23 October 2023

Teknik Instrumentasi AV Shunt/AV Fisfula

 

Image by vectorpouch on Freepik

Materi Kuliah Keperawatan Perioperatif II:










22 October 2023

Introduction to the System Theory and It's Application into the Nursing Practice

 

Image by freepik

The material of nursing theory and philosophy on Monday, October 23rd 2023 can be seen below: 


12 October 2023

Konstipasi

 

Image by master1305 on Freepik

Konstipasi (sembelit) adalah jarangnya buang air besar atau kesulitan dalam buang air besar (Jani & Marsicano, 2018). Tim Pokja SDKI DPP PPNI (2017) mendefinisikan konstipasi sebagai penurunan defekasi normalyang disertai pengeluaran feses sulit dan tidak tuntas serta feses kering dan banyak. Prevalensi konstipasi adalah 15% pada populasi umum dengan rasio perempuan lebih tinggi daripada laki-laki, serta prevalensi yang lebih tinggi pada lansia terutama di atas 65 tahun. Penyakit ini menimbulkan beban ekonomi yang besar terkait dengan biaya perawatan kesehatan langsung dan biaya tidak langsung (Jani & Marsicano, 2018).

Etiologi

Penyebab konstipasi bervariasi dan biasanya dibagi dalam dalam dua kategori yaitu penyebab primer dan sekunder. Penyebab primer biasanya disebabkan oleh transit normal (disebut juga konstipasi fungsional), transit lambat dan obstruksi pelepasan (Andrews, & Storr, 2011). Sementara itu penyebab sekunder dapat dibagi menjadi kategori sebagai berikut:

  1. Penyebab anatomi termasuk stenosis anal atau atresia, anus yang dipindahkan secara anterior, anus imperforata, striktur usus, striktur anal.
  2. Penyebab otot-otot abnormal terkait termasuk sindrom perut prune, gastroschisis, sindrom down, distrofi otot.
  3. Penyebab terkait kelainan saraf usus termasuk penyakit Hirschsprung, pseudo-obstruksi, displasia neuronal usus, cacat sumsum tulang belakang, tali tambat, spina bifida
  4. Obat-obatan seperti antikolinergik, narkotika, antidepresan, timbal, keracunan vitamin D.
  5. Penyebab metabolik dan endokrin seperti hipokalemia, hiperkalsemia, hipotiroidisme, diabetes mellitus (DM), atau diabetes insipidus.
  6. Penyebab lain termasuk penyakit celiac, cystic fibrosis, alergi protein susu sapi, penyakit radang usus, skleroderma, antara lain (Diaz, Bittar, & Mendez, 2023).

Tanda dan Gejala

Berbagai gejala termasuk tinja yang keras, mengejan, sensasi penyumbatan di daerah anus, evakuasi yang tidak sempurna, ketidaknyamanan perut, dan kembung. 

Kondisi Klinis Terkait

Beberapa kondisi klinis berikut sering berhubungan dengan terjadinya konstipasi: 1) Lesi/cedera pada medula Spinalis, 2) Spina bifida, 3) Stroke, 4) Sklerosis multipel, 5) Penyakit Parkinson, 6) Demensia, 7) Hiperparatiroidisme, 8) Hipoparatiroidisme, 9) Ketidakseimbangan elektrolit, 10) Hemoroid, 11) Obesitas, 12) Pasca operasi obstruksi bowel, 13) Kehamilan, 14) Pembesaran prostat, 15) Abses rektal, 16) Fisura anorektai, 17) Striktura anorektal, 18. Prolaps rektal, 19) Ulkus rektal, 20) Rektokel, 21) Tumor, 22)  penyakit Hirschsprung, 23) Impaksi feses.

Intervensi Keperawatan

Tindakan keperawatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi pasien dengan konstipasi antara lain (Bulechek, 2013):
  • Pantau tanda dan gejala sembelit
  • Pantau tanda dan gejala impaksi
  • Pantau gerakan usus, termasuk frekuensi, konsistensi, bentuk, volume, dan warna, sesuai yang sesuai
  • Pantau suara usus
  • Konsultasikan dengan dokter tentang penurunan/peningkatan frekuensi suara usus
  • Pantau tanda dan gejala robekan usus dan/atau peritonitis
  • Jelaskan etiologi masalah dan dasar tindakan kepada pasien
  • Identifikasi faktor (misalnya, obat-obatan, istirahat di tempat tidur, dan diet) yang dapat menyebabkan atau berkontribusi terhadap sembelit
  • Terapkan jadwal buang air besar, jika sesuai
  • Dorong peningkatan asupan cairan, kecuali jika ada kontraindikasi
  • Evaluasi profil obat untuk efek samping gastrointestinal
  • Instruksikan pasien/keluarga untuk mencatat warna, volume, frekuensi, dan konsistensi tinja
  • Ajarkan pasien/keluarga cara membuat catatan makanan
  • Instruksikan pasien/keluarga tentang diet tinggi serat, jika sesuai
  • Instruksikan pasien/keluarga tentang penggunaan yang tepat dari pencahar
  • Instruksikan pasien/keluarga tentang hubungan diet, olahraga, dan asupan cairan dengan sembelit/impaksi
  • Evaluasi catatan asupan untuk kandungan gizi
  • Sarankan pasien untuk berkonsultasi dengan dokter jika sembelit atau impaksi berlanjut
  • Sarankan penggunaan pencahar/pelembut tinja, jika sesuai
  • Informasikan pasien tentang prosedur pengangkatan tinja secara manual, jika diperlukan
  • Angkat impaksi tinja secara manual, jika diperlukan
  • Berikan enema atau irigasi, jika perlu
  • Timbang pasien secara berkala
  • Ajarkan pasien atau keluarga tentang proses pencernaan normal
  • Ajarkan pasien/keluarga tentang kerangka waktu untuk pemulihan sembelit

Referensi

  1. Andrews, C. N., & Storr, M. (2011). The pathophysiology of chronic constipation. Canadian journal of gastroenterology = Journal canadien de gastroenterologie, 25 Suppl B(Suppl B), 16B–21B.
  2. Bulecheck et al (2013). Nursing Intervesions Classification, Sixth Edition. Elsevier.
  3. Diaz S, Bittar K, Mendez MD. Constipation. [Updated 2023 Jan 31]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK513291/
  4. Jani, B., & Marsicano, E. (2018). Constipation: Evaluation and Management. Missouri medicine, 115(3), 236–240.
  5. Sharma, A., & Rao, S. (2017). Constipation: Pathophysiology and Current Therapeutic Approaches. Handbook of experimental pharmacology, 239, 59–74. https://doi.org/10.1007/164_2016_111
  6. Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, Definisi dan Indikator Diagnostik. DPP PPNI.

11 October 2023

Amsterdam Preoperative anxiety and Information Scale (APAIS)



APAIS merupakan alat penilaian yang digunakan dalam konteks perawatan medis untuk mengukur tingkat kecemasan atau kegelisahan seorang pasien sebelum menjalani prosedur operasi. Instrumen ini dikembangkan oleh beberapa peneliti antara lain Moerman N, Dam van F, Boulogne-Abraham T, Hooff van M dan disampaikan dalam sebuah Prosiding Konggres Anestesiologi Eropa ke-9 di Jerusalem, Israel pada tahun 1994 (Moerman et al, 1996).

Instrumen ini sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan memiliki hasil uji validasi dan uji reliabilitas yang sangat baik, baik versi asli maupun versi-versi negara yang telah menerjemahkannya seperti Perancis, Jerman, Italia, Jepang, China, Spanyol (Maurice-Szamburski et al, 2013;  Berth et al, 2007; Buonanno et al, 2017; Nishimori et al, 2002; Wu et al, 2020). Termasuk versi Indonesia (Firdaus, 2014).

Instrumen ini sangat singkat, terdiri dari 6 item pertanyaan, 3 item terkait dengan anestesi dan 3 item sisanya terkait dengan tindak pembedahan (Moerman et al, 1996). Masing-masing item diukur dengan skala likert 1-5 yang menggambarkan tingkatan mulai dari "tidak sama sekali" hingga "sangat". Item-item pernyataan yang ada di APAIS dapat dilihat pada tabel di bawah:

dikutip dari Moerman et al, (1996)

Item pernyataan APAIS sesungguhnya tidak hanya menggambarkan kecemasan pasien preoperatif. Namun juga menggambarkan kebutuhan informasi terkait dengan tindakan operasi. Berikut item-item pertanyaan APAIS yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (Gunawan, 2022):

  1. Saya takut dibius
  2. Saya terus menerus memikirkan pembiusan
  3. Saya ingin tahu sebanyak mungkin tentang pembiusan
  4. Saya takut di operasi
  5. Saya terus menerus memikirkan tentang operasi
  6. Saya ingin tahu sebanyak mungkin tentang operasi

Pernyataan no 1,2,4, dan 5 menggambarkan kecemasan. Sedangkan 3 dan 6 menggambarkan kebutuhan informasi. Oleh karena itu, perlu diperhatikan cara mengolah data dari instrumen ini khususnya jika seorang perawat ingin menggunakannya sebagai metode menentukan tingkat cemas pasien preoperatif. Dalam artikelnya Moerman et al (1996) mengatakan bahwa skala kecemasan mencakup pernyataan no 1,2,4, dan 5. Masing-masing diskor 1-5. Skor skala ansietas adalah penjumlahan dari keempat item pernyataan dengan range skor mulai 4 hingga 20. 

Referensi

  1. Berth, H., Petrowski, K., & Balck, F. (2007). The Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS)-the first trial of a German version. GMS Psycho-Social Medicine, 4.
  2. Buonanno, P., Laiola, A., Palumbo, C., Spinelli, G., Terminiello, V., & Servillo, G. (2017). Italian validation of the amsterdam preoperative anxiety and information scale. Minerva anestesiologica, 83(7), 705-711.
  3. Firdaus, M. F. (2014). Uji Validitas Konstruksi dan Reliabilitas Instrumen The Amsterdam Preoperative Anxiety And Information Scale (APAIS) Versi Indonesia (Thesis). Universitas Indonesia.
  4. Gunawan, D. (2022). APAIS (Amsterdam Preoperative anxiety and Information Scale), Skrining ansietas pada pasien Pre-operasi. Kementerian Kesehatan Ditjen Nakes. https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/354/apais-amsterdam-preoperative-anxiety-and-information-scale-skrining-ansietas-pada-pasien-pre-operasi. Diakses pada: 11 Oktober 2023.  
  5. Moerman, Nelly MD; van Dam, Frits S. A. M. PhD; Muller, Martin J. MA; Oosting, Hans PhD. The Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS). Anesthesia & Analgesia 82(3):p 445-451, March 1996.
  6. Maurice-Szamburski, A., Loundou, A., Capdevila, X., Bruder, N., & Auquier, P. (2013). Validation of the French version of the Amsterdam preoperative anxiety and information scale (APAIS). Health and quality of life outcomes, 11(1), 1-7.
  7. Nishimori, M., Moerman, N., Fukuhara, S., Van Dam, F. S. A. M., Muller, M. J., Hanaoka, K., & Yamada, Y. (2002). Translation and validation of the Amsterdam preoperative anxiety and information scale (APAIS) for use in Japan. Quality of Life Research, 11, 361-364.
  8. Vergara-Romero, M., Morales-Asencio, J. M., Morales-Fernández, A., Canca-Sanchez, J. C., Rivas-Ruiz, F., & Reinaldo-Lapuerta, J. A. (2017). Validation of the Spanish version of the Amsterdam preoperative anxiety and information scale (APAIS). Health and quality of life outcomes, 15, 1-10.
  9. Wu, H., Zhao, X., Chu, S., Xu, F., Song, J., Ma, Z., & Gu, X. (2020). Validation of the Chinese version of the Amsterdam preoperative anxiety and information scale (APAIS). Health and Quality of Life Outcomes, 18, 1-6.

03 October 2023

Rapat Kerja Senat Polkesma 2023




Rapat Kerja Senat Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang (Raker SP Polkesma) tahun 2023 pada hari senin hingga rabu tanggal 2 - 4 Oktober 2023 merupakan raker pertama kali bagi anggota senat periode 2022-2026. Anggota SP Polkesma periode ini terdiri dari 39 Anggota yang ditetapkan dalam SK Ditjen Nakes dengan nomor  HK.02.02/F/1142/2023 tertanggal 31 Mei 2023. Anggota terdiri dari unsur ex officio dan perwakilan dosen dari enam jurusan di Polkesma. 

Raker dilaksanakan di Kampus 3 Polkesma tepatnya berada Jl. DR. Sutomo No.56, Bendogerit, Kec. Sananwetan, Kota Blitar. Tiga puluh satu anggota hadir secara luring dan 8 orang secara daring. 

Dalam sambutannya, Direktur Polkesma Bpk. Dr. Moch Wildan, APerPen, MPd, menyampaikan beberapa poin penting yang berkaitan dengan transformasi bidang kesehatan dimana Polkesma, sesuai arahan Ditjen Nakes, akan berfokus pada Sentral Unggulan Poltekkes (SUP) "Diabetes Mellitus." Oleh karena itu diharapkan senat yang baru terbentuk bisa mengawal perubahan tersebut. 

Sementara itu, ketua SP Bpk. Budi Susatia, SKp, M.Kes menyampaikan sambutannya bahwa SP saat ini berbeda dengan sebelumnya, dimana ketua senat terdahulu adalah direktur. Saat ini ketua senat, sesuai dengan Statuta Polkesma dijabat oleh perwakilan dosen yang dipilih oleh anggota senat. Beliau berharap dengan pemisahan ini maka tugas dan fungsi senat yang terdiri dari penetapan kebijakan akademik, pemberian pertimbangan, dan fungsi pengawasan bisa berjalan dengan baik dan dapat mengawal transformasi Polkesma ke depan.

Rapat diawali dengan pembahasan tatib rapat kemudian dilanjutkan dengan rapat paripurna membahas peraturan SP hingga selesai pada sore hari. Rapat dilanjutkan besok dengan agenda mendengarkan paparan Prof Dr. Khayan, SKM, M.Kes, direktur Poltekkes Kemenkes Banten tentang kiat meraih guru besar dan tugas dan fungsi senat perguruan tinggi.