23 December 2020

Latihan Pengembangan Kasus Askep KMB (PBL)

 


  1. Seorang pasien wanita berusia kira-kira 18 tahun dirujuk dari IRD RS ke ruang bedah setelah kondisi pasien stabil. Setiba di ruangan perawat melakukan pemeriksaan lengkap mulai dari wawancara hingga pemeriksaan fisik. Saat diperiksa TTV pasien stabil, hanya nadi agak sedikit naik 24 x/mnt. Pasien mengeluh nyeri meski tidak sesakit saat dia masuk IRD. Saat ini pasien terpasang traksi sederhana pada kaki kanan dengan beban kira-kira 5 kg. Infus RL 20 x/mnt terpasang di tangan kiri pada vena radialis dan mendapat resep tramadol 50 mg IV, 3 kali/hr. Diagnosa Medis Fraktur Femur 1/3 tengah tertutup. Pasien direncanakan operasi namun masih belum ditentukan jadwal operasinya.
  2. Pasien laki-laki berusia kira-kira 19 tahun di rawat di ruang kelas 2 mulai kemarin malam dengan diagnosa medis meningitis. Kondisi pasien saat ini mengeluh pusing, mengalami peningkatan suhu tubuh dan takikardia. Ekstremitas mengalami hemiparese. Pemeriksaan refleks Brudzinski dan refleks Kernig (+). Mendapat infus D5% dan RL ruwatan dengan perbandingan 1:1. Diet bubur TKTP, namun sulit menghabiskan makanan karena mual. Malam hari mengeluh sulit tidur. Mendapat pengobatan cefotaxim 1 gr IV 3 x/hr, dexamethaon fosfat 10 mg IV 4x/hr, dan lansoprazol 30 mg oral 2 x/hr.
  3. Seorang pasien laki-laki berusia 28 tahun di rawat di ruang kombusio sejak 2 hari yang lalu karena luka bakar pada tubuhnya. Luka bakar mengenai dada, perut, genital, kedua lengan, kedua paha seluas 46% dengan  derajat 2. Saat ini kondisi pasien terus menerus merasa kesakitan terutama saat dirawat pada pagi hari. Pasien sehari-hari berada di tempat tidurnya. hanya Seluruh aktivitas pasien di bantu. Pasien terpasang infus RL 20 tpm, terpasang kateter dengan sisa urine 450 cc. Pasien mendapat obat injeksi cefotaxim 1 gr IV 2 x/hr, ranitidin 50 mg 3 x/hr, ibuprofen 400 mg 3 x/hr.
  4. Seorang pasien wanita usia 62 tahun masuk ruang bedah karena menderita katarak. Pasien mengeluh matanya sebelah kanan semakin kabur sejak 3 bulan yang lalu hingga saat ini tidak bisa melihat. Mata sebelah kiri masih bisa melihat hanya saja kurang jelas jika melihat obyek kecil. Saat diperiksa mata kanan pasien berwarna putih sedang mata kirinya sedikit berkabut. Visus mata kanan hanya bisa membedakan cahaya sedang mata kiri hanya bisa hitung jari. Pemeriksaan fisik dan TTV dalam batas normal. Pasien merasa cemas karena akan menjalani operasi fakoemulsi esok hari.

PETUNJUK MEMBUAT ASKEP

  1. Kasus-kasus di atas adalah stimuli bagi mahasiswa untuk membuat asuhan keperawatan medikal bedah, oleh karena itu data yang disajikan hanya sebatas untuk merangsang mahasiswa untuk berfikir kritis. Berdasarkan data tersebut mahasiswa diminta untuk membuat askep fiktif di ruang medikal bedah secara komprehensif mulai dari pengkajian hingga evaluasi.
  2. Masing-masing mahasiswa memilih 1 kasus di atas untuk membuat laporan asuhan keperawatan KMB sesuai dengan laporan pendahuluan (LP) masing-masing.
  3. Diketik di atas kertas A4, huruf times new roman, 1,5 spasi, dengan format yang tercantum di dalam buku panduan.

26 November 2020

Kasus Askep Gadar 1


 


Petunjuk Membuat Asuhan Keperawatan Gadar

  1. Pada PBL Keperawatan Gadar ini mahasiswa diberikan kasus fiktif. Selanjutnya mahasiswa disilahkan untuk mengembangkan asuhan keperawatan (askep) gadar namun relevan dengan topik. Mulailah dari tindakan triage hingga evaluasi sesuai dengan buku pedoman praktek gadar.

  2. Masing-masing mahasiswa membuat asuhan keperawatan gadar berdasarkan kasus di bawah sesuai dengan laporan pendahuluan (LP) yang telah dikumpulkan.

  3. Diketik di atas kertas A4, huruf times new roman, 1,5 spasi, dengan format yang tercantum di dalam buku panduan.

  4. Mahasiswa dilarang melakukan copy-paste (plagiarisme) makalah orang lain.

Kasus Gadar

Trauma Kepala

Seorang laki-laki usia 20 tahun datang ke IRD RS diantar ambulance. Sesampai di IRD, pasien langsung dibawa oleh petugas ambulanc ke dalam IRD. Pasien tambak ngorok dan kesadaran menurun. Tampak lebam pada wajah, keluar darah pada hidung dan telinga. Kepala terbalut verban dan tampak bercak darah pada verban tersebut. Sekilas petugas ambulance menyampaikan bahwa pasien jatuh dari motornya setelah diseruduk oleh mobil dari belakang. 

Fraktur Femur

Seorang wanita berusia kira-kira 18 tahun dilarikan ke RS dengan ambulance setelah mengalami kecelakaan lalu lintas. Sebelum dibawa oleh ambulancce, petugas ambulance telah memastikan kondisi pasien dalam keadaan sadar. Petugas melakukan pemasangan bidai karena curiga pasien mengalami rasa sakit hebat pada paha sebelah kanan. Saat tiba di IRD, pasien dalam keadaan lemah, bernafas spontan dengan RR meningkat lebih dari 30 x/mnt. Nadi juga meningkat.

Status Asmatikus

Seorang laki-laki usia 38 tahun datang ke IRD RS dengan diantar kendaraan roda 4 oleh istrinya. Didepan petugas, istrinya mengaku bahwa asma suaminya kambuh kira-kira 30 menit yang lalu. Namun tidak mereda meski sudah menghisap ventolin inhaler 100 mcg bahkan hingga 2 kali hisap, namun sesaknya tidak berkurang. Saat dicek oleh petugas, pasien sedang duduk di kursi tengah kendaraan dan tampak kesulitan bernafas. Karena mengaku kesulitan berjalan, petugas akhirnya membawa pasien masuk ruang IRD dengan kursi roda

Appendiksitis Kronis

Seorang perempuan usia 16 tahun datang ke IRD RS dengan diantar kendaraan roda 4 oleh bapaknya. Petugas IRD menjemput pasien dengan membawa kursi roda. Tampak pasien kesulitan bergerak atau berpindah dari mobil ke kursi roda. Pasien sering berteriak kesakitan sambil memegangi perut sebelah kanan. Dengan susah payah, pasien akhirnya bisa dipindah ke kursi roda sebelum akhirnya masuk ke dalam ruang IRD. Saat diperiksa ada nyeri tekan pada titik McBurney. Nafas dan nadi sedikit meningkat.

14 October 2020

Latihan Pengembangan Kasus Gadar Trauma


Petunjuk Membuat Asuhan Keperawatan Gadar

  1. Pada PBL Keperawatan Gadar ini mahasiswa diberikan kasus fiktif. Selanjutnya mahasiswa disilahkan untuk mengembangkan asuhan keperawatan (askep) gadar namun relevan dengan topik. Mulailah dari tindakan triage hingga evaluasi sesuai dengan buku pedoman praktek gadar.
  2. Masing-masing mahasiswa membuat asuhan keperawatan gadar  berdasarkan kasus di bawah sesuai dengan laporan pendahuluan (LP) yang telah dikumpulkan.
  3. Diketik di atas kertas A4, huruf times new roman, 1,5 spasi, dengan format yang tercantum di dalam buku panduan. 
  4. Mahasiswa dilarang melakukan copy-paste (plagiarisme) makalah orang lain. 

Kasus 

  1. Seorang laki-laki usia kira-kira 40 tahun dibawa ke IRD RSUD dengan kendaraan roda 4 karena luka bakar pada perut dada hingga wajah.Saksi mengatakan pasien mengalami gangguan jiwa sejak seminggu yang lalu, tiba-tiba membakar dirinya sendiri sebelum pasien dibawa ke RS. Beruntung tetangga mengetahuinya dan mencoba memadamkan api yang baru disulut dengan APAR. Pasien masih sadar, teriak-teriak kesakitan. Bau minyak tanah tercium pada tubuh pasien.
  2. Seorang laki-laki usia 41 dilarikan tetangganya ke RS akibat ditusuk oleh orang tidak dikenal pada perut bagian kiri. Saat sampai di depan IRD, kesadaran pasien menurun akibat perdarahan yang terus mengalir. Tampak sebuah pisau menancap di perut sebelah kiri dibebat dengan baju kaos. Pasien masih bernafas spontan namun mengalami penurunan rata-rata dalam semenit. Nadi lemah dan cepat, terdapat tanda-tanda penurunan perfusi perifer
  3. Seorang laki-laki usia 35 tahun datang ke IRD RS diantar dengan mobil. Pasien dijemput oleh petugas IRD sambil membawa kereta dorong karena pasien tidak bisa berjalan. Pasien barusan mengalami kecelakaan tunggal dimana mobil yang dikendarainya mengalami rem blong dan menabrak pohon di samping jalan. Di ruang triage petugas mengidentifikasi bahwa pasien mengalami sesak nafas dan rasa nyeri yang hebat. Pasien tidak bisa fokus pada pertanyaan petugas karena rasa sakitnya. Tampak jejas dan terdapat flail chest pada dada pasien sebelah kanan.   
  4. Seorang atlit sepak bola dilarikan ke IRD RS karena mengalami strain pada otot  hamstring pada kaki sebelah kanan saat melakukan pertandingan bola. Pasien datang ke UGD dengan menggunakan mobil. Saat tiba di IRD, pasien tidak bisa berjalan, tampak kesakitan saat berpindah dari mobil ke kereta dorong.

12 October 2020

Latihan Pengembangan Kasus Gadar Non Trauma


Petunjuk Membuat Asuhan Keperawatan Gadar

  1. Pada PBL Keperawatan Gadar Non Trauma ini mahasiswa diberikan kasus fiktif. Selanjutnya mahasiswa disilahkan untuk mengembangkan asuhan keperawatan sesuai dengan topik. kembangkan kasus sesuai dengan buku pedoman praktek gadar.
  2. Masing-masing mahasiswa memilih kasus di bawah sesuai dengan laporan pendahuluan (LP) yang telah dikumpulkan.
  3. Diketik di atas kertas A4, huruf times new roman, 1,5 spasi, dengan format yang tercantum di dalam buku panduan.
  4. Mahasiswa dilarang melakukan copy-paste (plagiarisme) makalah orang lain.

Kasus

  1. Seorang laki-laki usia kira-kira 50 tahun di bawa ke IRD RS dengan kendaraan roda 4. Kepada petugas IRD, pengantar meyampaikan bahwa pasien kesadarannya menurun sehingga pasien di bawa masuk ke dalam IRD dengan menggunakan kereta dorong. Saat di triage pasien mengalami sesak nafas, takhipneu dan takhikardia, dan bibir mengalami sianotik. Menurut pengantar, pasien tiga hari yang lalu mengalami sesak nafas dan periksa di RS ini namun tidak mau rawat inap. Lakukan perawatan gawat darurat pada pasien di atas.
  2. Seorang laki-laki usia 45 tahun di bawa ke IRD RS setelah mengalami nyeri hebat pada dada sebelah kiri 30 meeit yang lalu. Saat tiba di IRD RS pasien tidak dapat berjalan sehingga di bawa ke dalam IRD dengan kereta dorong. Didalam ruangan pasien tidak merespon panggilan petugas, respirasi negatif, dan nadi tidak teraba. Lakukan perawatan gawat darurat pada pasien diatas.
  3. Seorang wanita usia 43 tahun di bawa ke IRD RS dengan sebuah mobil. Pengantar menyampaikan kepada petugas di depan pintu IRD RS bahwa pasien mengalami tidur terus-menerus dan tidak bangun kecuali dibangunkan, namun tidak lama kemudan tertidur lagi. Saat diperiksa tubuh pasien teraba panas, RR dan nadi meningkat. Pasien juga mengalami kaku kuduk. Lakukan perawatan gawat darurat pada psien di atas. 
  4. Wanita usia kira-kira 30 tahun datang ke IRD RS diantar oleh saudaranya dengan kendaraan roda 4. Pengantar mendatangi petugas IRD di pintu masuk dan menyampaikan bahwa ada pasien dengan kesadaran menurun karena minum baygon kira-kira 3o menit yang lalu. Petugas menyiapkan kereta dorong untuk membawa pasien masuk ke dalam IRD. Saat diterima petugas IRD, pasien tampak hanya menutup mata, mulut berbusa, dan tidak menjawab saat dipanggil namun pasien masih bernafas. Informasi dari saudaranya, pasien minum baygon 30 menit yang lalu karena bertengkar dengan suaminya.
Selamat mengerjakan.


24 September 2020

Cidera Kepala, Konsep Kegawatdaruratan

Image by jcomp on Freepik


Cedera kepala adalah kondisi yang umum terjadi di Unit Gawat Darurat (UGD) dan merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Angka kematian akibat cedera kepala di Indonesia pada tahun 2005 berkisar 6,211 hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan standar rata rata internasional yang berkisar 38%. Tindakan operasi biasa dibutuhkan khususnya pada patah tulang (fraktur) kompresi tengkorak, perdarahan epidural, perdarahan subdural, perdarahan jaringan otak, perdarahan pada sistem cairan otak, dan pembengkakan otak.

Anatomi Kepala

Kepala terdiri dari kulit kepala, tulang, jaringan otak dan pembuluh darah. Kulit kepala mencakup kulit, jaringan subkutan, jaringan aponeurosis, jaringan areola loose dan periosteum. Akibat cidera, tulang tengkorak bisa mengalami fraktur seperti fraktur linier dan fraktur depresi. Wajah juga sering mengalami fraktur hanya saja fraktur tulang wajah umumnya tidak mengancam nyawa kecuali mengganggu jalan napas atau menyebabkan perdarahan hebat. Le fort III adalah fraktur tulang wajah yang paling berbahaya karena bisa mengganggu jalan nafas.

Fraktur tulang wajah (Cole, 2009)
 

Meningen adalah rangkaian lapisan jaringan konektif yang menutupi dan melindungi otak yang terdiri dari3 lapis yaitu dura mater, arachnoid mater, dan pia mater. Lapisan ini sering terdampak pada cidera kepala seperti hematoma subdural atau hematoma subarachnoid. 

Otak terdiri dari serebrum (otak besar), serebelum (otak kecil) dan batang otak. Serebrum terdiri dari beberapa area. Dibagian depan disebut area frontal, daerah samping disebut dengan area temporal, bagian atas disebut area parietal dan bagian belakang disebut dengan area oksiptal. Batang otak terdiri dari otak tengah, pons, dan medula oblongata. Perdarahan serebral biasanya berdampak serius dan memberikan gelaja sesuai dengan area yang terkena. 

Mekanisme Cidera

Jika kepala tertunpuk sesuatu, maka area yang terkena tumbukan akan mengalami dampak pertama dari cidera (primary impact). Apabila tumbukan terlalu kuat, otak akan terdorong ke area yang berlawanan menimbulkan dampak kedua dari cidera (secondary impact). Mekanisme cidera semacam ini disebut dengan Coup dan Countercoup. Cidera primer bisa menyebabkan kontusio, hematoma/hemoraghi, dan laserasi. Sedangkan cidera sekunder bisa mengakibatkan hipoksia, oedema jaringan otak, dan perfusi jaringan serebral menurun akibat hipotensi sistemik.

Perfusi Jaringan Serebral

Perfusi jaringan serebral (CPP) dipengaruhi oleh tekanan arteri rata-rata (MAP) dan tekanan intra kranial (ICP). Doktin Monro-Kellie menjelaskan prinsip homeostatis regulasi volume intraserebral yang menetapkan bahwa volume total parenkim otak, cairan serebrospinal, dan darah adalah tetap konstan, dimana volume otak sebanyak 78%, cairan serebrospinal 10% dan darah sebanyak 12%. Normal ICP adalah 0-15 mmHg. Peningkatan intrakranial dapat menyebabkan herniasi atau otak turun ke bawah tulang tengkorak berakibat penekanan pada syaraf kranialis ke-3 menyebabkan pupil berdilatasi.

MAP didapatkan dari 1/3 selisih dari tekanan sistolik dengan diastolik ditambah tekanan diastolik. Sementara CPP didapat dari mengurangi MAP dengan ICP. Misalnya, seorang dengan tekanan darah 110/80 mmHg akan memiliki MAP 90 mmHg. cara menghitungnya (110-80)/3 + 80 = 90. Jika ICP seorang pasien diketahui 5 mmHg, maka pada tekanan darah 110/80 dia akan memiliki CPP sebesar 90-5 = 85 mmHg. CPP dianggap menurun jika kurang dari 60 mmHg.

Apabila diketahui tekanan darah seseorang 90/60 mmHg dan ICP pasien meningkat 20 mmHg, maka CPP pasien sebesar 50 mmHg. Penurunan tekanan perfusi serebral ini akan berdampak pada kesadaran dan timbulnya defisit neurologis pada pasien.  

Jenis-jenis Cidera Kepala

Gegar Otak (Concussion)

Gegar otak adalah hilangnya kesadaran sementara atau fungsi neurologis lainnya yang berlangsung selama beberapa menit yang terjadi segera setelah trauma kepala tumpul. Disebut juga dengan komosio serebri. Jenis cedera otak traumatis ini yang disebabkan oleh tumbukan, benturan, atau sentakan di kepala atau karena benturan pada tubuh yang menyebabkan kepala dan otak bergerak maju mundur dengan cepat. Gerakan tiba-tiba ini dapat menyebabkan otak berputar/maju mundur di tengkorak, menciptakan perubahan kimiawi di otak dan terkadang meregangkan dan merusak sel-sel otak.

Pada 75 hingga 90% kasus, gejala gegar otak sembuh sebelum 90 hari. Tetapi untuk pasien dengan gegar otak parah, berulang, atau pada mereka yang memiliki kondisi bawaan seperti migrain, insomnia, atau depresi, gejalanya bertahan hingga waktu yang lama. Seseorang didiagnosis dengan sindrom pasca gegar otak jika gejala menetap setidaknya selama 3 bulan setelah cedera awal.

Cidera Aksonal Traumatik

Cedera otak traumatis dapat mengubah atau merusak fungsi neuron dan pembuluh darah di dalam otak. Jenis cedera pada otak ini dapat merobek ekstensi neuron individu (disebut akson); itu menyebabkan proses yang disebut Cedera Aksonal Difus. Bergantung pada bagian otak (atau leher) mana yang terkena, pasien mungkin mengalami berbagai gejala, termasuk: Sakit kepala, pusing, sakit leher, vertigo, mudah tersinggung, insomnia, ketidakmampuan untuk melakukan tugas sehari-hari, kehilangan ingatan, kebingungan, dan / atau hipersensitivitas terhadap kebisingan atau suara. Terdapat empat kategori utama tanda-tanda cidera aksonal:


Memar Otak (Contusion)

Memar otak disebut juga kontusio serebri adalah memar pada jaringan otak, sering kali disertai oedema. Memar otak disebabkan oleh tergoncangnya otak (akselerasi - deselerasi) atau jika otak terbentur oleh tonjolan tulang atau patah tulang tengkorak. Biasanya memar otak didiagnosis melalui  CT scan, namun kecurigaan dapat meningkat jika pasien menunjukkan tanda-tanda kehilangan kesadaran yang berkepanjangan atau penurunan tingkat kesadaran setelah cedera. Kondisi ini bisa berkembang menjadi hemoraghi intraserebral. Dibutuhan kewaspadaan pada korban pengguna anti koagulan atau dengan gangguan pembekuan, karena perdarahan sulit berhenti sehingga  kondisi pasien semakin memburuk.

Lokasi memar otak (Morales, 2018)

Lokasi kontusio pada tampilan garis tengah sagital (A), lateral (B), dan dasar (C) menunjukkan area yang paling sering terkena kontusio (merah) dan area yang terkadang terkena kontusio (biru). Area yang sering terkena kontusio meliputi korteks orbitofrontal, lobus temporal anterior, dan bagian posterior area girus temporal superior, dengan area operkuler parietal yang berdekatan. Area yang lebih jarang terkena: otak tengah lateral, serebelum inferior dan tonsil yang berdekatan, dan garis tengah korteks serebral superior.

Hematoma Ekstradural / Epidural

Perdarahan ekstradural terjadi di luar duramater di bawah tengkorak Biasanya karena cedera di daerah temporal di mana cabang arteri meningeal tengah berada. Cedera arteri menyebabkan perdarahan, sehingga dura terpisah dari tengkorak. Hematoma yang membesar menekan otak di bawahnya. Biasanya perdarahan berlangsung cepat dan penderita akan cepat kehilangan kesadaran pada saat cedera terjadi. Pasien dengan hematoma ekstradural membutuhkan bedah saraf darurat untuk mengevakuasi hematoma

Hematoma Subdural

Hematoma subdural merupakan perdarahan intrakranial paling umum yang terkait dengan cedera kepala berat. Hematoma terbentuk di bawah duramater sebagai akibat dari cedera pada vena. Hematoma subdural bisa akut atau kronis. Cedera akut biasanya tampak dalam beberapa jam pertama dan dapat dengan cepat membesar sehingga menyebabkan penurunan tingkat kesadaran dan koma. CT scan akan mengungkapkan lokasi hematoma dan tindakan bedah saraf harus segera dilakukan. Hematoma subdural kronis dapat muncul beberapa hari, minggu, atau bulan setelah cedera dan sering terjadi pada anak kecil dan pasien yang lebih tua.

Hemoraghi Subarachnoid

Perdarahan subarachnoid terjadi ketika ada perdarahan antara otak dan jaringan tipis yang menutupi otak. Jaringan ini disebut meningen. Penyebab paling umum adalah trauma, tetapi bisa juga disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah utama di otak, seperti dari aneurisma intraserebral. Sakit kepala yang tiba-tiba dan tajam biasanya terjadi sebelum perdarahan subarachnoid. Gejala khas juga termasuk kehilangan kesadaran dan muntah.

Hemoraghi Intraserebral

Hematoma intraserebral adalah tempat perdarahan terjadi jauh di dalam jaringan otak. Pasien dengan hematoma intraserebral yang besar mungkin memerlukan pembedahan, namun gumpalan yang lebih kecil dapat diobati secara konservatif, dengan pasien diamati secara ketat untuk kerusakan yang menunjukkan perdarahan yang sedang berlangsung atau peningkatan tekanan intrakranial. Gejala berkembang selama beberapa menit hingga beberapa jam, meliputi: sakit kepala, kesulitan berbicara, mual, muntah, kesadaran menurun, kelemahan di satu bagian tubuh, peningkatan tekanan darah.

Berikut gambaran perdarahan intrakranial.

Luka Penetrasi

Luka tembak di otak adalah luka penentrasi yang umum dan berhubungan dengan angka kematian sangat tinggi. Cedera tembus lainnya dapat disebabkan oleh benda-benda seperti pisau atau gunting yang didorong melalui tengkorak dengan kekuatan yang besar. Jika pasien datang dengan benda tembus, benda itu tidak boleh dikeluarkan sampai pasien menjalani CT scan dan ada ahli bedah. Pasien ini mengalami perdarahan intraserebral akibat luka tusuk.

Penanganan Cidera Kepala secara umum

Pendekatan Umum pada pasien trauma kepala seperti penanganan trauma pada umumnya. Pengkajian dan penanganan segera adalah kunci untuk bertahan hidup, Survey primer: ABCDE, Survey sekunder: Anamnesa riwayat pasien dilakukan dengan berpedoman pada akronim SAMPLE (Sign and simptom, Alergy, Medication, Past Medical History, Last meal, dan events surrounding the time of injury).  Pemeriksaan fisik head to toe, Pemeriksaan Diagnostik, dan CT Scan kepala merupakan pemeriksaan utama. Secara khusus, korban cidera kepala di UGD akan mendapatkan penanganan sbb:

  1. Stabilisasi awal, Pastikan status ABC, Resusitasi cairan jika terdapat hipoensi. Hati-hati pada TIK yang meningkat, Kadar O2 dan glukosa dipertahankan.
  2. Menurunkan TIK, Terapi hiperventilasi (PaCO2 < 30-35 mmHg) terbatas dan jangka pendek. Meninggikan kepala, pemberian penenang, dan pemberian manitol 20%  (1 g / kg) atau saline hipertonik.
  3. Penanganan kejang. Pemberian Fenitoin, untuk orang dewasa dosis 1 gr diinfuskan pada 50 mg / mnt). Anak-anak 15 mg/kg pada 0,5 sampai 1 mg tidak melebihi 50 mg/mnt.
  4. Pengobatan luka kulit kepala.
  5. Konsultasi bedah saraf darurat.

 Daftar Pustaka

Carey, E., (2018). Intracranial Hemorrhage. https://www.healthline.com/health/extradural-hemorrhage

Centers for Disease Control and Prevention, National Center for Injury Prevention and Control. (2019). Brain injury basics. https://www.cdc.gov/headsup/basics/concussion_whatis.html

Cole, E., (2009). Trauma Care, Initial assessment and management in the emergency department. Wiley-Blackwell

Fatohi, M. (2020). NeuroGrow Concussion Recovery Program. https://neurogrow.com/neurogrow-concussion-recovery-program/

Huecker & Plantz. (2016). Step-up to Emergency Medicine. Wolter kluwer

Kim, D. J., Czosnyka, Z., Kasprowicz, M., Smieleweski, P., Baledent, O., Guerguerian, A. M., Pickard, J. D., & Czosnyka, M. (2012). Continuous monitoring of the Monro-Kellie doctrine: is it possible?. Journal of neurotrauma, 29(7), 1354–1363. https://doi.org/10.1089/neu.2011.2018

Morales, D.L., (2018). Brain Contusion Imaging. https://emedicine.medscape.com/article/337782-overview

Tjahjadi, M. (2018). Cidera Kepala. https://www.mitrakeluarga.com/artikel/artikel-kesehatan/cedera-kepala. Diakses pad atanggal 19 September 2020.