16 May 2023

SOP: Latihan Relaksasi Fisik Untuk Meredakan Nyeri

 

Image by Freepik

Definisi

Relaksasi adalah strategi kognitif dan/atau fisik yang memberikan peredaan nyeri atau mengurangi nyeri ke tingkat yang dapat diterima, biasanya digunakan bersama dengan metode farmakologis ketika nyeri sangat parah. Partisipasi dan kerjasama penuh dari pasien diperlukan agar teknik relaksasi efektif. Teknik-teknik ini sangat berguna untuk nyeri kronis, nyeri persalinan, dan pengurangan nyeri terkait prosedur. Intervensi relaksasi melibatkan relaksasi progresif otot, pijatan, napas tenang, napas dalam, imajinasi terbimbing, atau kombinasi dari teknik-teknik tersebut.

Persiapan Alat

  • Skala penilaian nyeri
  • Pemutar musik (HP, tape, pemutar CD dll)

Pengkajian

  1. Menggunakan skala penilaian nyeri, mintalah pasien mengidentifikasi intensitas nyeri atau ketidaknyamanan.
  2. Mengevaluasi tanda dan gejala fisiologis, perilaku, dan emosional yang terkait dengan nyeri antara lain: Merintih, menangis, menggerutu, mengeluh, suara vokal; Aktivitas yang berkurang; Ekspresi wajah (misalnya, meringis, gigi terkatup); Perubahan dalam perilaku biasa (misalnya, kurang aktif, mudah tersinggung).
  3. Mengevaluasi karakteristik nyeri. Gunakan penilaian nyeri PQRSTU (Provocative/Palliative factors, Region/Radiation, Severity, Timing, How is pain affecting U (patient)).

Persiapan Lingkungan

Atur lingkungan pasien: Suhu yang sesuai dengan pasien, Pencahayaan, Bunyi, Hindari gangguan yang tidak perlu dan koordinasikan aktivitas perawatan; beri kesempatan untuk istirahat.

Pelaksanaan

  1. Instruksikan pasien untuk duduk dengan nyaman. Jika pasien tidak bisa duduk, pindahkan ke posisi terlentang dengan bantal kecil di bawah kepala.
  2. Mintalah pasien meletakkan satu tangan di dada dan satu tangan di perut.
  3. Bimbing pasien untuk menghirup secara dalam melalui hidung, membiarkan perut naik dan tangan bergerak keluar.
  4. Ketika perut sebagian mengembang, katakan pada pasien untuk terus bernapas dan membiarkan dada mengembang, sehingga tangan atas bergerak keluar.
  5. Berhenti sejenak selama beberapa detik. Kemudian minta pasien menghembuskan napas perlahan-lahan melalui bibir terkatup untuk memastikan pelepasan udara yang lambat dan terkendali. Ulangi selama 4 hingga 6 menit.

Evaluasi

  1. Amati karakteristik pernapasan, posisi tubuh, ekspresi wajah, nada suara, mood, tingkah laku, pengungkapan ketidaknyamanan secara verbal.
  2. Minta pasien menggunakan skala penilaian nyeri untuk menilai tingkat kenyamanan.
  3. Amati pasien melakukan langkah-langkah pengendalian nyeri.

Referensi

  1. Perry, A. G., Potter, P. A., & Ostendorf, W. (2015). Clinical nursing skills and techniques. Elsevier Health Sciences. 

14 May 2023

SOP: Backrub (Pijat Punggung)

 

Image by freepik

Definisi

"Backrub" dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan "pijat punggung". Effleurage adalah jenis pijatan yang terdiri dari gerakan memijat yang panjang, lambat, dan meluncur. Penelitian menunjukkan bahwa pijatan punggung dapat meningkatkan kenyamanan, relaksasi, dan tidur klien."

Tujuan

Pijat punggung dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi:

  • ketegangan otot.
  • intensitas rasa sakit.
  • meningkatkan relaksasi fisik dan mental.

Pengkajian

Perawat perlu mengkaji perilaku pasien yang menunjukkan kebutuhan untuk pijat punggung, seperti keluhan kekakuan, ketegangan otot di punggung atau bahu, atau kesulitan tidur yang terkait dengan ketegangan atau kecemasan. Kaji kesediaan pasien untuk menjalani pijatan, karena beberapa individu mungkin tidak suka dipijat.

Persiapan

  • Lotion khusus untuk pijat
  • Handuk
  • Menyiapkan lingkungan yang tenang

Pelaksanaan

  1. Perkenalkan diri dan verifikasi identitas klien.
  2. Jelaskan kepada klien apa yang akan Anda lakukan. Dorong klien untuk memberikan umpan balik mengenai tekanan yang Anda gunakan selama pijatan punggung.
  3. Lakukan cuci tangan.
  4. Jaga privasi klien.
  5. Bantu klien untuk bergerak ke sisi dekat tempat tidur yang dapat Anda jangkau dan sesuaikan ketinggian tempat tidur agar nyaman saat bekerja.
  6. Tentukan posisi yang disukai oleh klien. Posisi pronasi dianjurkan untuk pijatan punggung. Posisi berbaring miring dapat digunakan jika klien tidak dapat mengambil posisi pronasi.
  7. Buka bagian belakang dari bahu hingga area sakral bagian bawah. Tutup bagian tubuh lainnya.
  8. Pijat punggung dengan cara sebagai berikut:
  • Tuangkan sedikit lotion ke telapak tangan.
  • Gunakan telapak tangan Anda, mulailah di area sakral dengan gerakan melingkar yang lembut. Gerakkan tangan Anda ke atas bagian tengah punggung dan kemudian melintasi kedua tulang belikat. Pijat dengan gerakan melingkar di atas tulang belikat.
  • Gerakkan tangan Anda ke bawah sisi-sisi punggung.
  • Pijat area di atas tulang pinggul kanan dan kiri.
  • Pijat punggung secara berurutan menggunakan berbagai gerakan dan tekanan yang sesuai.
  • Berikan tekanan yang kuat dan terus-menerus tanpa melepaskan kontak dengan kulit klien.
  • Ulangi langkah-langkah di atas selama 3 hingga 5 menit, tambahkan lotion jika diperlukan.
  • Saat memijat punggung, periksa adanya kemerahan pada kulit dan area sirkulasi yang menurun.
  • Keringkan sisa lotion yang berlebih dengan handuk.
  • Dokumentasikan bahwa pijatan punggung telah dilakukan dan respons klien. 
  • Catat temuan-temuan yang tidak biasa.
Pola pijat punggung: sirkuler (Berman, Snyder, & Frandsen, 2016)


Evaluasi

Bandingkan respons klien saat ini dengan respons sebelumnya. Apakah terdapat hasil yang positif bagi klien, seperti peningkatan relaksasi dan penurunan rasa sakit akibat pijatan punggung?

Referensi

  1. Berman, A. T., Snyder, S., & Frandsen, G. (2016). Kozier & Erb's Fundamentals of Nursing: Concepts, Process, and Practice (10th) Edition. Pearson.

11 May 2023

Sleep Hygiene: Implementasi Keperawatan Pada Kebutuhan Istirahat Tidur

 

Image by freepik

Istilah “Sleep Higiene” atau kebersihan tidur merujuk pada intervensi yang digunakan untuk meningkatkan tidur. Intervensi keperawatan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur klien umumnya melibatkan tindakan-tindakan nonfarmakologis yang meliputi pengajaran tentang kebiasaan tidur yang sehat, dukungan terhadap ritual sebelum tidur, penyediaan lingkungan yang tenang, tindakan khusus untuk mempromosikan kenyamanan dan relaksasi, serta penggunaan obat penenang yang tepat. 

Pada klien yang dirawat di rumah sakit, masalah tidur sering kali terkait dengan lingkungan rumah sakit atau penyakit yang mereka alami. Membantu klien tidur dalam situasi tersebut bisa menjadi tantangan bagi seorang perawat, sering melibatkan penjadwalan aktivitas, pemberian analgesik, dan menciptakan lingkungan yang mendukung. 

Pendidikan kepada klien

Individu yang sehat perlu belajar tentang pentingnya tidur dalam menjaga gaya hidup yang aktif dan produktif. Mereka perlu mempelajari (a) kondisi-kondisi yang mempromosikan tidur dan yang mengganggu tidur, (b) penggunaan obat tidur yang aman, (c) efek dari obat-obatan lain yang diresepkan terhadap tidur, (d) efek dari kondisi penyakit mereka terhadap tidur, dan (e) pentingnya tidur yang berlangsung tanpa gangguan dalam waktu yang lama. 

Mendukung Ritual Sebelum Tidur

Sebagian besar orang terbiasa dengan ritual sebelum tidur atau rutinitas menjelang tidur yang menciptakan kenyamanan dan relaksasi. Mengubah atau menghilangkan rutinitas tersebut dapat mempengaruhi tidur seseorang. Aktivitas umum sebelum tidur bagi orang dewasa termasuk:

mendengarkan musik
membaca
mandi yang menenangkan, dan 
berdoa. 

Anak-anak perlu diperkenalkan dengan rutinitas sebelum tidur seperti:

mendengarkan cerita sebelum tidur, 
memegang mainan atau selimut favorit, dan 
memberikan ciuman selamat malam kepada semua orang. 

Tidur juga biasanya didahului oleh rutinitas kebersihan, seperti:

mencuci wajah dan tangan (atau mandi)
menggosok gigi, dan 
buang air kecil.

Di lingkungan institusi, perawat dapat memberikan ritual sebelum tidur seperti:

membantu mencuci tangan dan wajah, 
memberikan pijatan atau minuman hangat, 
menata bantal, dan memberikan selimut tambahan jika diperlukan. 
Berbicara tentang pencapaian atau peristiwa menyenangkan sepanjang hari
memberikan ketenangan pikiran.

Menciptakan Lingkungan yang Menenangkan

Semua orang membutuhkan lingkungan tidur dengan kebisingan minimal, suhu ruangan yang nyaman, ventilasi yang tepat, dan pencahayaan yang sesuai. Meskipun sebagian besar orang lebih suka lingkungan yang gelap, sumber cahaya rendah mungkin memberikan kenyamanan bagi anak-anak atau mereka yang berada dalam lingkungan yang asing. Bayi dan anak-anak membutuhkan ruangan yang tenang, biasanya terpisah dari kamar orang tua, selimut ringan atau hangat sesuai kebutuhan, dan lokasi yang jauh dari jendela terbuka atau angin dingin.

Gangguan lingkungan seperti kebisingan lingkungan dan kebisingan komunikasi staf merupakan masalah yang sangat mengganggu bagi klien yang dirawat di rumah sakit. Kebisingan lingkungan mencakup suara sistem paging, telepon, dan lampu panggil; peringatan monitor; pintu yang tertutup; bel lift; kerincingan mebel; dan gerobak linen yang digerakkan di koridor. Komunikasi staf merupakan faktor utama yang menciptakan kebisingan, terutama saat pergantian shift staf.

Untuk menciptakan lingkungan yang menenangkan, perawat perlu mengurangi gangguan lingkungan, mengurangi gangguan tidur, memastikan lingkungan yang aman, dan menyediakan suhu ruangan yang memuaskan bagi klien. Beberapa intervensi untuk mengurangi gangguan  adalah sebagai berikut:

Tutup tirai jendela jika cahaya lampu dari luar masuk.
Tutup tirai antara klien dalam ruangan semi-pribadi dan ruangan yang lebih besar.
Hindari pencahayaan dari atas; sediakan lampu tidur di samping tempat tidur
Gunakan senter untuk memeriksa kantong drainase, dll.
Pastikan jalur di sekitar tempat tidur terbebas dari benturan 
Tutup pintu kamar klien.
Patuhi kebijakan lembaga tentang waktu untuk mematikan televisi atau radio bersama.
Turunkan nada dering telepon di sekitar.
Hentikan kesibukan setelah jam tertentu (mis: jam 21.00) atau kurangi volume suara.
Lakukan percakapan staf yang diperlukan dengan volume rendah; 
Lakukan laporan keperawatan atau diskusi lainnya di area terpisah dari ruang klien.
Gunakan sepatu yang beralas karet.
Pastikan semua roda kereta dorong telah diolesi dengan baik.
Lakukan kegiatan berisik yang penting saja selama jam tidur.

Lingkungan juga harus aman agar klien dapat rileks. Orang yang tidak terbiasa dengan tempat tidur rumah sakit yang sempit mungkin merasa lebih aman dengan rel samping. Langkah-langkah keselamatan tambahan meliputi:

Menempatkan tempat tidur dalam posisi rendah.
Menggunakan lampu tidur.
Menempatkan bel panggilan dalam jangkauan yang mudah.

Referensi

  1. Berman, A. T., Snyder, S., & Frandsen, G. (2016). Kozier & Erb's Fundamentals of Nursing: Concepts, Process, and Practice (10th) Edition. Pearson.