06 December 2018

Posisi Trauma Lateral

Posisi Trauma Lateral
Apakah posisi trauma lateral baru menyebabkan lebih banyak gerakan pada cedera tulang belakang leher yang tidak stabil daripada manuver logroll?

Tujuan: Tujuan: Personel pre-hospital yang tidak memiliki pelatihan lanjut manajemen jalan nafas harus bergantung pada teknik dasar ketika mengangkut pasien trauma yang tidak sadar. Posisi terlentang dikaitkan dengan hilangnya patensi jalan napas jika dibandingkan dengan posisi telentang lateral. Dengan demikian, timbul konflik antara mengamankan saluran udara terbuka menggunakan posisi pemulihan dan mempertahankan imobilisasi tulang belakang dalam posisi terlentang. Posisi trauma lateral adalah teknik baru yang bertujuan untuk menggabungkan manajemen saluran napas dengan tindakan pencegahan tulang belakang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan gerakan tulang belakang yang dibolehkan oleh posisi trauma lateral baru dan manuver log-roll.
Metode: Menggunakan model kadaver utuh yang diberi lesi sehingga tulang lehernya (C5-C6) menjadi tidak stabil, kami menyelidiki rentang rata-rata gerak (ROM) yang dihasilkan di lokasi cedera dalam enam dimensi dengan melakukan dua manuver menggunakan alat pelacakan elektromagnetik..
Hasil: Dibandingkan dengan manuver log-roll, posisi trauma lateral menyebabkan ROM rata-rata serupa di lima dari enam dimensi. Hanya gerakan linier medial / lateral secara signifikan lebih besar pada posisi trauma lateral (1,4 mm (interval kepercayaan 95% [CI] 0,4, 2,4 mm))..
Kesimpulan: Dalam studi mayat ini, posisi trauma lateral baru dan manuver log-roll  menghasilkan jumlah gerak yang sebanding dalam model cedera tulang belakang cervical yang tidak stabil. Kami menyarankan bahwa posisi trauma lateral dapat dipertimbangkan untuk pasien trauma yang tidak diintubasi.

Sumber: Hyldmo, Per Kristian et al. (2017). Does the novel lateral trauma position cause more motion in an unstable cervical spine injury than the logroll maneuver? The American Journal of Emergency Medicine, 35(11), 1630 - 1635

18 November 2018

Sosialisasi Pemilu LN di Tuguegarao

Bpk. Agus Buana dan Bpk. Wayan (no. 6 dan 7 dari kiri) bersama 13 WNI di Kota Tuguegarao
Hari ini Minggu, 18 November 2018 KBRI Filipina di Manila melakukan sosialisasi "Pemilu 2019 bagi WNI di Luar Negeri" di kota Tuguegarao, Filipina. Pertemuan dilakukan di restorant Hotel Roma yang terletak di jln. Bonaficio di tengah-tengah kota Tuguegarao. Sosialisasi dilakukan oleh 2 orang staf KBRI yaitu, Bpk Agus Buana dan Bapak Wayan dari pukul 10.00 pagi hingga pukul 14.00 waktu tuguegarao.

Menurut Pak Agus, yang saat ini menjabat sebagai Koordinator Bidang Social Cultural and Media Relations di KBRI Filipina, perjalanan ke Tuguegarao ini merupakan yang pertama kali bagi beliau. Membutuhkan waktu 12 jam dari Manila ke Tuguregarao dengan bus, sungguh perjalanan yang sangat melelahkan. Untungnya, beliau menambahkan, selama perjalanan beliau bisa beristirahat sehingga tidak terasa begitu lelah. Bangun-bangun sudah di terminal bus Tuguegarao.

Acara dibuka dengan sambutan Bpk Agus sekaligus sosialisasi secara umum Pemilu LN di Filipina. Dalam sambutannya beliau menyampaikan pentingnya sosialisasi pemilu 2019 bagi WNI di Luar Negeri adalah bahwa mengingat partisipasi 2 kali pemilu di LN sebelumnya yang sangat rendah yaitu sekitar 22-23%. Padahal tingkat partisipasi akan mempengaruhi legitimasi pemimpin terpilih, suara pemilih luar negeri akan menentukan sebuah partai politik mencapai Parlementary Treshold (PT), dan satu suara akan menentukan nasib bangsa. Serta golput bukan solusi dan pilihan. Oleh karena itu sosialisasi ini dilakukan meski waktunya sangat sempit yaitu sampai akhir november 2018. 

Bpk. Agus Buana sedang menyampaikan Sosialisasi Pemilu LN di Tuguegarao, Filipina
Lebih lanjut beliau menyampaikan bahwa pemilu kali ini berbeda dengan pemilu sebelumnya karena selain pemilihan legislatif juga dilakukan pemilihan presiden. Pemungutan suara di kota Tuguegarao akan dilakukan pada hari minggu, 14 april 2018 mulai pukul 08.00 - 16.00. Meski pemungutan suara dilakukan pada tanggal 14 namun penghitungan suara akan dilakukan pada hari lain, mengingat pemungutan suara di LN tidak bisa dilakukan serentak terkait dengan lokasi yang sulit dijangkau. Apalagi pemilu secara nasional nanti dilakukan pada tanggal 17 April 2018. 

Metode pemungutan suara di kota Tuguegarao nanti dilakukan melalui pos, menginat jarak yang cukup jauh dari KBRI di Manila. Bpk Agus menuturkan bahwa sebulan sebelum hari H, akan dikirim surat suara ke perwakilan WNI di Tuguegarao dan dan selanjutnya surat suara yang udah dicoblos akan dikirim balik ke KBRI 2 minggu sebelum hari H. "Jangan khawatir setiap surat suara sudah diberi amplop dan perangko, jadi tinggal kirim saja via post" gurau pak Agus yang disambut ketawa para hadirin peserta sosialisasi. Secara teknis, sosialisasi pemilu dijelaskan oleh Bpk wayan, staf KBRI Filipina yang masih muda dan relatih baru di KBRI. 

Beberapa pertanyaan diajukan oleh peserta sosialisasi seperti Bpk. Yakobus, mahasiswa doktoral semester akhir ini menyampaikan bahwa kemungkinan beliau dan teman-teman seangkatan pada hari H sudah kembali pulang ke Indonesia, sehingga saat pemungutan suara sudah tidak di tuguegarao lagi. Untuk hal-hal yang seperti itu, Pak Agus menyampaikan bahwa yang penting sebagai WNI kita harus terdaftar dulu di KPU sehingga nanti tidak terulang kembali kejadian pemilu sebelumnya dimana di tempat asal tidak terdaftar dan di LN juga tidak terdaftar, tapi tiba-tiba ikut dengan menunjukkan KTP. Oleh karena itu setiap dari kita dianjurkan untuk cek di situs KPU atau melalui aplikasi KPU bagi pengguna smarthone apakah nama kita sudah terdaftar, jika belum maka KBRI bisa memfasilitasi.

Acara dilanjutkan dengan makan siang dan ngobrol santai tentang pengalaman pak agus sebagai diplomat di negara Cuba dan di AS. Lulusan Universitas Brawijaya ini sangat terkesan dan banyak bercerita tentang kebaikan orang-orang Cuba terutama tenaga medis yang betul-betul mengabdikan diri untuk negara dan masyarakat tanpa mengambil keuntungan pribadi dari profesi mereka. Dan ini beliau alami sendiri pada saat istri dan anaknya sakit. Padahal, secara ekomoni Cuba tidak lebih baik dari Indoenesia. 

Sungguh hari ini kami WNI yang berada di Tuguegarao, bagian utara dari Filipina ini merasa sangat senang akan kunjungan KBRI, seakan kita dijenguk oleh orang tua kita. Bagi saya ini adalah kunjungan KBRI yang ke-2. Setahun yang lalu, tepatnya bulan Desember 2017, koordinator bidang ekonomi KBRI di Flipina Bpk Zakaria Hidayat juga mengunjungi kami di Asrama SPUP.

03 October 2018

Tentang Semua Paradigma: Banyak di Alam Semesta, Dua di Keperawatan

Jacqueline Fawcett, Dikenal dengan karya meta teoritisnya dalam keperawatan

Pada tahun 1993, Fawcett menulis tentang "banyaknya Paradigma" dalam keperawatan. Dia merujuk pada sejumlah tulisan di mana sarjana perawat berusaha untuk menetapkan sejumlah bukti paradigma atau pandangan dunia yang berbeda dalam ilmu keperawatan dan untuk menggambarkan karakteristik mereka yang menentukan. Fawcett mengklaim untuk membedakan hanya tiga "pandangan dunia" dari antara berbagai pernyataan dalam literatur: tinjauan reaksi, ikhtisar interaksi timbal balik, dan pandangan dunia tindakan simultan (Fawcett, 1993).

Karena suatu paradigma, atau pandangan dunia, meliputi seperangkat keyakinan dasar yang koheren dan saling terkait tentang fenomena masalah, sebagian besar "paradigma" yang dipuji dalam literatur keperawatan mengejutkan, membangkitkan minat, dan sedikit mengganggu.

Mayoritas literatur tentang pandangan dunia atau paradigma dalam keperawatan telah banyak diambil atau dipinjam langsung dari perbedaan yang diidentifikasi dalam disiplin lain. Sebagian besar penulis hanya menyebut dua paradigma - yang lebih tua dan ajeg dalam memandang sesuatu, dan cara pandang yang lebih baru dan berbeda dalam memandang berbagai hal. Yang pertama lebih positivistik dan yang terakhir lebih relativistik, dan penulis cenderung memegang kepercayaan lebih dekat dengan paradigma yang lebih baru.

Pada tahun 1985, Parse mengusulkan dua paradigma dalam keperawatan, totalitas dan simultaenity (Parse, Coyne, & Smith, 1985). Keyakinan dasar paradigma totalitas adalah bahwa manusia adalah makhluk spiritual biopsikososial yang berinteraksi dengan lingkungan eksternal. Sementara Keyakinan dasar paradigma simultan adalah bahwa manusia lebih dari dan berbeda dari penjumlahan bagian-bagian, dan, lebih tepatnya, makhluk terbuka dalam proses yang saling menguntungkan dengan alam semesta yang ikut berpartisipasi dalam menciptakan kesehatan. Perbedaan antara keduanya terletak pada definisi kesehatan, tujuan keperawatan dan tradisi penelitian.

Berbeda dengan paradigma totalitas, paradigma simultanitas dapat membedakan keperawatan lebih jelas dari kedokteran, psikologi dan ilmu-ilmu lainnya. Sementara kerangka pedoman praktik paradigma totalitas pada dasarnya berlapis bersama dari disiplin lain yang menimbulkan pertanyaan apakah keperawatan adalah ilmu dasar atau ilmu terapan di mana perawat dipandang sebagai bawahan dokter. Dua paradigma yang diidentifikasi oleh Parse tidak berasal dari disiplin lain, bahkan tidak dari filsafat, tetapi diidentifikasi sebagai paradigma ilmu keperawatan ketika mereka pertama kali dinamai.

Fawcett dan Newman tampaknya mengakui dan mungkin mendukung jalan tengah antara totalitas dan simultanitas. Ini tercermin oleh pandangan mereka, paradigma "interaktif-integratif" (Newman, 1993) dan pandangan dunia "interaksi timbal balik" (Fawcett, 1992). Yang menarik, baik Newman maupun Fawcett tidak berbicara tentang definisi kesehatan, sedangkan kesehatan adalah perhatian utama dalam keperawatan, dan perhatian utama dalam tubuh kerja masing-masing penulis sebelumnya.

Dalam semua wacana zaman, lintas benua, dan budaya, ada banyak paradigma untuk mengorganisasi pengetahuan dalam disiplin yang tak terhitung banyaknya - pengetahuan yang diorganisasikan dalam jutaan cara berbeda dalam waktu dan keadaan yang berbeda oleh orang yang berbeda. Dalam ilmu alam dan sosial dari dunia saat ini, mungkin memang ada banyak paradigma dalam sejumlah disiplin ilmu yang berbeda. Namun di keperawatan, hanya ada dua.

Rujukan:

  1. Cody, W. K. (1995). About all those paradigms: many in the universe, two in nursing. Nursing Science Quarterly, 8(4), 144-147.

27 September 2018

FOKUS DISIPLIN KEPERAWATAN


Suatu disiplin dapat diidentifikasi dengan pernyataan fokus dalam bentuk kalimat sederhana yang menentukan bidang studi. Ini adalah ringkasan sebuah artikel journal dengan judul "The Focus of The Discipline of Nursing" yang bertujuan untuk menyajikan fokus disiplin keperawatan dan membahas implikasi dari perspektif paradigma yang berbeda bagi pengetahuan keperawatan.

KONSEP YANG RELEVAN DENGAN FOKUS KEPERAWATAN

Fokus keperawatan sebagai disiplin profesional telah muncul selama dekade terakhir. Sejumlah konsep telah diidentifikasi sebagai fokus studi keperawatan seperti person, environment, nursing dan health.

Baru-baru ini, ada penekanan pada dua konsep sebagai fokus keperawatan: health dan caring. Meskipun caring dan health memang penting untuk keperawatan, namun tidak ada yang telah mengembangkan pernyataan fokus yang mencakup konsep-konsep ini, dan tidak satu pun konsep itu yang memenuhi kriteria untuk fokus disiplin profesional.

Caring pada umumnya telah dikaitkan dengan konsep kesehatan. Dengan cara yang sama, konsep kesehatan sering dikaitkan dengan tindakan. Lebih lanjut, dalam keperawatan, heatlh berarti pengalaman kesehatan manusia.

Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa caring, kesehatan dan pengalaman kesehatan adalah konsep disiplin keperawatan. Konsep ini dapat saling terkait satu sama lain untuk mengidentifikasi domain penyelidikan keperawatan.

PERNYATAAN FOKUS UNTUK KEPERAWATAN

Menurut penulis artikel ini, keperawatan adalah studi tentang caring dalam pengalaman kesehatan manusia. Berdasarkan pernyataan fokus di atas, bidang penelitian adalah caring terhadap pengalaman kesehatan manusia. Fokus ini menentukan bahwa body of knowledge keperawatan mencakup caring dan pengalaman kesehatan manusia. Body of knowledge yang tidak termasuk caring dan pengalaman kesehatan manusia bukanlah pengetahuan keperawatan. Tugas penyelidikan keperawatan adalah untuk menguji dan menjelaskan makna caring dalam pengalaman kesehatan manusia untuk memastikan kecukupan fokus ini untuk disiplin, dan untuk menguji pertanyaan-pertanyaan filosofis dan ilmiah yang dipicu oleh pernyataan fokus.

PERSPEKTIF PARADIGMA YANG BERBEDA

Ada tiga perspektif paradigma yang terdapat di dalam literatur keperawatan: particulate-deterministic, interactive-integrative, and unitary-transformative. Pertama, dari perspektif particulate-deterministic, caring dalam pengalaman kesehatan manusia dapat dipelajari dengan menguji konsep-konsep yang membentuk fokus. Kedua, dari perspektif interactive-integrative, caring dalam pengalaman kesehatan manusia dapat dipelajari sebagai fenomena interaktif-integratif dalam konteks spesifik, tetapi masih dengan kemungkinan prediksi. Dan ketiga, dari perspektif unitary-transformative, caring dalam pengalaman kesehatan manusia dapat dipelajari sebagai proses kesatuan-transformatif dari kebersamaan dan pengungkapan kreatif.

HUBUNGAN FOKUS DENGAN PERSPEKTIF PARADIGMATIK

Penjelasan pengetahuan yang relevan dengan caring dalam pengalaman kesehatan manusia dipengaruhi oleh perspektif paradigmatik. Konsep-konsep dalam pernyataan fokus dapat diisolasi untuk studi dalam dua perspektif pertama, sedangkan unitary-transformative membutuhkan fokus untuk dipelajari sebagai keseluruhan yang tidak dapat dibagi (an indivisible whole).

Meskipun berbagai perspektif dapat digunakan untuk pengembangan pengetahuan keperawatan, penulis artikel ini meyakini bahwa perspektif unitary-transformative sangat penting untuk penjelasan lengkap dari disiplin. Posisi ini konsisten dengan pandangan dunia yang berubah terhadap perilaku penyelidikan terhadap pengalaman manusia.

Rujukan:

  1. Newman, M., Sime, A. M., & Corcoran-Perry, S. (1999). The focus of the discipline of nursing. Perspectives on philosophy of science in nursing, 20-24.

24 September 2018

RINGKASAN: Perubahan Tren dalam Filsafat Ilmu Pengetahuan tentang Pengembangan Teori Keperawatan


FILOSOFI ILMU PENGETAHUAN

Sejak 1940-an, dua aliran pemikiran filosofis telah memengaruhi filsafat sains: empirisme (1940-an 1960-an) dan historisisme (1960-an hingga saat ini). Perbedaan mendasar mengenai pengembangan teori, pengujian, dan penilaian keduanya dapat dibagi menjadi empat variabel signifikan: (1) komponen sains, (2) konsepsi sains, (3) penilaian kemajuan ilmiah, dan (4) ) tujuan filofofi sains.

Komponen Sains

Menurut penganut logika logis, komponen sains didasarkan pada sistem deduktif yang mencakup tiga komponen utama: asumsi, preposisi dan generalisasi empiris. Sebaliknya, para historisis memandang sains dari segi tradisi penelitian. Menurut Laudan, tiga komponen spesifik membentuk tradisi penelitian: (1) teori spesifik, (2) komitmen ontologis, dan (3) komitmen metodologi.

Konsepsi Ilmu

Ahli empiris logis memahami sains sebagai produk dari kegiatan ilmuwan. Konsepsi sains sebagai produk bertumpu pada tujuan filosofis mengartikulasikan fondasi logis pengetahuan ilmiah. Di sisi lain, para sejarawan memahami ilmu sebagai proses perilaku dan pemikiran manusia yang diperlihatkan oleh para ilmuwan yang berpraktik.

Penilaian kemajuan Ilmiah

Untuk para emperikal yang logis, kemajuan ilmiah dinilai dengan tingkat probabilitas bahwa teori itu benar, berdasarkan pada jumlah dan tingkat keparahan dari tes emperikal yang dilaluinya. Di sisi lain, bagi yang paling bersejarah, kemajuan ilmiah ditentukan oleh sejauh mana ia memecahkan lebih banyak masalah ilmiah daripada para pesaingnya.

Tujuan Filsafat Ilmu

Menurut para penganut logika logis, tujuan akhir dari filsafat ilmu adalah untuk menyajikan laporan resmi tentang sifat pengetahuan ilmiah. Secara umum, sejarawan berbagi dengan empiris logis keyakinan bahwa tugas filsuf adalah untuk membangun akun umum tentang sifat pengetahuan ilmiah. Tetapi bagi para ahli sejarah seperti Laudan, tugas semacam itu harus sesuai dengan elemen manusia dari evolusi dan pertumbuhan ilmiah.

PENGEMBANGAN DAN PENGUJIAN TEORI

Ada tiga periode yang menunjukkan pengembangan dan pengujian teori keperawatan. Pada tahun 1964-1969, pengembangan dan pengujian teori keperawatan pada periode ini cenderung ke arah emperisme logis. Pada 1970-1975, ada dua tren dalam teori keperawatan yang terjadi. 1) Formulasi teoritis yang relevan dengan teori keperawatan dan pengujian dalam tradisi emperis logis dikembangkan ke tingkat yang tinggi, 2) Sejumlah kerangka kerja konseptual untuk keperawatan diterbitkan. Pada tahun 1976 hingga sekarang, komitmen terhadap emperisme logis berlanjut dan relatif stabil, meskipun kecenderungan awal menuju historisisme tampak jelas. Tren kedua adalah perluasan dan revisi karya-karya penulis perawat yang pada awal 1970-an telah mengembangkan kerangka kerja konseptual untuk keperawatan. Tren ketiga adalah pergeseran penekanan dari metode penelitian kuantitatif ke kualitatif untuk menguji deduksi teori keperawatan.

IMPLIKASI DAN REKOMENDASI ​​UNTUK MASA DEPAN

Ada beberapa implikasi untuk pengembangan dan pengujian teori keperawatan dalam artikel ini dan berdasarkan tren perubahan dalam filsafat ilmu pengetahuan dan teori keperawatan, empat rekomendasi dibuat. Jika rekomendasi dilaksanakan, mereka harus membantu untuk membangun dan mempertahankan dialog terbuka, yang menandakan masa depan yang sehat dan menjanjikan untuk kemajuan ilmu keperawatan.

Rujukan:

  1. Silva, M. C., & Rothbart, D. (1984). An analysis of changing trends in philosophies of science on nursing theory development and testing. ANS. Advances in nursing science, 6(2), 1-13.