org/10.22158/wjer.v6n2p188
  4. Mirza, A. and Javed, S. (2022). Effective and efficient implementation of obe framework within constrained pakistani environment to attain desired learning outcomes. Sir Syed University Research Journal of Engineering &Amp; Technology, 12(1), 1-7. https://doi.org/10.33317/ssurj.390
  5. Tshai, K. Y., Ho, J., Yap, E. H., & Ng, H. K. (2014). Outcome-based education – the assessment of programme educational objectives for an engineering undergraduate degree. Engineering Education, 9(1), 74-85. https://doi.org/10.11120/ened.2014.00020