18 December 2017

Kunjungan Koordinator Ekonomi KBRI ke SPUP

Bpk. Hidayat Zakaria, Koordinator Ekonomi KBRI di Filipina
KBRI hari ini akan mengunjungi mahasiswa Indonesia di SPUP”. Berita itu saya dengar sesaat setelah sholat jum'at dari seorang teman S2 yang bernama Nur Khaliq. Menurut beliau pertemuan akan dilaksanakan di dining room pada pukul 2.30 pm.

Saya melirik arloji saya yang menunjukkan waktu 12.50 pm. Masih ada waktu sekitar sejam setengah. Cukuplah, pikir saya dalam hati.

Sampai di kostan masak nasi dulu untuk makan siang. Kebetulan hari ini beras habis dan sepulang sholat jumat tadi saya nyempatkan diri belanja di toko beras yang baru. Beli beras merek Cagayan C-18 Special. Lebih murah 2 peso dari yang biasanya beli dan ternyata lebih enak yang beras sebelumnya.

Jam menunjukkan pukul 2.00 pm saat ada pesan WA masuk dari salah seorang teman SPUP angkatan 2017. Isinya pemberitahuan bahwa akan ada kunjungan dari KBRI seperti yang tadi diinfokan oleh teman saya. Pesan tambahannya “orangnya sudah datang, segera merapat”. Wah bikin kacau nih kan masih 30 menit lagi, pikirku dalam hati. Makan siang dulu, nasi juga baru matang.

Selepas makan dan bersiap diri, saya buru-buru menuju tempat pertemuan. Tidak sampai 5 menit saya sudah berada di depan dining room asrama SPUP. Waktu menunjukkan pukul. 2.28 pm saat saya sampai di depan dining room. Menjelang masuk, teman saya satu kantor bikin ulah dengan bertepuk tangan menyambut kedatangan saya seolah-olah saya adalah tamu yang dtunggu. Saya hanya bisa senyum-senyum saja pada semua hadirin yang juga ikut heboh menanggapi ulah teman saya tadi. Bahkan salah seorang rekan mempersilahan saya untuk duduk di depan bak tamu yang ditunggu.

Tidak lama saya dan teman-teman menunggu datanglah 3 orang menuju dining room. Seorang sudah saya kenal yaitu sir Jeremy Morales, staf SPUP bagian mahasiswa internasional. Seorang bapak langsung menuju ke depan tempat kami berkumpul dan seorang ibu staf KBRI. Tidak berselang lama acara langsung dibuka dengan terlebih dulu menyanyikan lagu Indonesia tidak kulupakan.

Setelah selesai menyanyikan lagu, pemandu acara langsung mempersilahkan bapak yang duduk di depan untuk memberikan sambutan dan arahan. Mula-mula beliau memperkenalkan diri, namanya Hidayat Zakaria koordinator ekonomi KBRI, pernah bertugas di Pakistan, Australia dan terakhir di Filipina ini. Beliau membuka ceritanya dengan kegiatan yang beliau lakukan selama menjadi koordinator ekonomi di Filipina. Yang terakhir adalah membawa pengusaha kopi dalam pameran di Filipina.

Pembukaan Acara
Di akhir sambutan beliau, saya sempat berfikir bahwa kunjungan ini mungkin akan lebih bermanfaat dilakukan oleh koordinator pendidikan atau bagian konsuler sehingga arahan-arahannya sesuai dengan dengan harapan mahasiswa.

Namun kita ambil positifnya saja dan salah satu hal positif adalah saya menanyakan besarnya potensi alumni perawat di Indonesia. Oleh karena itu mohon kepada KBRI di Filipina bisa memberikan masukan kepada sistem pendidikan keperawatan di Indonesia sehingga lulusannya tidak kalah dengan lulusan dari Filipina. 

Staf Polkesma yang Studi di SPUP foto bersama dengan Bpk. Hidayat Zakaria
Bapak Hidayat Zakaria bersama dengan mahasiswa Indonesia di SPUP

22 November 2017

City Tour ke Singapura

Hari ini saya balik ke filipina setelah hampir 11 minggu berlibur di rumah. Sebenarnya bukan libur sih, tapi belajar di rumah, karena kita menyelesaikan tugas-tugas yang harus dikumpulkan sebelum perkuliahan di semester berikutnya.

Saya meninggalkan rumah pukul 5.00 pagi diantar oleh istri naik motor ke jalan raya, hari masih agak gelap. Dengan membawa satu tas karier saya menunggu travel di depan SMPN I Singosari. 20 menit travel baru datang. Di dalam sudah ada 6 orang penumpang, jadi saya adalah penumpang yang terakhir. Toyota inova di isi penumpang 7 orang, sungguh tidak nyaman karena tidak bisa bergerak leluasa.

1,5 jam sampai bandara juanda internasional. Jam masih menunjukkan pukul 7.00 pagi. Saya lanagsung masuk dan menunggu di depan loket check in. Ternyata untuk pesawat scoot airline masih tutup. Rencana pesawat berangkat pukul 9.50 WIB. Tidak berapa lama teman saya datang dan kita menunggu sampai check in dibuka.

Setelah check in, kita langsung menuju pintu keberangkatan. Perjalanan ini menjadi perjalanan saya yang kedua menuju negara lain selain Filipina. Karena pesawat akan transit melalui singapura. Dan menurut rencananya kami akan ikut tour city sambil menunggu transit selama 12 jam.

Pukul 13.15 pesawat yang kami tumpangi mendarat mulus di Singapura. Pertama-tama kami mencari musholah untuk sholat dhuhur. Alhamdulillah mushola sangat mudah ditemukan karena petunjuk arah yang sangat jelas dipasang disetiap jalan di dalam bandara.

Selepas sholat menyempatkan berkenalan dengan seorang petugas bandara bernama Azmy, seorang warga singapura yang fasih berlogat Indonesia. Ceritanya sih, masih keturuan jawa. Beliau dengan senang hati mengantar kami ke counter city tour. Kami mendaftar ke counter dengan mengisi form pendaftaran tanpa membayar sepeserpun alias gratis.

Terima kasih Singapura yang telah mengajak kami jalan-jalan keliling kota Singapura. Berikut foto-foto yang kami dokumentasikan:

Transit di Bandara Changi Singapura

Bus City Tour



Di sekitar Air Mancur





19 September 2017

Workshop Finalisasi Kurikulum Prodi D-III dan D-IV Keperawatan Tahun 2017

Direktur Polkesma Budi Susatia, SKp, M.Kes (kiri) dan Sekjur Keperawatan Joko Wiyono, SKp, M.Kep, SpKom

Pagi ini beberapa dosen dari kampus 2 baik Prodi D-III dan D-IV KL akan mengikuti Workshop Finalisasi Kurikulum Prodi D-III dan D-IV Keperawatan yang diselenggarakan oleh Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang. Kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan selama 2 hari mulai hari ini tanggal 19 sampai 20 September 2017 bertempat di The l0l OJ Hotel Jl. Dr. Cipto No l l, Malang. Selain dari kampus 2, workshop juga diikuti oleh dosen-dosen dari Prodi D-III dan D-IV Keperawatan Malang, Prodi D-III Keperawatan Blitar, dan 5 orang dosen dari Akper Pemkab Trenggalek. 

Workshop dibuka oleh Direktur Polkesma Budi Susatia, SKp, M.Kes. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa kurikulum yang sudah tersusun perlu disempurnakan untuk mewujudkan harapan Polkesma dalam meningkatkan mutu civitas akademika. Beliau juga menekankan perlunya peningkatan kerjasama dengan institusi baik di dalam dan maupun luar negri, kerjasama lintas sektoral, peningkatan prestasi nasional dan internasional, juga dengan peningkatan kemampuan dosen sehingga bisa memberikan hal yang bermanfaat untuk peningkatan mutu mahasiswa dan lulusan Polkesma. Workshop ini merupakan salah satu upaya peningkatan mutu kurikulum dan pembelajaran. Oleh karena itu, workshop ini sangat esensial guna menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang bermutu sesuai Visi Misi Polkesma yaitu Menjadi Institusi Pendidikan Tinggi Vokasi Kesehatan yang Berkarakter dan Unggul Pada Tahun 2019, sebagaimana yang tertuang di dalam Renstra Polkesma dapat tercapai.

Peserta Workshop dari Kampus 2

Sebagai narasumber workshop diundang Pakar Kurikulum dari Politeknik Negeri Malang Dr. Drs. Ludfi Djajanto, MBA untuk menyampaikan paparan dengan tema Teknik Pengembangan Pernbelajaran Praktikum pada Pendidikan Tinggi Vokasi. Beliau juga diminta untuk memberikan arahan tim penyusun modul dalam diskusi penyusunan modul dan SOP Praktikum.

Sesuai dengan tujuan workshop, diharapkan diakhir acara kemampuan dosen Polkesma dalam menyusun kurikulum dapat meningkat. Selain itu diharapkan secara khusus workshop finalisasi kurikulum ini adalah mengidentifikasi jam praktikum untuk dijadikan dasar penyusunan Modul Praktikum disertai dengan SOP yang akan disosialisasikan dan digunakan panduan mahasiswa dalam melaksanakan praktikum dalam proses pembelajaran.

Di sesi akhir workshop, diharapkan hasil diskusi setiap kelompok akan dipresentasikan oleh penanggung jawab mata kuliah masing-masing. Presentasi meiputi rencana pembelajaran praktikum (RPS), modul dan SOP dari mata kuliah yang ada di dalam kurikulum prodi D-III dan D-IV Keperawatan (NH)

Sesi Presentasi

16 September 2017

PPSM Maba Program RPL Prodi D-III KL

Kaprodi D-III KL, Bpk. Agus Setyo Utomo, A, M.Kes (paling kiri) dalam acara PPSM Maba RPL

Mulai tahun akademik 2017/2018, Prodi D-III KL ditunjuk sebagai salah satu Prodi yang menyelenggarakan program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Program ini merupakan Program Percepatan Milienium dari PPSDM Kementerian Kesehatan utamanya bagi tenaga kesehatan yang hingga saat ini masih belum memiliki tingkat pendidikan setingkat Diploma III. Program ini berpijak pada aturan-aturan antara lain: 
  1. 36/2014 tentang Tenaga Kesehatan mengatur kualifikasi pendidikan tenaga kesehatan minimum Diploma III.
  2. Memberikan masa peralihan selama 6 tahun bagi tenaga kesehatan untuk  penyesuaian menjadi Diploma III.
  3. Data BKN (2015), sekitar 74.601 PNS (bidan, perawat, tenaga gizi, kesehatan lingkungan, analis laboratorium, perawat gigi, teknisi farmasi dll) yang berpendidikan di bawah Dipoloma III, di RS, puskesmas dan fasyankes lainnya di 34 provinsi.

Program RPL merupakan program khusus dimana mahasiswa adalah pegawai yang sudah lama bekerja di sebuah institusi pelayanan seperti rumah sakit dan puskesmas. Pengalaman kerja yang cukup lama pada program ini diakui sebagai kompetensi yang telah mereka capai sehingga mereka cukup mengambil mata kuliah yang dibutuhkan saja untuk mencapai kompetensi lulusan Diploma III.
Mengawali RPL, sejak hari ini tanggal 16 September 2017 dilaksanakan Pengenalan Program Studi Mahasiswa (PPSM) di Prodi D-III KL. Acara PPSM dibuka langsung oleh Ketua Program Studi D-III KL yang baru Bpk. Agus Setyo Utomo, A, M.Kes.

Setelah sambutan kaprodi Mahasiswa baru rogram RPL mendapatkan paparan pemaparan kurikulum dan program pembelajaran dari Koordinator Akademik Prodi dan pengisian KRS. Acara dilanjutkan dengan sosialisasi kampus dan seluruh civitas akademika di kampus 2.


Sejumlah 32 mahasiswa program RPL mengikuti kegiatan PPSM. Mereka berasal dari Rumah sakit dan Puskesmas yang berada di kota Batu, Pasuruan, Probolinggo, Jember dan daerah sekitarnya. (nh)

Beberapa Maba RPL

07 September 2017

Workshop Kemahasiswaan I Polkesma


Untuk yang pertama kalinya, Polkesma menyelenggarakan workshop Kemahasiswaan dengan Tema “Bersinergi Bersama Membangun Polkesma Maju dan Unggul”. Acara ini dilaksanakan selama 2 hari mulai hari ini tanggal 7 sampai 8 September 2017 bertempat di Hotel Golden Tulip Kota Batu. Peserta workshop berjumlah 232 orang yang terdiri dari unsur mahasiswa yang menjabat di beberapa organisasi seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP), dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) ditambah dengan beberapa bendahara pembatu tiap kampus, Koordinator kemahasiswaan serta Sekretaris program studi dan Para manajemen lain yang mengawal jalannya kegiatan kemahasiswaan di Polkesma. 

Workshop dibuka langsung oleh Direktur Polkesma, Bpk Budi Susatia SKp. M.Kes. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa Polkesma merupakan salah satu Poltekkes yang memiliki potensi yang layak diperhitungkan. Saat ini Polkesma sudah menjalin hubungan kerjasama dengan beberapa institusi di luar negeri baik dengan institusi pendidikan tinggi maupun dengan institusi pelayanan kesehatan sebagai wahana praktek mahasiswa. Kerjasama dengan institusi pendidikan tinggi di luar negeri diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pengajar yang secara tidak langsung akan berdampak pada peningkatan kompetensi mahasiswa Polkesma. Disamping kerjasama, Polkesma hingga saat ini memiliki prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional. Namun demikian capaian-capaian di atas masih perlu ditingkatkan lagi dengan membuat perencanaan yang lebih baik khususnya dalam meningkatkan prestasi kemahasiswaan agar yang lebih mendunia.

Sidang Komisi
Hadir dalam workshop ini Pudir III Poltekkes Pontianak, Bpk. Edy Sukamto, SKp, M.Kep sebagai pembicara pertama dengan materi pengembangan kemahasiswaan melalui unit kegiatan mahasiswa. Dilanjutkan dengan materi kedua dari Kemahasiswaan Polkesma, Bpk. Handy Lala, M.Kes yang memaparkan materi dengan judul “Struktur Organisasi Kemahasiswaan Poltekkes Kemenkes Malang”. Materi terakhir berkaitan dengan anggaran yang disampaikan oleh Pudir II Bpk. Setyo Harsoyo, SKM, M.Kes dan oleh SPI Polkesma, Bpk. Tanto Hariyanto, S.Kep., Ns, M.Biomed tentang perencanaan anggaran dengan topik “Penataan Arsitektur dan Informasi Kinerja atau (ADIK) Kemahasiswaan”.

Dengan materi yang telah disampaikan diharapkan mahasiswa yang berada di dalam organisasi kemahasiswaan mampu untuk memahami struktur organisasi dengan alur yang telah tersusun dan disepakati bersama dan menjadi acuan dalam pelaksanaan kegiatan kemahasiswaan. Demikian juga penyusunan rencana anggaran belanja (RAB) dari masing-masing program studi akan dapat menunjang kegiatan mahasiswa. (nh)

Peserta Workshop dari Kampus 2 Polkesma

01 September 2017

Idul Adha 1438 H di Kampus 2 Polkesma


Penyembelihan Hewan Kurban

Jum’at, 1 September 2017 bertepatan dengan 10 Dzulhijjah1438, Umat Islam merayakan hari raya Idul Adha 1438 H. Tidak terkecuali  warga kampus 2 Polkesma juga merayakan hari raya tersebut dengan mengadakan sholat id di lapangan dekat asrama, dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban. 

Menurut  Sudrajat mahasiswa tingkat II yang ditunjuk sebagai ketua pelaksana kegiatan Idul Adha menyampaikan bahwa jumlah hewan kurban tahun ini hanya 5 ekor kambing turun 1 ekor dibandingkan tahun lalu. Beliau berharap agar di tahun yang akan datang akan lebih banyak warga Kampus 2 Polkesma yang melakukan kurban pada hari raya Idul Adha.

Dalam setiap tahunnya, kegiatan ini rutin dilaksanakan oleh mahasiswa yang tergabung di dalam UKM Kerohanian Prodi Keperawatan Lawang. Kegiatan yang mereka lakukan merupakan wujud dari rasa tanggung jawab dan sensitifitas sosial kepada masyarakat terutama bagi mereka yang tinggal di sekitar kampus 2. Kegiatan ini juga akan melatih para mahasiswa untuk melakukan kerjasama dan rasa saling memiliki yang sangat kuat dalam meningkatkan kemampuan softskill serta keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu kegiatan ini perlu diapresiasi oleh semua pihak.

Kegiatan penyembelihan Kurban Kampus 2 Polkesma disaksikan oleh Koordinator Akademik Prodi D-III KL (2 dari kanan)

Acara sholat idul adha dan penyembellihan hewan qurban dihadiri oleh sebagian besar mahasiswa yang tinggal di asrama dan didampingi para dosen serta pegawai yang lain. (nh)

20 August 2017

Seminar dan Konferensi Keperawatan Nasional I 2017

Sambutan Direktur Polkesma dalam Kegiatan Seminar dan Konferensi Nasional I di Kampus 2

Untuk pertama kalinya Kampus 2 Polkesma mengadakan kegiatan Seminar dan Konferensi Keperawatan Nasional I pada hari minggu, 20 Agustus 2017 dengan tema “Trend and Current Issues In Nursing Practice”. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai salah satu upaya untuk menanamkan kesadaran terhadap pentingnya kontribusi tenaga kesehatan dan hasil-hasil penelitiannya dalam pembangunan di bidang kesehatan. Acara seminar ini diikuti oleh 405 peserta seminar dan 24 makalah untuk prosiding yang berasal dari Samarinda, Semarang, Lumajang, Mojokerto, Makasar, Kendari, Surabaya dan Malang.

Kegiatan Seminar dibuka dengan penampilan tari tradisional oleh 2 orang mahasiswa Prodi Keperawatan Lawang tepat pada pukul 08.00 WIB. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan Direktur Polkesma, Bpk Budi Susatia, SKp, M.Kes. Dalam sambutannya Direktur Polkesma mengungkapkan bahwa setelah era globalisasi, dunia khususnya bangsa Indonesia memasuki era pasar bebas ASEAN dimana banyak tenaga professional keluar dan masuk ke suatu negara. Pada masa itu akan terjadi suatu masa transisi/pergeseran pola kehidupan masyarakat, pola kehidupan masyarakat tradisional berubah menjadi masyarakat yang maju. Keadaan tersebut akan menyebabkan berbagai macam dampak pada aspek kehidupan masyarakat khususnya aspek kesehatan, baik yang berupa masalah urbanisaasi, pencemaran, maupun kecelakaan, disamping meningkatnya angka kejadian penyakit klasik yang berhubungan dengan infeksi, kurang gizi, dan kurangnya pemukiman sehat bagi penduduk. Pergeseran pola nilai dalam keluarga dan umur harapan hidup yang meningkat juga menimbulkan masalah kesehatan yang berkaitan dengan kelompok lanjut usia serta penyakit degeneratif.

Lebih jauh Direktur Polkesma menyampaikan bahwa pada masyarakat yang menuju kearah tatanan modern, akan terbuka peluang luas untuk meningkatkan pendidikan yang lebih tinggi, peningkatan pendapatan dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap hukum sehingga menjadikan masyarakat lebih kritis. Kondisi itu berpengaruh kepada pelayanan kesehatan dimana masyarakat yang kritis menghendaki pelayanan yang bermutu dan diberikan oleh tenaga yang profesional. Implikasi yang ditimbulkan adalah bahwa tenaga kesehatan khususnya keperawatan harus dapat memenuhi standart global internasional dalam memberikan pelayanan keperawatan, memiliki kemampuan professional, kemampuan intelektual dan teknik serta peka terhadap aspek sosial budaya, memiliki wawasan yang luas dan menguasai perkembangan Iptek. Namun demikian upaya untuk mewujudkan perawat yang professional di Indonesia masih belum menggembirakan. 

Bertindak sebagai pembicara dalam seminar adalah: Pertama, ketua PPNI Propinsi Jawa Timur, Prof. Dr. Nursalam, M.Nurs. Hons yang memaparkan materi dengan tema “Psiko Neuro Imunologi”; Kedua, Pakar Keperawatan komplementer dari Semarang, Lelik Adiyanto, S.Kep, Ns dengan tema “Keperawatan Komplementer” dan yang ketiga, Ketua Prodi D-III KL Agus Setyo Utomo, A, M.Kes dengan tema “Keperawatan Komplementer pada Lansia”. Setelah seminar, Kegiatan dilanjutkan dengan presentation oral dari pemakalah yang telah mengirimkan naskahnya untuk dipublikasikan sebagai kumpulan referensi dalam prosiding nasional ber ISBN. (nh)

Pembicara I, Ketua PPNI Jawa Timur, Prof. Dr. Nursalam, M.Nurs. Hons

Pembicara II, Lelik Adiyanto, S.Kep, Ns

Antusiasme peserta mengikuti diskusi dalam seminar





05 August 2017

Sekilas Pendidikan Keperawatan Di Filipina

Peraih tiga besar nasional dalam ujian kompetensi keperawatan
Berbicara pendidikan keperawatan, Kurnia alumni Fakultas Keperawatan SPUP dari Mamuju Sulawesi Barat itu menjelaskan bahwa di Filipina ada 3 jenjang pendidikan keperawatan, yaitu jenjang S1 (undergraduate), S2 (Masteral) dan S3 (Doctoral). Menurut Dr. MA Elizabeth C. Baua, Ketua Program Studi S3 Keperawatan di SPUP, saat ini di Filipina tidak ada pendidikan vokasi keperawatan. Jadi pendidikan keperawatan paling rendah adalah tingkat sarjana. Hal yang sama juga diungkapkan oleh seorang dosen dari Fakultas Keperawatan Universitas Naresuan Thailand, Sanglar Polnok bahwa di Thailand juga tidak ada lagi pendidikan keperawatan setingkat diploma.

Di tingkat sarjana, tidak ada perbedaan kurikulum pendidikan keperawatan di semua univeristas baik negeri maupun swasta. Tidak ada mata kuliah optional atau yang dalam bahasa kita keunikan lokal. Kurikulum berlaku secara nasional, tidak ada kurikulum institusi  seperti di negara kita. Tiap mata kuliah memiliki beban SKS yang relatif tinggi khususnya untuk subyek keperawatan bisa mencapai 7 SKS. Selain pembelajaran di kelas dan laboratorium, mahasiswa juga menjalani pembelajaran praktek klinik di disetiap semester yang dimulai dari semester 2.

Waktu pendidikan pada tingkat sarjana adalah 4 – 4,5 tahun. Untuk persiapan ujian kompetensi, institusi memberikan pendidikan tambahan selama 6 bulan. Apabila mereka lulus uji kompetensi maka mendapat gelar RN. Tahun 2017 ini, lulusan SPUP ada 3 orang yang menempati rangking teratas yaitu rangkin 2, 5 dan 8 secara nasional. Capaian ini menunjukkan pendidikan keperawatan di SPUP sangat bagus sehingga lulusannya bisa menembus 10 besar secara nasional. Gelar RN bisa dicabut kalau yang bersangkutan tidak melaksanakan praktek keperawatan dalam kurun waktu tertentu atau melakukan malpraktik.

Evaluasi untuk tingkat sarjana sangat berat. Evaluasi meliputi 4 tahap, yaitu ujian di awal, di tengah, pre final dan final dalam 1 semester. Selain itu, mahasiswa hampir tiap minggu menjalani ujian tulis bagi setiap pokok bahasan. Bagi mereka yang ingin kerja di USA mereka akan mengikuti uji kompetensi di negara bagian yang dituju. 

Yang menarik pada jenjang S1 ini adalah tidak ada MK skripsi. Mereka cukup membuat paper (mirip dengan riset) dikerjakan secara berkelompok dan merupakan bagian dari mata kuliah riset. Jadi semacam tugas. Saya jadi ingat di UI saat saya S2. Mahasiswa S1 Keperawatan UI juga tidak ada Skripsi. Kemampuan riset sudah menjadi 1 dengan mata kuliah riset. Mahasiswa mendapat tugas secara berkelompok melakukan riset dan hasilnya dipresentasikan di kelas.

Berbeda dengan tingkat sarjana, pendidikan di tingkat Masteral dan doktoral di rasa cukup ringan bagi sebagian mahasiswa. Perkuliahan sebagian dilakukan tatap muka dan sebagian lagi dilakukan secara online. Waktu belajar dibagi 3 bulanan (trisemester) dalam setahun dengan jumlah beban studi sebesar 9 SKS/semester. Yang unik hampir setiap mata kuliah memiliki besaran SKS yang sama. Sehingga beban studi 9 SKS/semester berarti ada 3 mata kuliah dalam tiap tri semesternya.

Pada tingkat masteral, pendidikan dibagi menjadi 2 yaitu program masteral berbasis thesis dan tanpa thesis. Bagi mereka yang mengambil program masteral tidak berbasis thesis jika ingin melanjutkan ke program doktoral harus mengikuti matrikulasi. 

Berbeda dengan di tingkat Sarjana, menurut pengakuan alumni program masteral, evaluasi di tingkat ini tidak terlalu berat. Evaluasi biasanya dilakukan by process dan saat akhir semester. Selama program pendidikan, ujian pada tingkat masteral hanya dilakukan sekali yaitu uji komprehensif. Uji komprehensi dilakukan menjelang penulisan disertasi. Ujian meliputi 10 mata kuliah dalam bentuk essay.

Pembelajaran praktek klinik bagi program masteral dilaksanakan selama 1 bulan. Bagi mahasiswa yang tidak RN (misal mahasiswa dari Indonesia) mereka tidak boleh melakukan nursing care pada pasien. Mereka hanya boleh melakukan interview dan observasi kepada pasien.  

Menurut ketua program Studi S3 Keperawatan, pendidikan tingkat masteral ini diarahkan untuk mencapai keahlihan (spesialis) sedangkan tingkat doktoral diarahkan untuk kepemimpinan. 

Saat saya tulis artikel ini, ada perubahan jenis program doktoral di SPUP dari Doctor of Nursing Science (DNS) menjadi Doctor of Philosophy in Nursing Science (Ph.D.NS). Perubahan tersebut nampak pada penambahan jumlah beban studi. Diharapkan lulusannya bisa menghasilkan teori baru dalam keperawatan. (ab/as)

01 August 2017

Caping Day Mahasiswa Prodi D-III Keperawatan Lawang Tahun 2017

Pemasangan Cap secara simbolis kepada mahasiswa

Mengawali kegiatan di bulan Agustus 2017, Prodi D-III KL mengadakan acara Caping Day bagi mahasiswa tingkat II yang berjumlah 84. Capping Day merupakan acara rutin tahunan dimana secara simbolis mahasiswa akan dikenakan Cap atau Topi Perawat sebagai pertanda mereka akan melaksanakan praktek klinik keperawatan. Secara filosofis acara ini memberikan pesan bahwa setiap perawat harus bekerja dengan benar dan penuh tanggung jawab dan melayani pasien dengan baik, seperti yang diajarkan oleh Tokoh Perawat "Florence Nightingale"

Acara dilaksanakan di Aula Kampus 2 Polkesma dengan dihadiri oleh Direktur Polkesma Bpk Budi Susatia SKp, M.Kes, Ketua Program Studi D-III dan D-IV KL beserta dosen dan karyawan, tamu undangan dari PPNI, RS dan Puskemas mitra program Studi, serta para orang tua wali mahasiswa.

Acara dimulai tepat pukul 08.00 WIB diawali dengan prosesi peserta Caping Day memasuki aula. Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesian Raya, Himne dan Mars Polkesma. Prosesi berikutnya adalah pemasangan Cap oleh Direktur Polkesma didampingi koordinator kemahasiswaan, dilanjutkan dengan pengucapan sumpah dan penandatanganan naskah sumpah.

Pengucapan sumpah dalam Caping Day

Tema kegiatan Caping Day kali ini adalah Keperawatan gerontik yang professional dan berkarakter sesuai dengan visi misi program studi DIII Keperawatan, menjadikan lulusan unggul dalam keperawatan lansia. 

Dalam sambutannya Direktur Polkesma menyampaikan bahwa Polkesma merupakan salah satu Poltekkes yang diperhitungkan di Indonesia karena sudah mengembangkan sayap dalam hal kerjasama dan peningkatkan potensi dosen dengan menyekolahkan ke luar negeri. Hal ini akan  meningkatkan mutu pengajar, mahasiswa dan lulusan sehingga akan diperhitungkan oleh stake holder dan tidak dipandang sebelah mata oleh institusi lain. 

Beliau juga berpesan bagi mahasiswa yang akan menjalani praktek agar meningkatkan ketrampilan, mengaplikasikan apa yang sudah didapat di kampus untuk diterapkan dengan sebaik-baiknya, serta selalu menjaga nama baik institusi dan wahana praktek yang ditempati, saling bekerjasama dengan sesama teman dan tidak ragu melakukan tindakan serta meminta bimbingan pembimbing institusi dan lahan praktek agar tidak terjadi kesalahan yang tidak diinginkan.

Untuk menciptakan suasana akademik acara Caping Day tahun ini sebagaimana tahun lalu juga menampilkan orasi ilmiah yang disampaikan oleh ibu Nurul Hidayah S.Kep.Ns., M.Kep. Tema orasi beliau adalah tentang Wanita Lansia yang Mengalami Hipertensi. Tema ini sesuai dengan tema Caping Day yaitu keperawatan gerontik. Salah satu poin penting dari orasi beliau adalah bahwa penanganan hipertensi bisa dilakukan dengan pengobatan non farmakologis, yaitu pengobatan dengan mengkonsumsi labu siam, teh rosella dan senam ringan secara rutin. Poin tersebut mengacu pada hasil penelitian beliau pada tahun 2016 yang lalu.

Peserta Caping Day

Acara diakhiri dengan pembacaan puisi diiringi dengan lagu yang berjudul "terima kasih ibu" dibawakan para mahasiswa sendiri. Suasana berubah menjadi sangat haru, dan bahagia bercampur menjadi satu membuat semua para orang tua yang menyaksikan putra putrinya berkaca-kaca. (nh)

17 July 2017

Bantuan Hidup Dasar (BHD) Pada Bayi

Selain pada orang dewasa, BHD juga bisa dilakukan pada pasien bayi. Prinsipnya tidak ada perbedaan keduanya, namun ada hal-hal kecil yang berbeda menyesuaikan ukuran bayi yang relatif kecil dibandingkan ukuran orang dewasa. Berikut akan diuraikan langkah-langkah BHD bayi berdasarkan pada algoritma BHD cardiac arrest untuk satu penolong (AHA, 2015).

Baca juga: Bantuan Hidup Dasar (BHD) Pada Orang Dewasa

Langkah 1: Periksa keamankan lokasi kejadian

Penolong dan bayi harus aman. Jangan sampai bayi mendapat cedera tambahan. Atau penolong menjadi korban berikutnya karena lokasi yang membahayakan.

Langkah 2: Cek Respon.

Goncang atau tepuk bayi secara perlahan. Bila tidak ada respon lanjutkan ke langkah selanjutnya. Hindari guncangan kasar, pergerakan kepala dan leher yang tidak perlu karena dapat menimbulkan cidera. Bayi yang tidak berespon (tidak bergerak atau tidak bersuara) berarti tidak sadar. Bayi yang tidak sadar bisa disebabkan oleh sumbatan (makanan, sekresi atau lidah yang jatuh kebelakang), henti nafas dan henti jantung

Cek respon

Langkah 3: Aktivasi Emergency Medical Services (EMS)

Minta bantuan orang di sekitar kejadian. Aktifkan EMS (telpon ambulan) dengan ponsel (jika mungkin). Saat menghubungi ambulan, sebutkan lokasi korban, nomor telp/HP yang bisa dihubungi, Apa yang terjadi, jumlah korban, ambulan dibutuhkan segera, tutup telpon setelah diperintahkan petugas.

Langkah 4: Posisikan bayi

Posisikan bayi terlentang ditempat yang datar dan keras, kedua tungkai lurus dan lengan di sisi tubuh. Bila ada kecurigaan cidera spinal dibutuhkan 2 orang untuk memindahkan bayi untuk menghindari kepala dan leher bayi berputar.
 
Posisi supine

Langkah 5: Periksa nadi dan nafas

Secara simultan melihat tidak adanya nafas atau tersengal-sengal (agonal gasping) dan cek nadi. Pertahankan head tilt dan tentukan arteri brachialis (di sisi medial lengan atas) menggunakan jari telunjuk dan tengah. Tekan dengan lembut dan rasakan denyut nadi maksmal 10 detik dan cari adanya tanda-tanda sirkulasi seperti kesadaran, gerakan, pernafasan atau batuk. 
 
Cek nadi dan nafas

Hasil pemeriksaan ada 3 kemungkinan, yaitu :
  1. Jika nadi ada dan nafas ada, posisikan bayi miring (posisi recovery) dan lakukan monitoring nadi dan nafas sampai bantuan datang
  2. Jika nadi ada dan nafas tidak ada, beri bantuan nafas (rescue breathing) 12 – 20 kali/menit. 1 tiupan setiap 3 – 5 detik. Lakukan selama 2 menit sebelum dicek kembali nadi dan nafas korban. Pada saat ini jika Anda belum mengaktifkan EMS, anda boleh melakukannya. 
  3. Jika  nadi dan nafas tidak ada (gasping),segera lakukan langkah berikutnya yaitu lakukan RJP. 

Langkah 6: Tentukan tempat untuk Kompresi Dada

Tempat untuk kompresi dada terletak di sepertiga bawah tulang dada (sternum). Tempat kompresi dada bayi ditentukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Pertahankan head tilt dengan satu tangan
  2. Tarik garis imajiner diantara dua puting dengan jari telunjuk tangan yang satunya
  3. Letakkan jari tengah dan jari manis disebelah jari telunjuk
  4. Pindahkan ketiga jari tersebut ke sternum
  5. Tegakkan ketiga jari
  6. Angkat jari telunjuk sementara jari tengah dan jari manis tetap di tempat 
Menentukan kompresi dada

Langkah 7: Lakukan Kompresi Dada

Badan membungkuk dan pipi Anda dekatkan di mulut dan hidung bayi. Lakukan kompresi dengan hitungan :
1,2,3,4,5,6,7,8,9,10, 1,2,3,4,5,6,7,8,9,20, 1,2,3,4,5,6,7,8,9,30.
  1. Lakukan kompresi dada dengan kecepatan 100-120 x/menit. Rasio kompresi dan ventilasi 30 : 2, lakukan sebanyak 5 siklus selama kira-kira 2 menit. Bila dilakukan oleh 2 orang penolong rasio kompresi dan ventilasi 15 : 2
  2. Jangan mengangkat jari-jari dari sternum agar posisi yang benar tidak berubah
  3. Jangan terlalu kuat saat melakukan kompresi untuk menghindari cidera. 
Kompresi dada

Langkah 8: Evaluasi (cek nadi dan nafas)

Periksa nadi, tanda-tanda sirkulasi dan pernafasan setiap 5 siklus BHD 30 : 2. Bila nadi tidak teraba, lanjutkan BHD 30 : 2. Bila AED sudah terpasang, evaluasi irama jantung dan selanjutnya ikuti perintah dari AED. Bila nadi teraba, periksa pernafasan bayi. Bila tidak ada nafas, lakukan rescue breathing 12-20 x/menit dengan hitungan “satu ribu, dua ribu, tiup” (satu tiupan nafas tiap 3-5 detik). Bila nadi dan nafas ada, letakkan bayi pada posisi recovery. Monitor nadi, tanda-tanda sirkulasi dan pernafasan bayi setiap beberapa menit hingga bantuan datang atau bayi menjadi sadar.




Daftar Pustaka

  1. SingHealth Alice Lee Institute of Advanced Nursing (2017). Basic Cardiac Life Support Course.
  2. AHA (2015). Guidelines CPR dan ECC