25 December 2023

Potensi Antikanker Wortel

 


Sebuah meta-analisis dari 80 studi kohort prospektif yang dipimpin oleh Kirsten Brandt dari Newcastle University mengungkapkan bahwa konsumsi wortel dikaitkan dengan penurunan 10% - 20% risiko berbagai jenis kanker. Studi ini mencakup beragam wilayah geografis, jenis paparan, dan varietas kanker. Penelitian ini melibatkan 50 studi kohort prospektif, yang terdiri dari kanker seperti payudara, kolorektal, paru-paru, prostat, dll.

Studi tersebut mempertimbangkan asupan wortel dalam frekuensi makanan dan kadar alfa-karoten dalam plasma. Khususnya, asupan beta-karoten dari wortel. Temuan menunjukkan bahwa asupan wortel dalam 52.000 kasus kanker menunjukkan pengurangan risiko relatif 10%, sementara kadar plasma alfa-karoten pada 9.331 kasus kanker menunjukkan pengurangan 20%.

Studi ini menetapkan hubungan dosis-respons linier yang signifikan, menunjukkan bahwa satu porsi wortel per minggu menurunkan risiko kanker sebesar 4±2%, dan lima porsi per minggu menyebabkan pengurangan 20±10%. Para penulis menekankan hubungan terbalik yang kuat antara konsumsi wortel dan risiko kanker, merekomendasikan dorongan konsumsi wortel dan penyelidikan lebih lanjut dari mekanisme kausal melalui uji klinis acak.

Referensi

Ojobor CC, O'Brien GM, Siervo M, Ogbonnaya C, Brandt K. Carrot intake is consistently negatively associated with cancer incidence: A systematic review and meta-analysis of prospective observational studies. Crit Rev Food Sci Nutr. Published online December 17, 2023. doi:10.1080/10408398.2023.2287176

24 December 2023

Analisis Faktor


Analisis faktor (factor analysis) adalah salah satu teknik statistik multivariat yang digunakan untuk meringkas atau mereduksi variabel amatan secara keseluruhan menjadi beberapa variabel atau dimensi baru, akan tetapi variabel atau dimensi baru yang terbentuk tetap mampu merepresentasikan variabel utama.

Analisis faktor bertujuan untuk menemukan faktor-faktor yang mendasari hubungan antara variabel-variabel yang diteliti. Faktor-faktor ini disebut sebagai faktor laten. Faktor laten tidak dapat diamati secara langsung, tetapi dapat diwakili oleh variabel-variabel yang diteliti.

Analisis faktor dapat digunakan untuk berbagai tujuan, antara lain:

  1. Untuk mengurangi dimensi data, sehingga data menjadi lebih mudah untuk dianalisis.
  2. Untuk memahami struktur hubungan antara variabel-variabel.
  3. Untuk mengembangkan teori atau hipotesis baru.

Analisis faktor terdiri dari dua jenis, yaitu exploratory analysis factor (EFA) dan confirmatory analysis factor (CFA).

  1. EFA digunakan untuk menemukan faktor-faktor laten yang baru, yaitu faktor-faktor yang belum diketahui sebelumnya.
  2. CFA digunakan untuk menguji hipotesis tentang struktur hubungan antara variabel-variabel, berdasarkan faktor-faktor laten yang telah diketahui.

Contoh penggunaan analisis faktor:

Penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan

Seorang peneliti ingin mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan terhadap sebuah produk atau layanan. Penelitian ini melibatkan beberapa variabel, seperti kualitas produk, kualitas layanan, harga, dan kenyamanan.

Data penelitian dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan kepada pelanggan. Kuesioner tersebut berisi pertanyaan-pertanyaan yang mengukur variabel-variabel yang diteliti.

Analisis faktor eksploratori (EFA) digunakan untuk menemukan faktor-faktor laten yang mendasari hubungan antara variabel-variabel tersebut. Hasil analisis faktor menunjukkan bahwa ada tiga faktor laten yang mempengaruhi kepuasan pelanggan, yaitu:

  1. Faktor 1: Kualitas produk
  2. Faktor 2: Kualitas layanan
  3. Faktor 3: Harga dan kenyamanan

Faktor 1 mewakili aspek kualitas produk, yang terdiri dari variabel-variabel seperti:

  • Kesesuaian produk dengan kebutuhan pelanggan
  • Keandalan produk
  • Daya tahan produk

Faktor 2 mewakili aspek kualitas layanan, yang terdiri dari variabel-variabel seperti:

  • Keramahtamahan karyawan
  • Kecepatan layanan
  • Kemudahan mendapatkan layanan

Faktor 3 mewakili aspek harga dan kenyamanan, yang terdiri dari variabel-variabel seperti:

  • Harga yang wajar
  • Kenyamanan dalam menggunakan produk atau layanan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas produk, kualitas layanan, dan harga serta kenyamanan merupakan faktor-faktor yang penting dalam mempengaruhi kepuasan pelanggan.

Langkah-langkah Analisis Faktor 

 Analisis faktor terdiri dari empat langkah utama, yaitu:

1. Menyusun matriks korelasi

Langkah pertama adalah menyusun matriks korelasi antar variabel-variabel yang diteliti. Matriks korelasi ini akan digunakan untuk mengekstrak faktor-faktor yang mendasari hubungan antara variabel-variabel tersebut. Matriks korelasi dapat disusun dengan menggunakan berbagai program statistik, seperti SPSS, SAS, atau R.

Dalam menyusun matriks korelasi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu 1) skala pengukuran variabel-variabel yang diteliti harus interval atau rasio dan 2) jumlah sampel yang digunakan harus cukup memadai.

2. Uji Keberlanjutan Data

Sebelum mengekstraksi faktor perlu dilakukan uji keberlanjutan data dengan uji KMO (Kaiser-Meyer-Olkin) dan uji Bartlett. KMO mengukur kesesuaian data untuk analisis faktor, sementara uji Bartlett menguji asumsi bahwa matriks korelasi tidak sama dengan matriks identitas.

3. Ekstraksi faktor

Langkah ketiga adalah mengekstrak faktor-faktor dari matriks korelasi. Ada beberapa metode ekstraksi faktor yang dapat digunakan, antara lain:

  • Principal component analysis (PCA)
  • Maximum likelihood (ML)
  • Unweighted least squares (ULS)

Metode ekstraksi faktor yang digunakan akan mempengaruhi jumlah faktor yang dihasilkan.

Merotasi faktor

Langkah keempat adalah merotasi faktor-faktor yang telah diekstrak. Rotasi faktor dilakukan untuk meningkatkan interpretabilitas faktor-faktor tersebut.

Ada beberapa metode rotasi faktor yang dapat digunakan, antara lain:

  1. Orthogonal rotation menghasilkan faktor-faktor yang saling tegak lurus. Metode rotasi faktor ini sering digunakan jika faktor-faktor yang dihasilkan akan digunakan untuk tujuan analisis selanjutnya, seperti analisis regresi atau analisis diskriminan.
  2. Oblique rotation menghasilkan faktor-faktor yang saling beririsan. Metode rotasi faktor ini sering digunakan jika faktor-faktor yang dihasilkan akan digunakan untuk interpretasi langsung.

Metode rotasi faktor yang digunakan akan mempengaruhi interpretasi faktor-faktor tersebut.

Menginterpretasi faktor

Langkah keempat adalah menginterpretasi faktor-faktor yang telah diekstrak dan dirotasi. Interpretasi faktor-faktor ini dilakukan dengan mempertimbangkan nama variabel-variabel yang termuat dalam faktor tersebut. Variabel-variabel yang memiliki korelasi yang tinggi dengan faktor yang sama dapat dianggap mewakili aspek yang sama.

Berikut adalah beberapa tips untuk menginterpretasi faktor:

  1. Lihatlah nama variabel-variabel yang termuat dalam faktor. Variabel-variabel yang memiliki nama yang mirip atau berkaitan erat kemungkinan besar mewakili aspek yang sama.
  2. Lihatlah nilai korelasi antara variabel-variabel dengan faktor. Variabel-variabel yang memiliki korelasi yang tinggi dengan faktor kemungkinan besar mewakili aspek yang sama.
  3. Gunakan pengetahuan teoritis untuk menginterpretasi faktor. Jika memungkinkan, gunakan pengetahuan teoritis untuk mengkonfirmasi interpretasi faktor yang telah dilakukan.

Analisis faktor merupakan teknik statistik yang powerful yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Namun, analisis faktor juga memiliki beberapa keterbatasan, antara lain:

  1. Analisis faktor dapat menghasilkan interpretasi yang berbeda-beda, tergantung pada bagaimana data dianalisis.
  2. Analisis faktor dapat menghasilkan faktor-faktor yang tidak bermakna secara teoritis.

Oleh karena itu, penting untuk menggunakan analisis faktor dengan hati-hati dan memperhatikan keterbatasannya.

Referensi

  1. Analisis Faktor. https://statik.unesa.ac.id/profileunesa_konten_statik/uploads/geofish/file/e1e9b987-a945-43d6-8cb0-d59370e93237.pdf
  2. Kusno, K. (2019). Intisari Teknik Analisis Faktor.  Unpad Press


02 December 2023

Cerita Antropomorfis 1: Air Ajaib

 


Di hutan yang lebat dan penuh kehidupan, hiduplah sekelompok hewan yang saling akrab. Mereka tinggal bersama di sebuah padang rumput hijau yang luas. Di antara mereka ada Beruang, Harimau, dan Kura-kura yang menjadi sahabat tak terpisahkan.

Suatu hari, mereka mendengar tentang "Air Ajaib" yang konon dapat memberikan keabadian. Rasa ingin tahu mereka pun memuncak, dan tanpa ragu, ketiganya memutuskan untuk mencari Air Ajaib tersebut. Perjalanan pun dimulai.

Selama perjalanan mencari Air Ajaib, Beruang, Harimau, dan Kura-kura tidak bisa menghindari berbagai konflik dan rintangan yang muncul di antara mereka. Saat melintasi hutan, mereka kehilangan arah dan sempat tersesat. Beruang, yang mudah emosi, marah kepada Harimau dan menyalahkan kecepatannya yang tidak membantu dalam situasi tersebut.

Di samping itu, mereka juga harus melintasi sungai yang deras dan dalam. Kura-kura merasa tertinggal dan kesulitan menyesuaikan diri dengan kecepatan Beruang dan Harimau. Konflik pun terjadi ketika Harimau merasa kesal karena merasa ditahan oleh kecepatan Kura-kura.

Namun, di tengah-tengah konflik tersebut, mereka mulai menyadari bahwa saling berbeda adalah kekuatan mereka. Beruang belajar untuk lebih sabar dari Kura-kura, Harimau menghargai ketenangan dan keberanian Kura-kura, sedangkan Kura-kura memperoleh keberanian dan semangat dari teman-temannya. Konflik tersebut membuat mereka lebih kuat dan bersatu. 

Saat mereka tiba di puncak gunung, mereka menemukan air terjun yang cantik dan memancarkan aura magis. Namun, mereka tidak lagi menginginkannya. Mereka membaca tulisan di batu besar dengan penuh makna, "Hidup yang Abadi adalah Hidup yang Dijalani dengan Penuh Makna." Mereka tersenyum satu sama lain, merangkul perbedaan mereka, dan memahami bahwa kehidupan yang penuh makna tidak selalu bebas dari konflik. Konflik adalah bagian dari perjalanan, dan penting untuk mengatasi perbedaan dengan kerjasama dan pengertian.

Mereka sadar bahwa keabadian sejati bukanlah dalam mencari sesuatu yang abadi, tetapi dalam cara mereka menjalani hidup mereka. Beruang, dengan kekuatannya, belajar untuk lebih sabar dan bijaksana. Harimau, dengan kecepatannya, belajar untuk lebih menghargai perlahan dan meresapi momen. Kura-kura, dengan kelambatannya, belajar untuk lebih berani dan bergerak maju.

Mereka kembali ke rumah mereka dengan pemahaman baru tentang arti kehidupan. Mereka menyadari bahwa keabadian sejati bukanlah tujuan akhir, tetapi bagaimana kita menjalani setiap hari dengan penuh makna dan nilai.

Hikmah Cerita

Cerita ini mengajarkan kita bahwa hidup adalah perjalanan yang berharga, dan setiap pengalaman memberikan pelajaran berharga. Keabadian sejati tidak terletak pada lamanya hidup, tetapi pada cara kita menjalani hidup tersebut. Nilai-nilai seperti kerjasama, kesabaran, kebijaksanaan, kecepatan, dan keberanian adalah kunci untuk menjalani hidup dengan penuh makna.


29 November 2023

Cara Menulis Berita

 


Membuat berita tentang suatu kegiatan melibatkan beberapa langkah penting untuk memastikan bahwa informasi disajikan dengan jelas dan informatif. Berikut adalah panduan umum untuk membuat berita tentang suatu kegiatan:

Judul (Headline):

  1. Buat judul yang menarik perhatian pembaca.
  2. Gunakan kata-kata yang ringkas namun informatif.
  3. Sertakan unsur penting dari kegiatan tersebut.

Pendahuluan (Lead):

  1. Tulis pendahuluan yang singkat dan padat.
  2. Jawab pertanyaan dasar seperti siapa, apa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana.
  3. Gunakan gaya penulisan yang menarik untuk memikat pembaca.

Badan Berita:

  1. Susun informasi berdasarkan tingkat urgensi dan relevansinya.
  2. Gunakan gaya penulisan piramida terbalik, dengan informasi paling penting ditempatkan di bagian awal.
  3. Sertakan kutipan dari peserta atau saksi kegiatan untuk memberikan perspektif langsung.

Gaya Penulisan:

  1. Gunakan gaya penulisan yang objektif dan netral.
  2. Hindari penggunaan kata-kata berlebihan atau bersifat subjektif.
  3. Pastikan keakuratan fakta dan hindari asumsi.

Ilustrasi:

  1. Sertakan foto-foto yang mendukung berita.
  2. Deskripsikan gambar atau video yang dimasukkan dengan jelas.
  3. Gunakan caption yang informatif untuk setiap media visual.

Kutipan dan Pendapat:

  1. Masukkan kutipan dari peserta, tokoh penting, atau peserta kegiatan.
  2. Berikan variasi suara dan perspektif untuk memberikan keberagaman pada berita.

Detail Waktu dan Tempat:

  1. Sertakan detail waktu dan tempat kegiatan dengan jelas.
  2. Jelaskan konteks sejarah atau pentingnya lokasi tersebut jika perlu.

Kesimpulan:

  1. Ringkas kembali informasi utama.
  2. Berikan pembaca arah untuk mendapatkan informasi lebih lanjut jika ada.

Informasi Kontak:

  1. Masukkan informasi kontak untuk pertanyaan lebih lanjut.
  2. Sertakan alamat email atau nomor telepon yang dapat dihubungi.

Revisi dan Edit:

  1. Periksa tata bahasa, ejaan, dan struktur kalimat.
  2. Pastikan semua informasi yang disajikan akurat dan relevan.
  3. Mintalah feedback dari rekan atau editor jika mungkin.

Ingatlah untuk menjaga ketertiban dan kelogisan dalam penyajian informasi. Jangan lupa untuk menyesuaikan gaya penulisan dengan audiens yang dituju, dan pastikan untuk tetap netral dan objektif.

11 November 2023

Polkesma Juara Umum Lomba AIPVIKI 2023

 


Agenda sesi terakhir hari kedua Konggres Nasional II AIPVIKI adalah pengumuman lomba-lomba. Acara pengumuman lomba dimulai jam 20.00 hingga 22.30 WIB.  Meski acara semakin merangkak malam, namun suasana gedung konggres semakin semarak dengan ditampilkannya beberapa performa dari peserta konggres. 

Sebelumnya AIPVIKI telah merilis pengumuman lomba jauh-jauh hari. Setidaknya terdapat 5 macam lomba antara lain: lomba video inovasi perguruan tinggi, lomba menulis essay, lomba video edukasi, Lomba Prestasi Publikasi, dan lomba rekognisi prestasi mahasiswa. 

Baca juga: Konggres Nasional II AIPVIKI

Di akhir pengumuman, panitia lomba menobatkan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang (Polkesma) sebagai juara umum. Adapun raihan institusi tersebuat adalah sebagai berikut:

Kategori Dosen

  1. Juara 1 Essay dosen,  Andi Hayun, SST, MSc (Prodi D3 Keperawatan Blitar)
  2. Juara 3 Essay dosen, Agus Setyo Utomo, A, M.Kes  (Prodi D3 Keperawatan Malang)
  3. Juara Harapan 2 Essay dosen, Dr. Arief Bachtiar, S.Kep., Ns, M.Kep (Prodi STr Keperawatan Malang)
  4. Juara 2 video  edukasi, Dr. Dyah Widodo, SKp, M.Kes (Prodi D3 Keperawatan Malang)

Kategori Mahasiswa 

  1. Juara 1 video edukasi : Municha L Lutfiana (Prodi D3 Keperawatan Blitar)
  2. Juara 1 Rekognisi prestasi (Prodi STr Keperawatan Malang)
  3. Juara 2 Rekognisi prestasi (Prodi D3 Keperawatan Blitar)
  4. Juara 3 Rekognisi prestasi (Prodi D3 Keperawatan Malang)

Kategori Prodi peyelenggara pendidikan

  1. Institusi lulus ukom 100% kategori GOLD : Prodi D3 Keperawatan Blitar
  2. Institusi lulus ukom 100% kategori SILVER : Prodi D3 Keperawatan  Ponorogo
  3. Juara 3 lomba inovasi kategori Pengabdian Masyarakat : Prodi D3 Keperawatan Blitar 
Luar biasa, semoga Polkesma jaya selalu!


10 November 2023

Konggres Nasional II AIPVIKI


Mulai hari Kamis, 9 November 2023, Asosiasi Institusi Pendidikan Vokasi Keperawatan Indonesia atau yang lebih dikenal AIPVIKI melaksanakan Konggres Nasional (Konas) II di hotel Movenvick jl. Ahmad Yani Wonocolo Surabaya. Konas II digelar hingga hari Sabtu, 11 November 2023. Kegiatan ini diikuti oleh Penasihat AIPVIKI, Dewan Pengawas, Pengurus Pusat, Pengrurus Harian AIPVIKI Regional dan seluruh anggota AIPVIKI dari seluruh Indonesia. 

Konas II AIPVIKI 2023 mengambil tema "Satukan visi, selaraskan langkah untuk mewujudkan lulusan pendidikan tinggi vokasi keperawatan yang profesional dan berdaya saing global." 

Berbagai kegiatan yang akan digelar pada acara Konas II ini, mulai dari kegiatan seminar, rapat atau sidang, penampilan budaya, hingga penanyangan dan pengumuman lomba-lomba yang diselenggarakan AIPVIKI. 

Baca juga: Polkesma Juara Umum Lomba AIPVIKI 2023

Kegiatan seminar mengusung tema "Adaptasi penyelenggaraan pendidikan tinggi vokasi keperawatan Indonesia pasca lahirnya UU no. 17 tahun 2023 tentang Kesehatan dan Permendikbudristek  no. 53 tahun 2023 Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi." Beberapa paparan menarik disajikan meliputi:

  1. Transformasi Standar Nasional dan Akreditasi Pendidikan Tinggi oleh Dirjendikti Vokasi Kemendikbud RI
  2. Transformasi Kesehatan dan kaitannya dengan  Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi Vokasi Keperawatan oleh Dirjen Tenaga Kesehatan Kemenkes RI
  3. Pergeseran Peran dan Eksistensi Organisasi Profesi pasca Undang Undang nomor 17 tahun 2023 tentang Kesehata oleh Staf Ahli Menteri Bidang Hukum
  4. Peran dan Tanggung jawab Konsil  Keperawatan dan Kolegium Keperawatan terhadap pendidikan keperawatan pasca Undang Undang nomor 17 tahun 2023 tentang Kesehatan oleh Ketua Konsil Keperawatan Indonesia, dan 
  5. Strategi Pendidikan Tinggi Vokasi Keperawatan mengadaptasi Undang Undang no 17 tahun 2023 tentang Kesehatan dan Permendikbudristek nomor 53 tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi

Agenda terpenting dari Konas II pada hari kedua adalah pemilihan Ketua Pengurus AIPVIKI yang baru. Proses pemilihan ketua baru berlangsung pada siang hingga sore hari. Terdapat tiga orang calon ketua yang diusulkan melalui pengurus regional yaitu 1) Ibu Pramita Iriana, 2) Bpk Puguh, dan 3) Bpk Yusran. Proses pemilihan dilakukan melalui pemungutan suara dan berlangsung lancar hingga perhitungan perolehan suara. Setelah Penghitungan terpilih Ibu Pramita sebagai ketua baru. Saat itu juga beliau dilantik oleh ketua sidang sebagai ketua AIPVIKI yang baru.



   

04 November 2023

Skala Bromage

 

Image by macrovector on Freepik

Selain aldrete score, pemulihan pasca anestesi khususnya anestesi regional sering diukur dengan skala Bromage. Skala Bromage menilai intensitas blokade motorik berdasarkan kemampuan pasien menggerakkan ekstremitas bawah (Karnina et al, 2022). 

Scala Bromage adalah sistem penilaian yang digunakan dalam bidang anestesi untuk mengukur tingkat blokade motorik yang dihasilkan oleh anestesi spinal atau epidural. Sistem penilaian ini dibuat oleh seorang ahli anestesi bernama Peter J.D. Bromage pada tahun 1978. Tujuan dari Scala Bromage adalah untuk mengukur sejauh mana pergerakan dan kekuatan otot-otot ekstremitas bawah terpengaruh oleh anestesi regional seperti spinal atau epidural.

Scala Bromage terdiri dari empat tingkat penilaian yang digunakan untuk menggambarkan tingkat blokade motorik. Berikut adalah deskripsi dari masing-masing tingkatnya:

  1. Nol (0): Tidak ada gangguan motorik. Pasien dapat melakukan gerakan penuh di ekstremitas bawah.
  2. Tertentu (1): Pasien dapat fleksi lutut, tetapi tidak dapat mengangkat kaki lurus saat berbaring.
  3. Beberapa (2): Pasien hanya dapat merentangkan kaki saat berbaring, tetapi tidak dapat mengangkatnya dari tempat tidur. 
  4. Total (3): Pasien tidak dapat melakukan gerakan motorik apa pun di ekstremitas bawah. Kaki tetap lemas.
Skala bromage untuk blok motor yang dihasilkan dari anestesi neuraxial (Yentis et al, 2020)

Scala Bromage membantu anestesiologis untuk mengukur dan memantau tingkat blokade motorik yang diinginkan saat melakukan anestesi spinal atau epidural. Tingkat blokade motorik yang dipilih akan tergantung pada jenis operasi, kebutuhan analgesia, dan preferensi klinis. Dengan menggunakan Scala Bromage, anestesiologis dapat merencanakan dan mengelola anestesi dengan lebih tepat sesuai dengan kebutuhan pasien.

Referensi

  1. Karnina, R., Rahayu, N. S., & Faruk, M. (2022). Factors influencing Bromage score in post-spinal anesthesia patients. Bali Medical Journal, 11(3), 1146-1150.
  2. Yentis, S. M., Lucas, D. N., Brigante, L., Collis, R., Cowley, P., Denning, S., ... & Gibson, A. (2020). Safety guideline: neurological monitoring associated with obstetric neuraxial block 2020: a joint guideline by the Association of Anaesthetists and the Obstetric Anaesthetists’ Association. Anaesthesia, 75(7), 913-919.

23 October 2023

Teknik Instrumentasi AV Shunt/AV Fisfula

 

Image by vectorpouch on Freepik

Materi Kuliah Keperawatan Perioperatif II:










22 October 2023

Introduction to the System Theory and It's Application into the Nursing Practice

 

Image by freepik

The material of nursing theory and philosophy on Monday, October 23rd 2023 can be seen below: 


12 October 2023

Konstipasi

 

Image by master1305 on Freepik

Konstipasi (sembelit) adalah jarangnya buang air besar atau kesulitan dalam buang air besar (Jani & Marsicano, 2018). Tim Pokja SDKI DPP PPNI (2017) mendefinisikan konstipasi sebagai penurunan defekasi normalyang disertai pengeluaran feses sulit dan tidak tuntas serta feses kering dan banyak. Prevalensi konstipasi adalah 15% pada populasi umum dengan rasio perempuan lebih tinggi daripada laki-laki, serta prevalensi yang lebih tinggi pada lansia terutama di atas 65 tahun. Penyakit ini menimbulkan beban ekonomi yang besar terkait dengan biaya perawatan kesehatan langsung dan biaya tidak langsung (Jani & Marsicano, 2018).

Etiologi

Penyebab konstipasi bervariasi dan biasanya dibagi dalam dalam dua kategori yaitu penyebab primer dan sekunder. Penyebab primer biasanya disebabkan oleh transit normal (disebut juga konstipasi fungsional), transit lambat dan obstruksi pelepasan (Andrews, & Storr, 2011). Sementara itu penyebab sekunder dapat dibagi menjadi kategori sebagai berikut:

  1. Penyebab anatomi termasuk stenosis anal atau atresia, anus yang dipindahkan secara anterior, anus imperforata, striktur usus, striktur anal.
  2. Penyebab otot-otot abnormal terkait termasuk sindrom perut prune, gastroschisis, sindrom down, distrofi otot.
  3. Penyebab terkait kelainan saraf usus termasuk penyakit Hirschsprung, pseudo-obstruksi, displasia neuronal usus, cacat sumsum tulang belakang, tali tambat, spina bifida
  4. Obat-obatan seperti antikolinergik, narkotika, antidepresan, timbal, keracunan vitamin D.
  5. Penyebab metabolik dan endokrin seperti hipokalemia, hiperkalsemia, hipotiroidisme, diabetes mellitus (DM), atau diabetes insipidus.
  6. Penyebab lain termasuk penyakit celiac, cystic fibrosis, alergi protein susu sapi, penyakit radang usus, skleroderma, antara lain (Diaz, Bittar, & Mendez, 2023).

Tanda dan Gejala

Berbagai gejala termasuk tinja yang keras, mengejan, sensasi penyumbatan di daerah anus, evakuasi yang tidak sempurna, ketidaknyamanan perut, dan kembung. 

Kondisi Klinis Terkait

Beberapa kondisi klinis berikut sering berhubungan dengan terjadinya konstipasi: 1) Lesi/cedera pada medula Spinalis, 2) Spina bifida, 3) Stroke, 4) Sklerosis multipel, 5) Penyakit Parkinson, 6) Demensia, 7) Hiperparatiroidisme, 8) Hipoparatiroidisme, 9) Ketidakseimbangan elektrolit, 10) Hemoroid, 11) Obesitas, 12) Pasca operasi obstruksi bowel, 13) Kehamilan, 14) Pembesaran prostat, 15) Abses rektal, 16) Fisura anorektai, 17) Striktura anorektal, 18. Prolaps rektal, 19) Ulkus rektal, 20) Rektokel, 21) Tumor, 22)  penyakit Hirschsprung, 23) Impaksi feses.

Intervensi Keperawatan

Tindakan keperawatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi pasien dengan konstipasi antara lain (Bulechek, 2013):
  • Pantau tanda dan gejala sembelit
  • Pantau tanda dan gejala impaksi
  • Pantau gerakan usus, termasuk frekuensi, konsistensi, bentuk, volume, dan warna, sesuai yang sesuai
  • Pantau suara usus
  • Konsultasikan dengan dokter tentang penurunan/peningkatan frekuensi suara usus
  • Pantau tanda dan gejala robekan usus dan/atau peritonitis
  • Jelaskan etiologi masalah dan dasar tindakan kepada pasien
  • Identifikasi faktor (misalnya, obat-obatan, istirahat di tempat tidur, dan diet) yang dapat menyebabkan atau berkontribusi terhadap sembelit
  • Terapkan jadwal buang air besar, jika sesuai
  • Dorong peningkatan asupan cairan, kecuali jika ada kontraindikasi
  • Evaluasi profil obat untuk efek samping gastrointestinal
  • Instruksikan pasien/keluarga untuk mencatat warna, volume, frekuensi, dan konsistensi tinja
  • Ajarkan pasien/keluarga cara membuat catatan makanan
  • Instruksikan pasien/keluarga tentang diet tinggi serat, jika sesuai
  • Instruksikan pasien/keluarga tentang penggunaan yang tepat dari pencahar
  • Instruksikan pasien/keluarga tentang hubungan diet, olahraga, dan asupan cairan dengan sembelit/impaksi
  • Evaluasi catatan asupan untuk kandungan gizi
  • Sarankan pasien untuk berkonsultasi dengan dokter jika sembelit atau impaksi berlanjut
  • Sarankan penggunaan pencahar/pelembut tinja, jika sesuai
  • Informasikan pasien tentang prosedur pengangkatan tinja secara manual, jika diperlukan
  • Angkat impaksi tinja secara manual, jika diperlukan
  • Berikan enema atau irigasi, jika perlu
  • Timbang pasien secara berkala
  • Ajarkan pasien atau keluarga tentang proses pencernaan normal
  • Ajarkan pasien/keluarga tentang kerangka waktu untuk pemulihan sembelit

Referensi

  1. Andrews, C. N., & Storr, M. (2011). The pathophysiology of chronic constipation. Canadian journal of gastroenterology = Journal canadien de gastroenterologie, 25 Suppl B(Suppl B), 16B–21B.
  2. Bulecheck et al (2013). Nursing Intervesions Classification, Sixth Edition. Elsevier.
  3. Diaz S, Bittar K, Mendez MD. Constipation. [Updated 2023 Jan 31]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK513291/
  4. Jani, B., & Marsicano, E. (2018). Constipation: Evaluation and Management. Missouri medicine, 115(3), 236–240.
  5. Sharma, A., & Rao, S. (2017). Constipation: Pathophysiology and Current Therapeutic Approaches. Handbook of experimental pharmacology, 239, 59–74. https://doi.org/10.1007/164_2016_111
  6. Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, Definisi dan Indikator Diagnostik. DPP PPNI.

11 October 2023

Amsterdam Preoperative anxiety and Information Scale (APAIS)



APAIS merupakan alat penilaian yang digunakan dalam konteks perawatan medis untuk mengukur tingkat kecemasan atau kegelisahan seorang pasien sebelum menjalani prosedur operasi. Instrumen ini dikembangkan oleh beberapa peneliti antara lain Moerman N, Dam van F, Boulogne-Abraham T, Hooff van M dan disampaikan dalam sebuah Prosiding Konggres Anestesiologi Eropa ke-9 di Jerusalem, Israel pada tahun 1994 (Moerman et al, 1996).

Instrumen ini sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan memiliki hasil uji validasi dan uji reliabilitas yang sangat baik, baik versi asli maupun versi-versi negara yang telah menerjemahkannya seperti Perancis, Jerman, Italia, Jepang, China, Spanyol (Maurice-Szamburski et al, 2013;  Berth et al, 2007; Buonanno et al, 2017; Nishimori et al, 2002; Wu et al, 2020). Termasuk versi Indonesia (Firdaus, 2014).

Instrumen ini sangat singkat, terdiri dari 6 item pertanyaan, 3 item terkait dengan anestesi dan 3 item sisanya terkait dengan tindak pembedahan (Moerman et al, 1996). Masing-masing item diukur dengan skala likert 1-5 yang menggambarkan tingkatan mulai dari "tidak sama sekali" hingga "sangat". Item-item pernyataan yang ada di APAIS dapat dilihat pada tabel di bawah:

dikutip dari Moerman et al, (1996)

Item pernyataan APAIS sesungguhnya tidak hanya menggambarkan kecemasan pasien preoperatif. Namun juga menggambarkan kebutuhan informasi terkait dengan tindakan operasi. Berikut item-item pertanyaan APAIS yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (Gunawan, 2022):

  1. Saya takut dibius
  2. Saya terus menerus memikirkan pembiusan
  3. Saya ingin tahu sebanyak mungkin tentang pembiusan
  4. Saya takut di operasi
  5. Saya terus menerus memikirkan tentang operasi
  6. Saya ingin tahu sebanyak mungkin tentang operasi

Pernyataan no 1,2,4, dan 5 menggambarkan kecemasan. Sedangkan 3 dan 6 menggambarkan kebutuhan informasi. Oleh karena itu, perlu diperhatikan cara mengolah data dari instrumen ini khususnya jika seorang perawat ingin menggunakannya sebagai metode menentukan tingkat cemas pasien preoperatif. Dalam artikelnya Moerman et al (1996) mengatakan bahwa skala kecemasan mencakup pernyataan no 1,2,4, dan 5. Masing-masing diskor 1-5. Skor skala ansietas adalah penjumlahan dari keempat item pernyataan dengan range skor mulai 4 hingga 20. 

Referensi

  1. Berth, H., Petrowski, K., & Balck, F. (2007). The Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS)-the first trial of a German version. GMS Psycho-Social Medicine, 4.
  2. Buonanno, P., Laiola, A., Palumbo, C., Spinelli, G., Terminiello, V., & Servillo, G. (2017). Italian validation of the amsterdam preoperative anxiety and information scale. Minerva anestesiologica, 83(7), 705-711.
  3. Firdaus, M. F. (2014). Uji Validitas Konstruksi dan Reliabilitas Instrumen The Amsterdam Preoperative Anxiety And Information Scale (APAIS) Versi Indonesia (Thesis). Universitas Indonesia.
  4. Gunawan, D. (2022). APAIS (Amsterdam Preoperative anxiety and Information Scale), Skrining ansietas pada pasien Pre-operasi. Kementerian Kesehatan Ditjen Nakes. https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/354/apais-amsterdam-preoperative-anxiety-and-information-scale-skrining-ansietas-pada-pasien-pre-operasi. Diakses pada: 11 Oktober 2023.  
  5. Moerman, Nelly MD; van Dam, Frits S. A. M. PhD; Muller, Martin J. MA; Oosting, Hans PhD. The Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS). Anesthesia & Analgesia 82(3):p 445-451, March 1996.
  6. Maurice-Szamburski, A., Loundou, A., Capdevila, X., Bruder, N., & Auquier, P. (2013). Validation of the French version of the Amsterdam preoperative anxiety and information scale (APAIS). Health and quality of life outcomes, 11(1), 1-7.
  7. Nishimori, M., Moerman, N., Fukuhara, S., Van Dam, F. S. A. M., Muller, M. J., Hanaoka, K., & Yamada, Y. (2002). Translation and validation of the Amsterdam preoperative anxiety and information scale (APAIS) for use in Japan. Quality of Life Research, 11, 361-364.
  8. Vergara-Romero, M., Morales-Asencio, J. M., Morales-Fernández, A., Canca-Sanchez, J. C., Rivas-Ruiz, F., & Reinaldo-Lapuerta, J. A. (2017). Validation of the Spanish version of the Amsterdam preoperative anxiety and information scale (APAIS). Health and quality of life outcomes, 15, 1-10.
  9. Wu, H., Zhao, X., Chu, S., Xu, F., Song, J., Ma, Z., & Gu, X. (2020). Validation of the Chinese version of the Amsterdam preoperative anxiety and information scale (APAIS). Health and Quality of Life Outcomes, 18, 1-6.

03 October 2023

Rapat Kerja Senat Polkesma 2023




Rapat Kerja Senat Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang (Raker SP Polkesma) tahun 2023 pada hari senin hingga rabu tanggal 2 - 4 Oktober 2023 merupakan raker pertama kali bagi anggota senat periode 2022-2026. Anggota SP Polkesma periode ini terdiri dari 39 Anggota yang ditetapkan dalam SK Ditjen Nakes dengan nomor  HK.02.02/F/1142/2023 tertanggal 31 Mei 2023. Anggota terdiri dari unsur ex officio dan perwakilan dosen dari enam jurusan di Polkesma. 

Raker dilaksanakan di Kampus 3 Polkesma tepatnya berada Jl. DR. Sutomo No.56, Bendogerit, Kec. Sananwetan, Kota Blitar. Tiga puluh satu anggota hadir secara luring dan 8 orang secara daring. 

Dalam sambutannya, Direktur Polkesma Bpk. Dr. Moch Wildan, APerPen, MPd, menyampaikan beberapa poin penting yang berkaitan dengan transformasi bidang kesehatan dimana Polkesma, sesuai arahan Ditjen Nakes, akan berfokus pada Sentral Unggulan Poltekkes (SUP) "Diabetes Mellitus." Oleh karena itu diharapkan senat yang baru terbentuk bisa mengawal perubahan tersebut. 

Sementara itu, ketua SP Bpk. Budi Susatia, SKp, M.Kes menyampaikan sambutannya bahwa SP saat ini berbeda dengan sebelumnya, dimana ketua senat terdahulu adalah direktur. Saat ini ketua senat, sesuai dengan Statuta Polkesma dijabat oleh perwakilan dosen yang dipilih oleh anggota senat. Beliau berharap dengan pemisahan ini maka tugas dan fungsi senat yang terdiri dari penetapan kebijakan akademik, pemberian pertimbangan, dan fungsi pengawasan bisa berjalan dengan baik dan dapat mengawal transformasi Polkesma ke depan.

Rapat diawali dengan pembahasan tatib rapat kemudian dilanjutkan dengan rapat paripurna membahas peraturan SP hingga selesai pada sore hari. Rapat dilanjutkan besok dengan agenda mendengarkan paparan Prof Dr. Khayan, SKM, M.Kes, direktur Poltekkes Kemenkes Banten tentang kiat meraih guru besar dan tugas dan fungsi senat perguruan tinggi.    

26 September 2023

Angkat Janji Mahasiswa STr Keperawatan Tahun 2023

Capping day merupakan tradisi akademik yang dilakukan oleh perguruan-perguruan tinggi keperawatan di Indonesia. Acara ini berupa pengambilan sumpah mahasiswa keperawatan yang akan memasuki pembelajaran praktik baik di rumah sakit ataupun di tempat-tempat layanan kesehatan lainnya.  

Acara ini sangat penting dilakukan oleh institusi penyelenggara pendidikan keperawatan karena dengan angkat sumpah ini para mahasiswa diharapkan memiliki tanggung jawab moral atas perilaku di tempat praktek. 

Acara Capping Day di Program Studi Sarjana Terapan Keperawatan (Prodi STr Kepma) dilaksanakan pada hari selasa tanggal 26 September 2023. Kegiatan dimulai jam 08.00 hingga jam 12.00 WIB dengan mengambil tema "Menyiapkan perawat profesional yang berdaya saing global di bidang keperawatan medikal bedah perioperatif." Acara dihadiri oleh Wadir 1 bidang akademik, kajur keperawatan, dan kaprodi STr Keperawatan Malang serta undangan yang terdiri dari para dosen Prodi STr dan perwakilan orang tua mahasiswa berprestasi. Adapun jumlah mahasiswa yang melaksanakan angkat sumpah sebanyak 151 mahasiswa terdiri dari 2 kelas reguler dan 1 kelas RKI. 

Dalam sambutannya, Wadir 1 menyampaikan pentingnya mempersiapkan perawat yang saat ini belajar di Politeknik Kesehatan Malang (Polkesma) agar memiliki daya saing global. Lebih lanjut, Bu Nurul, panggilan lengkap dari Dr. T. Dra. Nurul Hakimah, SST, M.Kes selaku Wadir 1 menyampaikan bahwa Polkesma mendapat target untuk mengirim lulusannya ke negara Jepang. Oleh karena itu, berbagai aktivitas pembelajaran mulai pembelajaran di kelas, di laboratorium keperawatan, di lahan praktek baik rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya diharapkan mampu memberikan luaran pembelajaran yang diharapkan untuk bersaing di tingkat global.

Acara ini juga menghadirkan orasi ilmiah yang sangat menarik. Seolah melengkapi sambutan dari Wadir 1, Dr. Tri Anjaswarni, SKp, M.Kep dengan antusias memberikan banyak gambaran perawat profesional yang seharusnya. Dengan judul "Perawat Inovatif dan Profesional yang Beradab dan Berdaya Saing Global di Bidang Keperawatan Medikal Bedah Perioperatif" beliau menyampaikan kiat-kiat mahasiswa untuk meraih bekerja sebagai perawat profesional. Hal yang beliau tekankan adalah adab harus mendahului ilmu. Artinya ilmu adalah penting, namun berperilaku baik lebih penting dibandingkan dengan orang pintar.

Selesai sesi foto bersama, acara dilanjutkan dengan kesan dan pesan mahasiswa. Acara semakin mengharukan saat salah seorang mahasiswa membawakan lagu kenangan para mahasiswa yang lain memberikan bunga kepada dosen-dosen yang hadir pada acara itu sebagai ungkapan rasa terima kasih.  


   

22 September 2023

Analisis Bivariat dalam Penelitian Statistik

Image by pressfoto on Freepik

Analisis bivariat adalah salah satu metode penting dalam statistika yang digunakan untuk memahami hubungan antara dua variabel. Dalam artikel ini, kita akan menjelaskan apa itu analisis bivariat, mengapa itu penting dalam penelitian, dan bagaimana melaksanakannya dengan benar.

Baca juga: Penjelasan dan panduan praktis Analisis Bivariat dan Analisis Multivariat

Apa Itu Analisis Bivariat?

Analisis bivariat adalah teknik statistik yang digunakan untuk memeriksa hubungan atau perbedaan antara dua variabel. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi apakah ada hubungan atau ketergantungan antara dua variabel dan mengukur sejauh mana hubungan tersebut signifikan. Analisis bivariat dapat dilakukan dengan berbagai metode statistik, termasuk uji hipotesis, korelasi, dan regresi.

Mengapa Analisis Bivariat Penting?

Memahami Hubungan: Analisis bivariat membantu kita memahami bagaimana dua variabel saling berkaitan. Ini dapat membantu kita mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi satu sama lain.

Validasi Hipotesis: Analisis bivariat sering digunakan untuk menguji hipotesis penelitian. Dengan menentukan apakah ada hubungan statistik antara dua variabel, kita dapat memvalidasi atau menolak hipotesis yang diajukan.

Perencanaan Lanjutan: Hasil analisis bivariat dapat menjadi dasar untuk analisis statistik lanjutan, seperti analisis regresi, yang memungkinkan kita untuk memodelkan dan memprediksi hubungan antara variabel.

Cara Melakukan Analisis Bivariat:

Pilih Metode Statistik: Tentukan metode statistik yang sesuai untuk jenis data Anda dan tujuan analisis. Ini bisa berupa uji t atau uji chi-kuadrat untuk data kategoris, atau korelasi dan analisis regresi untuk data numerik.

Kumpulkan Data: Pastikan Anda memiliki data yang cukup untuk kedua variabel yang ingin Anda analisis. Data yang kurang dapat menghasilkan hasil yang tidak dapat diandalkan.

Analisis Statistik: Lakukan analisis statistik sesuai dengan metode yang dipilih. Ini melibatkan perhitungan statistik yang sesuai dan interpretasi hasil.

Visualisasi: Buat visualisasi data jika perlu, seperti grafik pencar (scatter plot) untuk data numerik atau tabel kontingensi untuk data kategoris.

Referensi

  1. Agresti, A., & Finlay, B. (2009). "Statistical Methods for the Social Sciences." Pearson.
  2. Field, A. (2013). "Discovering Statistics Using IBM SPSS Statistics." Sage.
  3. Hair, J. F., Black, W. C., Babin, B. J., & Anderson, R. E. (2018). "Multivariate Data Analysis." Pearson.


21 September 2023

Analisis Univariat dalam Penelitian Statistik

Image by Freepik

Dalam dunia penelitian statistik, analisis univariat adalah langkah awal yang penting dalam memahami dan merinci data. Dalam artikel ini, kita akan menjelaskan apa itu analisis univariat, mengapa penting, dan bagaimana melaksanakannya dengan tepat.

Baca juga: Penjelasan dan panduan praktis Analisis Univariat

Apa Itu Analisis Univariat?

Analisis univariat adalah jenis analisis statistik yang fokus pada satu variabel tunggal pada suatu waktu. Ini adalah langkah pertama dalam menjelajahi data dan memahami karakteristik dasar dari variabel yang kita amati. Tujuan dari analisis univariat adalah merumuskan deskripsi statistik yang ringkas dan mengidentifikasi pola dasar dalam data.

Mengapa Analisis Univariat Penting?

Pemahaman Data Dasar: Analisis univariat membantu kita untuk memahami sifat dasar dari variabel yang diamati. Misalnya, kita dapat melihat rata-rata, median, dan sebaran data untuk mendapatkan gambaran umum tentang variabel tersebut.

Identifikasi Outlier: Dengan analisis univariat, kita dapat mengidentifikasi outlier atau nilai-nilai ekstrem yang mungkin mempengaruhi hasil analisis statistik selanjutnya.

Pengambilan Keputusan Awal: Hasil dari analisis univariat dapat membantu peneliti atau analis data membuat keputusan awal tentang langkah-langkah berikutnya dalam analisis statistik lebih lanjut.

Cara Melakukan Analisis Univariat:

Deskripsi Statistik: Hitung statistik deskriptif dasar seperti rata-rata (mean), median, modus, deviasi standar, dan kuartil.

Visualisasi: Buat visualisasi data seperti histogram, diagram batang, atau diagram lingkaran untuk memvisualisasikan distribusi data.

Identifikasi Outlier: Gunakan metode statistik untuk mengidentifikasi outlier, seperti penggunaan batasan di luar batas tertentu.

Deskripsi Kontingensi (Jika Berlaku): Jika ada lebih dari satu variabel kategoris, Anda dapat membuat tabel kontingensi atau diagram batang untuk memahami hubungan antara variabel tersebut.

Referensi

  1. Agresti, A., & Finlay, B. (2009). "Statistical Methods for the Social Sciences." Pearson.
  2. Tabachnick, B. G., & Fidell, L. S. (2019). "Using Multivariate Statistics." Pearson.
  3. Gravetter, F. J., & Wallnau, L. B. (2017). "Statistics for the Behavioral Sciences." Cengage Learning.

Uji Instrumen (Uji Validitas & Realiabilitas Kuesioner)

 

Image by storyset on Freepik

Penelitian ilmiah adalah fondasi dari pemahaman kita tentang dunia. Untuk memastikan bahwa penelitian tersebut memiliki integritas dan nilai yang tinggi, penting untuk memahami dan menerapkan konsep-konsep kunci seperti uji validitas dan reliabilitas. Artikel ini akan menjelaskan arti pentingnya uji validitas dan reliabilitas dalam penelitian, serta memberikan panduan dasar untuk peneliti dalam mengaplikasikan kedua konsep ini. 

Baca juga: Penjelasan dan panduan praktis Uji Validitas dan Reliabilitas.

Validitas: Mengukur Apa yang Harus Diukur

Validitas mengacu pada sejauh mana alat atau instrumen pengukuran benar-benar mengukur variabel atau konstruk yang dimaksudkan. Validitas adalah pondasi dari sebuah penelitian yang berkualitas. Tanpa validitas, data yang diperoleh mungkin tidak relevan atau akurat. Beberapa jenis validitas yang penting adalah:

Validitas Konten: Ini berkaitan dengan sejauh mana alat pengukuran mencakup semua aspek dari konstruk yang ingin diukur. Misalnya, jika Anda merancang kuesioner untuk mengukur depresi, kuesioner tersebut harus mencakup berbagai gejala yang terkait dengan depresi.

Validitas Konstruk: Validitas konstruk mengukur sejauh mana alat pengukuran mengukur konstruk yang telah didefinisikan secara teoritis. Untuk menguji validitas konstruk, Anda bisa menggunakan analisis faktor atau uji lainnya untuk melihat apakah alat pengukuran Anda mencerminkan struktur konstruk yang diharapkan.

Validitas Kriteria: Ini mengacu pada sejauh mana alat pengukuran Anda memiliki hubungan yang konsisten dengan kriteria yang sudah ada. Misalnya, jika Anda mengembangkan tes IQ, maka tes tersebut harus memiliki hubungan yang kuat dengan keberhasilan akademik.

Reliabilitas: Konsistensi dalam Pengukuran

Reliabilitas adalah tentang konsistensi dalam pengukuran. Jika alat pengukuran Anda tidak reliabel, maka hasilnya mungkin bervariasi secara acak setiap kali Anda mengukur. Ini dapat mengarah pada kesalahan dan ketidakpastian dalam temuan penelitian Anda. Beberapa cara untuk mengukur reliabilitas adalah:

Reliabilitas Pengukuran Ulangan: Ini mengukur sejauh mana pengukuran yang sama dapat menghasilkan hasil yang serupa jika diulang pada waktu yang berbeda.

Reliabilitas Internal: Ini mengukur konsistensi antara item dalam alat pengukuran. Jika item dalam alat pengukuran Anda mengukur hal yang sama, maka reliabilitas internal tinggi.

Reliabilitas Test-Retest: Ini mengukur sejauh mana pengukuran yang sama menghasilkan hasil yang serupa jika diulang dalam waktu singkat.

Referensi

  1. DeVellis, R. F. (2016). Scale Development: Theory and Applications. Sage Publications.
  2. Streiner, D. L., & Norman, G. R. (2008). Health Measurement Scales: A Practical Guide to Their Development and Use. Oxford University Press.
  3. Trochim, W. M. (2006). Research Methods Knowledge Base. Thomson Wadsworth.

20 September 2023

10 September 2023

Peplau's Interpersonal Relationship Theory

 

Hildegard Peplau

Hildegard Peplau was a prominent nursing theorist known for her theory of interpersonal relations in nursing. Her theory, developed in the mid-20th century, revolutionized the field of psychiatric nursing and had a significant impact on the broader nursing profession. Here are key elements of Peplau's theory:

Interpersonal Relations: Peplau's theory focuses on the nurse-patient relationship as the core of nursing practice. She believed that effective nurse-patient interactions were crucial for promoting health and facilitating the patient's journey toward well-being.

Four Phases of the Nurse-Patient Relationship:

  1. Orientation Phase: In this initial phase, the nurse and patient get to know each other. The nurse assesses the patient's needs, and trust begins to develop.
  2. Identification Phase: The patient begins to identify their goals and take an active role in their care. The nurse provides guidance and support.
  3. Exploitation Phase: The patient gains full value from the therapeutic relationship, using the nurse as a resource for information and support.
  4. Resolution Phase: This final phase involves the conclusion of the nurse-patient relationship, and both parties evaluate the progress and growth achieved.
Some sources describe her theory as having three phases of the nurse-patient relationship instead of the four phases namely Orientation, Working, and Resolution phase. The working phase is a combination of the identification and exploitation phases. 

Roles of the Nurse: Peplau identified several roles that nurses should assume during the therapeutic relationship, including the roles of a stranger, resource person, teacher, and leader, as mentioned in a previous response.

Patient-Centered Care: Peplau's theory emphasizes tailoring nursing care to meet the unique needs of each patient. She believed that understanding the patient's thoughts, feelings, and experiences was essential for effective care.

Emphasis on Communication: Effective communication is a cornerstone of Peplau's theory. Nurses should use communication skills to establish trust, facilitate patient understanding, and promote a supportive environment.

Application to Psychiatric Nursing: While Peplau's theory can be applied to nursing in various settings, it was originally developed in the context of psychiatric nursing. Her work was instrumental in shifting the focus of psychiatric care from custodial care to therapeutic care.

Legacy: Hildegard Peplau's theory of interpersonal relations in nursing has had a lasting impact on nursing education, practice, and research. It has contributed to a more patient-centered approach in healthcare, emphasizing the importance of the nurse-patient relationship in promoting healing and well-being.

Peplau's theory continues to be studied and applied in modern nursing practice, and it remains relevant in understanding the dynamics of nurse-patient interactions and their impact on patient outcomes.


31 August 2023

Error dalam Uji Hipotesis

 

Image by upklyak on Freepik

Dalam melakukan uji hipotesis, Anda mungkin pernah mendengar istilah "Error". Tulisan ini akan mengulas error dalam uji hipotesis. 

Error adalah kesalahan di dalam menolak atau menerima hipotesis nol. Ada dua macam error yaitu error tipe 1 dan error tipe 2. Error tipe 1 adalah adalah jenis kesalahan yang terjadi ketika kita salah menolak hipotesis nol (H0) padahal sebenarnya hipotesis nol tersebut benar. Ini bisa terjadi jika kita mengambil kesimpulan bahwa ada efek atau perbedaan tertentu ketika sebenarnya tidak ada efek atau perbedaan dalam populasi yang diwakili oleh sampel data. 

Contoh: sebuah perusahaan farmasi mengklaim bahwa obat baru yang mereka kembangkan dapat mengurangi tekanan darah secara signifikan. Hipotesis nol (H0) adalah bahwa obat tersebut tidak memiliki efek yang signifikan terhadap tekanan darah, sedangkan hipotesis alternatif (H1) adalah bahwa obat memiliki efek yang signifikan.

Ketika melakukan uji hipotesis dengan tingkat signifikansi (alpha) 0,05, tim peneliti mendapatkan nilai p-nilai sebesar 0,03. Karena nilai p-nilai ini lebih kecil dari tingkat signifikansi, mereka memutuskan untuk menolak hipotesis nol dan menyimpulkan bahwa obat tersebut efektif mengurangi tekanan darah.

Namun, pada kenyataannya, tidak ada efek yang sebenarnya dari obat tersebut terhadap tekanan darah. Kesalahan ini terjadi karena nilai p-nilai yang ditemukan (0,03) kurang dari tingkat signifikansi yang dipilih (0,05), sehingga peneliti menolak hipotesis nol walaupun sebenarnya tidak ada efek.

Sebaliknya, error Tipe 2 adalah jenis kesalahan yang terjadi ketika kita gagal menolak hipotesis nol (H0) padahal sebenarnya hipotesis alternatif (H1) adalah yang benar. Ini bisa terjadi jika kita tidak mampu mendeteksi efek atau perbedaan yang sebenarnya ada dalam populasi yang diwakili oleh sampel data. 

Contoh: Sebuah penelitian dilakukan untuk menguji apakah olahraga rutin dapat meningkatkan kapasitas paru-paru pada populasi tertentu. Hipotesis nol (H0) adalah bahwa olahraga tidak memiliki dampak signifikan terhadap kapasitas paru-paru, sementara hipotesis alternatif (H1) adalah bahwa olahraga memiliki dampak yang signifikan.

Tim peneliti melakukan uji hipotesis dengan tingkat signifikansi (alpha) 0,05. Namun, mereka tidak berhasil menemukan dampak yang signifikan dari olahraga terhadap kapasitas paru-paru pada tingkat signifikansi ini. Dengan kata lain, mereka gagal menolak hipotesis nol.

Namun, dalam kenyataannya, olahraga mungkin memiliki dampak yang sebenarnya terhadap kapasitas paru-paru. Kesalahan ini terjadi karena ukuran sampel yang mungkin terlalu kecil atau variasi dalam data yang cukup tinggi, sehingga peneliti tidak dapat mendeteksi efek yang sebenarnya ada dalam populasi.

Penyebab terjadinya error dalam uji hipotesis

Peneliti dapat melakukan kedua tipe error dalam uji hipotesis karena beberapa alasan yang berkaitan dengan statistik, interpretasi data, dan pengambilan keputusan. Berikut adalah beberapa penyebab umum:

Penyebab Error Tipe 1 (False Positive):

  1. Tingkat Signifikansi yang Tinggi: Jika peneliti memilih tingkat signifikansi yang sangat tinggi (misalnya, alpha = 0,10), risiko untuk melakukan error tipe 1 meningkat karena nilai p-value yang lebih tinggi lebih mungkin "melewati" batas signifikansi dan menyebabkan peneliti menolak hipotesis nol tanpa ada efek yang sebenarnya.
  2. Pemilihan Variabel: Memeriksa banyak variabel atau parameter secara simultan tanpa penyesuaian statistik mungkin meningkatkan peluang untuk menemukan hasil yang tampaknya signifikan secara acak (biasa disebut sebagai "p-hacking").
  3. Ukuran Sampel Besar: Dalam sampel besar, bahkan efek yang kecil dapat menghasilkan nilai p-value yang rendah. Jika peneliti tidak mempertimbangkan ukuran efek secara substansial, mereka mungkin cenderung menemukan hasil yang signifikan.

Penyebab Error Tipe 2 (False Negative):

  1. Ukuran Sampel yang Kecil: Ukuran sampel yang kecil memiliki potensi untuk mengurangi kekuatan statistik dan meningkatkan risiko error tipe 2. Efek yang sebenarnya ada mungkin tidak dapat terdeteksi dengan ukuran sampel yang terlalu kecil.
  2. Variabilitas Tinggi: Variabilitas yang tinggi dalam data dapat mengurangi kekuatan statistik karena data tersebar luas di sekitar nilai rata-rata. Efek yang ada mungkin tersembunyi dalam variabilitas yang besar.
  3. Pilihan Statistik yang Tidak Tepat: Memilih metode analisis statistik yang kurang sensitif terhadap efek yang diharapkan dapat mengurangi peluang mendeteksi efek yang sebenarnya ada.
  4. Kekurangan Data: Kurangnya data yang relevan atau representatif dapat mengurangi kekuatan statistik dan membuat peneliti lebih mungkin gagal mendeteksi efek yang sebenarnya ada.
  5. Variabilitas Alamiah: Beberapa fenomena alamiah mungkin memiliki variasi yang besar secara alamiah. Dalam kasus ini, bahkan jika ukuran sampel cukup besar, kesalahan tipe 2 masih mungkin terjadi karena variasi yang besar membuat deteksi efek yang nyata lebih sulit.

Penting untuk diingat bahwa kedua jenis kesalahan ini merupakan risiko inheren dalam analisis statistik. Pengelolaan risiko ini melibatkan pemilihan tingkat signifikansi yang tepat, ukuran sampel yang memadai, pemilihan metode analisis yang sesuai, dan interpretasi yang hati-hati terhadap hasil.