27 March 2024

Polkesma Buka Puasa Bersama Anak Yatim

Dalam rangka meningkatkan silaturahmi di lingkungan Poltekkes Kemenkes Malang (Polkesma) khususnya di Bulan Ramadan, manajemen Polkesma menyelenggarakan kegiatan Buka Bersama pada hari Selasa, 26 Maret 2024, Pkl 16.00 WIB bertempat di gedung Auditorium. 

Selain ceramah rohani, kegiatan ini juga diwarnai dengan pemberian santunan bagi 61 anak-anak yatim yang didatangkan dari tiga panti asuhan di kota dan kabupaten Malang yaitu panti asuhan Al Ikhlas dan Al Kautsar di kecamatan Wagir dan panti asuhan An Nawawi Bandung Rejosari di kecamatan Sukun.

Acara di awali dengan Qira'atil qur'an yang dilantunkan oleh mahasiswa jurusan keperawatan bernama Sdr. Husni. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan Direktur Polkesma Dr. Moh. Wildan, A.Per.Pen, MPd. 

Dalam sambutannya, Pak Wildan sapaan bapak direktur menuturkan bahwa kegiatan berbuka bersama anak yatim adalah kegiatan rutin tahunan di Polkesma saat bulan Ramadan tiba. Selain bertujuan silaturrohmi, kegiatan ini diharapkan meningkatkan tali silaturrohmi di antara karyawan dan mahasiswa. Beliau juga menyampaikan pesan bahwa meski berpuasa kinerja pegawai tidak menurun bahkan seharusnya ditingkatkan. 

Kegiatan ini juga diharapkan bisa dijadikan ajang berbagi kepada sesama khususnya anak-anak yatim dengan pemberian santunan. Sambil berkelakar, bapak direktur menyatakan bahwa anggaran kegiatan bukan berasal dari negara namun dari sumbangan dan donasi para pegawai di lingkungan Polkesma. 

Tidak lupa beliau juga menyinggung tim banjari yang dari awal melantunkan lagu-lagu shalawat dengan sangat merdu. Beliau berharap agar tim banjari yang terdiri dari para mahasiswa Polkesma nantinya bisa terus berkembang.

Acara dilanjutkan dengan siraman rohani dengan penceramah KH Dr. Saifudin Zuhri, MAg dari Kota Malang. Siraman rohani diakhiri dengan pembacaan doa bersama dengan masuknya waktu maghrib.  

13 March 2024

Rapat Kerja I Poltekkes Kemenkes Malang Tahun 2024


Bersamaan dengan hari kedua ibadah puasa bagi umat Islam, Poltekkes Kemenkes Malang (Polkesma) menyelenggarakan pembukaan Rapat Kerja I tahun 2024. Kegiatan Raker dilaksanakan di Hotel Morazen Surabaya yang rencananya dilaksanakan selama empat hari mulai hari ini Rabu hingga Sabtu,13-26 Maret 2024. 

Raker mengambil tema "Poltekkes Kemenkes Malang Mendukung Tercapainya Transformasi Bidang Kesehatan". Diikuti oleh 68 orang pegawai dengan tugas tambahan dan tenaga kependidikan serta alumni. dengan anggaran bersumber BLU.

Beberapa hal yang akan menjadi pembahasan sebagaimana disampaikan oleh Wakil Direktur II dalam laporannya meliputi:

  • PAK Integrasi dan Kenaikan Pangkat Jabatan Fungsional
  • Reviu RENSTRA Polkesma tahun 2020-2024
  • Bedah DIPA
  • Sosialisasi SKKM Satuan Kedit Kerja Mahasiswa (SKKM) Online
  • Sosialisasi Aplikasi Sistem Informasi Indikator Terpadi (SINDIKAT)
  • Sosialisasi Tata Naskah Dinas
  • Penandatanganan Kontrak Kinerja
  • Penandatanganan Pakta Integritasi

Sementara itu, Direktur Polkesma Dr. Moh Wildan, APerPen, MPd dalam sambutannya menekankan perubahan karir pegawai fungsional pasca terbitnya Permen PAN & RB No. 1 tahun 2023 yang berdampak pada kenaikan pangkat para pegawai di Polkesma terutama jabatan Dosen. Sejauh ini Polkesma menyisakan 2 orang yang masih belum keluar PAK. Bagi dosen yang masih ingin mengetahui lebih jauh terkait dengan PAK dengan aturan baru dapat menanyakan kepada narasumber dari Dirjen Dikti sambungnya. 

Selain menyinggung PAK, beliau juga Visi, Misi dan Resntra Polkesma yang akan segera berakhir. Visi Misi Polkesma berakhir pada tahun 2024, sehingga perlu segera dilakukan pembahasan untuk merumuskan visi, misi dan renstra Polkesma selanjutnya.  

Selain hal diatas, beliau juga menjelaskan lebih rinci dari apa yang telah dilaporkan oleh Wakil Direktur II seperti bedah DIPA dan sosialisasi SKKM, Sindikat, tata naskah dll. 

Terakhir beliau menyampaikan informasi akan disatukannya logo, lagu mars dan hymne serta seragam mahasiswa Poltekkes seluruh Indonesia. 

10 March 2024

Mengenal Aurikuloterapi

 

Wikipedia

Aurikuloterapi (Auriculotherapy) saat ini menjadi salah satu modalitas perawatan kesehatan. Beberapa manfaat terapi tersebut biasanya digunakan untuk pengobatan berbagai jenis nyeri, terutama nyeri pasca operasi (Asher et al, 2010). Beberapa penelitian juga mengkonfirmasi bahwa aurikuloterapi dapat  mengurangi cemas dan stress (Munhoz, 2022). Saat ini mulai berkembang riset dalam bidang ini. Beberapa diantaranya adalah tinjauan sistematik apakah aurikuloterapi dapat mengobati obesitas (Yao, et al, 2019). Sebuah tinjauan sistematis lainnya juga dikembangkan untuk memahami efek aurikuloterapi pada kognisi dan memori pada remaja (Noll et al, 2020). 

Aurikuloterapi sesungguhnya memiliki akar pada masa lalu. Hippocrates (460–380 sebelum masehi) tanpa disadari dapat dianggap sebagai penemu metode ini. Pada abad ke-4 sebelum masehi di Cina diterbitkan sebuah buku pengobatan tua yang berjudul Huangdi Nei Jing (Prinsip Pengobatan). Disebutkan dalam buku tersebut bahwa telinga adalah titik pertemuan semua saluran energi tubuh manusia (Szopinski, 2014). 

Penemuan terapi ini sebagian didasarkan pada praktik akupunktur tubuh Tiongkok kuno, namun juga berasal dari penemuan seorang dokter Perancis pada tahun 1950-an. Paul Nogier dan rekannya menunjukkan bahwa area tertentu di telinga luar berhubungan dengan patologi di bagian tubuh tertentu. Banyak teks tentang topik aurikuloterapi cenderung berfokus pada pendekatan Tiongkok terhadap akupunktur auricular atau pada praktik pengobatan auricular di Eropa (Oleson, 2014). 

Aurikuloterapi merupakan stimulasi terapeutik titik organ yang terletak di daun telinga. Prinsip kerja dari terapi memberikan stimulasi di permukaan luar telinga, atau daun telinga untuk meringankan kondisi patologis di bagian tubuh lainnya. Menariknya, prinsip ini dikembangkan oleh dokter Perancis yang bernama P.M.F. Nogier saat bekerja di Afrika Utara, dimana ia mengamati tabib setempat merawat hewan peliharaan, termasuk kuda dan unta, dengan membakar area tertentu di telinga hewan tersebut. Mereka juga menggunakan anting-anting tembaga, yang dipasang di area daun telinga tertentu, untuk mengatasi rasa sakit pada manusia. Terinspirasi oleh hal ini, Nogier memeriksa daun telinga pasiennya dari tahun 1951 hingga 1956 dan menyimpulkan bahwa area tertentu akan menjadi lunak jika organ dalam terkait terkena penyakit. Dengan cara ini, ia menciptakan peta pertama titik organ di daun telinga dan memulai konsep homunculus daun telinga dengan bentuk dan posisi yang umumnya mirip dengan janin awal. Dia juga menggunakan penemuan ini untuk tujuan terapeutik dengan memasukkan jarum akupunktur kecil atau menerapkan radiasi laser pada titik-titik tersebut. Aurikuloterapi kemudian diterima oleh dokter Perancis dan Eropa lainnya yang tertarik pada akupunktur, dan akhirnya juga oleh ahli akupunktur klasik Timur Jauh. Penting untuk diketahui bahwa setiap titik organ auricular hanya berhubungan dengan satu organ/bagian tubuh internal, berbeda dengan titik-titik akupuntur tubuh yang biasanya berhubungan dengan lebih dari satu organ/bagian tubuh internal (Szopinski, 2014).

Mekanisme Aurikuloterapi

Mekanisme di balik terapi aurikular melibatkan stimulasi titik-titik spesifik di telinga, yang dapat memiliki berbagai efek pada tubuh. Efek-efek ini diyakini terkait dengan sistem saraf otonom (ANS), sistem neuroendokrin, faktor neuroimunologi, neuroinflamasi, dan refleks saraf, serta antioksidasi. Telinga terhubung dengan 12 meridian dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok (TCM), dan merangsang telinga dapat mengembalikan keseimbangan antara Qi dan darah. Mekanisme terapi aurikular belum sepenuhnya dipahami dan memerlukan penelitian lebih lanjut.

Aplikasi Klinis Aurikuloterapi

Aurikuloterapi, juga dikenal sebagai terapi aurikular, merupakan bentuk pengobatan alternatif yang melibatkan stimulasi titik-titik spesifik di telinga untuk mengobati berbagai kondisi kesehatan. Aplikasi terapi aurikular dapat dilakukan melalui beberapa metode, termasuk akupunktur, elektroakupunktur, akupresur, lasering, kauterisasi, moxibustion, dan pelepasan darah pada daun telinga. Mekanisme di balik terapi aurikular terkait dengan sistem saraf otonom (SSO), sistem neuroendokrin, faktor neuroimunologi, neuroinflamasi, dan refleks saraf, serta antioksidasi. Telinga terhubung dengan 12 meridian dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok, dan merangsang telinga dapat mengembalikan keseimbangan antara Qi dan darah. Terapi aurikular telah digunakan untuk meredakan nyeri, pengobatan epilepsi, kecemasan, obesitas, dan gangguan tidur, tetapi bukti dan mekanisme keefektifannya memerlukan penelitian lebih lanjut.

Referensi:

  1. Asher GN, Jonas DE, Coeytaux RR, Reilly AC, Loh YL, Motsinger-Reif AA, Winham SJ. Auriculotherapy for pain management: a systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. J Altern Complement Med. 2010 Oct;16(10):1097-108. doi: 10.1089/acm.2009.0451. PMID: 20954963; PMCID: PMC3110838.
  2. Hou PW, Hsu HC, Lin YW, Tang NY, Cheng CY, Hsieh CL. The History, Mechanism, and Clinical Application of Auricular Therapy in Traditional Chinese Medicine. Evid Based Complement Alternat Med. 2015;2015:495684. doi: 10.1155/2015/495684. Epub 2015 Dec 28. PMID: 26823672; PMCID: PMC4707384.
  3. Munhoz OL, Morais BX, Santos WMD, Paula CC, Magnago TSBS. Effectiveness of auriculotherapy for anxiety, stress or burnout in health professionals: a network meta-analysis. Rev Lat Am Enfermagem. 2022 Oct 17;30:e3708. doi: 10.1590/1518-8345.6219.3708. PMID: 36287403; PMCID: PMC9580986.
  4. Noll M, Mendonça CR, Noll PRES, Silveira EA. Influence of auriculotherapy on cognition and memory in adolescents. Transl Pediatr. 2020 Apr;9(2):195-197. doi: 10.21037/tp.2020.03.10. PMID: 32477922; PMCID: PMC7237974.
  5. Oleson, Terry (2014). Auriculotherapy Manual || Overview and History of Auriculotherapy. , (), 1–24. doi:10.1016/b978-0-7020-3572-2.00001-x.
  6. Szopinski, Jan Zbigniew (2014). The Biological Action of Physical Medicine || Reflexive Physical Therapies. , (), 73–222. doi:10.1016/b978-0-12-800038-0.00005-5.
  7. Yao J, Chen L, Zhang L, Zhou S, Zheng Q, Feng X, You X, Zhang L, Li Y. Effect of auriculotherapy and intervention types on weight control: A systematic review and meta-analysis protocol. Medicine (Baltimore). 2019 Aug;98(34):e16959. doi: 10.1097/MD.0000000000016959. PMID: 31441898; PMCID: PMC6716699.

09 March 2024

Mayoritas Dunia Masih Tidak Mengakui Penyakit Kardiovaskuler Akibat Diabetes

 
Designed by Freepik

Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit metabolik yang melibatkan kadar glukosa darah lebih tinggi dari normal. Diagnosis ditegakkan apabila terdapat salah satu dari hasil pemeriksaan berikut: Tingkat HbA1c 6,5% atau lebih tinggi; Tingkat glukosa plasma puasa 126 mg / dL (7,0 mmol / L) atau lebih tinggi (tidak ada asupan kalori selama minimal 8 jam); Kadar glukosa plasma dua jam 11,1 mmol / L atau 200 mg / dL atau lebih tinggi selama OGTT 75-g; Glukosa plasma acak 11,1 mmol / L atau 200 mg / dL atau lebih tinggi pada pasien dengan gejala hiperglikemia (poliuria, polidipsia, polifagia, penurunan berat badan) atau krisis hiperglikemik (Sapra & Bhandari, 2023).

Sebuah laporan menarik menyebutkan bahwa dua pertiga orang dewasa tidak mengakui diabetes sebagai faktor risiko utama penyakit jantung. Laporan yang disusun berdasarkan survey di 50 negara-negara yang berpenghasilan tinggi dan menengah ini mengungkapkan bahwa kesadaran masyarakat dunia akan dampak diabetes terhadap penyakit jantung ternyata masih sangat kurang (Chaudhary et al, 2024).

Secara rinci laporan menyebutkan bahwa jumlah responden sebanyak 48.988 individu (50,8% laki-laki) dari 50 negara yang mewakili enam wilayah WHO. Negara-negara tersebut meliputi 29 negara berpenghasilan tinggi, 12 negara berpenghasilan menengah ke atas, sembilan negara berpenghasilan menengah ke bawah, dan nol negara berpenghasilan rendah. Sebanyak 15.747 (32,1%) responden survei dengan benar mengidentifikasi diabetes sebagai faktor risiko utama penyakit jantung. Kesadaran serupa di antara pria dan wanita (32,3% vs 31,9%) tetapi meningkat seiring bertambahnya usia (dari 30,0% pada responden usia 18-24 tahun menjadi 36,1% pada responden usia >65 tahun). Kesadaran bervariasi menurut negara, mulai dari 7,4% di Slovenia hingga 47,3% di Lithuania. Ada juga perbedaan mencolok oleh wilayah geografis WHO; kesadaran terendah di wilayah Pasifik Barat (23,8%) dan tertinggi di Amerika (36,5%). Hasil survei menunjukkan bahwa negara-negara yang berpenghasilan tinggi memiliki tingkat kesadaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara yang berpenghasilan menengah ke bawah dan menengah ke atas (Chaudhary et al, 2024). Sebaran survei dapat dilihat pada gambar di bawah:


Temuan ini mengkhawatirkan dalam konteks peningkatan diabetes yang diproyeksikan secara substansial selama 25 tahun mendatang, mengingat bahwa mengenali hubungan antara diabetes dan penyakit jantung mungkin penting untuk investasi individu dan sistemik dalam pencegahan primer. Oleh karena itu, temuan ini menggarisbawahi perlunya upaya bersama untuk meningkatkan kesadaran publik tentang faktor risiko utama penyakit kardiovaskuler. Rendahnya kesadaran di kalangan orang dewasa usia kerja yang terlihat dalam survei tersebut adalah penyebab khusus yang perlu dikhawatirkan, karena risiko kardiovaskular meningkat pesat pada kelompok ini, dan mereka dapat memperoleh manfaat besar dari upaya pencegahan (Chaudhary et al, 2024).


Referensi:
  1. Richard S. Chaudhary, Melanie B. Turner, Laxmi S. Mehta, Nora M. Al-Roub, Sidney C. Smith, Dhruv S. Kazi; Low Awareness of Diabetes as a Major Risk Factor for Cardiovascular Disease in Middle- and High-Income Countries. Diabetes Care 23 February 2024; 47 (3): 379–383. https://doi.org/10.2337/dc23-1731
  2. Sapra A, Bhandari P. Diabetes. [Updated 2023 Jun 21]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK551501/