31 May 2022

Diare

Smart man photo created by 8photo - www.freepik.com

Pada tahun 2016, diare adalah penyebab utama kematian kedelapan di antara segala usia (1.655.944 kematian) dan penyebab utama kematian kelima di antara anak-anak di bawah 5 tahun (446.000 kematian). Penyebab utama kematian diare di antara anak-anak di bawah 5 tahun dan di segala usia adalah Rotavirus. Anak yang kurus, air yang tercemar, dan sanitasi yang buruk merupakan faktor risiko utama terjadinya diare dan bertanggung jawab atas kematian diare masing-masing sebesar 80,4%, 72,1%, dan 56,4%. Pencegahan berat badan rendah pada 1762 anak dapat mencegah satu kematian akibat diare.‎

Definisi Diare

‎Diare adalah buang air besar 3 kali atau lebih tinja encer atau cair dalam satu hari, atau frekwensi lebih sering dari biasanya (Health Direct, 2021).‎ Diare didefinisikan sebagai pengeluaran feses yang sering, lunak dan tidak terbentuk (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017). Nilai normal kadar air dalam tinja adalah sekitar 10 mL/kg/hari pada bayi dan anak kecil atau 200 g/hari pada remaja dan orang dewasa. Peningkatan kadar air dalam tinja karena ketidakseimbangan fungsi normal proses fisiologis usus halus dan kolon yang bertanggung jawab dalam penyerapan berbagai ion, substrat lain, dan akibatnya air (Nemeth & Pfleghaar, 2021).‎

‎Diare dikategorikan menjadi akut atau kronis dan menular atau tidak menular berdasarkan durasi dan jenis gejala. Diare akut didefinisikan sebagai episode yang berlangsung kurang dari dua minggu. Dan, infeksi merupakan penyebab yang paling sering dari diare akut. Sebaliknya, diare kronis didefinisikan sebagai durasi yang berlangsung lebih dari dua minggu dan cenderung tidak menular. Penyebab umum termasuk malabsorpsi, penyakit radang usus, dan efek samping obat‎ (Nemeth & Pfleghaar, 2021).

Penyebab

Berbagai faktor bisa menyebabkan diare seperti faktor fisiologis, seperti inflamasi gastrointestinal, iritasi gastrointestinal, proses infeksi, malabsorsi, dan psikologis. Faktor kecemasan, seperti tingkat stres yang tinggi, juga bisa menyebabkan diare. Situasional juga bisa menyebabkan diare seperti terpapar kontaminan, terpapar toksin, penyalahgunaan laksatif, penyalahgunaan zat, program pengobatan (Agen tiroid, analgesik, pelunak feses, ferosultat, antasida, cimetidine dan antibiotik), perubahan air dan makanan, dan bakteri pada air.

Gejala dan Tanda

Diare sering ditandai dengan kejadian defekasi lebih dari tiga kali dalam 24 jam, feses lembek atau bahkan cair. Tanda-tanda peningkatan frekuensi peristaltik dan bising usus hiperaktif juga bisa ditemukan. Keluhan urgency, nyeri/kram abdomen mungkin juga didapatkan pada pasien (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017). Selain itu pasien bisa mengalami mual, muntah, demam, sakit kepala, perut sebab dan kembung, hilang nafsu makan, lemah dan dehidrasi (Health Direct, 2021).‎

Beberapa penyakit yang sering ditandai dengan diare antara lain: kanker kolon, divericulitis, iritasi usus, crohn’s disease, ulkus peptikum, gastritis, spasme kolon, kolitis ulseratif, hipertiroidisme, demam typoid, malaria, sigelosis, kolera, disentri, hepatitis (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017).

Manajemen Keperawatan

Berikut ini adalah beberapa pertimbangan penting yang harus dilakukan saat mendiagnosis dan mengelola diare karena identifikasi agen etiologis sangat penting:‎ 

  • ‎Karakteristik tinja bervariasi tergantung penyebab, seperti konsistensi, warna, volume, dan frekuensi‎
  • ‎Ada atau tidak adanya gejala penyerta, seperti mual/muntah, demam, dan sakit perut‎
  • Paparan kuman patogen seperti rotavirus, astrovirus, calicivirus; Spesies Shigella, Campylobacter, Giardia, dan Cryptosporidium‎
  • Riwayat makanan yang terkontaminasi‎
  • ‎Riwayat paparan air dari kolam renang, berkemah, atau lingkungan laut‎
  • ‎Riwayat perjalanan. Beberapa patogen sering mempengaruhi wilayah tertentu; escherichia enterotoksigenik adalah patogen dominan
  • ‎Paparan hewan yang dikaitkan dengan diare, seperti anjing/kucing muda: Campylobacter; kura-kura: Salmonella
  • ‎Faktor predisposisi seperti rawat inap, penggunaan antibiotik, imunosupresi‎‎

Terlepas dari jenis diare, terapi rehidrasi untuk mengganti kehilangan cairan dan elektrolit adalah aspek penting dari manajemen setiap pasien dengan diare. Pasien harus didorong untuk minum jus buah encer atau oralit. Dalam kasus diare yang lebih parah, rehidrasi cairan IV mungkin diperlukan. ‎‎Makan makanan yang lebih rendah serat dapat membantu membuat tinja lebih kencang. berbagai jenis makanan termasuk pisang, roti panggang, oatmeal, nasi putih, saus apel dan sup / kaldu ditoleransi dengan baik dan dapat memperbaiki gejala.‎ Terapi anti-diare dengan agen anti-sekretori atau anti-motilitas dapat dimulai untuk mengurangi frekuensi tinja. Namun, terapi ini harus dihindari pada orang dewasa dengan diare berdarah atau demam tinggi karena terapi tersebut dapat memperburuk infeksi usus. Terapi antibiotik empirik dengan fluoroquinolone oral dapat dipertimbangkan pada pasien dengan gejala yang lebih parah. Suplemen probiotik bisa diberikan untuk mengurangi keparahan dan durasi gejala dan harus didorong pada pasien dengan diare akut (Nemeth & Pfleghaar, 2021). 

Dalam pendekatan keperawatan SDKI (2017), kondisi diare biasanya diatasi dengan beberapa intervensi. Intervensi paling utama adalah manajemen diare dan pemantauan cairan. Intervensi pendukung akan diberikan sesuai dengan kondisi seseorang/pasien. Intervensi pendukung bisa meliputi: dukungan Perawatan Diri: BAB/BAK, dukungan Kepatuhan Program Pengobatan Pemberian Makanan Enteral, edukasi Kemoterapi, Pemantauan Elektrolit, Pemberian Obat, Pemberian Obat Intradermal, Pemberian Obat Intravena, Pemberian Obat Oral, Konsultasi, Irigasi Kolostorni, Insersi Intravena, Manajemen Cairan, Manajemen Elektrolit, Manajemeii Eliminasi Fekal, Manajemen Kemoterapi, Manajemen Lingkungan, Manajemen Medikasi, Manajemen Nutrisi, Manajemen Nutrisi Parenteral, Pengontrolan Infeksi, Perawatan Kateter Sentral Perifer, Perawatan Perineum, Perawatan Selang Gastrointestinal, Perawatan Stoma, Promosi Berat Badan, Reduksi Ansietas, dan Terapi Intravena (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017).

Referensi

  1. Health Direct, 2021. Diarrhoea. https://www.healthdirect.gov.au/diarrhoea. Diakses pada tanggal 31 Mei 2022
  2. Nemeth V, Pfleghaar N. Diarrhea. [Updated 2021 Nov 29]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK448082/
  3. Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, Definisi dan Indikator Diagnostik. Edisi 1 (Cetakan III). Penerbit DPP PPNI
  4. Troeger, C., Blacker, B. F., Khalil, I. A., Rao, P. C., Cao, S., Zimsen, S. R., ... & Reiner Jr, R. C. (2018). Estimates of the global, regional, and national morbidity, mortality, and aetiologies of diarrhoea in 195 countries: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2016. The Lancet Infectious Diseases, 18(11), 1211-1228.


28 May 2022

Nausea

Stink photo created by karlyukav - www.freepik.com


Nausea atau yang kita sebut dengan mual adalah perasaan yang bersifat subyektif, tidak menyenangkan namun tidak menyakitkan. Biasanya berkaitan keinginan mau muntah (Hasler dan Chey, 2003). Namun, tidak setiap perasaan mual selalu disertai dengan muntah. Meski jarang, terdapat situasi di mana mual berat dapat terjadi tanpa muntah. Sebaliknya, muntah dapat terjadi tanpa mual sebelumnya walaupun sangat jarang (Singh, Yoon, & Kuo, 2016). Umumnya perasaan mual lebih sering terjadi dibandingkan muntah. Menurut SDKI (2017), muntah didefinisikan sebagai perasaan tidak nyaman di belakang tenggorokan atau dalam lambung yang dapat mengakibatkan muntah. Nausea merupakan standar diagnosa keperawatan Indonesia dengan no D.0075.

‎Mual adalah gejala yang umum terjadi pada orang sakit yang disebabkan oleh berbagai macam kondisi yang dikategorikan penyebab obat-obatan dan etiologi toksik dan gangguan usus & peritoneum (Tabel 1).

Tabel 1. Penyebab mual

Obat-obatan dan etiologi toksik

Gangguan usus dan peritoneum

Kemoterapi kanker

Analgesik

Obat kardiovaskular

Digoxin

Antiaritmia

Antihipertensi

β-Blocker

Calcium-channel antagonists

Sediaan/terapi hormonal

Antidiabetik oral

Kontrasepsi oral

Antibiotik/antivirus

Eritromisin

Tetrasiklin

Sulfonamida

Obat antituberkulosis

Asiklovir

Obat gastrointestinal

Sulfasalazine

Azathioprine

Nikotin

SSP aktif

Narkotika

Obat antiparkinson

Antikonvulsan

Terapi radiasi

Penyalahgunaan etanol

Penyebab-penyebab infeksi

Gastroenteritis

Otitis media

Porfiria intermiten akut

Penyebab lain-lain

Penyakit jantung

Infark miokard

Gagal jantung kongestif

Ablasi frekuensi radio

Kelaparan

Obstruksi mekanik

Obstruksi saluran keluar lambung

Obstruksi usus kecil

Gangguan gastrointestinal fungsional

Dispepsia fungsional

Nausea idiopatik kronis

Sindrom Muntah Siklik

Muntah idiopatik

Non-ulcer dyspepsia

Sindrom iritasi usus besar

Gangguan saluran cerna organik

Adenokarsinoma pankreas

Peptic ulcer disease

Kolesistitis

Pankreatitis

Hepatitis

Penyakit Crohn

Gangguan neuromuskular pada saluran pencernaan

Gastroperesis

Mual dan muntah pasca operasi

Obstruksi semu usus kronis

Penyebab-penyebab saraf pusat

Migrain

Peningkatan tekanan intrakranial

Keganasan

Perdarahan

Infark

Abses

Meningitis

Malformasi kongenital

Hidrosefalus

Pseudotumor serebri

Gangguan kejang

Gangguan demielinasi

Penyakit Psikiatri

Muntah psikogenik

Gangguan kecemasan

Depresi

Nyeri

Gangguan Makan

Gangguan labirin

Mabuk

Labirinitis

Tumor

penyakit Meniere

Iatrogenik

Penyebab endokrinologis dan metabolik

Kehamilan

Endokrin dan metabolisme lainnya

Uremia

Ketoasidosis diabetik

Hiperparatiroidisme

Hipoparatiroidisme

Hipertiroidisme

Penyakit Addison

Sumber: Singh & Kuo (2016).

Patofisiologi

Mekanisme dasar yang terlibat terjadinya mual cukup kompleks dan mencakup keadaan psikologis, sistem saraf pusat, sistem saraf otonom, disritmia lambung, dan sistem endokrin. Jalur sentral dan perifer terlibat dalam terjadinya mual. Informasi aferen dari berbagai rangsangan disampaikan ke nukleus traktus solitarius melalui empat jalur: vestibular dan serebelar, korteks serebral dan sistem limbik, area postrema dan saluran cerna melalui saraf vagus. Setelah salah satu jalur saraf ini diaktifkan, itu memuncak menjadi sensasi mual dengan atau tanpa muntah. Informasi eferen dari nukleus traktus solitarius juga bertanggung jawab untuk aktivasi respon saraf otonom melalui jalur vagal. Mual juga berhubungan dengan disritmia lambung dan pelepasan vasopresin. Namun, hubungan sebab-akibat dari triad ini tidak dipahami dengan baik dan memerlukan penelitian lebih lanjut.

Gambar1. Patofisiologi Mual


Gejala dan Tanda

Gejala yang sering terjadi pada nausea  adalah keluhan mual, merasa ingin muntah, dan tidak berselera makan. Ada gejala yang jarang muncul seperti rasa asam di mulut, sensasi panas/dingin, dan sering menelan. Nausea juga bisa ditandai dengan peningkatan saliva, pasien tampak pucat dan diafoeris, takikardi, dan pupil mengalami dilatasi.

Manajemen Keperawatan

Manajemen mual akut perlu dibedakan dengan mual kronis. Berkaitan dengan mual kronis, terdapat kekurangan literatur yang mengevaluasi terapi farmakologis. Hal ini dikarenakan perasaan mual muntah secara klinis sering kali berlangsung sebentar dan hilang dengan sendirinya. Literatur yang ada sering berfokus pada pada situasi klinis di mana risiko mual dan muntah tinggi, seperti pada kehamilan, periode waktu pasca operasi, pasca kemoterapi, dan pasca radiasi (Singh & Kuo, 2016).

Dalam pendekatan keperawatan SDKI (2017), nausea biasanya diatasi dengan beberapa intervensi. Intervensi paling utama adalah manajemen mual dan manajemen muntah. Adapun intervensi pendukung biasanya diberikan sesuai dengan kondisi pasien. Intervensi pendukung tersebut bisa meliputi: dukungan hypnosis diri, edukasi efek samping obat, kemoterapi, edukasi manajemen nyeri, edukasi perawatan kehamilan, edukasi Teknik nafas, manajemen efek samping obat, manajemen kemoterapi, manajemen nyeri, manajemen stress, pemberian obat secara IV atau oral, terapi akupungtur, akupresur, dan terapi relaksasi.

Referensi

  1. Singh, P., Yoon, S. S., & Kuo, B. (2016). Nausea: a review of pathophysiology and therapeutics. Therapeutic advances in gastroenterology, 9(1), 98–112. https://doi.org/10.1177/1756283X15618131
  2. Hasler, W. L., & Chey, W. D. (2003). Nausea and vomiting. Gastroenterology, 125(6), 1860–1867. 
  3. Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, Definisi dan Indikator Diagnostik. Edisi 1 (Cetakan III). Penerbit DPP PPNI