Tn. S usia 50 tahun MRS dengan keluhan nyeri pinggang. Saat ini di rawat di ruang bedah dengan kondisi sadar dan kondisinya agak lemah. Pemeriksaan TTV di dapatkan Suhu aksila 36,8° C, Nadi 88 x/menit, tekanan darah 160/95 mmHg, frekwensi nafas 20 x/menit. Pemeriksaan fisik tidak didapatkan kelainan kecuali terdapat edema pada kedua tungkai. Produksi urin 750 ml/24 jam. Pasien dan keluarga menyatakan bahwa pasien tidak bisa tidur karena memikirkan biaya RS. Pasien bukan peserta BPJS. Pasien juga menyampaikan keinginannya untuk pulang paksa dan berobat ke seorang penyembuh tradisional. Pemeriksaan Lab menunjukkan Kreatinin serum 1.95 mg/dl (<1,5), Asam urat serum 9.61 mg/dl (3.6-7.0), Hb 11,6 g/dl (13,4-17.7). Foto abdomen: Tampak batu pada ginjal dan ureter kanan. Diagnosa medis: Batu ginjal dan ureter dekstra. Terapi: pasien mendapat Cefoxim 2 x 100 mg.
16 August 2021
09 August 2021
Pembelajaran berbasis Kasus: STEMI
Saat ini pasien dalam keadaan lemah dan hanya beristirahat di tempat tidur. Mengaku merasa nafas sedikit berat dan menyatakan tidak enak makan. Pasien hanya makan beberapa sendok saja. Pasien menyatakan khawatir akan adanya serangan nyeri dada lagi.
Riwayat sakit sebelumnya tidak ditemukan. Pasien adalah perokok aktif.
Hasil pemeriksaan EKG menunjukkan adanya ST elevasi pada lead II, V3-4. Pemeriksaan lab ditemukan nilai kolesterol 253 mg/dl, CK-MB 5 mcg/L.
Saat ini pasien mendapat terapi oksigen 4 L/mnt nasal kanul. Terpasang IV dengan cairan RL 20 tetes/mnt. Terpasang cardiac minitoring. Mendapat aspilet 75 mg/hr, propanolol 2 x 80 mg/hr. Diagnosa medis: STEMI.
08 August 2021
Askep Gadar: Cidera Kepala
Pendahuluan
Trauma kepala adalah kejadian paling sering di unit gawat darurat, yang menyumbang lebih dari satu juta kunjungan setiap tahun. Ini adalah penyebab umum kematian dan kecacatan pada anak-anak dan orang dewasa. Berdasarkan skor Glasgow Coma Scale (GCS), diklasifikasikan sebagai:
- Ringan = GCS 13 hingga 15, juga disebut gegar otak
- Sedang = GCS 9 sampai 12
- Berat= GCS 3 sampai 8.
Etilogi
Penyebab utama trauma kepala adalah (1) kecelakaan kendaraan bermotor, (2) jatuh, dan (3) penyerangan. Berdasarkan mekanismenya, trauma kepala diklasifikasikan sebagai (1) tumpul (mekanisme paling umum), (2) tembus (cedera paling fatal), (3) ledakan. trrauma kepala yang paling parah diakibatkan oleh tabrakan kendaraan bermotor dan jatuh.
Patofisiologi
Patogenesis TBI adalah proses kompleks yang dihasilkan dari cedera primer dan sekunder yang menyebabkan defisit neurologis sementara atau permanen. Defisit primer berhubungan langsung dengan dampak eksternal primer otak. Cedera sekunder dapat terjadi dari menit ke hari dari dampak primer dan terdiri dari kaskade molekuler, kimia, dan inflamasi yang bertanggung jawab atas kerusakan otak lebih lanjut.
Volume kompartemen intrakranial terdiri dari 3 konten terpisah: parenkim otak (83%), cairan serebrospinal (CSF, 11%), dan darah (6%).4 Masing-masing konten ini bergantung satu sama lain untuk lingkungan homeostatis di dalam tengkorak. Doktrin Monroe-Kellie: Setiap komponen dari ruang intrakranial dapat mengalami perubahan, tetapi volume total isi intrakranial tetap konstan karena ruang di dalam tengkorak tetap. Dengan kata lain, otak memiliki mekanisme kompensasi untuk menjaga keseimbangan sehingga menjaga ICP tetap normal yaitu di bawah 15 mmHg. Namun, ketika volume intrakranial melebihi konstituen normalnya, kaskade mekanisme kompensasi terjadi. Peningkatan volume intrakranial dapat terjadi di otak yang mengalami trauma melalui efek massa dari darah, baik edema sitotoksik maupun vasogenik, dan kongesti vena. Jaringan otak tidak dapat dimampatkan. Akibatnya, jaringan otak edema pada awalnya akan menyebabkan ekstrusi CSF ke kompartemen tulang belakang. Akhirnya, darah, terutama yang berasal dari vena, juga dikeluarkan dari otak. Tanpa intervensi yang tepat, dan terkadang bahkan dengan intervensi maksimal, mekanisme kompensasi gagal dan hasil akhirnya adalah kompresi otak patologis dan kematian berikutnya.
Epidemiologi
Trauma kepala lebih sering terjadi pada anak-anak, orang dewasa hingga 24 tahun, dan mereka yang lebih tua dari 75 tahun. Trauma kepala 3 kali lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan. Meskipun hanya 10% dari Trauma kepala terjadi pada populasi lanjut usia, itu menyumbang hingga 50% dari kematian terkait Trauma kepala.
Pengkajian Awal (Initial Assessment)
Pengkajian pada kondisi gawat darurat biasanya menggunakan pendekatan survey primer dan survey sekunder. Jika ditemukan masalah pada korban, tindakan biasanya langsung diberikan. Misal jika pada pemeriksaan airway, pasien mengalami sumbatan jalan nafas, maka manajemen airway langsung dilakukan. Jika korban mengalami henti jantung dan nafas, maka dilakukan RJP. Jika pada pemeriksaan fisik ditemukan perdarahan, maka segera menghentikan perdarahan, jika ada fraktur maka dilakukan pembidaian.
Seorang korban yang datang ke unit/ruang gawat darurat, biasanya akan dipilah dan dinilai prioritasnya. Tindakan ini disebut dengan triage. Indikasi seseorang mengalami injuri kepala jika ditemukan tanda-tanda berikut:
- Luka di kepala
- Fraktur di kepala/wajah
- Bengkak dan memar
- Kehilangan kesadaran
- Cairan/ darah di hidung
- Kaku leher
Segera tangani dengan cepat jika pasien/korban menampakkan:
- Mengantuk
- Bertindak aneh, ucapannya tidak bisa dimengerti
- Sakit kepala hebat dan mengalami kaku leher
- Mengalami kejang
- Pupil mata tidak dama lebar
- Tidak bisa menggerakkan tangan dan kaki
- Kehilangan kesadaran meski hanya sebentar
- muntah lebih dari sekali
Jika ditemukan batttle sign, racoon eye mengindikasikan pasien mengalami fraktur dasar tengkorak.
Diagnosis Keperawatan
- Pola nafas tidak efektif s/d kerusakan tekanan pusat pernapasan di batang otak
- Kebingungan Akut s/d peningkatan tekanan intrakranial
- Penurunan kapasitas adaptif intrakranial s/d meningkatkan tekanan intrakranial
- Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak : Faktor risiko: efek peningkatan tekanan intrakranial, trauma pada otak
- Kehilangan Penglihatan s/d kerusakan tekanan pusat sensorik di otak.
Intervensi & Implementasi
Intervensi dilakukan sesuai dengan temuan awal pada survey primer dan survey sekunder. Selanjutnya intervensi secara umum adalah sebagai berikut:- Meninggikan kepala
- Terapi hiperventilasi, hanya digunakan untuk periode singkat selama kerusakan neurologis akut
- Pencegahan Kejang, dengan diberikan obat antikejang selama 1 minggu
- Terapi hiperosmoler, pemberian manitol dalam bentuk bolus atau infus
- Monitor ICP
- Menyiapkan pasien untuk menjalani pembedahan, jika perlu pembedahan
Referensi:
- Galgano, M., Toshkezi, G., Qiu, X., Russell, T., Chin, L., & Zhao, L. R. (2017). Traumatic Brain Injury: Current Treatment Strategies and Future Endeavors. Cell transplantation, 26(7), 1118–1130. https://doi.org/10.1177/0963689717714102
- Heller F.R. Head Injury-First Aid. [Updated 2021 Sept 23]. Available from: https://medlineplus.gov/ency/article/000028.htm
- Shaikh F, Waseem M. Head Trauma. [Updated 2021 May 19]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430854/
Catatan: artikel ini disiapkan untuk bahan ajar mahasiswa D-3 Keperawatan.
02 August 2021
PBL KMB 1 Untuk Mahasiswa STr / D-3 Keperawatan
Petunjuk Membuat Asuhan Keperawatan Gadar
- Pada PBL KMB 1 ini mahasiswa diberikan kasus fiktif. Masing-masing mahasiswa memilih kasus di bawah.
- Selanjutnya mahasiswa disilahkan untuk membuat laporan pendahuluan (LP) untuk kasus yang dipilih dan mengembangkan asuhan keperawatan sesuai dengan buku pedoman praktek KMB 1.
- Seluruh laporan diketik di atas kertas A4, huruf times new roman, 1,5 spasi, dengan format yang tercantum di dalam buku panduan.
- Mahasiswa dilarang melakukan copy-paste (plagiarisme) makalah orang lain dari internet.
- Kirim LP dan laporan askep sebelum responsi via google classroom
Kasus
- Pasien laki-laki berusia kira-kira 19 tahun di rawat di ruang kelas 2 mulai kemarin malam dengan diagnosa medis meningitis. Kondisi pasien saat ini mengeluh pusing, mengalami peningkatan suhu tubuh dan takikardia. Ekstremitas mengalami hemiparese. Pemeriksaan refleks Brudzinski dan refleks Kernig (+). Pemeriksaan refleks babinski (+), schaefer (+), Oppenheim (+), Gordon (+). Mendapat infus D5% dan RL ruwatan dengan perbandingan 1:1. Diet bubur TKTP, namun sulit menghabiskan makanan karena mual. Malam hari mengeluh sulit tidur. Mendapat pengobatan cefotaxim 1 gr IV 3 x/hr, dexamethaon fosfat 10 mg IV 4x/hr, dan lansoprazol 30 mg oral 2 x/hr.
- Pasien perempuan berusia 32 tahun ditranser dari UGD ke bangsal penyakit dalam karena diare 8x dalam waktu 10 jam. Kondisi pasien saat ini masih sadar dan lemah, turgor kulit menurun, tidak kencing selama 8 jam, berat badan menurun dari 54 kg menjadi 51 kg dalam waktu 8 jam. Tekanan darah 110/70 mmHg, frekwensi nadi 100 x/menit, suhu: 36,6 C, dan frekwensi nafas: 24 x/mnt. Terpasang infus RL 60 tetes/menit. Pasien mendapat pengobatan amoxcillin 3 x 500 mg/hari, Loperamide 2 mg setiap diare. Diagnosa medis: Gastroenteritis.
- Seorang laki-laki berusia 45 tahun dirawat di bangsal penyakit dalam karena menderita Astma bronkhiale. Saat ini pasien dalam keadaan sadar, namun tampak kesulitan bernafas. Nafas pendek dan cepat. Saat ditanya, pasien mengaku merasa sesak terus sejak 1 jam yang lalu. Tampak dada pasien turun naik saat bernafas, pernafasan cuping hidung positif dan mengerutkan bibir saat ekspirasi (pursed lip breathing). Pasien mendapat aminofilin 500 mg selama 30 menit yang diberikan melalui infus.
- Seorang perempuan usia 52 tahun dirawat di bangsal penyakit dalam karena menderita gagal jantung kongestif. Saat ini pasien dalam kondisi sadar, mengaku merasa mudah lelah walau beraktifitas ringan. Pengkajian fisik ditemukan nafas cepat dan pendek, dada turun naik, ujung jari tangan dan kaki teraba dingin. dan kedua kaki tampak edema. Tekanan darah 140/95 mmHg, nadi 30 x/menit, frekwensi nafas 32 x/menit, suhu 36,5 C. Pasien mendapat diet rendah protein rendah garam, obat furosemide 20 mg IV.



