17 July 2017

Bantuan Hidup Dasar (BHD) Pada Bayi

Selain pada orang dewasa, BHD juga bisa dilakukan pada pasien bayi. Prinsipnya tidak ada perbedaan keduanya, namun ada hal-hal kecil yang berbeda menyesuaikan ukuran bayi yang relatif kecil dibandingkan ukuran orang dewasa. Berikut akan diuraikan langkah-langkah BHD bayi berdasarkan pada algoritma BHD cardiac arrest untuk satu penolong (AHA, 2015).

Baca juga: Bantuan Hidup Dasar (BHD) Pada Orang Dewasa

Langkah 1: Periksa keamankan lokasi kejadian

Penolong dan bayi harus aman. Jangan sampai bayi mendapat cedera tambahan. Atau penolong menjadi korban berikutnya karena lokasi yang membahayakan.

Langkah 2: Cek Respon.

Goncang atau tepuk bayi secara perlahan. Bila tidak ada respon lanjutkan ke langkah selanjutnya. Hindari guncangan kasar, pergerakan kepala dan leher yang tidak perlu karena dapat menimbulkan cidera. Bayi yang tidak berespon (tidak bergerak atau tidak bersuara) berarti tidak sadar. Bayi yang tidak sadar bisa disebabkan oleh sumbatan (makanan, sekresi atau lidah yang jatuh kebelakang), henti nafas dan henti jantung

Cek respon

Langkah 3: Aktivasi Emergency Medical Services (EMS)

Minta bantuan orang di sekitar kejadian. Aktifkan EMS (telpon ambulan) dengan ponsel (jika mungkin). Saat menghubungi ambulan, sebutkan lokasi korban, nomor telp/HP yang bisa dihubungi, Apa yang terjadi, jumlah korban, ambulan dibutuhkan segera, tutup telpon setelah diperintahkan petugas.

Langkah 4: Posisikan bayi

Posisikan bayi terlentang ditempat yang datar dan keras, kedua tungkai lurus dan lengan di sisi tubuh. Bila ada kecurigaan cidera spinal dibutuhkan 2 orang untuk memindahkan bayi untuk menghindari kepala dan leher bayi berputar.
 
Posisi supine

Langkah 5: Periksa nadi dan nafas

Secara simultan melihat tidak adanya nafas atau tersengal-sengal (agonal gasping) dan cek nadi. Pertahankan head tilt dan tentukan arteri brachialis (di sisi medial lengan atas) menggunakan jari telunjuk dan tengah. Tekan dengan lembut dan rasakan denyut nadi maksmal 10 detik dan cari adanya tanda-tanda sirkulasi seperti kesadaran, gerakan, pernafasan atau batuk. 
 
Cek nadi dan nafas

Hasil pemeriksaan ada 3 kemungkinan, yaitu :
  1. Jika nadi ada dan nafas ada, posisikan bayi miring (posisi recovery) dan lakukan monitoring nadi dan nafas sampai bantuan datang
  2. Jika nadi ada dan nafas tidak ada, beri bantuan nafas (rescue breathing) 12 – 20 kali/menit. 1 tiupan setiap 3 – 5 detik. Lakukan selama 2 menit sebelum dicek kembali nadi dan nafas korban. Pada saat ini jika Anda belum mengaktifkan EMS, anda boleh melakukannya. 
  3. Jika  nadi dan nafas tidak ada (gasping),segera lakukan langkah berikutnya yaitu lakukan RJP. 

Langkah 6: Tentukan tempat untuk Kompresi Dada

Tempat untuk kompresi dada terletak di sepertiga bawah tulang dada (sternum). Tempat kompresi dada bayi ditentukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Pertahankan head tilt dengan satu tangan
  2. Tarik garis imajiner diantara dua puting dengan jari telunjuk tangan yang satunya
  3. Letakkan jari tengah dan jari manis disebelah jari telunjuk
  4. Pindahkan ketiga jari tersebut ke sternum
  5. Tegakkan ketiga jari
  6. Angkat jari telunjuk sementara jari tengah dan jari manis tetap di tempat 
Menentukan kompresi dada

Langkah 7: Lakukan Kompresi Dada

Badan membungkuk dan pipi Anda dekatkan di mulut dan hidung bayi. Lakukan kompresi dengan hitungan :
1,2,3,4,5,6,7,8,9,10, 1,2,3,4,5,6,7,8,9,20, 1,2,3,4,5,6,7,8,9,30.
  1. Lakukan kompresi dada dengan kecepatan 100-120 x/menit. Rasio kompresi dan ventilasi 30 : 2, lakukan sebanyak 5 siklus selama kira-kira 2 menit. Bila dilakukan oleh 2 orang penolong rasio kompresi dan ventilasi 15 : 2
  2. Jangan mengangkat jari-jari dari sternum agar posisi yang benar tidak berubah
  3. Jangan terlalu kuat saat melakukan kompresi untuk menghindari cidera. 
Kompresi dada

Langkah 8: Evaluasi (cek nadi dan nafas)

Periksa nadi, tanda-tanda sirkulasi dan pernafasan setiap 5 siklus BHD 30 : 2. Bila nadi tidak teraba, lanjutkan BHD 30 : 2. Bila AED sudah terpasang, evaluasi irama jantung dan selanjutnya ikuti perintah dari AED. Bila nadi teraba, periksa pernafasan bayi. Bila tidak ada nafas, lakukan rescue breathing 12-20 x/menit dengan hitungan “satu ribu, dua ribu, tiup” (satu tiupan nafas tiap 3-5 detik). Bila nadi dan nafas ada, letakkan bayi pada posisi recovery. Monitor nadi, tanda-tanda sirkulasi dan pernafasan bayi setiap beberapa menit hingga bantuan datang atau bayi menjadi sadar.




Daftar Pustaka

  1. SingHealth Alice Lee Institute of Advanced Nursing (2017). Basic Cardiac Life Support Course.
  2. AHA (2015). Guidelines CPR dan ECC


12 July 2017

Bantuan Hidup Dasar (HBD) Pada Orang Dewasa

Pada postingan sebelumnya, penulis telah mengangkat tema tentang cara menangani obstruksi saluran pernafasan. Terkadang setelah benda asing berhasil dikeluarkan, pasien mengalami henti jantung dan henti nafas. Pada kondisi tersebut maka penolong harus melanjutkan dengan tindakan bantuan hidup dasar (BHD).

BHD adalah serangkaian tindakan yang dilakukan pada korban henti jantung dan henti nafas secara mendadak yang disebabkan tidak saja karena sumbatan benda asing pada saluran pernafasan namun bisa juga disebabkan oleh berbagai keadaan seperti serangan jantung, korban tenggelam, tersengat listrik, kecelakaan lalu lintas dan keadaan kegawatdaruratan lainnya. Tujuan BHD adalah mengembalikan secara spontan sirkulasi dan pernafasan pada korban.

Berikut prosedur tindakan BHD pada orang dewasa: 

Langkah 1: Pastikan keamanan lingkungan

Penolong yang datang pada kondisi lingkungan emergensi seharusnya mengidentifikasi lingkungan dimana terdapat korban apakah aman untuk penolong. Penolong harus melihat dengan cepat terhadap bahaya yang mengancam secara fisik seperti bahaya toksik atau bahaya listrik. Penolong memastikan kondisi lingkungan aman terlebih dahulu dan baru memutuskan untuk mengambil tindakan dalam menolong korban.

Langkah 2: Cek Respon 

Panggil korban disertai menyentuh atau menggoyangkan bahu dengan mantap. Prosedur ini disebut sebagai teknik “touch and talk”. Hal ini cukup untuk membangunkan orang tidur atau merangsang seseorang untuk bereaksi. Jika tidak ada respon, kemungkinan pasien tidak sadar. Cara melakukan cek respon pasien dengan menepuk-nepuk punggung dan memanggil sebutan yang umum.

 
Cek respon dengan menepuk punggung korban

 Langkah 3: Aktifkan Emergency Medical Services (EMS)

Jika pasien tidak berespon maka mintalah tolong kepada orang yang ada disekitar kejadian untuk menghubungi ambulance/RS atau telepon 119. Bila terdapat AED di sekitar Anda (misal: di stasium atau di bandara) gunakan AED tersebut. Anda bisa meminta bantuan orang lain untuk melakukannya. Jika tidak ada orang lain disekitar Anda sebelum menghubungi 119 atau ambulance Anda harus memberikan BHD (RJP) satu siklus yaitu 30 kompresi dan 2 ventilasi.

Berteriak minta tolong

Langkah 4: Lakukan cek nadi dan nafas

Setelah menghubungi ambulance atau 119, segera posisikan pasien terlentang pada permukaan keras dan rata. Jika ditemukan tidak dalam posisi terlentang, balik pasien dengan teknik “log roll’, secara bersamaan kepala, leher dan punggung digulingkan. Selanjutnya, penolong berlutut sejajar dengan bahu pasien agar secara efektif dapat memberikan RJP. Secara simultan cek nadi dan nafas korban maksimal  10 detik. Pemeriksaan nadi dilakukan di arteri karotis. Raba dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah mulai dari meraba tulang Krikoid. Geser kearah lateral, jangan melewati muskulus Sternokledomastoideus. Pemeriksaan pernapasan cukup dengan cara memperhatikan gerakan dinding dada saja. Tindakan 3M (melihat, mendengar dan merasakan hembusan nafas) sudah tidak direkomendasikan lagi.

 

Cek nadi dan nafas. Perhatikan tangan kiri melakukan head tild,
tangan kanan memeriksa nadi karotis.

Hasil pemeriksaan ada 3 kemungkinan, yaitu :

  1. Jika nadi ada dan nafas ada, posisikan pasien miring (posisi recovery). Sampai disini Anda sudah selesai menolong korban. Anda cukup lakukan monitoring sampai bantuan datang.
  2. Jika nadi ada tapi nafas tidak ada (gasping), berikan bantuan nafas (rescue breathing) 1 nafas setiap 5 – 6 detik atau 10 – 12 kali/menit. Lakukan selama 2 menit sebelum dicek kembali nadi dan nafas korban. Pada saat ini jika Anda belum mengaktifkan EMS, anda boleh melakukannya.
  3. Jika  nadi dan nafas tidak ada (gasping),segera lakukan langkah berikutnya yaitu lakukan RJP. 

 
Bantun nafas dari mulut ke mulut. 

Langkah 5: Lakukan RJP dengan kualitas tinggi

Setelah memastikan nadi dan nafas korban tidak ada, segera lakukan RJP. RJP dilakukan dengan kualitas tinggi untuk menjamin keberhasilan tindakan. RJP yang berkualitas memperhatikan frekuensi dan kedalaman pijatan, memastikan ada recoil dada sepenuhnya, meminimalkan interupsi dan mencegah ventilasi yang berlebihan. Langkah-langkah RJP yaitu :

  1. Letakkan dua tumid telapak tangan pada setengah bawah tulang sternum.
  2. Lakukan kompresi dada, kompresi dada dilakukan dengan kecepatan 100 – 120 kali permenit dengan kedalaman kompresi lebih dari 2 inchi atau 5 cm. Hindari kompresi dengan kedalaman lebih dari 2,4 inchi atau 6 cm. 
  3. Lakukan kompresi dada dan ventilasi dengan rasio 30 : 2 sebanyak 5 siklus dalam waktu 2 menit.

 

Langkah 6: Lakukan cek nadi dan nafas kembali

Setelah melakukan RJP 5 siklus lakukan pemeriksaan kembali nadi dan nafas korban sebagaimana langkah 4. Cek nadi dan nafas korban secara simultan maksimal 10 detik. Hasil pemeriksaan ada 3 kemungkinan, yaitu :

  1. Jika  nadi dan nafas masih tidak ada (gasping),segera ulang langkah 5.
  2. Jika nadi ada tapi nafas tidak ada (gasping), berikan kembali bantuan nafas (rescue breathing).
  3. Jika nadi ada dan nafas sudah spontan, lakukan langkah berikutnya. memposisikan pasien miring (posisi recovery).

Langkah 7: Berikan posisi recovery (posisi mantap)

Posisi recovery dilakukan dengan cara memiringkan korban ke arah sisi kiri atau kanan (sebaiknya ke arah kanan karena posisi jantung berada pada sebelah kiri). Posisi ini mencegah asspirasi jika passien muntah. Langkah-langkahnya bissa di lihat pada gambar di bawah.



Cara melakukan posisi mantap (Recovery position)

Apabila bantuan hidup dasar diberikan oleh dua penolong, satu penolong melakukan kompresi dada dan satu penolong memberikan bantuan nafas. Tiap penolong harus mengerti peran masing-masing. Bila penolong kedua tiba di tempat kejadian saat pertolongan sedang dilakukan oleh penolong pertama, maka penolong kedua memberikan bantuan setelah penolong pertama melakukan satu siklus bantuan yang diakhiri dengan 2 bantuan nafas

Daftar Pustaka

  1. SingHealth Alice Lee Institute of Advanced Nursing (2017). Basic Cardiac Life Support Course.
  2. AHA (2015). Guidelines CPR dan ECC