 |
| Image by jcomp on Freepik |
Cedera kepala adalah kondisi yang
umum terjadi di Unit Gawat Darurat (UGD) dan merupakan penyebab morbiditas dan
mortalitas yang signifikan. Angka kematian akibat cedera kepala di Indonesia
pada tahun 2005 berkisar 6,211 hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan
dengan standar rata rata internasional yang berkisar 38%. Tindakan operasi
biasa dibutuhkan khususnya pada patah tulang (fraktur) kompresi tengkorak,
perdarahan epidural, perdarahan subdural, perdarahan jaringan otak, perdarahan
pada sistem cairan otak, dan pembengkakan otak.
Anatomi Kepala
Kepala terdiri dari kulit kepala, tulang, jaringan
otak dan pembuluh darah. Kulit kepala mencakup kulit, jaringan subkutan,
jaringan aponeurosis, jaringan areola loose dan periosteum. Akibat cidera, tulang tengkorak bisa mengalami fraktur seperti fraktur linier dan fraktur depresi. Wajah juga sering mengalami fraktur hanya saja fraktur tulang wajah umumnya tidak mengancam nyawa kecuali mengganggu jalan napas atau menyebabkan
perdarahan hebat. Le fort III adalah fraktur tulang wajah yang paling berbahaya karena bisa mengganggu jalan nafas.
 |
Fraktur tulang wajah (Cole, 2009)
|
Meningen adalah rangkaian lapisan jaringan konektif yang menutupi dan melindungi otak yang terdiri dari3 lapis yaitu dura mater, arachnoid mater, dan pia mater. Lapisan ini sering terdampak pada cidera kepala seperti hematoma subdural atau hematoma subarachnoid.
Otak terdiri dari serebrum (otak besar), serebelum (otak kecil) dan batang otak. Serebrum terdiri dari beberapa area. Dibagian depan disebut area frontal, daerah samping disebut dengan area temporal, bagian atas disebut area parietal dan bagian belakang disebut dengan area oksiptal. Batang otak terdiri dari otak tengah, pons, dan medula oblongata. Perdarahan serebral biasanya berdampak serius dan memberikan gelaja sesuai dengan area yang terkena.
Mekanisme Cidera
Jika kepala tertunpuk sesuatu, maka area yang terkena tumbukan akan mengalami dampak pertama dari cidera (primary impact). Apabila tumbukan terlalu kuat, otak akan terdorong ke area yang berlawanan menimbulkan dampak kedua dari cidera (secondary impact). Mekanisme cidera semacam ini disebut dengan Coup dan Countercoup. Cidera primer bisa menyebabkan kontusio, hematoma/hemoraghi, dan laserasi. Sedangkan cidera sekunder bisa mengakibatkan hipoksia, oedema jaringan otak, dan perfusi jaringan serebral menurun akibat hipotensi sistemik.
Perfusi Jaringan Serebral
Perfusi jaringan serebral (CPP) dipengaruhi oleh tekanan arteri rata-rata (MAP) dan tekanan intra kranial (ICP). Doktin Monro-Kellie menjelaskan prinsip homeostatis regulasi volume intraserebral yang menetapkan bahwa volume total parenkim otak, cairan serebrospinal, dan darah adalah tetap konstan, dimana volume otak sebanyak 78%, cairan serebrospinal 10% dan darah sebanyak 12%. Normal ICP adalah 0-15 mmHg. Peningkatan intrakranial dapat menyebabkan herniasi atau otak turun ke bawah tulang tengkorak berakibat penekanan pada syaraf kranialis ke-3 menyebabkan pupil berdilatasi.
MAP didapatkan dari 1/3 selisih dari tekanan sistolik dengan diastolik ditambah tekanan diastolik. Sementara CPP didapat dari mengurangi MAP dengan ICP. Misalnya, seorang dengan tekanan darah 110/80 mmHg akan memiliki MAP 90 mmHg. cara menghitungnya (110-80)/3 + 80 = 90. Jika ICP seorang pasien diketahui 5 mmHg, maka pada tekanan darah 110/80 dia akan memiliki CPP sebesar 90-5 = 85 mmHg. CPP dianggap menurun jika kurang dari 60 mmHg.
Apabila diketahui tekanan darah seseorang 90/60 mmHg dan ICP pasien meningkat 20 mmHg, maka CPP pasien sebesar 50 mmHg. Penurunan tekanan perfusi serebral ini akan berdampak pada kesadaran dan timbulnya defisit neurologis pada pasien.
Jenis-jenis Cidera Kepala
Gegar Otak (Concussion)
Gegar otak adalah hilangnya kesadaran sementara atau fungsi neurologis lainnya
yang berlangsung selama beberapa menit
yang terjadi segera setelah
trauma kepala tumpul. Disebut juga dengan komosio serebri. Jenis cedera otak traumatis ini yang disebabkan oleh tumbukan, benturan, atau sentakan di
kepala atau karena benturan pada tubuh
yang menyebabkan kepala dan otak bergerak maju mundur dengan cepat. Gerakan tiba-tiba ini dapat menyebabkan otak berputar/maju mundur di
tengkorak, menciptakan perubahan kimiawi di
otak dan terkadang meregangkan dan merusak sel-sel otak.
Pada
75 hingga 90% kasus, gejala gegar otak sembuh sebelum 90 hari. Tetapi untuk
pasien dengan gegar otak parah, berulang, atau pada mereka yang memiliki
kondisi bawaan seperti migrain, insomnia, atau depresi, gejalanya bertahan
hingga waktu yang lama. Seseorang didiagnosis dengan sindrom pasca gegar otak jika gejala menetap setidaknya selama 3 bulan setelah cedera awal.
Cidera Aksonal Traumatik
Cedera
otak traumatis dapat mengubah atau merusak fungsi neuron dan pembuluh darah di
dalam otak. Jenis cedera pada otak ini dapat merobek ekstensi neuron individu
(disebut akson); itu menyebabkan proses yang disebut Cedera Aksonal Difus. Bergantung pada bagian otak (atau
leher) mana yang terkena, pasien mungkin mengalami berbagai gejala, termasuk:
Sakit kepala, pusing, sakit leher, vertigo, mudah tersinggung, insomnia,
ketidakmampuan untuk melakukan tugas sehari-hari, kehilangan ingatan,
kebingungan, dan / atau hipersensitivitas terhadap kebisingan atau suara. Terdapat empat kategori utama tanda-tanda cidera aksonal:

Memar Otak (Contusion)
Memar otak disebut juga kontusio serebri adalah memar pada jaringan otak, sering kali disertai oedema. Memar otak disebabkan oleh tergoncangnya otak (akselerasi - deselerasi) atau jika otak
terbentur oleh tonjolan tulang atau patah tulang tengkorak. Biasanya memar otak didiagnosis melalui CT scan, namun kecurigaan dapat meningkat jika pasien
menunjukkan tanda-tanda kehilangan kesadaran yang berkepanjangan atau penurunan
tingkat kesadaran setelah cedera. Kondisi ini bisa berkembang menjadi hemoraghi intraserebral. Dibutuhan kewaspadaan pada korban pengguna anti koagulan atau dengan gangguan pembekuan, karena perdarahan sulit berhenti sehingga kondisi pasien semakin memburuk.
 |
Lokasi memar otak (Morales, 2018)
|
Lokasi
kontusio pada tampilan garis tengah sagital (A), lateral (B), dan dasar (C)
menunjukkan area yang paling sering terkena kontusio (merah) dan area yang
terkadang terkena kontusio (biru). Area yang sering terkena kontusio
meliputi korteks orbitofrontal, lobus temporal anterior, dan bagian posterior
area girus temporal superior, dengan area operkuler parietal yang berdekatan.
Area yang lebih jarang terkena: otak tengah lateral, serebelum inferior dan
tonsil yang berdekatan, dan garis tengah korteks serebral superior.
Hematoma Ekstradural / Epidural
Perdarahan
ekstradural terjadi di luar duramater di bawah tengkorak Biasanya karena cedera di daerah temporal di mana cabang arteri meningeal tengah berada. Cedera arteri
menyebabkan perdarahan, sehingga dura terpisah dari tengkorak. Hematoma yang
membesar menekan otak di bawahnya. Biasanya perdarahan berlangsung cepat dan
penderita akan cepat kehilangan kesadaran pada saat cedera terjadi. Pasien
dengan hematoma ekstradural membutuhkan bedah saraf darurat untuk mengevakuasi
hematoma
Hematoma Subdural
Hematoma subdural merupakan perdarahan
intrakranial paling umum yang terkait dengan cedera kepala berat. Hematoma terbentuk di bawah duramater
sebagai akibat dari cedera pada vena. Hematoma subdural bisa akut atau kronis. Cedera akut biasanya tampak dalam beberapa jam pertama
dan dapat dengan cepat membesar
sehingga menyebabkan penurunan tingkat kesadaran dan koma. CT scan akan
mengungkapkan lokasi hematoma dan tindakan
bedah saraf harus segera dilakukan. Hematoma subdural kronis dapat
muncul beberapa hari, minggu, atau bulan setelah cedera dan sering terjadi pada
anak kecil dan pasien yang lebih tua.
Hemoraghi
Subarachnoid
Perdarahan
subarachnoid terjadi ketika ada perdarahan antara otak dan jaringan tipis yang
menutupi otak. Jaringan ini disebut meningen. Penyebab paling umum adalah
trauma, tetapi bisa juga disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah utama di otak,
seperti dari aneurisma intraserebral. Sakit kepala yang tiba-tiba dan tajam
biasanya terjadi sebelum perdarahan subarachnoid. Gejala khas juga termasuk
kehilangan kesadaran dan muntah.
Hemoraghi
Intraserebral
Hematoma
intraserebral adalah tempat perdarahan terjadi jauh di dalam jaringan otak. Pasien
dengan hematoma intraserebral yang besar mungkin memerlukan pembedahan, namun
gumpalan yang lebih kecil dapat diobati secara konservatif, dengan pasien
diamati secara ketat untuk kerusakan yang menunjukkan perdarahan yang sedang
berlangsung atau peningkatan tekanan intrakranial. Gejala berkembang
selama beberapa menit hingga beberapa jam, meliputi: sakit kepala, kesulitan berbicara, mual, muntah, kesadaran
menurun, kelemahan di satu
bagian tubuh, peningkatan
tekanan darah.
Berikut gambaran perdarahan intrakranial.
Luka Penetrasi
Luka tembak di
otak adalah luka penentrasi yang umum dan berhubungan dengan angka kematian
sangat tinggi. Cedera tembus lainnya dapat disebabkan oleh benda-benda seperti
pisau atau gunting yang didorong melalui tengkorak dengan kekuatan yang besar. Jika
pasien datang dengan benda tembus, benda itu tidak boleh dikeluarkan sampai
pasien menjalani CT scan dan ada ahli bedah. Pasien ini mengalami
perdarahan intraserebral akibat luka
tusuk.
Penanganan Cidera
Kepala secara umum
Pendekatan Umum pada pasien trauma kepala seperti penanganan trauma pada umumnya. Pengkajian dan penanganan segera adalah
kunci untuk bertahan hidup, Survey primer: ABCDE, Survey
sekunder: Anamnesa riwayat pasien dilakukan dengan berpedoman pada akronim SAMPLE (Sign and simptom, Alergy, Medication, Past Medical History, Last meal, dan events surrounding the time of injury). Pemeriksaan fisik head to toe, Pemeriksaan Diagnostik, dan CT Scan kepala merupakan pemeriksaan
utama. Secara khusus, korban cidera kepala di UGD akan mendapatkan penanganan sbb:
- Stabilisasi awal, Pastikan status ABC, Resusitasi cairan jika terdapat
hipoensi. Hati-hati pada TIK yang meningkat, Kadar O2 dan glukosa
dipertahankan.
- Menurunkan TIK, Terapi hiperventilasi (PaCO2
< 30-35 mmHg) terbatas dan jangka pendek. Meninggikan kepala, pemberian
penenang, dan pemberian manitol 20% (1 g
/ kg) atau saline hipertonik.
- Penanganan kejang. Pemberian Fenitoin, untuk orang
dewasa dosis 1 gr diinfuskan pada 50 mg / mnt). Anak-anak 15 mg/kg pada 0,5
sampai 1 mg tidak melebihi 50 mg/mnt.
- Pengobatan luka
kulit kepala.
- Konsultasi bedah
saraf darurat.
Daftar Pustaka
Carey, E., (2018). Intracranial Hemorrhage.
https://www.healthline.com/health/extradural-hemorrhage
Centers for Disease Control and Prevention, National Center for Injury Prevention and
Control. (2019). Brain injury
basics. https://www.cdc.gov/headsup/basics/concussion_whatis.html
Cole, E., (2009). Trauma Care, Initial assessment and management in the emergency department.
Wiley-Blackwell
Fatohi, M. (2020).
NeuroGrow Concussion Recovery Program. https://neurogrow.com/neurogrow-concussion-recovery-program/
Huecker & Plantz.
(2016). Step-up to Emergency Medicine. Wolter kluwer
Kim, D. J., Czosnyka,
Z., Kasprowicz, M., Smieleweski, P., Baledent, O., Guerguerian, A. M., Pickard,
J. D., & Czosnyka, M. (2012). Continuous monitoring of the Monro-Kellie
doctrine: is it possible?. Journal of neurotrauma, 29(7),
1354–1363. https://doi.org/10.1089/neu.2011.2018
Morales, D.L., (2018). Brain Contusion Imaging.
https://emedicine.medscape.com/article/337782-overview
Tjahjadi, M. (2018). Cidera Kepala.
https://www.mitrakeluarga.com/artikel/artikel-kesehatan/cedera-kepala. Diakses
pad atanggal 19 September 2020.