31 December 2016
Renungan Menjelang Pergantian Tahun 2016 Ke 2017 M
28 December 2016
Benchmarking Poltekkes Manado Ke Polkesma
![]() |
| Rombongan Poltekkes Manado bersama direktur Polkesma (tengah baju putih) |
27 December 2016
Presentasi Laporan Pengabmas 2016
![]() |
| Prof. Sukamto (kiri) dan Jupriono, M.Kes |
Bertindak sebagai reviewer adalah dewan pakar pengabmas Prof. Sukamto di dampingi oleh reviewer internal Polkesma antara lain Surachmindari, SST, M.Pd, Budi Susatia, SKp, M.Kes, Ir. AAG Anim Aswin, MPS dan Kepala Unit Pengabdian Masyarakat Polkesma, Jupriono, SKp, M.Kes.
Kuesioner Tracer Study Alumni
25 December 2016
Survey Pemahaman Visi Misi Prodi D-III KL
Survey sdh ditutup.
24 December 2016
Simpan Data Anda di "Cloud Storage"
23 December 2016
Studi Banding Poltekkes Mataram di Polkesma
22 December 2016
Tip & Trik menulis
![]() |
20 December 2016
Rekayasa Informasi untuk Promosi Kampus
"Hikmah" Sholat di Awal Waktu dalam Bekerja
Bagi orang yang beriman, sholat diawal waktu adalah hal yang sangat penting karena mereka yakin akan adanya hadist “Amalan yang paling dicintai oleh Allah Swt adalah Shalat pada waktunya.” (HR Bukhari & Muslim). Pernah ada seorang sahabat yang ketinggalan sholat ashar berjama'ah di masjid hingga masuk waktu maghrib disebabkan bekerja di ladang. Sahabat tersebut sangat menyesal kemudian mensedekahkan ladang yang menyebabkan ia ketinggalan sholat berjama'ah untuk kepentingan umat walaupun ia paham bahwa dengan mensedekahkan ladang tersebut, ia tetap tidak dapat mengganti pahala dari sholat yang ketinggalan. Mungkin timbul sebuah pertanyaan, mengapa harus mensedekahkan ladang sementara pahala sholat berjama'ah tidak ia dapatkan. Ternyata alasan yang melatar belakangi amal sedekah sahabat tadi adalah tidak ingin ketinggalan amalan (sholat berjama'ah) yang memberikan pahala baginya. Maka ia menebus ketertinggalan sholat dengan sedekah ladang, berharap pahala sedekah mampu menyamai pahala sholat.
12 December 2016
Benchmarking Polkesma ke Universitas Diponegoro
08 December 2016
Rapat Kerja ke-2 Polkesma 2016
06 December 2016
3 Pilar Utama Pengembangan Polkesma di Masa Mendatang
![]() |
| Direktur Polkesma |
05 December 2016
Workshop Finalisasi Kurikulum D-IV Keperawatan Polkesma
30 November 2016
Workshop Item Development
27 November 2016
Tips Persiapan Praktik Klinik di RS
26 November 2016
Bagaimana Mengidentifikasi Diagnosa Keperawatan?
25 November 2016
Modul Laboratorium Keperawatan Emergensi
Sinopsis
Modul laboratorium Keperawatan Emergensi ini disusun sesuai dengan mata ajar Keperawatan Kegawatdaruratan menurut kurikulum 2006 Program Studi D-III Keperawatan Lawang. Mata kuliah Keperawatan Kegawatdaruratan diajarkan pada mahasiswa tingkat III semester V. Daftar isi modul meliputi :
22 November 2016
Tim Keperawatan Lawang (KL) Juara 1 Futsal Polkesma
| Tim KL (Putih) dan KEBLI (hitam) |
19 November 2016
Semarak Dies Natalis Polkesma ke-15
12 November 2016
Budak dan Orang Merdeka
03 November 2016
Pemilihan Ketua HMP Prodi D-III Keperawatan Lawang
31 October 2016
Sekolah Ayah Ibu Robbani (Sya'ir)
29 October 2016
Diklat UKM Remus 2016
27 October 2016
Kuliah Tamu: Terapi Komplementer dalam Keperawatan Gerontik
23 October 2016
Beginilah Sebuah Karakter (2)
21 October 2016
THARIQU AL AKHIRAH (JALAN KE AKHIRAT)
20 October 2016
Pelantikan Pejabat di lingkungan Polkesma
18 October 2016
Beginilah Sebuah Karakter (1)
![]() |
| Berbagi hadiah |
15 October 2016
Posisi Pemulihan pada Korban Tidak Sadar
12 October 2016
Telusur Jurnal Nasional di Portal Garuda IPI
09 October 2016
Posisi Tulang Belakang pada Posisi Pemulihan - Komparasi Eksperimen antara Posisi Pemulihan Lateral dan Posisi HAINES yang Dimodifikasi
| HAINES Position |
Sumber: Resuscitation. Jun2002, Vol. 53 Issue 3, p289. 9p
08 October 2016
Panduan Penulisan KTI
07 October 2016
Caping Day Mahasiswa Program Studi D-IV Keperawatan Lawang
06 October 2016
Diagnosa Keperawatan Nanda Internasional : Definisi dan Klasifikasi 2015 - 2017
05 October 2016
Bahan Ajar keperawatan Emergensi
- Keperawatan kegawatdaruratan pada Shock
- Keperawatan kegawatdaruratan pada Infark Miokard Akut
- Keperawatan kegawatdaruratan pada Cardiac arrest
- Kelas dibagi menjadi 8
- Ketik hasil diskusi Anda di Ppt
- Waktu diskusi 90 Menit
- Setelah diskusi, hasil akan dipresentasikan
04 October 2016
Modul Laboratorium KMB
02 October 2016
Grand Opening Mentoring and Motivation Training
01 October 2016
Asuhan Keperawatan Pasien Ostomi: Aplikasi Teori Orem
30 September 2016
Jum'at Sehat
29 September 2016
Pengaruh Terapi Kognitif Perilaku terhadap Nyeri pada Pasien yang Menjalani Hemodialisa di RS Bahman 22 Nishapur
Telusur Jurnal Internasional Melalui Web Polkesma
28 September 2016
Pembinaan Asrama Kampus 2
Dalam rangka mencapai visi institusi yaitu menjadi Program Studi D-III Keperawatan yang unggul dan berkarakter tahun 2019, maka Program Studi D-III Keperawatan Lawang melalui penanggung jawab asrama kampus 2 mengadakan kegiatan pembinaan bagi penghuni asrama. Pembinaan asrama yg dikemas dalam bentuk pembinaan rohani ini diharapkan mampu membingkai perilaku bagi yang tinggal di asrama untuk selalu berbuat baik sehingga menciptakan iklim yang kondusif untuk belajar dan dapat beradaptasi dengan lingkungan baru. Hal ini mengingat penghuni asrama adalah mahasiswa baru, mahasiswa tingkat satu yang baru lulus dari SMA.
27 September 2016
Suasana Kuliah di Prodi D-III Keperawatan Lawang
26 September 2016
Relaksasi Pernafasan Memperbaiki Respon Glukosa Darah Manusia
25 September 2016
Pengaruh Relaksasi Otot Progresif dan Latihan Nafas Dalam terhadap Tekanan Darah Selama Kehamilan
Sumber : Iranian Journal of Nursing & Midwifery Research. May/Jun2016, Vol. 21 Issue 3, p331-336. 6p.
24 September 2016
Persiapan Ukom D-III Keperawatan 2016
Demikian pengumuman ini, agar dapat disebar luaskan. Tks
23 September 2016
Cara Menjadi Anggota Perpustakaan Nasional RI Online
22 September 2016
Angkat Sumpah Ahli Madya Keperawatan
21 September 2016
Manajemen - Penanganan Korban Bencana
20 September 2016
Manusia Langit

Manajemen Suhu Tubuh
![]() |
| Image by Freepik |
Salah satu keluhan yang sering terjadi pada orang yang sakit adalah badan teraba panas. Bila badan teraba panas, dapat dipastikan bahwa suhu tubuhnya meningkat di atas normal. Suhu tubuh normal berkisar antara 36,5 – 37,5 °C tergantung dari usia seseorang. Semakin dewasa umur seseorang semakin rendah suhu normal tubuhnya.
Pada beberapa kondisi, peningkatan suhu tubuh menyebabkan kecemasan. Pada anak, peningkatan suhu tubuh seringkali menyebabkan kecemasan orang tua. Mereka menganggap peningkatan suhu tubuh sebagai penyakit serius, terlebih lagi bila panas badan yang terlalu tinggi disertai kejang-kejang.
Secara umum suhu tubuh manusia berkisar 36,5 – 37,5 °C. Gangguan suhu tubuh dapat diklasifikasikan menjadi hipotermia (<35 °C), demam (>37.5–38.3 °C), hipertermia (>37.5–38.3 °C), dan hiperpireksia (>40 –41,5 °C). Ditilik dari tingginya suhu, pada demam dan hipertermia memiliki nilai rentang suhu yang sama yaitu berkisar antara > 37.5-38.3 °C. Yang membedakan antara keduanya adalah mekanisme terjadinya. Pada demam, peningkatan suhu tubuh disebabkan oleh peningkatan titik pengaturan suhu (set point) di hipotalamus. Sementara, pada hipertermia titik pengaturan suhu dalam batas normal.
Demam memiliki pola tertentu yang mengindikasikan suatu penyakit. Demam terus-menerus (Continuous fever) memiliki pola suhu tetap di atas normal sepanjang hari dan tidak terjadi fluktuasi lebih dari 1 °C dalam 24 jam. Demam ini sering terjadi pada penyakit pneumonia lobaris, infeksi saluran kemih, atau brucellosis. Apabila fluktuasi suhu lebih dari 1 °C dalam 24 jam disebut dengan demam remitten. Demam intermitten mempunyai pola peningkatan suhu hanya terjadi pada satu periode tertentu dan siklus berikutnya kembali normal. Contohnya demam pada malaria atau septikemia.
Pada demam, peningkatan suhu tubuh dipicu oleh zat pirogen yang menyebabkan pelepasan prostaglandin E2 (PGE2) yang pada gilirannya memicu respon balik sistemik keseluruh tubuh menyebabkan efek terciptanya panas guna menyesuaikan dengan tingkat suhu yang baru. Jadi pusat pengatur suhu yang letaknya di hipotalamus sesungguhnya seperti termostat. Jika titik pengatur dinaikkan, maka tubuh menaikkan suhu dengan cara memproduksi panas dan menahannya di dalam tubuh. Panas ditahan dalam tubuh dengan cara vasokonstriksi pembuluh darah. Jika dengan cara di atas suhu darah di dalam otak tidak cukup untuk menyesuaikan dengan pengaturan baru yang ada di hipotalamus, maka tubuh akan menggigil dalam rangka untuk memproduksi panas lebih banyak lagi. Ketika demam berhenti dan pusat pengaturan suhu di hipotalamus disetel lebih rendah, maka berlaku proses sebaliknya dimana pembuluh darah akan bervasodilatasi sehingga banyak dikeluarkan keringat. Panas badan selanjutnya dilepas bersama dengan penguapan keringat. Pada hipertermia, pusat pengaturan suhu dalam batas normal yang berarti bahwa tidak ada upaya hipotalamus untuk meningkatkan suhu tubuh. Akan tetapi, tubuh kelebihan panas akibat dari retensi dan produksi panas yang tidak diinginkan.
Penyebab dari suhu tubuh meningkat tergantung dari jenisnya. Pada demam, penyebab yang paling sering adalah infeksi bakteri atau virus seperti influenza, pilek, HIV, malaria, gastroenteritis; berbagai radang kulit seperti borok, jerawat, abses; penyakit-penyakit imunologi seperti lupus eritematosus, sarkoidosis; kerusakan jaringan yang dapat terjadi pada pembedahan, hemolisis, perdarahan serebral; obat-obatan baik secara langsung seperti obat-obat progesteron, kemoterapi atau sebagai efek samping obat seperti obat antibiotik, atau akibat penghentian obat seperti pada orang yang ketagihan heroin; kanker seperti penyakit hodgkin; penyakit metabolik seperti gout, forforia; serta proses tromboemboli seperti emboli paru dan trombosis vena dalam (DVT).
Sementara itu, pada hipertermia peningkatan suhu tubuh disebabkan karena paparan panas lingkungan (heat stroke), obat-obatan, dan pemakaian alat proteksi diri. Heat stroke dapat terjadi akibat dari regangan fisik pada hari yang sangat panas. Minum terlalu sedikit, minum alkohol dan kondisi AC yang kurang juga dapat menyebabkan Heat stroke. Penyebab Heat stroke lainnya adalah medikasi, yaitu obat-obat yang dapat mengurangi vasodilatasi, keringat dan mekanisme-mekanisme kehilangan panas lainnya seperti obat-obat antikolinergi, antihistamin dan deuretik.
Hipertermia juga dapat disebabkan karena obat-obat yang menyebabkan produksi panas internal berlebihan. Berbagai macam medikasi psikotropik seperti selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), monoamine oxidase inhibitors (MAOIs), dan tricyclic antidepressants. Berbagai obat terlarang seperti amfetamin, kokain, PCP, LSD dan MDMA dapat menyebabkan hipertermia sebagai efek samping. Obat-obat anestesi seperti halotane atau reaksi terhadap obat paralitik (succinylcholine) dapat menyebabkan hipertermia malignan yaitu satu hipertermia yang jarang terjadi akibat kondisi genetik tapi dapat berakibat fatal.
Pemakaian alat proteksi diri pada pekerja industri, personel militer dan petugas pertolongan pertama juga dapat menyebabkan hipertermi. Pada kondisi tersebut, hipertermi terjadi karena penguapan yang terganggu serta meningkatnya tahanan panas di dalam alat proteksi diri. Pengaturan termoregulasi yang normal (berkeringat) pada saat mereka menjalankan aktivitasnya menjadi tidak efektif karena pada waktu yang sama mereka terus melakukan aktivitas fisik. Kondisi ini diperparah dengan peningkatan lama waktu bekerja, peningkatan suhu dan kadar kelembaban lingkungan serta paparan langsung dengan sinar matahari.
Penyebab lain hipertermi tetapi sangat jarang adalah tirotoksikosis, dan adanya tumor kelenjar adrenal yang disebut pheochromocytoma, keduanya dapat menyebabkan produksi panas. Kerusakan sistem saraf pusat seperti pendarahan otak, status epileptikus dan berbagai kerusakan hiotalamus juga dapat menyebabkan hipertermi.
Akibat suhu tubuh meningkat, seseorang akan mengalami kelesuhan (lethargy), mengantuk, dan depresi. Bisa juga timbul kebingungan, rasa bermusuhan atau gejala intoksikasi. Apabila terjadi dehidrasi dapat menyebabkan mual, muntah, pusing kepala dan tekanan darah menurun. Hal ini berakibat pusing atau bahkan pingsan. Dapat juga ditemukan takikardia dan takipneu. Pada anak-anak sering mengalami kejang. Pada akhirnya organ tubuh dapat gagal sehingga berakibat tidak sadar bahkan kematian
Terlepas dari dampak yang ditimbulkan, peningkatan suhu tubuh sesungguhnya bermanfaat bagi pertahanan tubuh manusia terutama bila diketahui bahwa penyebab dari peningkatan suhu tubuh adalah infeksi. Meskipun masih kontroversial, ada keyakinan bahwa suhu dapat mempercepat reaksi immunologis sehingga akan menghambat beberapa kuman patogen. Disamping itu, suhu yang tinggi juga menyebabkan lingkungan yang tidak kondusif bagi kuman. Sel darah putih juga berproliferasi lebih cepat sehingga membantu melawan kuman-kuman patogen dan mikroba yang masuk ke dalam tubuh.
Peningkatan suhu tubuh karena demam, tidak harus ditangani. Demam sebenarnya merupakan sinyal penting yang mengindikasikan bahwa di dalam tubuh ada masalah, apalagi bila disebabkan karena infeksi. Namun bila suhu terus meningkat (di atas 42 °C), kerusakan sel dapat terjadi. Pada kondisi demikian, suhu tubuh harus diturunkan untuk mencegah terjadinya penurunan kesadaran atau kematian.
Untuk mencegah terjadinya kondisi yang membahayakan akibat suhu tubuh yang tinggi perlu diperhatikan faktor penyebabnya. Bila penyebabnya infeksi, penggunaan antibiotik akan sangat efektif untuk menurunkan suhu tubuh. Bila penyebabnya obat, pemberian harus dihentikan dan perlu diberikan obat lain yang memiliki aksi berlawanan.
Disamping mengatasi faktor penyebab, prinsip-prinsip pelepasan kelebihan panas tubuh melalui mekanisme konduksi, konveksi, radiasi, atau evaporasi perlu dilakukan. Pada lingkungan yang panas, tindakan pendinginan pasif seperti istirahat ditempat yang teduh dan sejuk dapat mengurangi panas tubuh. Demikain juga penggunaan AC dapat sangat membantu. Tindakan pendinginan aktif seperti melakukan kompres dingin di beberapa bagian tubuh seperti dahi, leher, dan ketiak juga dapat memperbaiki suhu tubuh ke rentang normal. Banyak minum dan menghidupkan kipas angin atau AC kering dapat mengefektifkan evaporasi keringat. Berendam air hangat (tepid water) atau air dingin (cool water) dapat membuang panas dengan segera. Tapi jangan menggunakan air yang sangat dingin (cold water) karena justeru menyebabkan vasokonstriksi di kulit yang justeru menghambat pembuangan panas.
Untuk medikasi, antipiretik ibuprofen cukup efektif dalam mengurangi demam pada anak-anak. Obat ini lebih efektif dibanding dengan parasetamol (asetaminofen) maupun aspirin. Oleh karena itu kedua obat ini tidak dianjurkan sebagai antipiretik pada anak-anak atau para remaja, terlebih keduanya berhubungan dengan Reye’s Syndroma yang dapat menyebabkan kerusakan otak dan hati, dan bahkan kematian. (abi/asa).



































