31 August 2023

Error dalam Uji Hipotesis

 

Image by upklyak on Freepik

Dalam melakukan uji hipotesis, Anda mungkin pernah mendengar istilah "Error". Tulisan ini akan mengulas error dalam uji hipotesis. 

Error adalah kesalahan di dalam menolak atau menerima hipotesis nol. Ada dua macam error yaitu error tipe 1 dan error tipe 2. Error tipe 1 adalah adalah jenis kesalahan yang terjadi ketika kita salah menolak hipotesis nol (H0) padahal sebenarnya hipotesis nol tersebut benar. Ini bisa terjadi jika kita mengambil kesimpulan bahwa ada efek atau perbedaan tertentu ketika sebenarnya tidak ada efek atau perbedaan dalam populasi yang diwakili oleh sampel data. 

Contoh: sebuah perusahaan farmasi mengklaim bahwa obat baru yang mereka kembangkan dapat mengurangi tekanan darah secara signifikan. Hipotesis nol (H0) adalah bahwa obat tersebut tidak memiliki efek yang signifikan terhadap tekanan darah, sedangkan hipotesis alternatif (H1) adalah bahwa obat memiliki efek yang signifikan.

Ketika melakukan uji hipotesis dengan tingkat signifikansi (alpha) 0,05, tim peneliti mendapatkan nilai p-nilai sebesar 0,03. Karena nilai p-nilai ini lebih kecil dari tingkat signifikansi, mereka memutuskan untuk menolak hipotesis nol dan menyimpulkan bahwa obat tersebut efektif mengurangi tekanan darah.

Namun, pada kenyataannya, tidak ada efek yang sebenarnya dari obat tersebut terhadap tekanan darah. Kesalahan ini terjadi karena nilai p-nilai yang ditemukan (0,03) kurang dari tingkat signifikansi yang dipilih (0,05), sehingga peneliti menolak hipotesis nol walaupun sebenarnya tidak ada efek.

Sebaliknya, error Tipe 2 adalah jenis kesalahan yang terjadi ketika kita gagal menolak hipotesis nol (H0) padahal sebenarnya hipotesis alternatif (H1) adalah yang benar. Ini bisa terjadi jika kita tidak mampu mendeteksi efek atau perbedaan yang sebenarnya ada dalam populasi yang diwakili oleh sampel data. 

Contoh: Sebuah penelitian dilakukan untuk menguji apakah olahraga rutin dapat meningkatkan kapasitas paru-paru pada populasi tertentu. Hipotesis nol (H0) adalah bahwa olahraga tidak memiliki dampak signifikan terhadap kapasitas paru-paru, sementara hipotesis alternatif (H1) adalah bahwa olahraga memiliki dampak yang signifikan.

Tim peneliti melakukan uji hipotesis dengan tingkat signifikansi (alpha) 0,05. Namun, mereka tidak berhasil menemukan dampak yang signifikan dari olahraga terhadap kapasitas paru-paru pada tingkat signifikansi ini. Dengan kata lain, mereka gagal menolak hipotesis nol.

Namun, dalam kenyataannya, olahraga mungkin memiliki dampak yang sebenarnya terhadap kapasitas paru-paru. Kesalahan ini terjadi karena ukuran sampel yang mungkin terlalu kecil atau variasi dalam data yang cukup tinggi, sehingga peneliti tidak dapat mendeteksi efek yang sebenarnya ada dalam populasi.

Penyebab terjadinya error dalam uji hipotesis

Peneliti dapat melakukan kedua tipe error dalam uji hipotesis karena beberapa alasan yang berkaitan dengan statistik, interpretasi data, dan pengambilan keputusan. Berikut adalah beberapa penyebab umum:

Penyebab Error Tipe 1 (False Positive):

  1. Tingkat Signifikansi yang Tinggi: Jika peneliti memilih tingkat signifikansi yang sangat tinggi (misalnya, alpha = 0,10), risiko untuk melakukan error tipe 1 meningkat karena nilai p-value yang lebih tinggi lebih mungkin "melewati" batas signifikansi dan menyebabkan peneliti menolak hipotesis nol tanpa ada efek yang sebenarnya.
  2. Pemilihan Variabel: Memeriksa banyak variabel atau parameter secara simultan tanpa penyesuaian statistik mungkin meningkatkan peluang untuk menemukan hasil yang tampaknya signifikan secara acak (biasa disebut sebagai "p-hacking").
  3. Ukuran Sampel Besar: Dalam sampel besar, bahkan efek yang kecil dapat menghasilkan nilai p-value yang rendah. Jika peneliti tidak mempertimbangkan ukuran efek secara substansial, mereka mungkin cenderung menemukan hasil yang signifikan.

Penyebab Error Tipe 2 (False Negative):

  1. Ukuran Sampel yang Kecil: Ukuran sampel yang kecil memiliki potensi untuk mengurangi kekuatan statistik dan meningkatkan risiko error tipe 2. Efek yang sebenarnya ada mungkin tidak dapat terdeteksi dengan ukuran sampel yang terlalu kecil.
  2. Variabilitas Tinggi: Variabilitas yang tinggi dalam data dapat mengurangi kekuatan statistik karena data tersebar luas di sekitar nilai rata-rata. Efek yang ada mungkin tersembunyi dalam variabilitas yang besar.
  3. Pilihan Statistik yang Tidak Tepat: Memilih metode analisis statistik yang kurang sensitif terhadap efek yang diharapkan dapat mengurangi peluang mendeteksi efek yang sebenarnya ada.
  4. Kekurangan Data: Kurangnya data yang relevan atau representatif dapat mengurangi kekuatan statistik dan membuat peneliti lebih mungkin gagal mendeteksi efek yang sebenarnya ada.
  5. Variabilitas Alamiah: Beberapa fenomena alamiah mungkin memiliki variasi yang besar secara alamiah. Dalam kasus ini, bahkan jika ukuran sampel cukup besar, kesalahan tipe 2 masih mungkin terjadi karena variasi yang besar membuat deteksi efek yang nyata lebih sulit.

Penting untuk diingat bahwa kedua jenis kesalahan ini merupakan risiko inheren dalam analisis statistik. Pengelolaan risiko ini melibatkan pemilihan tingkat signifikansi yang tepat, ukuran sampel yang memadai, pemilihan metode analisis yang sesuai, dan interpretasi yang hati-hati terhadap hasil.


28 August 2023

Aldrete Score

Image by juicy_fish on Freepik


 

Aldrete score, juga dikenal sebagai skor pemulihan post-anestesi Aldrete, adalah sistem yang digunakan untuk menilai pemulihan pasien dari anestesi setelah operasi. Skor ini mengevaluasi lima parameter: aktivitas, pernapasan, sirkulasi, kesadaran, dan saturasi oksigen. Setiap parameter diberi skor 0 hingga 2 atau 0 hingga 1, tergantung pada parameter tersebut. Skor-skor tersebut kemudian dijumlahkan untuk memberikan skor keseluruhan, dengan skor yang lebih tinggi menunjukkan pemulihan yang lebih baik. Skor ini umumnya digunakan untuk menentukan kesiapan pasien untuk keluar dari ruang pemulihan setelah operasi.

Komponen-komponen dari skor Aldrete menilai berbagai aspek dari pemulihan pasien setelah anestesi. Berikut adalah lima komponen beserta kriteria penilaian mereka:

1. Aktivitas

Komponen ini mengevaluasi kemampuan pasien untuk bergerak. Dinilai dalam skala 0 hingga 2. 

  • 2 poin: Mampu menggerakkan keempat anggota tubuh atas perintah.
  • 1 poin: Mampu menggerakkan dua anggota tubuh atas perintah.
  • 0 poin: Tidak mampu menggerakkan anggota tubuh atas perintah.

2. Pernapasan

Komponen ini menilai pola pernapasan pasien dan oksigenasi. Dinilai dalam skala 0 hingga 2:

  • 2 poin: Mampu bernapas dalam-dalam dan batuk dengan bebas.
  • 1 poin: Dispneu atau pernapasan dangkal, tetapi mampu mengambil napas dalam saat di dorong.
  • 0 poin: Apneu atau memerlukan bantuan sering untuk bernapas.

3. Sirkulasi

Komponen ini mengevaluasi tekanan darah dan detak jantung pasien. Dinilai dalam skala 0 hingga 2:

  • 2 poin: Tekanan darah dalam 20% dari tingkat pra-anestesi dan detak jantung dalam 20% dari tingkat pra-anestesi.
  • 1 poin: Tekanan darah atau detak jantung sedikit di luar rentang 20%.
  • 0 poin: Tekanan darah atau detak jantung jauh di luar rentang 20%.

4. Kesadaran

Komponen ini menilai tingkat kesadaran pasien. Dinilai dalam skala 0 hingga 2:

  • 2 poin: Benar-benar sadar dan waspada.
  • 1 poin: Dapat dibangunkan dengan memanggil nama pasien.
  • 0 poin: Tidak merespons atau tidak sadar.

5. Saturasi Oksigen

Komponen ini mengukur tingkat oksigen dalam darah. Dinilai dalam skala 0 hingga 1:

  • 1 poin: Saturasi oksigen 92% atau lebih tinggi.
  • 0 poin: Saturasi oksigen di bawah 92%.

Skor total maksimum adalah 10. Umumnya, skor 8 atau 9 menunjukkan bahwa pasien siap untuk dipindahkan ke ruangan biasa atau pulang ke rumah, tergantung pada kebijakan fasilitas kesehatan.

27 August 2023

Apa Itu Diet?

Image by rawpixel.com on Freepik


Diet mengacu pada pola makan dan minum spesifik yang diikuti oleh seseorang. Ini mencakup jenis dan jumlah makanan serta minuman yang dikonsumsi secara teratur. Diet bisa bervariasi luas dari orang ke orang berdasarkan faktor seperti latar belakang budaya, preferensi pribadi, tujuan kesehatan, dan pertimbangan medis.

Diet tidak selalu hanya tentang membatasi kalori atau kelompok makanan tertentu, melainkan tentang keseimbangan dan komposisi nutrisi secara keseluruhan dalam makanan yang dikonsumsi. Diet yang seimbang biasanya mencakup berbagai makanan yang menyediakan nutrisi penting seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan serat.

Penting untuk dicatat bahwa diet sehat bukan hanya seputar penurunan berat badan atau pembatasan; ini adalah konsep yang lebih luas yang mencakup semua makanan dan minuman yang secara teratur dikonsumsi oleh seseorang. Beberapa orang mungkin mengadopsi diet khusus untuk alasan kesehatan, pengelolaan berat badan, keyakinan agama atau budaya, pertimbangan etika, atau sekadar untuk mendukung kesejahteraan keseluruhan.

Penting juga untuk memahami bahwa diet yang sehat adalah diet yang dapat dipertahankan dan memberikan nutrisi yang diperlukan untuk mendukung fungsi tubuh, tingkat energi, dan kesehatan secara keseluruhan. Berkonsultasi dengan ahli gizi terdaftar atau profesional kesehatan dapat membantu Anda membuat diet seimbang dan personal yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan Anda.

Jenis Diet

Ada berbagai jenis diet yang dilakukan seseorang dengan berbagai alasan seperti untuk kesehatan, pengelolaan berat badan, keyakinan budaya, pertimbangan etika, atau preferensi pribadi. Berikut penjelasan untuk beberapa jenis diet umum:

1. Diet Mediterania

Diet ini terinspirasi oleh pola makan tradisional negara-negara yang berbatasan dengan Laut Tengah. Diet ini menekankan makanan utuh seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian utuh, protein rendah lemak (seperti ikan dan unggas), kacang-kacangan, biji-bijian, dan minyak zaitun. Diet ini dikenal karena potensi manfaat bagi kesehatan jantung karena fokus pada lemak sehat dan makanan berbasis tumbuhan.

2. Diet Ketogenik

Diet ketogenik sangat rendah karbohidrat dan tinggi lemak. Dengan mengurangi asupan karbohidrat secara drastis, tubuh memasuki keadaan yang disebut ketosis, di mana sebagian besar energi diperoleh dari lemak. Diet ini sering digunakan untuk penurunan berat badan dan telah menunjukkan manfaat bagi kondisi medis tertentu seperti epilepsi dan diabetes, tetapi mungkin tidak cocok untuk semua orang.

3. Diet Paleolitik

Diet paleolitik, atau "dietetik paleo", bertujuan untuk meniru kebiasaan makan nenek moyang kita dari era Paleolitikum. Diet ini mencakup daging tanpa lemak, ikan, buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian, sambil menghindari makanan olahan, biji-bijian, produk susu, dan kacang-kacangan. Fokusnya pada makanan utuh yang tidak diolah.

4. Diet Vegan

Orang vegan dilakukan dengan menghindari semua produk hewani, termasuk daging, susu, telur, dan bahan lain yang berasal dari hewan. Mereka mengandalkan makanan berbasis tumbuhan seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Veganisme sering diadopsi karena alasan etika, lingkungan, dan kesehatan.

5. Diet Vegetarian

Vegetarian tidak mengonsumsi daging, tetapi mungkin mengonsumsi produk hewani seperti susu dan telur. Ada jenis vegetarian yang berbeda, seperti lakto-vegetarian (mengonsumsi susu) dan ovo-vegetarian (mengonsumsi telur).

6. Diet Bebas Gluten

Diet ini menghilangkan gluten, protein yang ditemukan dalam gandum, barley, dan gandum hitam, penting bagi orang dengan penyakit celiac atau sensitivitas gluten. Diet bebas gluten memerlukan perhatian teliti terhadap label bahan dan sering melibatkan konsumsi makanan alami bebas gluten seperti beras, kinwa, dan kentang.

7. Diet Rendah Karbohidrat

Mirip dengan diet ketogenik, diet rendah karbohidrat berfokus pada mengurangi asupan karbohidrat. Tingkat pembatasan karbohidrat bisa bervariasi, tetapi umumnya menekankan protein, lemak sehat, dan sayuran non-pati.

8. Diet DASH

Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) adalah diet yang dirancang untuk membantu menurunkan tekanan darah. Diet ini menekankan konsumsi buah-buahan, sayuran, biji-bijian utuh, protein rendah lemak, dan produk susu rendah lemak sambil mengurangi asupan natrium.

9. Diet Fleksitarian

Diet fleksitarian sebagian besar berbasis tanaman tetapi mengizinkan konsumsi sesekali produk hewani. Ini adalah pendekatan yang fleksibel yang menggabungkan manfaat kesehatan diet berbasis tanaman dengan kadang-kadang mengonsumsi makanan berbasis hewan.

10. Diet Rendah Lemak

Diet rendah lemak berfokus pada meminimalkan konsumsi makanan tinggi lemak, terutama lemak jenuh dan trans. Diet ini menekankan makanan yang secara alami rendah lemak, seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian utuh, dan protein rendah lemak.

Tidak ada "diet terbaik" yang berlaku secara universal bagi semua orang, karena preferensi dan kebutuhan diet bervariasi dari individu ke individu. Keefektifan dan kesesuaian suatu diet tergantung pada faktor-faktor individu seperti tujuan kesehatan, kondisi medis, latar belakang budaya, keyakinan, gaya hidup, dan preferensi pribadi. Apa yang mungkin berhasil bagi seseorang belum tentu berhasil dengan efektif bagi orang lain.

26 August 2023

Menentukan Besar Sampel: Prinsip Dasar

Sampel bisa diartikan sebagai bagian terbatas dari populasi statistik yang propertinya dipelajari untuk mendapatkan informasi tentang keseluruhan (Webster Dictionary, n.d.)). Ukuran sampel ditentukan berdasarkan beberapa faktor, meliputi tujuan penelitian, tingkat kepercayaan yang diinginkan, margin of error yang dapat diterima, variabilitas dalam populasi, dan metode statistik yang digunakan. Berikut adalah beberapa konsideran utama yang berpengaruh bagaimana ukuran sampel ditentukan:

  1. Variabilitas Populasi: Jika populasi yang Anda teliti sangat bervariasi, Anda mungkin memerlukan ukuran sampel yang lebih besar untuk menggambarkan variasi tersebut dengan akurat.
  2. Tingkat Kepercayaan (Confidence Level) yang Diinginkan: Tingkat kepercayaan adalah derajat keyakinan yang Anda inginkan agar hasil sampel mencerminkan populasi dengan akurat. Tingkat kepercayaan umumnya adalah 95% dan 99%. Tingkat kepercayaan yang lebih tinggi umumnya memerlukan ukuran sampel yang lebih besar.
  3. Batas Kesalahan (Margin of Error): Batas kesalahan adalah jumlah deviasi yang dapat diterima antara hasil sampel dan parameter populasi sebenarnya. Batas kesalahan yang lebih kecil memerlukan ukuran sampel yang lebih besar.
  4. Ukuran Efek (Effect Size): Dalam penelitian yang melihat dampak intervensi atau perlakuan, ukuran efek yang lebih besar sering dapat terdeteksi dengan ukuran sampel yang lebih kecil. Sebaliknya, ukuran efek yang lebih kecil mungkin memerlukan ukuran sampel yang lebih besar untuk mendeteksinya dengan akurat.
  5. Kekuatan Statistik (Statistical Power): Kekuatan statistik adalah probabilitas penolakan yang benar terhadap hipotesis nol yang salah (menemukan efek nyata jika ada). Kekuatan statistik yang lebih tinggi dicapai dengan ukuran sampel yang lebih besar.
  6. Tipe Analisis: Kompleksitas analisis statistik yang dilakukan dapat mempengaruhi persyaratan ukuran sampel. Analisis yang lebih kompleks mungkin memerlukan ukuran sampel yang lebih besar.
  7. Sumber Daya Tersedia: Kendala praktis seperti waktu, anggaran, dan akses ke partisipan juga dapat mempengaruhi ukuran sampel.
  8. Desain Penelitian: Desain penelitian yang berbeda, seperti penelitian lintas-seksi, penelitian longitudinal, atau percobaan, mungkin memiliki persyaratan ukuran sampel yang berbeda.
Untuk menentukan ukuran sampel yang tepat, para peneliti sering menggunakan rumus statistik atau alat perangkat lunak yang mempertimbangkan faktor-faktor ini. Rumus yang umum digunakan meliputi perhitungan ukuran sampel dalam survei (untuk mengestimasi proporsi), eksperimen (untuk membandingkan mean), dan studi korelasi.

Penting untuk dicatat bahwa meskipun ukuran sampel yang lebih besar umumnya menghasilkan hasil yang lebih dapat diandalkan, seringkali terdapat kompromi antara ukuran sampel, keterjangkauan, dan sumber daya. Para peneliti bertujuan untuk mencapai keseimbangan antara memiliki ukuran sampel yang cukup besar untuk mengambil kesimpulan yang bermakna dan mematuhi batasan proyek mereka.

Referensi
Merriam-Webster. (n.d.). Sample. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved August 16, 2023, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/sample

25 August 2023

Body of knowledge "Keperawatan"

Image by jannoon028 on Freepik

Body of knowledge mengacu pada kumpulan pengetahuan, konsep, prinsip, dan informasi yang terkait dengan suatu bidang atau topik tertentu. Ini mencakup semua informasi yang telah dikumpulkan dan diakui sebagai dasar dalam suatu disiplin atau area studi.

Body of knowledge profesi keperawatan meliputi berbagai aspek yang berkaitan dengan perawatan dan pengelolaan kesehatan pasien. Ini mencakup:

  1. Anatomi dan Fisiologi: Pengetahuan tentang struktur dan fungsi tubuh manusia, termasuk organ, sistem, dan interaksinya.
  2. Asuhan Keperawatan: Prinsip-prinsip dasar dalam memberikan perawatan kepada pasien, termasuk pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi asuhan keperawatan.
  3. Farmakologi: Pemahaman tentang obat-obatan, efek samping, interaksi, dan pemberian obat yang aman kepada pasien.
  4. Etika dan Hukum Keperawatan: Prinsip-prinsip etika dalam memberikan perawatan kepada pasien, serta pemahaman tentang hukum yang mengatur praktik keperawatan.
  5. Komunikasi: Keterampilan komunikasi yang efektif dengan pasien, keluarga, dan anggota tim kesehatan lainnya.
  6. Manajemen Keperawatan: Konsep manajemen dalam mengatur waktu, sumber daya, dan perencanaan asuhan keperawatan.
  7. Kesehatan Masyarakat: Pengetahuan tentang promosi kesehatan, pencegahan penyakit, dan peran perawat dalam komunitas.
  8. Penelitian Keperawatan: Pemahaman tentang metodologi penelitian dan penerapan hasil penelitian dalam praktek keperawatan.
  9. Teknologi Kesehatan: Pemahaman tentang teknologi medis dan informasi yang digunakan dalam praktik keperawatan.
  10. Keterampilan Klinis: Keterampilan praktis dalam melakukan tindakan medis seperti pemasangan infus, perawatan luka, dan lain-lain.
  11. Perawatan Khusus: Pengetahuan tentang perawatan khusus untuk berbagai kelompok pasien seperti anak-anak, lansia, atau pasien dengan kondisi khusus.
  12. Keterampilan Interpersonal: Kemampuan dalam membangun hubungan yang baik dengan pasien, keluarga, dan rekan kerja.

Body of knowledge keperawatan terus berkembang seiring dengan penemuan baru dan perubahan dalam praktik medis. Perawat diperlukan untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan mereka agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang terbaik bagi pasien.

14 August 2023

Basal Metabolic Rate (BMR)

 

Image by freepik

Basal Metabolic Rate atau laju metabolisme basal (BMR), adalah jumlah energi yang diperlukan oleh tubuh seseorang untuk menjaga fungsi fisiologis dasar saat sedang istirahat. Hal ini termasuk fungsi-fungsi seperti pernapasan, peredaran darah, dan produksi sel. BMR dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, berat badan, dan massa otot.

Terdapat beberapa formula yang dapat membantu Anda memperkirakan laju metabolisme basal (BMR) Anda. Salah satu rumus yang umum digunakan adalah rumus Harris-Benedict. Berikut adalah rumus-rumusnya untuk pria dan wanita:

Untuk pria:

BMR = 88,362 + (13,397 × berat dalam kg) + (4,799 × tinggi dalam cm) - (5,677 × usia dalam tahun)

Untuk wanita:

BMR = 447,593 + (9,247 × berat dalam kg) + (3,098 × tinggi dalam cm) - (4,330 × usia dalam tahun)

Ingatlah bahwa BMR hanyalah perkiraan, dan perbedaan antar individu sangat mungkin terjadi. Jika Anda mencari pengukuran yang lebih akurat, pertimbangkan untuk menggunakan alat profesional seperti kalorimetri tidak langsung atau berkonsultasi dengan tenaga medis profesional.


Kalkulator BMR

Kalkulator BMR











11 August 2023

Indeks Massa Tubuh

Image by Freepik


Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah pengukuran sederhana yang digunakan untuk mengevaluasi apakah seseorang memiliki berat badan yang sehat sesuai dengan tinggi badannya. IMT dihitung dengan membagi berat badan seseorang dalam kilogram oleh kuadrat tinggi badannya dalam meter persegi. Rumusnya adalah:

=  ()  ()2

IMT adalah alat yang umum digunakan untuk memberikan gambaran kasar tentang komposisi tubuh seseorang. Ini digunakan sebagai panduan awal untuk menilai apakah seseorang mungkin mengalami kekurangan berat badan, berat badan normal, kelebihan berat badan, atau obesitas. Namun, perlu diingat bahwa IMT tidak memperhitungkan faktor lain seperti komposisi lemak tubuh, distribusi lemak, massa otot, dan faktor genetik.

Pengklasifikasian IMT umumnya adalah sebagai berikut:

Kurang dari 18,5    : Kekurangan berat badan
18,5 - 24,9               : Berat badan normal
25 - 29,9                  : Kelebihan berat badan
30 atau lebih          : Obesitas

Untuk mempermudah penghitungan gunakan kalkulator IMT di bawah ini:



Kalkulator IMT

Kalkulator IMT

Capacity Building Polkesma 2023


"Secara umum capacity building (CB) dapat diartikan sebagai proses membangun kapasitas individu, kelompok, atau organisasi. Hal ini melibatkan upaya untuk memperkuat kemampuan, ketrampilan, potensi, bakat, dan penguasaan kompetensi sehingga individu, kelompok, atau organisasi dapat bertahan dalam menghadapi perubahan yang cepat dan tidak terduga. Capacity building juga bisa dianggap sebagai proses kreatif dalam membangun kapasitas" demikian laporan Wadir II Polkesma dalam pembukaan acara bertajuk Capacity Building 2023 hari Rabu pagi tanggal 9 Agustus 2023 di Hall Internasional Hotel Alana Yogyakarta.

Mengambil tema "Perkuat Sinergi untuk Prestasi Polkesma Hebat" Bu Afnani (panggilan Wadir II Polkesma) menjelaskan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah:

  1. Meningkatkan integritas dan membangun karakter yang menunjang untuk terciptanya pelayanan prima instansi.
  2. Meningkatkan kerjasama tim, rasa solidaritas antar pegawai, dan kekompakan para pegawai.
  3. Meningkatkan motivasi kerja dan upaya meraih prestasi.
  4. Memperbaiki komunikasi dengan rekan kerja.
  5. Meningkatkan kontribusi SDM pada kinerja organisasi.
  6. Menumbuhkan rasa kepemilikan (sense of belonging) pada instansi, dan
  7. Meningkatkan pelayanan prima kepada publik.

Dalam sambutannya Direktur Polkesma, Dr. Moh Wildan, A.Per.Pen, M.Pd menyatakan bahwa "kegiatan CB bukanlah hura-hura. Kegiatan ini merupakan upaya membangun kapasitas kita untuk meningkatkan prestasi." Lebih jauh, beliau menuturkan bahwa untuk mencapai prestasi dibutuhkan kerja keras dan waktu yang panjang. Beliau mencontohkan dirinya sendiri, bahwa sebenarnya beliau tidak pernah bermimpi untuk menjadi direktur poltekkes. Namun jika dilihat ke belakang, perjalanan yang panjang telah beliau lalui. Memulai pendidikan dari SPK (sekolah perawat kesehatan, pendidikan setara SMA) hingga meraih gelar doktor yang akhirnya mengantarkan beliau menjadi seorang direktur. Beliau berharap kegiatan CB ini nanti mampu membentuk sinergitas individu dan kelompok untuk mengatasi kendala-kendala yang terjadi dalam pekerjaan.

Direktur Polkesma memberikan sambutan dalam CB 2023

Capacity Building Polkesma tahun 2023 diikuti oleh 308 pegawai Polkesma yang terdiri dari dosen dan tenaga kependidikan. Kegiatan ini juga diikuti oleh pegawai yang sudah purna bakti periode bulan Januari hingga Juli 2023. Kegiatan ini dilaksanakan selama empat hari mulai tanggal 8 hingga 11 Agustus 2023, bertempat di Yogyakarta. Adapun kegiatan terdiri dari berbagai aktivitas seperti ESQ, Outbound, dan ekspresi seni dan kreatifitas masing-masing unit kerja.