23 October 2021

Berperilaku Caring, Menuju Praktek Keperawatan Profesional




Oleh: Arief Bachtiar, PhD.NS*)

Beberapa waktu lalu, kejadian tidak diharapkan kembali terjadi di dunia kesehatan yang menciderai nama baik profesi perawat. Seorang pasien di RSUD Pirngadi Medan meninggal dunia diduga akibat pemberian tabung oksigen yang kosong. Keluarga menyalahkan salah seorang perawat yang tidak mengganti tabung tersebut (m.merdeka.com, 30/5/2021). Bulan April yang lalu, tepatnya tanggal 5 April 2021, terjadi penganiayaan seorang perawat oleh keluarga pasien (mediaindonesia.com, 17/4/2021) karena disangka tidak kompeten melakukan pelepasan infu sehingga mengakibatkan perdarahan pada bekas infus.

Banyak masalah-masalah serius yang terjadi berkaitan dengan hubungan antara petugas kesehatan dengan pasien dan keluarganya. Namun, tidak lama berselang, kasus tersebut sering berlalu begitu saja tanpa ada pemberitaan yang jelas bagaimanakah penyelesaian kasusnya baik dari perspektif hukum maupun etika. Padahal masyarakat luas membutuhkan informasi yang jelas apakah masalah yang terjadi antara petugas kesehatan dengan pasien merupakan kelalaian petugas ataukah karena kesalahpahaman karena ketidaktahuan pasien terhadap prosedur layanan kesehatan yang berujung munculnya rasa ketidakpuasan. 

Informasi tersebut sangat penting, bukan sekedar sebagai pembuktian siapakah pihak yang bersalah, namun informasi tersebut bisa menjadi alat korektif terhadap hubungan petugas kesehatan dengan pasien dan keluarganya. Malangnya, tidak adanya informasi lanjutan pada setiap masalah yang terjadi, akhirnya memunculkan opini yang buruk bahkan stigma negatif terhadap petugas kesehatan tertentu khususnya perawat. 

Pertanyaannya, kenapa perawat yang sering dipermasalahkan? Jawabannya adalah karena perawat adalah lini terdepan di dalam pelayanan kesehatan pasien. Perawat berada disamping pasien 24 jam dalam sehari. Pasien dan keluarganya jika merasa tidak puas pasti akan melampiaskan ketidakpuasannya kepada petugas yang mudah ditemui. Oleh karena petugas yang sering ditemui adalah perawat, maka pasien sering melampiaskan rasa ketidakpuasan kepada perawat dibandingkan kepada profesi kesehatan lainnya. Ironisnya, perawat juga yang menjadi sasaran kesalahan atau teguran dari atasan jika ada kelalaian dalam menjalankan prosedur tindakan, walaupun di luar tanggung jawab dan wewenangnya. 

Caring Penentu Kepuasan Pasien

Rasa puas bersifat relatif dan sangat subyektif. Ia dipengaruhi oleh banyak faktor. Di antara faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pasien terhadap layanan kesehatan di rumah sakit adalah kualitas layanan kesehatan. Dan diantara layanan kesehatan, kualitas perawatan interpersonal penyedia layanan adalah penentu penting dari kepuasan pasien (Batbaatar et al, 2017).

Berkaitan dengan kualitas interpersonal penyedia layanan kesehatan, perilaku caring perawat sering dijadikan indikator dari kualitas layanan keperawatan. Beberapa temuan studi mengindikasikan bahwa kepuasan pasien berhubungan secara signifikan dengan perilaku caring perawat (Azini-Fini, Maosavi, Mazroui-Sabdani, & Adib-Hajbaghery, 2012; Calong & Soriano, 2018).

Studi di beberapa rumah sakit di Indonesia menunjukkan bahwa umumnya perilaku caring perawat masih jauh dari tingkat yang diinginkan. Di kota serang misalnya ditemukan 43,1% perawat disebuah rumah sakit menunjukkan perilaku caring yang kurang (Rahayu & Sulistiawati, 2018). Demikian pula di kota Padang, ditemukan 46,4% perawat di suatu rumah sakit menunjukkan perilaku caring yang buruk (Mailani & Fitri, 2017). Sementara itu, studi di Lampung juga mengungkapkan hal yang sama, 56,3% perawat di satu rumah sakit menunjukkan perilaku caring yang rendah (Tiara and Lestari, 2017). Kurangnya perilaku caring perawat menurunkan tingkat kepuasan pasien terhadap layanan yang diberikan oleh perawat (Mailani and Fitri, 2017; Tiara and Lestari, 2017). Berangkat dari rasa ketidakpuasan pasien dan keluarganya terhadap kualitas interpersonal penyedia layanan inilah muncul tindak kekerasan terhadap petugas kesehatan khususnya perawat sebagai lini terdepan layanan kesehatan. Mensikapi masalah di atas, kiranya perlu dirkursus tentang peran caring bagi perawat.

Berbicara tentang caring, sebenarnya bukanlah hal baru di dunia keperawatan. Konsep ini muncul pada era 70-an. Sayangnya, hampir setengah abad kemudian konsep ini masih belum banyak dipahami apalagi diterapkan oleh perawat di Indonesia. Pertemuan illmiah yang diselenggarakan oleh organisasi profesi, lembaga, atau event organiser baik berupa seminar, workshop, maupun pelatihan umumnya terkait dengan teknis keperawatan dan jarang sekali membahas konsep ini.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan caring? Bagaimana perspektif caring menurut para ahli? Dan, apakah urgensinya dalam praktik keperawatan profesional? Tulisan ini diharapkan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas agar setiap perawat di Indonesia mampu menanamkan dan mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam praktik keperawatan profesional.

Makna Caring

Sejak diperkenalkan oleh sang legenda keperawatan, Jean Watson, caring telah menjadi arus utama baru yang sangat kuat dalam paradigma keperawatan. Paradigma ini merubah konsep perawatan yang saat itu banyak didominasi oleh aliran empirisme atau positivisme dengan mengekor kepada konsep-konsep ilmu kedokteran. Dengan paradigma ini, positioning perawat semakin mudah dibedakan dari profesi dokter sekaligus merubah pandangan bahwa perawat bukanlah pembantu dokter. Perawat memfokuskan diri pada perawatan (care atau caring) baik pada orang sakit maupun sehat, Sementara dokter berfokus pada cure atau penanganan penyakit pasien. Sayangnya, hampir setengah abad kemudian konsep ini masih juga belum banyak dipahami oleh perawat di Indonesia. Praktik keperawatan di rumah sakit masih mengesankan perawat sebagai pembantu dokter. Bahkan, di daerah-daerah terpencil dan pelosok di Indonesia, secara formal perawat masih diberikan peran “dokter kecil” karena jumlah sumber daya dokter yang tidak tercukupi. Sehingga peran “caring” perawat dirasakan terkadang masing kurang.

Berkaitan dengan makna caring, menurut English Oxford Living Dictionary, caring memiliki dua makna. Pertama, sebagai kata benda, caring diartikan sebagai pekerjaan atau praktik merawat mereka yang tidak mampu merawat diri mereka sendiri terutama karena usia atau penyakit. Kedua, sebagai kata sifat caring didefinisikan menampilkan kebaikan dan kepedulian terhadap orang lain.

Mosby's Medical Dictionary mendefinisikannya caring sebagai tindakan atau tanggapan dalam memberikan layanan kepada pasien. Lebih lanjut, kamus ini menjelaskan perilaku caring sebagai karakteristik tindakan kepedulian terhadap kesejahteraan pasien, seperti kepekaan, kenyamanan, mendengarkan dengan penuh perhatian, kejujuran, dan penerimaan yang tidak menghakimi. Kamus ini merangking 10 peringkat tertinggi perilaku caring yang dikutip dari literatur keperawatan, yang dipilih oleh perawat sebagai evidence (bukti) dalam situasi caring bersama pasien meliputi: mendengarkan dengan penuh perhatian, menghibur, kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, memberikan informasi sehingga pasien dapat membuat keputusan yang tepat, sentuhan, kepekaan, rasa hormat, menyapa pasien.

Seorang filsuf Amerika, Mayeroff (1971) mengatakan dalam bukunya “On Caring” bahwa caring adalah “helping others to grow”. Hubungan orang yang merawat dan dirawat bukan seperti parasit yang mencoba mendominasi atau bahkan memiliki orang lain. Itu artinya orang yang caring menginginkan orang yang dirawat bertumbuh dalam perspektifnya, bukan seperti gambaran dari orang yang merawat. Orang yang caring hanya memfasilitasi orang yang dirawat agar bisa mencapai tujuannya, membantu orang tersebut menjadi lebih mampu menentukan diri sendiri atau membuat keputusan berdasarkan nilai-nilainya sendiri.

Roach (2002), mengatakan bahwa caring adalah “Human Mode of Being”, artinya caring itu adalah keberadaan eksistensi manusia. Menurut Roach, manusia itu bersifat caring. Pernyataan ini seolah-olah menyatakan jika tidak caring berarti bukan manusia. Definisi Roach ini tampaknya berlebihan, mengingat secara realitas tidak setiap manusia bisa bersikap dan berperilaku caring. Sangat absurd jika mengatakan setiap manusia bisa bersikap dan berperilaku caring setiap saat. Boykin and Schoenhofer (1993) mengatakan bahwa meskipun caring adalah bawaan setiap orang, namun aktualisasi potensinya untuk mengekspresikan kepedulian bervariasi pada satu saat dan berkembang dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, caring perlu dihayati secara terus menerus. Menjadi orang yang caring berarti menghidupkan rasa peduli, dan saling memelihara satu sama lain sebagai wujud kepedulian. Dengan semikian, menjadikan caring sebagai sebuah cita-cita moral bagi perawat sangat penting untuk mewujudkan praktik keperawatan profesional.

Roach (2002) lebih jauh menjelaskan bahwa caring adalah kehidupan yang berbudi luhur (virtuous life), yang diungkapkan melalui atribut-atribut seperti kasih sayang (Compassion), kompetensi (Competence), kepercayaan diri (Confidence), hati nurani (Conscience), komitmen (Commitment), dan sikap (Comportment). Banyak cendekiawan perawat kemudian merinci caring dalam bentuk perilaku-perilaku luhur yang diinginkan baik oleh perawat sendiri lebih-lebih oleh pasien yang dirawat. Adapun perilaku caring tersebut meliputi mendengarkan dengan penuh perhatian; memberi kesempatan pasien mengungkapkan perasaan, menghibur; jujur; sabar; tanggung jawab; menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan; memberi sentuhan; peka; menghormati; serta menyapa pasien dengan memanggil namanya (Wolf, 2013).

Perspektif Tentang Caring

Para pakar di bidang caring telah mengelompokkan caring ke dalam 5 perspekstif, namun kategori ini tidak bersifat kaku dan bisa berkembang. Pertama, caring sebagai ciri manusia (human trait). Dari perspektif ini, caring dipandang sebagai sifat bawaan manusia, "Human Mode of Being", bagian dari sifat manusia, dan esensial bagi keberadaan manusia. Meskipun semua manusia memiliki potensi untuk berperilaku caring, namun kemampuan ini tidak seragam. Roach (2002) mengatakan bahwa pengalaman sendiri saat dirawat dan kemampuan mengekspresikan caring mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berperilaku caring.

Kedua, caring sebagai kewajiban atau cita-cita moral. Perspektif ini memandang caring sebagai nilai fundamental atau cita-cita moral dalam keperawatan. Jadi, caring tidak tampak sebagai seperangkat perilaku atau sikap yang dapat diidentifikasi pada individu perawat. Sebaliknya, Caring adalah kepatuhan terhadap komitmen menjaga martabat atau integritas pasien. Caring memberikan dasar untuk semua tindakan keperawatan.

Ketiga, caring sebagai sebuah emosi atau perasaan. Perspektif ini menekankan bahwa sifat caring meluas dari keterlibatan emosional dengan atau perasaan empati untuk pengalaman pasien. Caring menandakan perasaan, perhatian, minat, pengawasan dengan tujuan untuk perlindungan. Caring merupakan sebuah perasaan dedikasi, perasaan yang memotivasi tindakan keperawatan. Ini adalah respons yang terutama difokuskan pada peningkatan keintiman antara perawat dan pasien, yang pada gilirannya meningkatkan aktualisasi diri bersama antara perawat dan pasien.

Keempat, caring sebagai hubungan interpersonal perawat-pasien. Perspektif ini memandang bahwa hubungan perawat-pasien adalah esensi dari caring. Caring mencakup perasaan dan perilaku yang terjadi dalam hubungan tersebut. Misalnya, hubungan (yaitu, perasaan) dan konten (yaitu, perilaku) dari caring mencakup aspek-aspek seperti "menunjukkan kepedulian" dan "pengajaran kesehatan." Atau, ini dapat dimanifestasikan dalam hubungan suportif yang dimiliki perawat dengan pasien mereka.

Dan, kelima, caring sebagai intervensi terapeutik. Perspektif ini menghubungkan caring secara langsung dengan tugas-tugas keperawatan. Tindakan-tindakan caring dapat spesifik seperti mendengarkan dengan penuh perhatian, pengajaran pasien, advokasi pasien, sentuhan, "berada di sana (bersama pasien)," dan kompetensi teknis, atau caring bisa juga mencakup semua prosedur atau intervensi keperawatan dalam membantu pasien. Penekanan ditempatkan pada perlunya pengetahuan dan keterampilan yang memadai sebagai dasar untuk tindakan caring ini serta pada kesesuaian antara tindakan keperawatan dan persepsi kebutuhan pasien.

Kelima perspektif caring ini menggambarkan sebuah konsep yang utuh dan harus menjadi panduan bagi perawat dalam merawat pasien. Caring hanya bisa dipahami dengan mengabungkan pemahaman sebagaimana pemahaman tiga orang buta tentang seekor gajah. Seorang memegang telinganya dan mengatakan bahwa gajah adalah tipis dan lebar. Seorang lagi memegang perutnya dan mengatakan gajah adalah besar seperti papan, dan seorang lagi memegang ekornya dan mengatkan gajah seperti tali yang pendek. Kita tidak bisa mengetahui gajah yang sebenarnya jika hanya memahami pada satu aspek dari gajah tersebut. Kita baru bisa mendapatkan pemahaman yang benar saat mengabungkan seluruh aspek tentang gajah. Demikian pula tentang caring, hanya bisa dipahami dengan menggabungkan dari banyak perspektif.

Teori Caring Manusia Watson

Berbicara tentang caring dalam keperawatan, sepertinya tidak lengkap tanpa menghadirkan gagasan Dr. Jean Watson, sang legenda keperawatan pencetus teori caring manusia (The Theory of Human Caring). Teori ini membingkai perawatan manusia secara lebih manusiawi yang meliputi empat elemen utama yaitu Transpersonal Caring, Caring MomentCaring Occasion, Caring Consciousness, dan 10 Caritas Processes.

Hubungan caring transpersonal adalah dasar dari gagasan Watson ini. Hubungan ini mengisyaratan bahwa hubungan yang terjadi bukan sekedar hubungan interpersonal yang bersifat fisik, namun menjangkau hubungan yang lebih dalam hingga hubungan ruh. Oleh karena itu keduanya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh pihak lain. Caring transpersonal membuat perawat mampu menyelami dan menghayati perasaan pasien yang menderita saat itu, dan menempatkan dirinya pada posisi pasien yang sedang menderita. Perasaan tersebut melahirkan kesadaran caring yang mendorong perawat untuk membantu pasien dengan penuh perhatian. Jika suatu saat perawat yang menderita sakit, tentu perasaan yang sama akan muncul bahwa ia perlu dibantu untuk meringankan penderitaannya. Uniknya meskipun perawat mencoba membantu orang mengatasi penderitaan, namun bantuan yang diberikan tetap berada dalam kerangka acuan orang lain tersebut bukan menurut perawat. Itulah sebabnya pasien lebih terbuka dan siap bersama-sama perawat mengatasi masalahnya.

Tidak hanya kesadaran caring, hubungan caring transpersonal juga menuntut kehadiran perawat secara autentik. Perawat harus hadir di hadapan pasien baik secara fisik maupun emosi. Perawat harus mendatangi pasien dengan niat tulus tidak saja tubuhnya, namun fikirannya juga harus hadir dihadapan pasien. Oleh karena itu, perawat yang memiliki masalah baik masalah personal atau masalah keluarga di rumah bisa mengalihkan perhatian penuh perawat dari pasien. Perawat harus menyelesaikan setiap masalah pribadinya sebelum mendatangi pasien. Masalah perawat, jika tidak diselesaikan, berpotensi mengganggu hubungan caring antara perawat pasien yang berdampak pada ketidakpuasan.

Bertemunya perawat dan pasien dalam satu waktu yang unik menciptakan sejarah hidup bagi keduanya. Pertemuan ini disebut dengan momen caring (caring moment). Momen ini bergerak melampaui ruang dan waktu menjadi peristiwa caring (caring occasion) yang sebenarnya. Ibarat kerikil yang dilempar ke kolam yang tenang, momen tersebut menimbulkan beriak ke segala arah.

Momen caring melibatkan tindakan dan pilihan antara perawat dan pasien. Momen kebersamaan menghadirkan kesempatan untuk memutuskan bagaimana berada di momen tersebut dan membuka peluang untuk memilih bagaimana terlibat dalam momen itu. Jika momen caring bersifat transpersonal, maka masing-masing akan merasakan hubungan satu sama lain di tingkat roh, sehingga melampaui ruang dan waktu, membuka kemungkinan baru untuk penyembuhan dan hubungan manusia pada tingkat yang lebih dalam daripada sekedar berinteraksi fisik. Konsep inilah yang menjadi titik tekan penyembuhan caring (Caring Healing). Bahwa sakit dan penyakit bisa disembuhkan melalui proses caring. Terkadang pasien sudah merasa membaik kondisinya karena diperlakukan secara manusiawi saat sakit oleh perawat.

Konsep terakhir dari Teori Caring Watson adalah 10 Caritas Processes . "Caritas" berasal dari bahasa Latin yang berarti menghargai, dan memberikan perhatian khusus atau penuh cinta, kasih sayang, dan kemurahan hati. Sepuluh aritas Processes adalah panduan yang dikembangkan oleh Watson untuk memandu perawat dan orang lain dalam menerapkan konstruksi teoretisnya, dan menumbuhkan momen caring dan peristiwa caring dalam praktik profesional mereka sendiri. Sepuluh aritas Processes juga dapat digunakan untuk membentuk landasan praktik filosofis dan profesional pada tingkat yang lebih luas dalam pengaturan klinis dan akademik. Karena keterbatasan ruang, kesepuluh konsep ini tidak bisa diuraikan pada kesempatan saat ini.

Penutup

Melihat uraian tentang caring di atas, tampaknya tidak bisa dipungkiri bahwa caring sangat penting dan dibutuhkan bagi setiap orang. Caring tidak saja dibutuhkan oleh orang yang sedang dirawat (pasien) namun orang yang merawatpun sebenarnya membutuhkan caring dari orang yang di rawat. Hal ini disebabkan hubungan mereka adalah hubungan timbal balik yang tidak ada dominasi satu sama lain. Sebuah hubungan yang tidak memaksakan kehendak. Sebuah hubungan yang berusaha memahami satu sama lain. Perawat tidak akan bisa berperilaku caring jika yang dirawat juga tidak memiliki rasa yang sama. Kedua belah pihaklah yang menciptakan sebuah momen caring yang mereka butuhkan. Masing-masing bisa merasakan jika ada keterbukaan diantara mereka.

Selanjutnya, Roach (2002) menyatakan bahwa caring itu unik dalam keperawatan dalam arti di antara gambaran karakteristik-karakteristik lain keperawatan. Namun, caring bukanlah hal yang unik untuk keperawatan dalam arti membedakan keperawatan dari profesi lain. Artinya, caring merupakan hal yang utama bagi perawat. Namun, setiap profesi yang melibatkan hubungan dengan orang lain, baik hubungan dengan sesama profesi maupun dengan customer seyogyanya memiliki dan mampu untuk berperilaku caring.

Caring sangat dibutuhkan pada setiap hubungan antar manusia tanpa memandang apakah hubungan tersebut bersifat transaksional yang menguntungkan secara finansial. Nilai-nilai universal caring seharusnya mampu mendorong seseorang untuk saling membantu, menolong dan menghormati sesama atas dasar kemanusiaan. Kita harus caring dengan sesama disebabkan kita adalah manusia. Dengan motiv seperti itu, tidak akan ada lagi seseorang yang bekerja secara tidak profesional sesuai profesinya. Tidak akan ada lagi perawat yang menelantarkan pasiennya. Tidak akan ada lagi guru yang menelantarkan muridnya. Tidak akan ada lagi jaksa yang menuntut terdakwa secara sewenang-wenang. Tidak akan ada lagi si miskin yang kelaparan. Tidak akan ada lagi korban bencana yang tidak terurus. Semua orang akan berbuat yang terbaik bagi orang lain. Itulah esensi dari caring. Sebuah rasa kepedulian yang timbul dari seorang ibu kepada anaknya. Dan dengan rasa itu pula melahirkan rasa yang sama kepada sesama.

Rujukan

  1. Azizi-Fini, I., Mousavi, M. S., Mazroui-Sabdani, A., & Adib-Hajbaghery, M. (2012). Correlation between nurses' caring behaviors and patients' satisfaction. Nurs Midwifery Stud, 1(1), 36-40.
  2. Batbaatar, E., Dorjdagva, J., Luvsannyam, A., Savino, M. M., & Amenta, P. (2017). Determinants of patient satisfaction: a systematic review. Perspectives in public health, 137(2), 89-101.
  3. Boykin, A., & Schoenhofer, S. (1993). Nursing as caring. A model for transforming practice. Nueva York: National League of Nursing Publications.
  4. Calong, K. A. C., & Soriano, G. P. (2018). Caring behavior and patient satisfaction: Merging for satisfaction. International Journal of Caring Sciences, 11(2), 697-703.
  5. Mailani, F., & Fitri, N. (2017). Hubungan perilaku caring perawat dengan tingkat kepuasan pasien BPJS di ruang rawat inap RSUD dr. Rasidin padang. Jurnal Endurance: Kajian Ilmiah Problema Kesehatan, 2(2), 203-208.
  6. Mayeroff, M. (1971). On caring. Harper & Row Publisher, USA
  7. Roach, M. S. (2002). Caring, the human mode of being: A blueprint for the health professions. Canadian Hospital Association Press.
  8. Tiara, T., & Lestari, A. (2017). Perilaku Caring Perawat Dalam Meningkatkan Kepuasan Pasien Rawat Inap. Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai Betik, 9(2), 115-119.
  9. Wolf, Z. R., Dillon, P. M., Townsend, A. B., & Glasofer, A. (2017). Caring behaviors inventory-24 revised: CBI-16 validation and psychometric properties. International Journal of Human Caring, 21(4), 185-192.

*) Arief Bachtiar Dosen Jurusan  Keperawatan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Doktor Filsafat dalam Ilmu Keperawatan Alumni St. Paul University Philippines

16 October 2021

Pola Nafas Tidak Efektif


Man photo created by KamranAydinov - www.freepik.com


Definisi

Diagnosis keperawatan ini didefinisikan sebagai inspirasi dan/atau eskpirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat

Penyebab:

Berbagai hal bisa menyebabkan timbulnya masalah ini. Berikut adalah kondisi yang bisa memunculkan pola nafas tidak efektif yaitu: depresi pusat pernapasan; hambatan upaya napas (mis. nyeri saat bernapas, kelemahan otot pernapasan); deformitas dinding dada; deformitas tulang dada; gangguan neuromuskular; gangguan neurologis (mis. elektroensefalogram [EEG] positif, cedera kepala, ganguan kejang); imaturitas neurologis; penurunan energi; obesitas; posisi tubuh yang menghambat ekspansi paru; sindrom hipoventilasi; kerusakan inervasi diafragma (kerusakan saraf C5 ke atas); cedera pada medula spinalis; efek agen farmakologis; dan kecemasan.

Gejala dan Tanda Mayor:

Subyektif: Dispneu

Obyektif: Penggunaan otot bantu; fase ekspirasi memanjang; dan pola nafas abnormal (misalnya: takipnea, bradipnea, hiperventilasi, kussmaul, cheyne stokes)

Gejala dan Tanda Minor:

Subyektif: Ortopnea

Objektif; pernapasan pursed-lip; pernapasan cuping hidung; diameter thoraks anterior-posterior meningkat; ventilasi semenit menurun; kapasitas vital menurun; tekanan ekspirasi menurun; tekanan inspirasi menurun; dan ekskursi dada berubah

Kondisi Klinis Terkait:

  • Depresi sistem saraf pusat 
  • Cedera kepala 
  • Trauma thoraks 
  • Gullian barre syndrome 
  • Mutiple sclerosis 
  • Myasthenia gravis 
  • Stroke 
  • Kuadriplegia 
  • Intoksikasi alkohol

Referensi:

  1. Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, Definisi dan Indikator Diagnostik. Edisi 1 (Cetakan III). Penerbit DPP PPNI



12 October 2021

PEMBELAJARAN BERBASIS KASUS: FRAKTUR



Petunjuk membuat asuhan KMB 2 

  1. Pada PBL KMB 2 ini, mahasiswa diberikan kasus fiktif yang sama dengan topik askep fraktur.
  2. Selanjutnya mahasiswa disilahkan untuk membuat laporan pendahuluan (LP) dan mengembangkan asuhan keperawatan sesuai dengan buku pedoman praktek KMB.
  3. Seluruh laporan diketik di atas kertas A4, huruf times new roman, 1,5 spasi, dengan format yang tercantum di dalam buku panduan.
  4. Mahasiswa dilarang melakukan copy-paste (plagiarisme) makalah orang lain dari internet.
  5. Kirim LP dan laporan askep sebelum responsi via google classroom

Kasus

Tn. S, umur 25 Tahun MRS karena mengalami patah tulang pada paha kiri. Saat ini berada di bangsal bedah dengan kondisi sadar. Keluhan utama adalah nyeri pada kaki kiri yang mengalami fraktur dan bertambah jika bergerak. Pasien menceritakan bahwa kakinya patah karena jatuh dari tangga saat memperbaiki genting rumahnya yang rusak. Pola aktivitas terbatas ditempat tidur, pasien mengeluh bosan karena jadwal operasi masih minggu depan. Tercium bau kurang sedap dari tubuh pasien, tampak baju pasien lusuh dan penampilan kurang rapi. Pada pemeriksaan TTV didapatkan suhu aksila 36,8° C, nadi 120 X/menit, kuat dan teratur, tekanan darah 140/80 mmHg, dan frekwensi pernafasan 20 x/menit. Pemeriksaan fisik didapati kaki kiri terpasang traksi kulit dengan beban traksi 5 kg. Saat ini kondisi kaki kiri pasien tampak bengkak, nadi pada kaki melemah dan pasien mengeluh nyerinya bertambah. Pemeriksaan lab untuk darah semua komponen darah normal. Foto rongten pada kaki kiri tampak fraktur komplit tulang femur 1/3 tengah tanpa ada overlaping. Diagnosa medis: Close Fracture Collum Femur Sinistra.

01 October 2021

Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif

Smart man photo created by 8photo - www.freepik.com

Diantara diagnosis keperawatan yang sering muncul pada pasien yang dirawat di rumah sakit adalah bersihan jalan nafas tidak efektif. Diagnosa ini masuk dalam kategori fisiologis dengan subkategori respirasi.

Definisi

Diagnosis keperawatan ini didefinisikan sebagai ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten.

Penyebab:

Fisiologis

Spasme jalan napas, hipersekresi jalan napas, disfungsi neuromuskuler, benda asing dalam jalan napas, adanya jalan napas buatan, sekresi yang tertahan, hiperplasia dinding jalan napas, proses infeksi, respon alergi, efek agen farmakologis (misalnya. anastesi).

Situasional

Merokok aktif, merokok pasif, terpajan polutan.

Gejala dan Tanda Mayor

Subyektif: -

Objektif:

Batuk tidak efektif, tidak mampu batuk, sputum berlebihan, mengi, wheezing dan/atau ronkhi kering, mekonium di jalan napas (pada neonates).

Gejala dan Tanda Minor

Subjektif: 

Dispnea, sulit bicara, ortopnea.

Objektif:

Gelisah, sianosis, bunyi napas menurun.

Kondisi Kiinis Terkait

Gullian barre syndrome, Sklerosis multipel, Myasthenia gravis, Prosedur diagnostik mis. Bronkoskopi, Transesophageal, echocardiography (TEE), Depresi sistem saraf pusat, Cedera kepala, Stroke, Kuadriplegia, Sindrom aspirasi mekonium, Infeksi saluran napas.

Referensi:

  1. Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, Definisi dan Indikator Diagnostik. Edisi 1 (Cetakan III). Penerbit DPP PPNI