22 June 2021

Memasang selimut pendingin (Cooling Blanket)

Selimut pendingin, atau bantalan hipotermia, adalah bantalan Aquathermia berukuran selimut yang mengalirkan larutan yang didinginkan, biasanya menggunakan air suling, melalui gulungan dalam selimut atau bantalan plastik. Menempatkan pasien di atas selimut atau bantalan hipotermia membantu menurunkan suhu tubuh. Perawat memantau suhu tubuh pasien dan dapat mengatur ulang pengaturan selimut yang sesuai. Selimut juga dapat diatur untuk mempertahankan pada suhu tubuh tertentu; perangkat memantau suhu tubuh pasien dengan menggunakan termemoeter (yang dimasukkan melalui dubur atau kerongkongan, atau ditempatkan pada kulit) dan menyesuaikan suhu cairan yang bersirkulasi.

Persiapan alat

  • Selimut atau cooling pad sekali pakai
  • Panel kontrol elektronik
  • Air suling untuk mengisi perangkat, jika perlu
  • Termometer, jika diperlukan untuk memantau suhu pasien
  • Sphygmomanometer
  • Stetoskop
  • Pengukur suhu, jika diperlukan
  • Selimut atau sprei tipis
  • Handuk
  • Sarung tangan bersih
  • APD tambahan, sesuai indikasi

Pengkajian

Kaji kondisi pasien, termasuk suhu tubuh, untuk menentukan kebutuhan selimut pendingin. Pertimbangkan tindakan alternatif untuk membantu menurunkan suhu tubuh pasien sebelum menerapkan selimut. Juga verifikasi permintaan medis untuk memasang selimut hipotermia. Kaji tanda vital pasien, status neurologis, sirkulasi perifer, dan integritas kulit. Kaji peralatan yang akan digunakan, termasuk kondisi kabel, sumbatan, dan elemen pendingin. Cari kebocoran cairan. Setelah peralatan dihidupkan, pastikan distribusi pendinginan yang konsisten.

Diagnosa Keperawatan

Daftar diagnosa keperawatan yang munkin dapat muncul pada pasien berkaitan dengan jenis tindakan ini adalah:

  • Hipertermia
  • Risiko Cedera
  • Nyeri akut
  • Risiko Kerusakan Integritas Kulit
  • Termoregulasi Tidak Efektif

Perencanaan

Luaran yang diharapkan saat menggunakan selimut pendingin adalah pasien dapat mempertahankan suhu tubuh yang diinginkan. Luaran lain termasuk pasien tidak menggigil; tanda vital pasien dalam batas normal; dan pasien tidak mengalami perubahan integritas kulit, status neurologis, sirkulasi perifer, atau status cairan dan elektrolit dan edema.

Implementasi

  1. Periksa daftar permintaan dokter untuk pemasangan selimut hipotermia. Dapatkan persetujuan pasien atas tindakan sesuai aturan yang ada.
  2. Siapkan alat yang diperlukan dan bawa ke dekat pasien.
  3. Lakukan cuci tangan dan kenakan APD.
  4. Identifikasi pasien. Tentukan apakah pasien pernah mengalami reaksi merugikan sebelumnya terhadap terapi hipotermia.
  5. Tutup tirai di sekitar tempat tidur dan tutup pintu kamar, jika memungkinkan. Beri penjelasan dan alasan dilakukan tindakan pada pasien.
  6. Periksa apakah air di unit elektronik berada pada ketinggian yang sesuai. Isi unit dengan air suling hingga dua pertiganya, atau sampai tanda pengisian, jika perlu. Periksa settting suhu pada unit untuk memastikan berada dalam kisaran aman.
  7. Kaji tanda vital pasien, status neurologis, sirkulasi perifer, dan integritas kulit.
  8. Atur ketinggian tempat tidur pasien sehingga nyaman bagi perawat saat melakukan tindakan, biasanya setinggi siku pemberi perawatan.
  9. Pastikan baju pasien memiliki ikatan kain, bukan kancing atau peniti.
  10. Oleskan lanolin atau campuran lanolin dengan krim dingin pada kulit pasien yang akan bersentuhan dengan selimut.
  11. Nyalakan selimut dan pastikan lampu pendingin menyala. Pastikan bahwa batas suhu diatur dalam kisaran keamanan yang diinginkan.
  12. Tutupi selimut hipotermia dengan seprei tipis.
  13. Posisikan selimut di bawah pasien sehingga tepi atas bantalan sejajar dengan leher pasien.
  14. Kenakan sarung tangan. Lumasi termometer rektal dan masukkan ke dalam rektum pasien kecuali dikontraindikasikan. Atau selipkan termometer aksila ke dalam ketiak pasien. Untuk pasien yang koma atau dibius, gunakan termometer esofagus. Lepaskan sarung tangan. Pasang alat ke panel kontrol untuk selimut.
  15. Bungkus tangan dan kaki pasien dengan kain kasa jika perlu, atau jika pasien menginginkannya. Untuk pasien pria, angkat skrotum dari selimut pendingin dengan handuk.
  16. Tempatkan pasien pada posisi yang nyaman. Turunkan tempat tidur. Buang persediaan lain dengan benar.
  17. Periksa kembali termometer dan settting pada panel kontrol.
  18. Lepaskan semua APD dan lakukan cuci tangan.
  19. Balikkan dan posisikan pasien secara teratur (setiap 30 menit sampai 1 jam). Jauhkan linen bebas dari pengembunan. Oleskan kembali krim, sesuai kebutuhan. Amati perubahan warna kulit pasien, perubahan bibir dan dasar kuku, edema, nyeri, dan gangguan sensorik.
  20. Pantau tanda-tanda vital dan lakukan pengkajian neurologis, sesuai kebijakan fasilitas, biasanya setiap 15 menit, sampai suhu tubuh stabil. Selain itu, pantau status cairan dan elektrolit pasien.
  21. Amati tanda-tanda menggigil, termasuk sensasi verbal, otot wajah berkedut, hiperventilasi, atau kedutan ekstremitas.
  22. Kaji tingkat kenyamanan pasien.
  23. Matikan selimut sesuai kebijakan fasilitas, biasanya saat suhu tubuh pasien mencapai 1 derajat di atas suhu yang diinginkan. Terus pantau suhu pasien sampai stabil.

Evaluasi

Luaran tercapai jika pasien dapat mempertahankan suhu tubuh yang diinginkan dan tanda-tanda vital lainnya dalam rentang normal. Selain itu, pasien bebas dari rasa menggigil; tidak mengalami perubahan integritas kulit, status neurologis, sirkulasi perifer, atau status cairan dan elektrolit, dan edema.

Dokumentasi

Dokumen penilaian, seperti tanda-tanda vital, neurologis, sirkulasi perifer, dan status integritas kulit, sebelum penggunaan selimut hipotermia. Catat verifikasi pesanan medis dan bahwa prosedur telah dijelaskan kepada pasien. Dokumentasikan pengaturan kontrol, waktu aplikasi dan pelepasan, dan rute pemantauan suhu. Sertakan aplikasi krim lanolin pada kulit serta frekuensi perubahan posisi. Dokumentasikan respons pasien terhadap terapi menggunakan lembar aliran agensi, terutama mencatat penurunan suhu dan penilaian ketidaknyamanan. Catat kemungkinan penggunaan obat untuk mengurangi menggigil atau ketidaknyamanan lainnya.

Contoh:

11/10/21 18.00 Suhu pasien 41 C, nadi 122, respirasi 24, BP 118/72. Dr Rahman diberitahu. Pesanan diterima untuk aplikasi selimut pendingin. Prosedur dijelaskan kepada pasien. Lanolin dioleskan ke kulit, sprei mandi diterapkan di antara selimut dan pasien, termometer aksila dipasangan. Pengaturan selimut pendingin 37,2 C sesuai permintaan. Tanda-tanda vital, penilaian neurologis, neurovaskular, dan penilaian kulit setiap 30 menit; lihat lembar aliran. Pasien tanpa bukti menggigil.     -A. Dita S.Kep., Ns 
 

 

 Referensi:

  1. Lynn, P. (2011). Taylor's clinical nursing skills: a nursing process approach, third edition. Lippincott Williams & Wilkins.
  2. Lynn, P. & LeBon, M. (2011). Skill Checklists for Taylor's Clinical Nursing Skills: a nursing process approach, third edition. Lippincott Williams & Wilkins.

21 June 2021

Memasang Selimut Penghangat (Warmer Blanket)

Terdapat banyak jenis tindakan untuk menghangatkan tubuh saat terjadi hipotermia. Aquathermia pad, electric heating pad, dan commercial heat pack adalah bentuk umum dari terapi panas kering. Forced-air warmer device adalah salah satu jenis perangkat yang direkomendasi secara internasional untuk menghangatkan tubuh di kamar bedah saat operasi agar tidak terjadi hipotermia atau di ruang anestesi untuk mencegah berbagai komplikasi paska operasi. Penggunaan perangkat ini adalah cara yang lebih efektif untuk menghangatkan pasien daripada hanya sekedar menggunakan selimut hangat. Prosedur berikut adalah tindakan memasang selimut penghangat dengan menggunakan perangkat penghangat udara paksa.

Persiapan alat

  • Unit perangkat penghangat udara paksa
  • Selimut udara
  • Termometer elektronik
  • APD, sesuai indikasi

 Pengkajian

Kaji suhu dan warna kulit serta perfusi pasien. Pasien yang mengalami hipotermia umumnya pucat hingga kehitaman dan dingin saat disentuh serta mengalami penurunan perfusi perifer. Periksa dasar kuku dan membran mukosa pasien dengan warna kulit lebih gelap untuk tanda-tanda penurunan perfusi.

Perencanaan

Hasil yang diharapkan dengan memasang perangkat penghangat udara adalah pasien akan kembali dan mempertahankan suhu antaa 36,5° C hingga 37,5° C. Disamping itu diharapkan kulit akan menjadi hangat, pengisian kapiler akan kurang dari 2 sampai 3 detik, dan pasien tidak menggigil.

Implementasi

Adapun langkah-langkah pemasangan selimut penghangat udara adalah sebagai berikut:

  1. Periksa daftar pasien untuk permintaan medis penggunaan alat penghangat udara.
  2. Kumpulkan perlengkapan yang diperlukan dan bawa ke dekat pasien.
  3. Lakukan cuci tangan dan kenakan APD, jika perlu.
  4. Identifikasi pasien.
  5. Tutup tirai di sekitar tempat tidur atau tutup pintu kamar. Berikan pasien penjelasan dan alasan dilakukan tindakan.
  6. Kaji suhu pasien.
  7. Pasang perangkat penghangat udara ke stopkontak listrik. Tempatkan selimut di atas pasien, dengan sisi plastik menghadap ke atas. Pertahankan saluran masuk selang udara di kaki tempat tidur (Gambar 1).
  8. Masukkan selang udara dengan aman ke saluran masuk. Tempatkan selimut kain ringan di atas selimut udara, sesuai buku manual. Nyalakan mesin dan sesuaikan suhu udara ke efek yang diinginkan.
  9. Lepaskan APD. Lakukan cuci tangan.
  10. Pantau suhu pasien setidaknya setiap 30 menit saat menggunakan perangkat selimut udara. Jika menghangatkan kembali pasien dengan hipotermia, jangan menaikkan suhu lebih dari 1 C/jam untuk mencegah efek vasodilatasi yang cepat.
  11. Hentikan penggunaan perangkat selimut udara setelah suhu pasien memadai dan pasien dapat mempertahankan suhu tanpa bantuan.
  12. Lepaskan perangkat dan bersihkan perangkat.

Evaluasi

Hasil yang diharapkan terpenuhi ketika suhu pasien kembali ke kisaran normal 97,7° F hingga 99,5° F (36,5° C hingga 37,5° C) dan pasien mampu mempertahankan suhu ini; kulit berwarna merah muda dan hangat; dan pasien bebas dari menggigil.

Dokumentasi

Dokumentasikan suhu pasien dan rute yang digunakan untuk pengukuran. Catat bahwa alat penghangat udara dipasang pada pasien. Dokumentasikan penampilan kulit dan bahwa pasien tidak mengalami efek buruk apa pun dari perangkat penghangat. Catat bahwa suhu pasien dipantau setiap 30 menit, serta suhu sebenarnya setelah 30 menit.

Contoh:

23/4/12 1440 Suhu pasien 35,9 C secara timpani. Alat penghangat udara diterapkan pada pasien karena penurunan suhu. Suhu perangkat disetel pada sedang. Suhu pasien setelah 30 menit pertama 36,4 C secara timpani. Pengaturan suhu perangkat menurun ke rendah dan dilanjutkan. Akan memeriksa ulang suhu dalam 30 menit. —J. Grabbs, RN 





Referensi:

  1. Lynn, P. (2011). Taylor's clinical nursing skills: a nursing process approach, third edition. Lippincott Williams & Wilkins.
  2. Lynn, P. & LeBon, M. (2011). Skill Checklists for Taylor's Clinical Nursing Skills: a nursing process approach, third edition. Lippincott Williams & Wilkins.
  3. Perry, A. G., & Potter, P. A. (2015). Mosby's Pocket Guide to Nursing Skills and Procedures. Elsevier Health Sciences.
  4. Sumida, H., Sugino, S., Kuratani, N. et al. (2019). Effect of forced-air warming by an underbody blanket on end-of-surgery hypothermia: a propensity score-matched analysis of 5063 patients. BMC Anesthesiol 19, 50. https://doi.org/10.1186/s12871-019-0724-8 
 

16 June 2021

Prosedur Pemberian Transfusi Darah

 

Pengertian

Tranfusi darah merupakan tindakan yang dilakukan bagi klien yang memerlukan darah dan atau produk darah dengan memasukkan darah melalui vena dengan menggunakan set tranfusi.cairan melalui intravena (infus).

Tujuan

  1. Meningkatkan volumen darah sirkulasi (setelah pembedahan, trauma,atau perdarahan).
  2. Meningkatkan jumlah sel darah merah dan untuk mempertahankan kadar hemoglobin pada klien anemia berat.
  3. Memberikan komponen selular tertentu sebagai terapi sulih (misalnya, faktor pembekuan untuk membantu mengontrol perdarahan pada pasien hemofilia).

Indikasi

Pasien yang memerlukan tranfusi darah

Persiapan Alat

  • Standar Infus.
  • Set tranfusi.
  • Botol berisi cairan NS 0,9 %.
  • Produk darah yang benar sesuai program medis
  • Pengalas.
  • Torniket.
  • Kapas alkohol.
  • Plester.
  • Gunting.
  • Kasa steril
  • Betadine
  • Sarung tangan.

Prosedur Pelaksanaan

  1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
  2. Cuci tangan
  3. Gantung cairan infus NS 0,9 % untuk digunakan setelah tranfusi darah.
  4. Gunakan selang infus yang mempunya filter (selang Y atau tunggal).
  5. Lakukan pemberian infus NS 0,9 % (lihat prosedur pemasangan infus) terlebih dahulu sebelum pemberian tranfusi darah.
  6. Sebelum dilakukan tranfusi darah, terlebih dahulu memeriksa/identifikasi kebenaran produk darah: periksa kompatibilitas dalam kantong darah, periksa kesesuaian dengan identifikasi pasien, periksa kadaluwarsa, dan periksa adanya bekuan.
  7. Buka set pemberian darah: Untuk selang Y, atur ketiga klem. Untuk selang tunggal, klem pengatur pada posisi off.
  8. Cara tranfusi darah dengan selang Y: Tusuk kantong NaCl 0,9 %, isi selang dengan NaCl 0,9 %, Buka klem pengatur pada selang Y dan hubungkan ke kantong NaCl 0,9 %, Tutup/klem pada slang yang tidak digunakan, Tekan/klem sisi balik dengan ibu jari dan jari telunjuk (biarkan ruang filter terisi sebagian), Buka klem pengatur bagian bawah dan biarkan selang terisi NaCl 0,9 %, Kantong darah perlahan-lahan dibalik-balik 1 – 2 kali agar sel-selnya tercampur. Kemudian tusuk kantong darah dan buka klem pada selang dan filter terisi darah.
  9. Cara tranfusi darah dengan selang tunggal:  Tusuk kantong darah,Tekan sisi balik dengan ibu jari dan jari telunjuk (biarkan ruang filter, terisi sebagian). Buka klem pengatur biarkan selang terisi darah.
  10. Hubungkan selang tranfusi ke kateter IV dengan membuka klem pengataur bawah.
  11. Setelah darah masuk, pantau tanda vital setiap 5 menit selama 15 menit pertama, dan setiap 15 menit selama 1 jam berikutnya.
  12. Setelah darah diinfuskan, bersihkan selang infus dengan NaCl 0,9 %.
  13. Catat tipe, jumlah dan komponen darah yang diberikan.
  14. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.