30 December 2021

Jari-jari Kaku, Penyebab dan Perawatannya


Memiliki jari-jari kaku akan sangat mengganggu. Meskipun arthritis (radang sendi) adalah penyebab utama kekakuan jari, namun masih ada faktor-faktor lain yang perlu dipertimbangkan. 

‎Seseorang mungkin mengalami jari-jari kaku pada pagi atau malam hari. Kekauan jari pada waktu tertentu ini dapat membantu mendiagnosis penyakit. Nah, untuk menentukan ‎‎pengobatan terbaik‎‎ pada  jari kaku, maka perlu ditentukan penyebabnya.‎

‎Artikel ini menyajikan berbagai penyebab jari kaku dan perawatannya seperti peregangan dan latihan yang dapat dilakukan seseorang di rumah untuk membantu mengembalikan fleksibilitas ke tangan.‎

Jika Terjadi di Pagi Hari

‎Seseorang mungkin mengalami kekakuan pada jari-jarinyanya di pagi hari. Berikut beberapa kondisi yang menyebabkan jari-jari kaku di pagi hari.‎

1. Osteoarthritis

‎Osteoarthritis‎‎ adalah bentuk ‎‎arthritis‎‎ yang mengakibatkan peradangan di sekitar sendi. Penyakit ini mempengaruhi lebih dari ‎‎32,5 juta ‎‎ orang dewasa di Amerika Serikat. ‎‎Kondisi ini terjadi akibat adanya tulang rawan di daerah sendi setelah tulang mengalami kerusakan. ‎‎Kurangnya gerakan yang berkepanjangan‎‎ selama tidur dapat menyebabkan sendi mengencang.‎ 

‎Gejala lain yang mungkin dialami seseorang dengan osteoarthritis meliputi ‎nyeri sendi berskala ringan hingga berat‎, ‎pembengkakan dan ‎kekakuan setelah bangun tidur‎, penurunan rentang gerak sendi, dan penurunan fleksibilitas.

‎Menurut ‎‎American Society for Surgery of the Hand,‎‎osteoarthritis tangan umumnya mempengaruhi ‎pangkal sendi ibu jari, ‎sendi yang paling dekat dengan ujung jari, sendi tengah jari-jari‎. ‎Selain jari-jarinya, seseorang mungkin mendapati gejala osteoarthritis ditempat lain seperti di‎‎ punggung bawah, leher, dan di beberapa sendi seperti lutut, pinggul, dan kaki.‎

2. Rheumatoid arthritis

‎Rheumatoid arthritis‎‎ adalah bentuk lain dari arthritis. Kondisi ini merupakan gangguan ‎‎autoimun‎‎ dan inflamasi, yang berarti bahwa sel-sel kekebalan dalam tubuh ‎‎menyerang sel-sel sehat‎‎ dan menyebabkan peradangan di bagian-bagian tertentu dari tubuh.‎

‎Seseorang mungkin mengalami jari-jari kaku di pagi hari yang dapat berlangsung selama ‎‎beberapa jam‎‎‎‎. Beberapa tanda dan gejala dari rheumatoid arthritis ‎‎antara lain ‎nyeri dan kekakuan disertai pembengkaan di lebih dari satu sendi‎. Penderita juga bisa merasa demam, ‎kelelahan, ‎kelemahan‎, dan ‎penurunan berat badan‎. Selain mengenai jari-jari, kekakuan juga bisa menyerang sendi pergelangan tangan. Gejala unik rheumatoid arthritis adalah jari-jari menjauh dari ibu jari. ‎‎Jari-jari juga dapat berubah bentuk, seperti jari tengah yang terlalu berlebihan dan bengkok. Kondisi ini disebut sebagai deformitas Boutonniere atau deformitas leher-angsa. Seorang dengan rheumatoid arthritis mungkin juga mengalami kesulitan menekuk jari-jari mereka.‎

‎3. ‎Jari Pelatuk‎ (Trigger Fingers)

‎Jari pelatuk‎‎, atau ‎tenosynovitis‎ terjadi ketika cairan dalam selubung pelindung di sekitar tendon di jari yang terkena mengalami peradangan. Jari pelatuk umumnya mempengaruhi jari manis dan ibu jari, tetapi dapat pula mengenai jari-jari lainnya. ‎

‎Kondisi ini dapat menyebabkan kesulitan menggerakan sendi yang terkena, seseorang juga merasakan nyeri saat menekuk atau meluruskan jari‎, kemerahan, ‎pembengkakan‎, ‎jari yang terkena menjadi terjebak dalam posisi menekuk, ‎benjolan di pangkal jari di sisi telapak tangan‎, ‎sensasi terkunci saat jari digerakkan mirip pelatuk pistol.‎

‎Beberapa penyebab potensial jari pelatuk meliputi ‎kondisi autoimun seperti rheumatoid arthritis dan ‎‎diabetes‎; ‎terlalu sering menggunakan sendi yang terkena, atau ‎‎cedera regangan berulang‎; ‎organisme menular, seperti bakteri stafiluskokus yang tahan methicillin. ‎Mungkin juga tidak ada penyebab yang jelas dari jari pelatuk ini. ‎

‎Menurut ‎‎American Academy of Orthopaedic Surgeons,‎‎ kekakuan  jari yang terkena seringkali memburuk jika jari lama tidak digerakkan, seperti di pagi hari setelah bangun tidur.‎

4. Kontraktur Dupuytren

Kontaktur Dupuytren adalah kondisi yang ‎‎mempengaruhi‎‎ fasia tangan, yaitu jaringan ikat yang mengelilingi tulang. Kondisi ini paling sering menyerang jari manis dan kelingking. 

‎Seseorang dengan kontraktur Dupuytren mungkin merasakan nodul di sisi telapak tangan. Nodul membentuk tali yang menghasilkan deformitas kontraktur dalam pita fasia dan jaringan tangan. Tali menjadi tebal dan memendek, mengakibatkan hilangnya rentang gerak di tangan. Jari-jari yang terkena akhirnya menjadi sulit untuk diluruskan.‎

‎Penyebab kontraktur Dupuytren adalah kelainan genetik yang sering diwariskan secara autosom dominan, tetapi etiologi multifaktorial sering dijumpai seperti diabetes, gangguan kejang, merokok, alkoholisme, HIV, dan penyakit vaskular.‎

‎Jika Terjadi di Malam Hari‎

‎Bisa jadi seseorang mengalami jari-jari kaku di malam hari. Berikut adalah beberapa kondisi yang menyebabkan jari kaku di malam hari.‎

1. ‎Carpal tunnel syndrome

Carpal tunnel syndrome (CTS) ‎‎ terjadi ketika saraf yang berjalan dari lengan bawah ke telapak tangan, yang disebut saraf tengah, mengalami tekanan atau penyempitan di pergelangan tangan.‎

‎Seseorang dengan CTS mungkin sering mengalami mati rasa atau sensasi kesemutan di jari, terutama di ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah.‎

‎Gejala sering muncul ‎‎di malam hari‎‎ dan biasanya menjadi lebih baik pada siang hari. Namun, seiring perkembangan, seseorang juga dapat mengalami gejala di siang hari.

2. ‎Tendonitis tangan‎

Tendonitis‎ ‎‎ adalah peradangan dan pembengkakan tendon. Ini terjadi sebagai akibat dari aktivitas berulang seperti bermain olahraga dan terlibat dalam kerja manual.‎

‎Seseorang dengan tendonitis tangan mungkin mengalami rasa sakit di luar sendi, terutama ketika menggerakkan sendi. Mereka mungkin juga mengalami pembengkakan di daerah yang terkena.‎

Perawatan Jari-jari Kaku

Terdapat banyak opsi penanganan jari-jari kaku, tergantung pada beberapa faktor, seperti penyebab terjadinya kekakuan, ‎tingkat keparahan gejala, ‎usia dan status kesehatan secara umum. Selain herbal dan obat-obatan serta tindakan medis lainnya, peregangan dan latihan sederhana dapat membantu mengurangi kekakuan. Cobalah tiga dari beberapa latihan di bawah untuk mengurangi nyeri sendi, menjaga jari-jari Anda lentur, dan meningkatkan produktivitas dan kemandirian Anda.

1. Latihan Tekuk Jari

‎Stabilkan lengan Anda dengan menempatkan siku di atas meja atau sandaran tangan. Jaga pergelangan tangan Anda tetap lurus. Mulailah dengan menekuk jari-jari Anda. Setelah melakukan beberapa kali, perlahan-lahan membuat tinju dengan tangan Anda dan tahan selama 10 detik. Kemudian, buka dan lepaskan jari-jari Anda ke atas dan tahan selama 10 detik.‎

‎Ingatlah untuk melatih perlahan. Radang sendi kecil jari-jari Anda dapat menyulitkan gerakan menekuk jari. Cobalah merendam dengan air hangat tangan Anda sebelum memulai latihan.‎

2. Latihan Sentuh Jari

‎Mulailah dengan telapak tangan menghadap ke atas dan jari-jari Anda sepenuhnya diluruskan. Tekuk ibu jari Anda dan regangkan di telapak tangan Anda sampai menyentuh jari kelingking Anda. Setelah memegang selama 5 detik, bawa ibu jari Anda kembali ke posisi semula.‎

‎Terus sentuh sisa jari-jari Anda berturut-turut. Ingatlah untuk kembali ke posisi netral (dengan telapak tangan Menghadap ke atas) di antara setiap sentuhan jari.‎

3. Latihan Geser Jari

‎Letakkan telapak tangan Anda di atas meja. Jari-jari Anda harus direnggangkan. Geser jari telunjuk Anda ke arah ibu jari Anda tanpa menekuknya. Lanjutkan latihan dengan menggeser masing-masing jari Anda ke arah ibu jari Anda. Setelah selesai, kembalikan jari-jari Anda ke posisi awal.‎

4. Latihan Mengepal Jari

‎Mulailah dengan merelaksasi lengan Anda di atas meja atau sandaran tangan. kepalkan jari-jari Anda bersama-sama secara perlahan dan lembut, pastikan bahwa ibu jari Anda melilit semua jari-jari Anda. Tahan posisi ini selama sekitar 45 detik, dan kemudian lepaskan jari-jari Anda dengan posisi yang renggang antar jari.‎

5. Peregangan Ujung Jari

‎Tempatkan tangan santai Anda di atas meja atau permukaan yang datar. Perlahan-lahan regangkan jari-jari Anda sampai mereka meluruskan dan tangan Anda benar-benar rata. Jaga tangan Anda tetap rata di meja selama 30 hingga 60 detik.‎

6. Latihan Penguatan Pegangan

‎Untuk melatih kekuatan pegangan, ambil bola kecil dan lembut dan peras erat-erat di tangan Anda. Tahan selama beberapa detik, lalu lepaskan. Ulangi ini selama sekitar 45 detik per tangan. Istirahatkan tangan Anda selama sekitar 1 sampai 2 hari setelah menyelesaikan peregangan ini.‎

7. Latihan Penguatan Cubitan

‎Latihan ini dilakukan dengan bola kecil dan lembut dan mencubitnya di antara jari dan ibu jari Anda. Lakukan selama sekitar 30 hingga 60 detik sebelum melepaskan. Istirahatkan tangan Anda selama sekitar 1 sampai 2 hari setelah menyelesaikan peregangan ini.‎

Referensi:

  1. Johnson, J., (2021). Causes and treatments for stiff fingers. https://www.medicalnewstoday.com/articles/326867
  2. Roth, E., (2021). Easy Exercises to Prevent Hand Stiffness. https://www.healthline.com/health/psoriatic-arthritis/prevent-stiffness
  3. Walthall J, Anand P, Rehman UH. Dupuytren Contracture. [Updated 2021 Sep 14]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK526074/


21 December 2021

Kelopak Mata Bengkak dan Perawatannya

Man photo created by cookie_studio - www.freepik.com


Dikutip dari www.medicalnewstoday.com, bahwa mata bengkak bisa disebabkan oleh banyak hal. yaitu:

1. Tembel.

Yach siapa yang tidak tahu tempel, kalian semua pasti pernah mengalaminya bukan. Tembel (hordeolum) adalah infeksi kelenjar di kelopak mata. Jenis tembel yang paling umum menginfeksi kelenjar air mata yang berada di dasar bulu mata. Tembelan juga terkadang terjadi di dalam kelopak mata karena kelenjar minyak yang terinfeksi. Tembelan biasanya dimulai sebagai benjolan merah, gatal, nyeri, bengkak. Selama beberapa jam atau beberapa hari, mereka mulai menyerupai jerawat. Beberapa memiliki bintil putih. Dalam kebanyakan kasus, infeksi hanya mempengaruhi satu air mata atau kelenjar minyak dan tidak memerlukan pengobatan. Kompres hangat dapat membantu mengurangi rasa sakit. Orang harus menghindari produk mata, termasuk riasan dan krim mata sampai bintil menghilang. Mereka juga tidak boleh mencoba memencet tembel karena ini dapat menyebarkan infeksi dan merusak mata. Antibiotik dapat membantu dalam situasi berikut:

  • muncul beberapa tembel sekaligus
  • tembel terasa sangat sakit
  • gejalanya memburuk
  • disertai demam 
  • penglihatan terganggu

Jika kalian mengalami tembelan dengan salah satu gejala tersebut, segera hubungi dokter mata anda agar mata anda tidak terganggu terlalu lama.

2. Kalazion

Kalazion tampak seperti tembel, tetapi ia bukan infeksi. Sebaliknya, kalazion terjadi ketika kelenjar minyak di kelopak mata tersumbat. Orang yang memiliki satu kalazion cenderung mendapatkan lebih banyak, dan benjolan bisa tumbuh cukup besar. Namun, chalazia jarang sakit. Mereka biasanya mengekspresikan diri mereka sendiri setelah beberapa hari, seperti jerawat. Kompres hangat dapat membantu membersihkan kalazion lebih cepat. Ketika kalazion tumbuh sangat besar, mereka dapat mengganggu penglihatan dan mungkin menjadi menyakitkan. Mungkin juga sulit untuk membedakan antara chalazion, tembel, atau infeksi mata. Jika benjolan tidak hilang setelah beberapa hari atau ada tanda-tanda infeksi lain, seperti demam, seseorang harus menghubungi dokter mata.

3. Konjungtivitis 

Konjungtivitis, juga dikenal sebagai mata merah, adalah peradangan pada konjungtiva mata, yang merupakan jaringan tipis bening yang melapisi kelopak mata dan bola mata. Orang dengan mata merah biasanya memiliki bola mata merah dan mungkin mengalami rasa sakit, gatal, dan kelopak mata bengkak.

Bentuk paling umum dari konjungtivitis adalah infeksi virus yang hilang dengan sendirinya setelah 7-10 hari. Namun, infeksi bakteri juga dapat menyebabkan konjungtivitis. Kadang-kadang, alergi atau iritasi seperti parfum mengiritasi mata, menyebabkan konjungtivitis. Kompres hangat dapat membantu mengurangi rasa sakit. Orang juga harus:

  • menjaga mata tetap bersih dan bebas dari kosmetik
  • hindari menggosok atau menyentuh mata
  • cuci tangan sesering mungkin untuk mencegah penyebaran infeksi

Jika gejala memburuk, rasa sakit menjadi parah, atau mata merah tidak hilang dalam beberapa hari, dokter mungkin akan meresepkan antibiotik.

4. Blefaritis

Beberapa orang memiliki lebih banyak bakteri di dalam dan di sekitar kelopak mata mereka daripada yang lain. Bakteri ini dapat menyebabkan kondisi yang disebut blepharitis. Orang dengan blepharitis mungkin memiliki kelopak mata berminyak dan serpihan seperti ketombe di sekitar bulu mata mereka. Beberapa orang dengan blepharitis kelopak matanya meradang dan terasa sangat sakit. Blefaritis adalah kondisi kronis yang tidak ada obatnya. Sebaliknya, itu cenderung berjangkitnya gejala yang menjadi lebih baik dan kemudian lebih buruk. Kompres hangat, menghilangkan riasan mata dengan hati-hati, dan menggosok kelopak mata dapat membantu. Seorang dokter mata mungkin meresepkan salep antibiotik. Terkadang, blepharitis menyebabkan infeksi yang lebih parah. Jika blepharitis memburuk atau jika rasa sakitnya bertambah hebat, hubungi dokter mata.

5. Selulitis mata

Selulitis mata adalah infeksi jauh di dalam jaringan kelopak mata. Ini dapat menyebar dengan cepat dan seringkali sangat menyakitkan. Bahkan luka kecil pun dapat menyebabkan cukup banyak bakteri untuk memicu selulitis mata. Jika kelopak mata sangat sakit, merah, bergaris, atau bengkak, seseorang harus mencari perawatan medis darurat. Selulitis adalah infeksi serius yang memerlukan pengobatan antibiotik. Tergantung pada tingkat keparahan infeksi, mungkin perlu untuk menerima antibiotik intravena (IV).

6. Penyakit Graves

Penyakit Graves adalah gangguan endokrin yang menyebabkan tiroid terlalu aktif. Kondisi ini dapat menyebabkan tiroid keliru melepaskan sel untuk melawan infeksi yang sebenarnya tidak ada di mata. Antibodi yang dilepaskannya dapat menyebabkan pembengkakan dan peradangan pada mata. Berbagai perawatan tersedia untuk penyakit Graves, termasuk operasi tiroid dan berbagai obat.

7. Herpes mata

Herpes okular adalah infeksi herpes di dalam dan di sekitar mata. Meskipun siapa pun dapat mengembangkan herpes okular, ini paling sering terjadi pada anak-anak. Herpes okular dapat sangat mirip dengan mata merah muda tetapi tidak selalu menghasilkan lesi yang berbeda. Untuk mendiagnosis herpes, dokter perlu mengambil kultur mata untuk memeriksa keberadaan virus. Meskipun virus tetap berada di dalam tubuh dan tidak ada obatnya, obat antivirus dapat mengatasi gejalanya.

8. Saluran air mata tersumbat

Ketika saluran air mata tersumbat, maka air mata tidak dapat mengalirkan dengan lancar, akibatnya timbul rasa sakit dan kemerahan pada kelopak mata. Orang dengan kelopak mata yang tersumbat mungkin akan mendapati kerak pada saluran mata. Mata mereka mungkin tertutup rapat saat bangun tidur. Bayi baru lahir dan anak usia di bawah 1 tahun sangat rentan mengalami sumbatan saluran air mata. Gejala sering membaik pada saat mereka berusia 1 tahun. Dalam kebanyakan kasus, saluran air mata yang tersumbat dapa mengganggu tetapi tidak berbahaya. Kompres hangat dapat meredakan pembengkakan dan membantu saluran air mata mengalir. Cobalah memijat area tersebut dengan lembut untuk mengurangi tekanan dan mengeringkan saluran. Saluran air mata yang tersumbat terkadang bisa terinfeksi. Jika kelopak mata sangat sakit, atau jika seseorang mengalami demam, mereka harus mencari perawatan segera. Infeksi mungkin memerlukan antibiotik. Jika saluran air mata yang tersumbat tidak sembuh, dokter mungkin perlu melakukan prosedur medis untuk membukanya.

9. Alergi

Jika mata gatal, merah, dan berair menyertai kelopak mata yang bengkak, bisa jadi penyebabnya adalah alergi mata. Debu, serbuk sari, dan alergen umum lainnya dapat mengiritasi mata, memicu reaksi alergi. Alergi mata jarang berbahaya, tetapi bisa mengganggu. Menghindari alergen yang diketahui adalah pengobatan terbaik, tetapi beberapa orang mendapatkan bantuan dari penggunaan antihistamin, seperti Benadryl. Obat tetes mata yang dijual bebas, juga dapat membantu mengatasi gatal dan kekeringan, tetapi jika gejalanya menetap, orang harus menghubungi dokter mata. Dokter mungkin merekomendasikan tes alergi atau perawatan resep.

10. Kelelahan

Kelelahan bisa membuat kelopak mata terlihat bengkak. Retensi air semalaman juga dapat mempengaruhi kelopak mata. Itu bisa membuat mereka terlihat bengkak di pagi hari, terutama jika orang tersebut kurang tidur. Pemberian kompres dingin sambil berbaring dengan kepala ditinggikan di atas bantal dapat membantu. Minum segelas air juga dapat membantu mengurangi retensi cairan dan pembengkakan.

11. Menangis

Menangis dapat merusak pembuluh darah kecil di mata dan kelopak mata, terutama jika menangis tersedu-sedu dan lama. Kelopak mata bengkak yang terjadi setelah seseorang menangis bisa jadi akibat dari retensi cairan yang disebabkan oleh peningkatan aliran darah ke area sekitar mata. Istirahat, kompres dingin, meninggikan kepala, dan minum air putih dapat membantu meredakan.

12. Kosmetik

Ketika produk kosmetik dan perawatan kulit masuk ke mata, mereka dapat mengiritasi mata dan jaringan di sekitarnya, menyebabkan mata bengkak, merah, dan terasa sakit. Reaksi alergi terhadap produk ini juga bisa memicu kelopak mata bengkak. Jika orang mengalami mata seperti terbakar dan bengkak, mereka harus menggunakan air mata buatan yang tersedia di toko obat, untuk membantu meredakan ketidaknyamanan. Jika rasa terbakar berlanjut atau semakin parah, orang tersebut harus periksa ke  dokter mata. Hindari menggunakan obat tetes mata atau produk lain untuk menghilangkan rasa sakit. Produk-produk ini dapat memiliki reaksi kimia yang tidak terduga dengan produk kosmetik dan perawatan kulit.


18 December 2021

Seberapa Bahaya Omicron Dibanding Varian COVID-19 Lainnya.

Health photo created by freepik


Omicron adalah varian terbaru dari severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) dengan kode B.1.1.529. Pada tanggal 26 November 2021 yang lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan varian ini sebagai varian yang menjadi perhatian (Kannan et al., 2021). Awalnya virus ini diidentifikasi di Botswana negara sebelah utara perbatasan dengan Afrika Selatan pada tanggal 11 November 2021 (Chan et al., 2021). Nama omicron sendiri berasal dari huruf alfabet Yunani. Sebagaimana diketahui WHO telah mengganti nama-nama varian COVID-19 dari berdasarkan negara menjadi huruf alfabet Yunani kuno seperti alpha, beta, delta dll.

Riwayat Mutasi COVID-19

Pada akhir 2020 dan awal 2021, ada tanda-tanda bahwa SARS-CoV-2 telah mencapai puncak. Para peneliti di Inggris menemukan varian yang disebut B.1.1.7 yang mengandung banyak mutasi pada protein Spike (S). Varian itu — sejak berganti nama menjadi Alpha — menyebar setidaknya 50% lebih cepat daripada garis keturunan yang beredar sebelumnya. Pejabat kesehatan masyarakat Inggris mengaitkannya dengan peningkatan misterius kasus di Inggris tenggara selama penguncian nasional pada November 2020. Pada waktu yang hamper sama, pemburu virus di Afrika Selatan menghubungkan varian sarat mutasi lain yang disebut B.1.351 — sekarang dikenal sebagai Beta — dengan gelombang kedua infeksi di sana. Tidak lama kemudian, varian yang sangat menular, sekarang disebut Gamma, dilacak ke negara bagian Amazonas di Brasil (Callaway, 2021).

Varian Delta diidentifikasi di negara bagian Maharashtra India selama gelombang ganas COVID-19 yang melanda negara itu pada musim semi 2021, dan para peneliti masih memperhitungkan konsekuensinya terhadap pandemi. Begitu tiba di Inggris, varian itu menyebar dengan cepat dan ahli epidemiologi menentukan bahwa itu sekitar 60% lebih mudah menular daripada Alpha, membuatnya beberapa kali lebih menular seperti strain pertama SARS-CoV-2.Delta adalah jenis super (Callaway, 2021).

Tim di Botswana dan Afrika Selatan mengidentifikasi varian terbaru Omicron pada akhir November – meskipun para peneliti mengatakan varian itu bukan berasal dari kedua negara tersebut – dan pejabat kesehatan telah menghubungkannya dengan wabah yang berkembang pesat yang berpusat di provinsi Gauteng Afrika Selatan. Varian ini menyimpan sekitar 30 mutasi protein S dan para ilmuwan di seluruh dunia sedang bekerja untuk mengukur ancaman yang ditimbulkannya (Callaway, 2021)..

Seberapa Jauh Persebaran Omicron 

Varian Omicron dengan cepat menyebar ke negara-negara tetangga, dan sekarang telah ditemukan di setidaknya 26 negara di seluruh dunia, termasuk kasus pertama yang dilaporkan di California, AS, per 1 Desember 2021 (Kannan et al., 2021).

Peningkatan pesat Omicron di Afrika Selatan adalah yang paling mengkhawatirkan para peneliti, karena ini menunjukkan varian tersebut dapat memicu peningkatan eksplosif dalam kasus COVID-19 di tempat lain. Pada 1 Desember, Afrika Selatan mencatat 8.561 kasus, naik dari 3.402 yang dilaporkan pada 26 November dan beberapa ratus per hari pada pertengahan November, dengan sebagian besar pertumbuhan terjadi di Provinsi Gauteng, tempat Johannesburg (Callaway & Ledford, 2021).

Hingga tanggal 15 Desember 2021, Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus menjelaskan bahwa Omicron telah terdeteksi di 77 negara setelah baru ditemukan akhir bulan lalu.

Perbedaan Dengan Varian Lain

Hingga saat ini, informasi tentang varian Omicron sangat terbatas. Sebuah studi analisis distribusi mutasi menunjukkan bahwa ada 46 mutasi pada varian Omicron. Dua puluh tiga di antaranya terlokalisasi dalam protein spike (S) dan sisanya terlokalisasi pada 3 protein struktural virus lainnya, amplop (E), membran (M), dan nukleokapsid (N). Analisis filogenetik menunjukkan bahwa Omikron berkerabat dekat dengan varian Gamma (P.1) (Kannan et al., 2021).

Apakah Vaksin Bisa Mencegah/meredakan Keparahan?

Analisis struktural menunjukkan bahwa beberapa mutasi terlokalisasi ke wilayah protein S yang merupakan target utama antibodi, menunjukkan bahwa mutasi pada varian Omicron dapat mempengaruhi afinitas pengikatan antibodi terhadap protein S (Kannan et al., 2021).

Sebuah studi yang menggunakan model kecerdasan buatan (AI), yang telah dilatih dengan puluhan ribu titik data eksperimental dan divalidasi secara ekstensif oleh data eksperimental pada SARS-CoV-2, mengungkapkan bahwa Omicron mungkin lebih dari sepuluh kali lebih menular daripada virus asli atau sekitar dua kali lebih menular daripada varian Delta. Berdasarkan 132 struktur tiga dimensi (3D) kompleks antibodi-Domain Pengikatan Reseptor, studi ini juga mengungkap bahwa Omicron mungkin dua kali lebih mungkin lolos dari vaksin saat ini daripada varian Delta. Antibodi monoklonal (mAbs), salah satu terapi COVID-19 yang digunakan saat ini juga dapat terganggu secara serius sehingga berkurang efisiensinya (Chen et al., 2021).

Seberapa Bahayakah Omicron

Cara penularan dan tingkat keparahan varian Omicron hingga masih belum diketahui. Laporan awal mengaitkan Omicron dengan kondisi penyakit yang ringan, meningkatkan harapan bahwa varian tersebut mungkin tidak terlalu parah dibandingkan beberapa pendahulunya. Tetapi laporan-laporan ini, yang sering didasarkan pada anekdot atau sedikit data, dapat menyesatkan (Callaway & Ledford, 2021).

Tantangan utama ketika menilai tingkat keparahan varian adalah bagaimana mengontrol banyak variabel pengganggu yang dapat mempengaruhi perjalanan penyakit, terutama ketika wabah secara geografis terlokalisasi. Misalnya, laporan penyakit ringan akibat infeksi Omicron di Afrika Selatan dapat mencerminkan fakta bahwa negara tersebut memiliki populasi yang relatif muda, banyak di antaranya telah terpapar SARS-CoV-2 (Callaway & Ledford, 2021).

Selama hari-hari awal wabah Delta, ada laporan bahwa varian tersebut menyebabkan penyakit yang lebih serius pada anak-anak daripada varian lainnya — sebuah asosiasi yang bubar setelah lebih banyak data dikumpulkan (Callaway & Ledford, 2021).

Penelitian-penelitian yang ada saat ini lebih kearah studi laboratorium. Studi komputasi untuk memeriksa varian Delta dan Omicron menemukan bahwa varian Omicron memiliki afinitas yang lebih tinggi dengan ACE2 manusia daripada varian Delta karena sejumlah besar mutasi pada domain pengikatan reseptor SARS-CoV-2, menunjukkan potensi penularan yang lebih tinggi. Berdasarkan studi docking, mutasi Q493R, N501Y, S371L, S373P, S375F, Q498R, dan T478K berkontribusi signifikan terhadap afinitas pengikatan tinggi dengan ACE2 manusia (Kumar, 2021).

Beberapa tulisan ilmiah menyebutkan bahwa galur baru sering dianggap lebih berbahaya daripada galur lama, karena lebih menular. Omicron bisa lebih menular daripada Delta. Namun, karena Omicron memiliki perbedaan struktur dengan varian lain yang sangat menular, yaitu kurang tersinkronisasi di S-2, di atas tempat pembelahan, Omicron seharusnya kurang efektif dalam membentuk unit fusi trimerik dan oleh karena itu bisa kurang berbahaya (Philips, 2021).

Referensi

  1. Callaway, E. (2021). Beyond Omicron: what’s next for COVID’s viral evolution. Nature, 600(7888), 204-207.
  2. Callaway, E., & Ledford, H. (2021). How bad is Omicron? What scientists know so far. Nature, 600(7888), 197-199.
  3. Chen, J., Wang, R., Gilby, N. B., & Wei, G. W. (2021). Omicron (B. 1.1. 529): Infectivity, vaccine breakthrough, and antibody resistance. ArXiv.
  4. Kannan, S. R., Spratt, A. N., Sharma, K., Chand, H. S., Byrareddy, S. N., & Singh, K. (2022). Omicron SARS-CoV-2 variant: Unique features and their impact on pre-existing antibodies. Journal of Autoimmunity, 126, 102779.
  5. Kumar, S., Thambiraja, T. S., Karuppanan, K., & Subramaniam, G. (2021). Omicron and Delta Variant of SARS-CoV-2: A Comparative Computational Study of Spike protein. bioRxiv.
  6. Phillips, J. C. (2021). What Omicron Does, and How It Does It. arXiv preprint arXiv:2112.04915.

16 December 2021

Apakah Boleh Minum Parasetamol Sesaat Setelah Pemberian Vaksin COVID-19?

Health photo created by freepik

Untuk membantu menghentikan pandemi penyakit coronavirus 2019 (COVID-19), vaksin saat ini menjadi alat yang sangat penting. Namun, vaksin mRNA COVID-19 sering menyebabkan efek samping sistemik segera setelah injeksi, seperti demam, sakit kepala, dan kelelahan umum. Dalam sebuah survei, setelah menerima dosis kedua vaksin COVID-19, 80% mengalami demam, 62% sakit kepala, dan 69% kelelahan umum (Kazama & Senzaki, 2021).

Pengalaman penulis, gejala-gejala di atas biasanya berlangsung selama 2-3 hari. Untuk meredakan gejala-gejala tersebut, sebagian orang akan meminum parasetamol entah karena diberi obat oleh petugas atau karena keinginan sendiri. Pemberian parasetamol atau obat antipiretik umumnya cukup efektif meredakan kejadian ikutan pasca imuninasi tersebut. Namun, bagaimana dengan respon imun yang akan dibentuk nantinya? Apakah respon imun terhadap vaksin akan terpengaruh dengan pemberian obat tersebut?

Park et al., (2021) melakukan peneltian tentang Efek Samping Sistemik dan Penggunaan Antipiretik pada penerima vaksin ChAdOx1 (AstraZeneca/Oxford) dan menyatakan tidak ada bukti yang mendukung respon antibodi tumpul dengan penggunaan asetaminofen. Oleh karena itu, studinya merekomendasikan asetaminofen untuk dipertimbangkan dalam manajemen gejala aktif efek samping vaksin.

Secara historis, antipiretik seperti ibuprofen atau acetaminophen telah digunakan untuk mengontrol efek samping fase akut sekunder dari vaksin yang berbeda. Namun, beberapa penelitian telah menyarankan bahwa menggunakan antipiretik segera sebelum atau segera setelah menerima vaksin dapat mengganggu imunogenisitasnya, tetapi penelitian yang lain tidak. Sebuah penelitian percobaan acak yang mengevaluasi efek asetaminofen profilaksis (diminum segera setelah vaksinasi) pada bayi menunjukkan titer antibodi yang lebih rendah secara signifikan dibandingkan dengan subjek kontrol (Etminan et al., 2021).

Lebih lanjut Etminan et al., (2021) menjelaskan mekanisme penurunan sirkulasi antibodi yang disebabkan oleh pemberian antipiretik pasca-vaksinasi tidak dipahami dengan baik. Namun, beberapa mekanisme potensial telah didalilkan. Antipiretik seperti asetaminofen dan ibuprofen dapat mengganggu komunikasi antara sistem imun bawaan dan adaptif dalam jaringan limfatik, yang terjadi dalam beberapa jam setelah pemberian antigen.

(Etminan et al., 2021) menambahkan bahwa tidak ada penelitian yang secara khusus meneliti efek antipiretik pada imunogenisitas vaksin COVID-19. Sebuah laporan baru-baru ini dari uji coba acak tersamar tunggal dari AstraZeneca (vaksin vektor adenovirus) menyebutkan bahwa penggunaan asetaminofen profilaksis tidak mengganggu imunogenisitas vaksin, meskipun tidak ada data yang diberikan, dan hasil ini mungkin tidak berlaku untuk vaksin tipe mRNA lainnya. Selanjutnya, tidak ada data yang diberikan tentang penggunaan antipiretik dalam percobaan Moderna, dan percobaan Pfizer hanya menyebutkan bahwa penggunaan antipiretik meningkat dengan meningkatnya konsentrasi dosis dan jumlah dosis, tetapi data tentang imunogenisitas tidak diberikan.

Apakah yang sebaiknya dilakukan?

Di tahun 2015, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan bahwa penggunaan antipiretik tidak dianjurkan sebelum atau sesaat setelah pemberian vaksinasi tetapi disetujui pada hari-hari setelah vaksinasi. Namun, adanya potensi interaksi negatif antara penggunaan antipiretik dan vaksin COVID-19 yang bisa berdampak pada kemanjuran vaksin respons imun tubuh. Di sisi yang lain, kekhawatiran tentang interaksi ini dapat menyebabkan penggunaan antipiretik yang rendah dan berpotensi menyebabkan ketidakpatuhan dengan dosis kedua. Maka Langkah yang terbaik adalah penggunaan antipiretik (parasetamol atau ibuprofen) tidak dilakukan sesaat sebelum atau sesudah pemberian vaksin COVID-19. Minimal minum obat parasetamol/ibuprofen dilakukan pada malam hari saat gejala-gejala efek samping imunisasi mulai terasa. 

Referensi:

  1. Etminan, M., Sodhi, M., & Ganjizadeh-Zavareh, S. (2021). Should Antipyretics Be Used to Relieve Acute Adverse Events Related to COVID-19 Vaccines? Chest, 159(6), 2171–2172. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.chest.2021.01.080
  2. Kazama, I., & Senzaki, M. (2021). Does immunosuppressive property of non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) reduce COVID-19 vaccine-induced systemic side effects? Drug Discoveries & Therapeutics, 15(5), 278–280. https://doi.org/10.5582/ddt.2021.01094
  3. Park, J. Y., Choi, S.-H., Chung, J.-W., Hwang, M.-H., & Kim, M.-C. (2021). Systemic Adverse Events and Use of Antipyretics Predict the Neutralizing Antibody Positivity Early after the First Dose of ChAdOx1 Coronavirus Disease Vaccine. In Journal of Clinical Medicine  (Vol. 10, Issue 13). https://doi.org/10.3390/jcm10132844


04 December 2021

Reduksi Ansietas dan Gangguan yang berkaitan dengan Cemas

Background photo created by evening_tao - www.freepik.com


Kecemasan sesekali adalah bagian yang diharapkan dari kehidupan. Anda mungkin merasa cemas ketika menghadapi masalah di tempat kerja, sebelum mengikuti ujian, atau sebelum mengambil keputusan penting. Tetapi gangguan kecemasan melibatkan lebih dari sekadar kekhawatiran atau ketakutan sementara. Untuk seseorang dengan gangguan kecemasan, kecemasan tidak hilang dan bisa bertambah buruk dari waktu ke waktu. Gejala tersebut dapat mengganggu aktivitas sehari-hari seperti kinerja pekerjaan, pekerjaan sekolah, dan hubungan.

Penanganan kecemasan secara luas dapat dikategorikan sebagai: 1) Psikoterapi; 2) Medikasi; dan 3) Terapi Komplementer dan Alternatif. Pasien yang didiagnosis dengan kecemasan dapat mengambil manfaat dari satu atau kombinasi dari berbagai terapi ini (Ogbonmwan, n.d.). Berdasarkan evidence-based therapy, terdapat bermacam-macam terapi untuk menurunkan cemas dan gangguan terkait kecemasan.

Konseling

Konseling adalah bentuk terapi bicara di mana penyedia layanan kesehatan mental membantu pasien mengembangkan strategi dan keterampilan mengatasi untuk mengatasi masalah tertentu seperti manajemen stres atau masalah interpersonal. Konseling umumnya dirancang untuk menjadi terapi jangka pendek.

Psikoterapi

Ada banyak jenis psikoterapi yang digunakan untuk mengobati kecemasan. Tidak seperti konseling, psikoterapi lebih bersifat jangka panjang dan menargetkan masalah yang lebih luas seperti pola perilaku. Diagnosis kecemasan khusus pasien dan preferensi pribadi memandu terapi apa yang paling cocok untuk mengobatinya. Tujuan akhir dengan semua jenis psikoterapi adalah untuk membantu pasien mengatur emosi mereka, mengelola stres, memahami pola perilaku yang mempengaruhi hubungan interpersonal mereka. Terapi berbasis bukti seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), Prolonged Exposure Therapy (PE), dan Dialectical Behavioral Therapy (DBT) adalah beberapa yang paling efektif untuk mengobati kecemasan.

Cognitive Behavioral Therapy (CBT)

CBT adalah pengobatan jangka pendek yang dirancang untuk membantu pasien mengidentifikasi pemikiran yang tidak akurat dan negatif dalam situasi yang menyebabkan kecemasan seperti serangan panik. CBT dapat digunakan dalam terapi satu lawan satu atau dalam sesi terapi kelompok dengan orang-orang yang menghadapi masalah serupa. CBT terutama berfokus pada masalah yang sedang berlangsung dalam kehidupan pasien dan membantu mereka mengembangkan cara baru untuk memproses perasaan, pikiran, dan perilaku mereka untuk mengembangkan cara yang lebih efektif dalam menghadapi hidup mereka. Pada pasien yang menderita PTSD, CBT dapat mengambil pendekatan yang berfokus pada trauma, di mana tujuannya adalah untuk memproses dan membingkai ulang pengalaman traumatis yang mengarah pada gejala. Rata-rata, lama pengobatan adalah sekitar 10-15 sesi satu jam mingguan tergantung pada jenis dan tingkat keparahan gejala.

Prolonged Exposure Therapy (PE)

PE adalah jenis CBT khusus yang digunakan untuk mengobati PTSD dan fobia. Tujuan dari terapi ini adalah untuk membantu pasien mengatasi tekanan luar biasa yang mereka alami ketika diingatkan akan trauma masa lalu atau dalam menghadapi ketakutan mereka. Dengan bimbingan terapis berlisensi, pasien dengan hati-hati diperkenalkan kembali ke ingatan atau pengingat trauma. Selama pemaparan, terapis memandu pasien untuk menggunakan teknik koping seperti mindfulness atau terapi/gambaran relaksasi. Tujuan terapi ini adalah untuk membantu pasien menyadari bahwa ingatan terkait trauma (atau fobia) tidak lagi berbahaya dan tidak perlu dihindari. Jenis perawatan ini biasanya berlangsung 8-16 sesi mingguan.

Eye Movement Desensitization Reprocessing Therapy (EMDR)

EMDR adalah psikoterapi yang meredakan tekanan dan gangguan emosional yang ditimbulkan dari ingatan akan peristiwa traumatis. Ini terutama diberikan untuk mengobati PTSD dan sangat mirip dengan terapi paparan. Terapi ini membantu pasien untuk memproses trauma sehingga bisa sembuh. Selama terapi, pasien memperhatikan gerakan maju mundur atau suara sambil menceritakan kenangan traumatis mereka. Pasien melanjutkan sesi ini sampai ingatannya berkurang. Sesi EMDR biasanya berlangsung 50-90 menit dan diberikan setiap minggu selama 1-3 bulan, meskipun banyak pasien melaporkan mengalami pengurangan gejala setelah beberapa sesi EMDR.

Dialectical Behavioral Therapy (DBT)

DBT menggunakan pendekatan berbasis keterampilan untuk membantu pasien mengatur emosi mereka. Ini adalah pengobatan pilihan untuk Borderline Personality Disorder, tetapi panggilan juga efektif untuk gangguan kecemasan seperti PTSD. Perawatan ini mengajarkan pasien bagaimana mengembangkan keterampilan untuk mengatur emosi, manajemen stres, perhatian penuh, dan efektivitas interpersonal. Ini dikembangkan untuk digunakan dalam sesi terapi satu lawan satu atau sesi kelompok. Jenis terapi ini biasanya berjangka panjang, dan pasien biasanya menjalani pengobatan selama satu tahun atau lebih.

Acceptance and Commitment Therapy (ACT)

ACT adalah jenis CBT yang mendorong pasien untuk mendapatkan perilaku positif bahkan di hadapan pikiran dan perilaku negatif. Tujuannya adalah untuk meningkatkan fungsi sehari-hari meskipun memiliki gangguan tersebut. Ini sangat berguna untuk Gangguan Kecemasan Umum dan Depresi yang resisten terhadap pengobatan. Lama pengobatan bervariasi tergantung pada tingkat keparahan gejala.

Terapi Keluarga

Terapi Keluarga adalah jenis terapi kelompok yang melibatkan keluarga pasien untuk membantu mereka meningkatkan komunikasi dan mengembangkan keterampilan yang lebih baik untuk memecahkan konflik. Terapi ini berguna jika keluarga berkontribusi terhadap kecemasan pasien. Selama terapi jangka pendek ini, keluarga pasien belajar bagaimana tidak memperburuk gejala kecemasan dan memahami pasien dengan lebih baik. Lama pengobatan bervariasi tergantung pada tingkat keparahan gejala.

Medikasi

Obat-obatan terkadang digunakan bersamaan dengan psikoterapi. Obat yang paling sering diresepkan umumnya aman, meskipun beberapa memiliki efek samping yang perlu dipertimbangkan. Jenis obat tertentu yang diberikan kepada pasien akan ditentukan oleh penyedia mereka berdasarkan gejala spesifik pasien dan faktor lain seperti kesehatan umum.

Antidepresan

Antidepresan adalah obat yang digunakan untuk mengobati gejala depresi tetapi juga dapat digunakan untuk mengobati gejala kecemasan. Secara khusus, selective serotonin re-uptake inhibitors (SSRI) dan selective norepinephrine re-uptake inhibitors (SNRI) adalah kelas utama antidepresan yang digunakan untuk mengobati kecemasan. SSRI yang biasa digunakan untuk mengobati kecemasan adalah escitalopram (Lexapro) dan paroxetine (Paxil, Pexeva). Obat SNRI yang digunakan untuk mengobati kecemasan termasuk duloxetine (Cymbalta), venlafaxine (Effexor XR).

Buspiron

Buspirone adalah obat yang diindikasikan untuk pengobatan kecemasan. Obat ini memiliki kemanjuran tinggi untuk Gangguan Kecemasan Umum dan sangat efektif dalam mengurangi masalah kognitif dan interpersonal yang terkait dengan kecemasan. Tidak seperti benzodiazepin, buspirone tidak memiliki efek sedatif atau berinteraksi dengan alkohol. Yang paling penting, ada risiko rendah mengembangkan ketergantungan pada buspirone. Efek sampingnya minimal tetapi bisa termasuk pusing, gugup, dan sakit kepala. BuSpar dan Vanspar adalah nama merek yang terkait dengan buspirone.

Benzodiazepin

Benzodiazepin adalah obat penenang yang diindikasikan untuk kecemasan, epilepsi, penarikan alkohol, dan kejang otot. Benzodiazepin menunjukkan efektivitas jangka pendek dalam pengobatan Gangguan Kecemasan Umum dan dapat membantu gangguan tidur. Seorang dokter mungkin meresepkan obat ini untuk jangka waktu terbatas untuk meredakan gejala kecemasan akut. Namun, penggunaan obat-obatan ini dalam jangka panjang tidak disarankan karena memiliki efek sedatif yang kuat dan dapat membentuk kebiasaan. Juga, mengambil benzodiazepin sementara juga terlibat dalam psikoterapi seperti PE dapat mengurangi efektivitas terapi paparan. Beberapa nama merek terkenal adalah Librium, Xanax, Valium, dan Ativan.

Beta Blocker

Beta Blocker, juga dikenal sebagai agen penghambat beta-adrenergik, bekerja dengan memblokir neurotransmitter epinefrin (adrenalin). Memblokir adrenalin memperlambat dan mengurangi kekuatan kontraksi otot jantung, mengakibatkan penurunan tekanan darah. Beta-blocker juga meningkatkan diameter pembuluh darah yang mengakibatkan peningkatan aliran darah. Secara historis, beta-blocker telah diresepkan untuk mengobati gejala somatik kecemasan (denyut jantung dan tremor), tetapi mereka tidak terlalu efektif untuk mengobati kecemasan umum, serangan panik, atau fobia. Lopressor dan Inderal adalah beberapa nama merek yang mungkin sudah Anda kenal.

Terapi Pelengkap dan Alternatif

Terapi Pelengkap dan Alternatif dapat digunakan bersamaan dengan terapi konvensional untuk mengurangi gejala kecemasan. Ada minat yang berkembang pada jenis terapi alternatif ini karena tidak invasif dan dapat bermanfaat bagi pasien. Mereka biasanya tidak dimaksudkan untuk menggantikan terapi konvensional melainkan dapat menjadi terapi tambahan yang dapat meningkatkan kualitas hidup pasien secara keseluruhan.

Manajemen stres

Kumpulan aktivitas yang terfokus di mana seorang individu secara sadar menghasilkan respon relaksasi dalam tubuhnya. Respons ini terdiri dari pernapasan yang lebih lambat, menghasilkan tekanan darah yang lebih rendah dan perasaan sejahtera secara keseluruhan. Kegiatan ini meliputi: relaksasi progresif, imajinasi terbimbing, biofeedback, dan latihan self-hypnosis dan pernapasan dalam.

Meditasi

Sebuah praktik pikiran dan tubuh di mana individu diinstruksikan untuk memperhatikan pikiran, perasaan dan sensasi dengan cara yang tidak menghakimi. Telah terbukti bermanfaat dalam mengurangi gejala stres psikologis pada pasien dengan kecemasan.

yoga

Latihan mindfulness yang menggabungkan meditasi, postur fisik, latihan pernapasan, dan filosofi yang berbeda. Telah terbukti bermanfaat dalam mengurangi beberapa gejala kecemasan dan depresi.

Referensi

  1. Ogbonmwan, Y., (n.d.). What is Anxiety? https://www.anxiety.org/what-is-anxiety#treatment-options
  2. National Institute of Mental Health. (n.d.). Anxiety disorders. https://www.nimh.nih.gov/health/topics/anxiety-disorders