16 April 2018

Membuka Helm Korban Kecelakaan

Pertolongan pertama pada korban kecelakaan kendaraan bermotor membutuhkan penanganan sesuai prosedur, jika terjadi salah penanganan bisa memperparah kondisi korban. Misalnya ketika melepas helm korban yang mengalami patah leher, jika tidak mengetahui prosedurnya bisa menakibatkan kelumpuhan, bahkan patahnya bagian leher bisa berakibat terhentinya pernapasan dan jantung. Oleh karena itu cara membuka helm korban kecelakaan memiliki tahapan tersendiri. Karena melepaskan helm adalah tindakan berbahaya, jika salah prosedur bisa berakibat fatal.

Tujuan melepas helm pada korban kecelakaan adalah untuk meminimalisir cedera tulang leher yang bisa mengakibatkan terhentinya pernafasan dan jantung. Tindakan ini dilakukan pada korban yang kemungkinan mengalami cedera cervical-spinal seperti helm pengendara sepeda motor atau helm pemain football.

Melepas helm mungkin dapat ditunda pada pasien yang tidak mengalami gangguan jalan napas ketika diduga mengalami cedera servikal-spinal. Pada situasi ini, maka gergaji dapat digunakan untuk memotong dan membuka helm. Ketika membiarkan helm ditempatnya kita membutuhkan bantalan/ganjal untuk mengelevasikan badan pasien dari kemungkinan turunnya bahu. Sedangkan pada anak dapat terjadi fleksi. PERINGATAN, jangan mencoba melepaskan helm jika anda tidak cukup terlatih.

Adapun prosedur melepaskan helm sepeda motor dari penderita dengan kemungkinan cedera tulang servikal/leher adalah sebagai berikut:
  1. Penolong berada di atas atau di belakang penderita. Tangan penolong berada di setiap sisi helm dan melakukan stabilisasi kepala dan leher dengan cara memegang helm dan leher penderita. Penolong 1 melakukan stabilisasi dengan meletakkan tangan di sisi samping helm dengan jari-jari pada rahang bawah penderita. Hal ini mencegah selip bila pengikat dilonggarkan.
  2. Penolong 2 berada di sisi penderita dan membuka tali helm yang biasanya dapat dilepas dengan mudah tanpa membutuhkan pemotong. Penolong 2 melepas pengikat pada cincin D sementara stabilisasi tetap dipertahankan. Penolong 2 meletakkan satu tangan di sudut rahang bawah, ibu jari di satu sudut, jari telunjuk dan tengah di sudut lain.
  3. Penolong 2 mengambil alih stabilisasi dengan meletakkan satu tangan di bawah leher dan belakang kepala sementara tangan yang lain berada di leher depan dengan ibu jari menekan sudut rahang bawah dan jari telunjuk dan tengah menekan sudut rahang bawah yang lain. Dengan tangan lain, penolong 2 memegang daerah belakang kepala. Manuver ini memindahkan tanggungjawab stabilisasi pada Penolong 2. Penolong 1 melepas helm dalam 2 tahap, memungkinkan Penolong 2 untuk melakukan posisi tangannya di bawah daerah belakang kepala.
  4. Penolong 1 kemudian melepas helm dengan meregangkan setiap sisi helm ke samping sedemikian sehingga telinga penderita bebas dan kemudian helm ditarik ke atas sampai lepas. Tengadahkan helm (bukan kepala) yang melingkupi seluruh kepala dan wajah ke belakang sampai hidung terbebas.
  5. Bila penderita memakai kacamata, lepaslah kacamata melalui bukaan helm sebelum melepas helm yang melingkupi seluruh kepala dan wajah tersebut. Penolong 2 mempertahankan stabilisasi kepala selama tindakan.
  6. Setelah melepas helm, penolong mengambil alih stabilisasi leher dengan memegang kadua sisi kepala, dengan jari-jari memegang salah satu sudut rahang bawah dan belakang kepal.
  7. Penolong 2 memasang cervical collar yang sesuai. Setetelah helm dilepas, penolong 1 meletakkan tangannya di samping kepala penderita dengan telapak menghadap telinga, mengambil alih stabilisasi. Stabilisasi dipertahankan sampai SMR selesai.
CATATAN :
  1. Tulang belakang penderita yang memakai helm dan bantalan bahu akan lebih mudah dipertahankan pada posisi netral dengan cara membiarkan helm tetap terpasang dan diberi bantalan serta mengisolasinya ke backboard
  2. Penderita yang memakai helm tanpa bantalan bahu biasanya dapat distabilkan tulang belakangnya pada posisi netral dnegan melepas helm tersebut
  3. Masker wajah pada helm dapat dilepas dengan obeng atau gunting
  4. Helm yang menutup seluruh kepala dan wajah harus dilepas untuk melakukan evaluasi dan tata laksana jalan napas.

Prosedur Aleternatif untuk Melepas Helm

Prosedur ini memiliki keunggulan dimana satu orang saja mempertahankan stabilisasi leher selama tindakan. Prosedur ini tidak dapat dilakukan bila penderita menggunakan helm yang menutupi seluruh kepala dan wajah
  1. Penolong 1 berada di atas atau di belakang penderita dan meletakkan tangan pada setiap sisi leher di dasar tengkorak. Stabilisasi leher pada posisi netral. Bila perlu dapat digunakan ibu jari untuk melakukan modified jaw thrust sambil melakukan stabilisasi leher.
  2. Penolong 2 berada di samping penderita dan melepas tali helm.
  3. Menolong 2 melepas helm dengan cara meregangkan sisi-sisi helm hingga telinga terbebas kemudian menarik helm ke atas sampai lepas. Penolong 1 tetap mempertahankan satbilisasi leher
  4. Penolong 2 memasang cervical collar.  melepas helm dengan menarik lembut kedua sisinya. Memasang cervical collar yang sesuai dan mengamankan penderita di backboard panjang.