30 September 2016

Jum'at Sehat

Pagi ini, seperti biasanya kampus 2 Polkesma melaksanakan senam pagi setiap hari jumat. Senam pagi digalakkan agar civitas akademika kampus 2 selalu dalam kondisi sehat sehingga bisa melaksanakan tugas dan fungsinya. Senam diikuti oleh seluruh dosen, karyawan dan mahasiswa baik dari prodi D-III maupun D-IV Keperawatan Lawang. 

Menurut Angger, mahasiswa D-IV Keperawatan Lawang, senam tiap jumat pagi ini membuat tubuhnya segar dan bugar. Sementara itu Pak Albertus, seorang dosen senior di kampus 2 menyatakan bahwa senamnya masih kurang lama. Padahal senam dilakukan selama kurang lebih 1 jam. Pada usianya yang sudah 65 tahun, memang pak Albertus masih terlihat cukup bersemangat, wajar kalau beliau mengatakan demikian. 

29 September 2016

Pengaruh Terapi Kognitif Perilaku terhadap Nyeri pada Pasien yang Menjalani Hemodialisa di RS Bahman 22 Nishapur

Latar Belakang: disebabkan insiden gagal ginjal dan pengenalan nyeri sebagai satu masalah pada pasien hemodiaisis, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh terapi kognitif perilaku dalam mengurangi nyeri. Metode: Penelitian ini adalah penelitian semi eksperimen (pre test dan post test dengan kelompok kontrol). 30 orang laki-laki dipilih sebagai partisipan dari 145 pasien yang menjalani hemodialisa di RS Bahman 22 di kota Nishapur. Mereka mempunyai nyeri kronis yang diketahui dengan kuessioner nyeri William and Thorne dan dipilih secara acak dan dibagi secara acak pula ke dalam kelompok kontrol (n=15) dan kelompok perlakuan (n=15). Hasil: Menunjukkan bahwa terapi kognitif perilaku tidak memilliki pengaruh signifikan terhadap pengurangan rasa nyeri pada pasien yang menjalani hemodialisa dibandingkan kelompok kontrol (p < 0,05). Temuan: hasil menunjukkan bahwa terapi kognitif perilaku tidak efektif dalam mengurangi nyeri pada pasien yang menjalani hemodialisis. Di sisi lain, terapi kognitif perilaku kelompok untuk peredaan nyeri pada pasien yang menjalani hemodialisa tidak bekerja disebabkan karakter demografi (p < 0,05).

Sumber: Sharifnezhad, Ahmad, et al. "The impact of cognitive--behavioral therapy on pain in patients undergoing hemodialysis in 22nd of Bahman hospital in Nishapur." Advances in Environmental Biology (2014): 23+. InfoTrac Custom 250 Titles. Web. 29 Sept. 2016.

Telusur Jurnal Internasional Melalui Web Polkesma

Setelah beberapa hari yang lalu admin memposting cara menjadi anggota PNRI agar bisa mengakses jurnal atau ebook internasional, kali ini admin akan membagi cara menelusur Jurnal Internasional melalui web Polkesma. Ternyata Polkesma sudah melanggan jurnal Internasional lho... yuk ikuti langkah-langkah berikut. 

28 September 2016

Pembinaan Asrama Kampus 2


Dalam rangka mencapai visi institusi yaitu menjadi Program Studi D-III Keperawatan yang unggul dan berkarakter tahun 2019, maka Program Studi D-III Keperawatan Lawang melalui penanggung jawab asrama kampus 2 mengadakan kegiatan pembinaan bagi penghuni asrama. Pembinaan asrama yg dikemas dalam bentuk pembinaan rohani ini diharapkan mampu membingkai perilaku bagi yang tinggal di asrama untuk selalu berbuat baik sehingga menciptakan iklim yang kondusif untuk belajar dan dapat beradaptasi dengan lingkungan baru. Hal ini mengingat penghuni asrama adalah mahasiswa baru, mahasiswa tingkat satu yang baru lulus dari SMA. 

27 September 2016

Suasana Kuliah di Prodi D-III Keperawatan Lawang

Kuliah KMB I bagi tingkat II-A di kelas E siang ini luar biasa. Arief Bachtiar (42), tim Dosen KMB Prodi D-III Keperawatan Lawang mengawali kuliah dengan salam seperti biasa, dan langsung dijawab oleh mahasiswa dengan teriakan yang kompak "semangat". Sebuah jawaban yang menunjukkan dinamika dari kelas ini yang memang luar biasa. Setelah beberapa kata pembuka meluncur, kelas dilanjutkan dengan materi motivasi dengan tema Potensi Diri. Dalam motivasinya Arief membandingkan seekor leopard dengan seekor kijang, mana yang lebih kuat? Pertanyaan yang sangat mudah ini dijawab dengan mudah oleh 3 orang mahasiswa sisilia, diah dan mita, bahwa leopard tentu lebih kuat dibandingkan dengan seekor kijang. Jawaban mereka yang konsisten hingga akhir slide mengundang kekaguman, sebab pertanyaan yang sama dijawab di kelas lain dengan jawaban yang bervariasi dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Inti dari cerita leopard vs kijang ini adalah bahwa secara natural memang leopard lebih kuat sehingga akan memangsa kijang, namun dalam kondisi tertentu kijang bisa berlepas diri dari terkaman leopard.

26 September 2016

Relaksasi Pernafasan Memperbaiki Respon Glukosa Darah Manusia

Tujuan : Penelitian ini mengevaluasi latihan relaksasi pernafasan untuk perbaikan akut status glukosa darah dan insulin post prandial. Desain : Subyek manusia sehat diacak sebagai kelompok kontrol (n=13), atau latihan relaksasi pernafasan (n=13) yang diulang setiap 10 menit untuk 30 menit sebelum dan 90 menit sesudah mengkonsumsi glucose challenge (tes toleransi glukosa oral; TTGO; 75 g/240 mL). Sampel darah diambil sebelum dan 30, 60 dan 90 menit paska TTGO untuk analisis glukosa dan insulin. Hasil : Glukosa Darah pada 0 menit (pre TTGO), 30, 60, dan 90 menit paska TTGO pada kelompok perlakuan (relaksasi pernafasan) adalah 93.7±1.9, 136.5±8.1, 165.7±8.1,dan 130.2±6.9 mg/dL, sedangkan kelompok kontrol 97.1±2.4, 173.1±8.4, 158.7±11.1, dan 137.1±10.1. Glukosa darah pada kelompok perlakuan signifikan lebih rendah pada 30 menit dibanding kelompok kontrol. Area glukosa dibawa kurva untuk kelompok perlakuan dan kontrol tidak berbeda secara signifikan. Plasma insulin untuk kedua kelompok meningkat secara signifikan dari garis dasar pada menit 30, 60, dan 90. Nilai insulin untuk kelompok perlakuan cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol pada menit ke 30 dan 60, namun perbedaan tidak signifikan secara statistik. Area insulin dibawah kurva untuk kedua kelompok tidak berbeda secara signifikan. Kesimpulan : Relaksasi pernafasan secara akut memperbaiki respon glukosa darah subyek yang sehat, dan pola pernafasan menjadi penting untuk interpretasi pengukuran indeks glukosa darah.

SumberJournal of Alternative & Complementary Medicine. Jul2013, Vol. 19 Issue 7, p633-636. 4p.

25 September 2016

Pengaruh Relaksasi Otot Progresif dan Latihan Nafas Dalam terhadap Tekanan Darah Selama Kehamilan

Latar Belakang : Gangguan hipertensi pada kehamilan adalah penyebab utama mortalitas ibu dan anak. Namun mereka tidak memiliki penatalaksanaan pasti yang efektif. Peneliti ingin mengungkap efek relaksasi otot progresif dan teknik nafas dalam terhadap tekanan darah selama kehamilan. Materi dan metode : tiga kelompok percobaan klinik dilakukan di pusat kesehatan Manshhad dan rumah sakit pemerintah. 60 wanita hamil (setelah 20 minggu usia kehamilan) dengan TD sistolik ≥ 135 mmHg atau TD diastolik ≥ 85 mmHg dibagi dalam tiga kelompok. Relaksasi otot progresif dan latihan nafas dalam dilakukan kepada dua kelompok penelitian sekali seminggu selama 4 minggu melalui instruksi yang diberikan pada CD. TD diperiksa sebelum dan setelah intervensi. TD diukur sebelum dan setelah subyek menunggu 15 menit tanpa intervensi khusus apapun pada kelompok kontrol. Hasil : setelah 4 minggu intervensi, TD sistolik kelompok perlakuan pertama rata-rata turun dari 131.3 menjadi 117,2 mmHg, nilai P = 0,001 sedangkan kelompok kedua turun dari 131,05 menjadi 120,5 mmHg, nilai P = 0,004. Pada TD diastolik turun dari rata-rata 79.2 menjadi 72.3, P = 0.001 pada kelompok pertama dan turun dari dan 80.1 menjadi 76.5, P = 0.047 pada kelompok kedua. TD pada kelompok kontrol meskipun turun, namun secara statistik tidak signifikan. Kesimpulan : Intervensi efektif dalam menurunkan TD sistolik dan diastolik pada dua kelompok hingga batas normal setelah 4 minggu. Pengaruh kedua intervensi lebih nampak pada TD sistolik dibandingkan TD diastolik. 

Sumber : Iranian Journal of Nursing & Midwifery Research. May/Jun2016, Vol. 21 Issue 3, p331-336. 6p.

24 September 2016

Persiapan Ukom D-III Keperawatan 2016

Dalam rangka menghadapi ujian kompetensi nasional bagi lulusan D-III Keperawatan tanggal 8 Oktober 2016, maka bersama ini kami sampaikan bahwa manajemen Prodi D-III Keperawatan Lawang akan mengadakan pembekalan dan bimbingan Ujian kompetensi. Adapun pembekalan dan bimbingan akan dilaksanakan pada hari sabtu, tanggal 1 oktober 2016 bertempat di kampus 2 Poltekkes Kemenkes Malang pkl. 09.00 WIB sd selesai. 

Kepada lulusan Prodi D-III Keperawatan Lawang yang ingin mengikuti dimohon untuk mendaftar kepada sdri Novi Susanti, Amd.Kep No HP. 0857 9096 9011.

Demikian pengumuman ini, agar dapat disebar luaskan. Tks

23 September 2016

Cara Menjadi Anggota Perpustakaan Nasional RI Online

Seringkali dosen dan mahasiswa mengeluhkan kekurangan referensi saat menyusun sebuah karya ilmiah. Tidak jarang mereka menggunakan buku-buku yang diterbitkan lebih dari 10 tahun sebagai sumber referensi mereka. Wal hasil karya ilmiah mereka menjadi kurang berbobot dan ketinggalan zaman. 

Pada era sekarang, kebutuhan akan sumber-sumber referensi menjadi sangat penting bagi seorang akademisi. Oleh karena itu, perguruan tinggi seolah berlomba di dalam melanggan jurnal-jurnal ilmiah internasional. Hampir semua perguruan tinggi baik negeri maupun swasta, yang sudah sangat terkenal maupun tidak sudah pula melanggan internasional. 

22 September 2016

Angkat Sumpah Ahli Madya Keperawatan

Setelah menjalani wisuda bersama di GOR Kenarok pada tanggal 14 September 2016 yang lalu, hari ini Lulusan Program Studi D-III Keperawatan Lawang Poltekkes Kemenkes Malang tahun 2016 diambil sumpahnya sebagai Ahli Madya Keperawatan. Acara ini dihadiri oleh 68 lulusan, terdiri dari 65 mahasiswa beragama Islam, 2 mahasiswa beragama Kristen Protestan dan 1 mahasiswa beragama Katholik.

21 September 2016

Manajemen - Penanganan Korban Bencana

Artikel ini diambil dari tulisan dr. Syaiful Saanin, SpBS. Artikel yang sangat ringkas namun padat dan lengkap tentang penanganan korban bencana dan tindakan-tindakan pada pasien gawat darurat. Sangat cocok digunakan sebagai bacaan bagi mahasiswa keperawatan atau profesi kesehatan yang lain atau bagi praktisi di bidang emergensi dan bencana. Berikut artikelnya :

20 September 2016

Manusia Langit

Di Yaman, tingggalah seorang pemuda bernama Uwais Al Qorni yang berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang sholeh dan sangat berbakti kepada ibunya. Ibunya adalah seorang tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan. 

"Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji," pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.

Manajemen Suhu Tubuh

Image by Freepik


Salah satu keluhan yang sering terjadi pada orang yang sakit adalah badan teraba panas. Bila badan teraba panas, dapat dipastikan bahwa suhu tubuhnya meningkat di atas normal. Suhu tubuh normal berkisar antara 36,5 – 37,5 °C tergantung dari usia seseorang. Semakin dewasa umur seseorang semakin rendah suhu normal tubuhnya.

Pada beberapa kondisi, peningkatan suhu tubuh menyebabkan kecemasan. Pada anak, peningkatan suhu tubuh seringkali menyebabkan kecemasan orang tua. Mereka menganggap peningkatan suhu tubuh sebagai penyakit serius, terlebih lagi bila panas badan yang terlalu tinggi disertai kejang-kejang.

Secara umum suhu tubuh manusia berkisar 36,5 – 37,5 °C. Gangguan suhu tubuh dapat diklasifikasikan menjadi hipotermia (<35 °C), demam (>37.5–38.3 °C), hipertermia (>37.5–38.3 °C), dan hiperpireksia (>40 –41,5 °C). Ditilik dari tingginya suhu, pada demam dan hipertermia memiliki nilai rentang suhu yang sama yaitu berkisar antara > 37.5-38.3 °C. Yang membedakan antara keduanya adalah mekanisme terjadinya. Pada demam, peningkatan suhu tubuh disebabkan oleh peningkatan titik pengaturan suhu (set point) di hipotalamus. Sementara, pada hipertermia titik pengaturan suhu dalam batas normal.

Demam memiliki pola tertentu yang mengindikasikan suatu penyakit. Demam terus-menerus (Continuous fever) memiliki pola suhu tetap di atas normal sepanjang hari dan tidak terjadi fluktuasi lebih dari 1 °C dalam 24 jam. Demam ini sering terjadi pada penyakit pneumonia lobaris, infeksi saluran kemih, atau brucellosis. Apabila fluktuasi suhu lebih dari 1 °C dalam 24 jam disebut dengan demam remitten. Demam intermitten mempunyai pola peningkatan suhu hanya terjadi pada satu periode tertentu dan siklus berikutnya kembali normal. Contohnya demam pada malaria atau septikemia.

Pada demam, peningkatan suhu tubuh dipicu oleh zat pirogen yang menyebabkan pelepasan prostaglandin E2 (PGE2) yang pada gilirannya memicu respon balik sistemik keseluruh tubuh menyebabkan efek terciptanya panas guna menyesuaikan dengan tingkat suhu yang baru. Jadi pusat pengatur suhu yang letaknya di hipotalamus sesungguhnya seperti termostat. Jika titik pengatur dinaikkan, maka tubuh menaikkan suhu dengan cara memproduksi panas dan menahannya di dalam tubuh. Panas ditahan dalam tubuh dengan cara vasokonstriksi pembuluh darah. Jika dengan cara di atas suhu darah di dalam otak tidak cukup untuk menyesuaikan dengan pengaturan baru yang ada di hipotalamus, maka tubuh akan menggigil dalam rangka untuk memproduksi panas lebih banyak lagi. Ketika demam berhenti dan pusat pengaturan suhu di hipotalamus disetel lebih rendah, maka berlaku proses sebaliknya dimana pembuluh darah akan bervasodilatasi sehingga banyak dikeluarkan keringat. Panas badan selanjutnya dilepas bersama dengan penguapan keringat. Pada hipertermia, pusat pengaturan suhu dalam batas normal yang berarti bahwa tidak ada upaya hipotalamus untuk meningkatkan suhu tubuh. Akan tetapi, tubuh kelebihan panas akibat dari retensi dan produksi panas yang tidak diinginkan.

Penyebab dari suhu tubuh meningkat tergantung dari jenisnya. Pada demam, penyebab yang paling sering adalah infeksi bakteri atau virus seperti influenza, pilek, HIV, malaria, gastroenteritis; berbagai radang kulit seperti borok, jerawat, abses; penyakit-penyakit imunologi seperti lupus eritematosus, sarkoidosis; kerusakan jaringan yang dapat terjadi pada pembedahan, hemolisis, perdarahan serebral; obat-obatan baik secara langsung seperti obat-obat progesteron, kemoterapi atau sebagai efek samping obat seperti obat antibiotik, atau akibat penghentian obat seperti pada orang yang ketagihan heroin; kanker seperti penyakit hodgkin; penyakit metabolik seperti gout, forforia; serta proses tromboemboli seperti emboli paru dan trombosis vena dalam (DVT).

Sementara itu, pada hipertermia peningkatan suhu tubuh disebabkan karena paparan panas lingkungan (heat stroke), obat-obatan, dan pemakaian alat proteksi diri. Heat stroke dapat terjadi akibat dari regangan fisik pada hari yang sangat panas. Minum terlalu sedikit, minum alkohol dan kondisi AC yang kurang juga dapat menyebabkan Heat stroke. Penyebab Heat stroke lainnya adalah medikasi, yaitu obat-obat yang dapat mengurangi vasodilatasi, keringat dan mekanisme-mekanisme kehilangan panas lainnya seperti obat-obat antikolinergi, antihistamin dan deuretik.

Hipertermia juga dapat disebabkan karena obat-obat yang menyebabkan produksi panas internal berlebihan. Berbagai macam medikasi psikotropik seperti selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), monoamine oxidase inhibitors (MAOIs), dan tricyclic antidepressants. Berbagai obat terlarang seperti amfetamin, kokain, PCP, LSD dan MDMA dapat menyebabkan hipertermia sebagai efek samping. Obat-obat anestesi seperti halotane atau reaksi terhadap obat paralitik (succinylcholine) dapat menyebabkan hipertermia malignan yaitu satu hipertermia yang jarang terjadi akibat kondisi genetik tapi dapat berakibat fatal.

Pemakaian alat proteksi diri pada pekerja industri, personel militer dan petugas pertolongan pertama juga dapat menyebabkan hipertermi. Pada kondisi tersebut, hipertermi terjadi karena penguapan yang terganggu serta meningkatnya tahanan panas di dalam alat proteksi diri. Pengaturan termoregulasi yang normal (berkeringat) pada saat mereka menjalankan aktivitasnya menjadi tidak efektif karena pada waktu yang sama mereka terus melakukan aktivitas fisik. Kondisi ini diperparah dengan peningkatan lama waktu bekerja, peningkatan suhu dan kadar kelembaban lingkungan serta paparan langsung dengan sinar matahari.

Penyebab lain hipertermi tetapi sangat jarang adalah tirotoksikosis, dan adanya tumor kelenjar adrenal yang disebut pheochromocytoma, keduanya dapat menyebabkan produksi panas. Kerusakan sistem saraf pusat seperti pendarahan otak, status epileptikus dan berbagai kerusakan hiotalamus juga dapat menyebabkan hipertermi.

Akibat suhu tubuh meningkat, seseorang akan mengalami kelesuhan (lethargy), mengantuk, dan depresi. Bisa juga timbul kebingungan, rasa bermusuhan atau gejala intoksikasi. Apabila terjadi dehidrasi dapat menyebabkan mual, muntah, pusing kepala dan tekanan darah menurun. Hal ini berakibat pusing atau bahkan pingsan. Dapat juga ditemukan takikardia dan takipneu. Pada anak-anak sering mengalami kejang. Pada akhirnya organ tubuh dapat gagal sehingga berakibat tidak sadar bahkan kematian

Terlepas dari dampak yang ditimbulkan, peningkatan suhu tubuh sesungguhnya bermanfaat bagi pertahanan tubuh manusia terutama bila diketahui bahwa penyebab dari peningkatan suhu tubuh adalah infeksi. Meskipun masih kontroversial, ada keyakinan bahwa suhu dapat mempercepat reaksi immunologis sehingga akan menghambat beberapa kuman patogen. Disamping itu, suhu yang tinggi juga menyebabkan lingkungan yang tidak kondusif bagi kuman. Sel darah putih juga berproliferasi lebih cepat sehingga membantu melawan kuman-kuman patogen dan mikroba yang masuk ke dalam tubuh.

Peningkatan suhu tubuh karena demam, tidak harus ditangani. Demam sebenarnya merupakan sinyal penting yang mengindikasikan bahwa di dalam tubuh ada masalah, apalagi bila disebabkan karena infeksi. Namun bila suhu terus meningkat (di atas 42 °C), kerusakan sel dapat terjadi. Pada kondisi demikian, suhu tubuh harus diturunkan untuk mencegah terjadinya penurunan kesadaran atau kematian.

Untuk mencegah terjadinya kondisi yang membahayakan akibat suhu tubuh yang tinggi perlu diperhatikan faktor penyebabnya. Bila penyebabnya infeksi, penggunaan antibiotik akan sangat efektif untuk menurunkan suhu tubuh. Bila penyebabnya obat, pemberian harus dihentikan dan perlu diberikan obat lain yang memiliki aksi berlawanan.

Disamping mengatasi faktor penyebab, prinsip-prinsip pelepasan kelebihan panas tubuh melalui mekanisme konduksi, konveksi, radiasi, atau evaporasi perlu dilakukan. Pada lingkungan yang panas, tindakan pendinginan pasif seperti istirahat ditempat yang teduh dan sejuk dapat mengurangi panas tubuh. Demikain juga penggunaan AC dapat sangat membantu. Tindakan pendinginan aktif seperti melakukan kompres dingin di beberapa bagian tubuh seperti dahi, leher, dan ketiak juga dapat memperbaiki suhu tubuh ke rentang normal. Banyak minum dan menghidupkan kipas angin atau AC kering dapat mengefektifkan evaporasi keringat. Berendam air hangat (tepid water) atau air dingin (cool water) dapat membuang panas dengan segera. Tapi jangan menggunakan air yang sangat dingin (cold water) karena justeru menyebabkan vasokonstriksi di kulit yang justeru menghambat pembuangan panas.

Untuk medikasi, antipiretik ibuprofen cukup efektif dalam mengurangi demam pada anak-anak. Obat ini lebih efektif dibanding dengan parasetamol (asetaminofen) maupun aspirin. Oleh karena itu kedua obat ini tidak dianjurkan sebagai antipiretik pada anak-anak atau para remaja, terlebih keduanya berhubungan dengan Reye’s Syndroma yang dapat menyebabkan kerusakan otak dan hati, dan bahkan kematian. (abi/asa).

Kesabaran dan Kekuatan Doa

Di Madinah ada seorang wanita cantik shalihah lagi bertakwa. Bila malam mulai merayap menuju tengahnya, ia senantiasa bangkit dari tidurnya untuk shalat malam dan bermunajat kepada Allah. Tidak peduli waktu itu musim panas ataupun musim dingin, karena disitulah letak KEBAHAGIAAN dan KETENTRAMANNYA. Yakni pada saat dia khusyu’ berdoa, merendah diri kepada sang Pencipta, dan berpasrah akan hidup dan matinya hanya kepada-Nya. Dia juga amat rajin berpuasa, meski sedang bepergian. Wajahnya yang cantik makin bersinar oleh cahaya iman dan ketulusan hatinya.

14 September 2016

Wisuda Poltekkes Kemenkes Malang (Polkesma),Tahun 2016



Hari ini Senat Poltekkes Kemenkes Malang menyelenggarakan Sidang terbuka dengan agenda Wisuda Ahli Madya dan Sarjana Terapan Kesehatan tahun 2016. Wisuda diselenggarakan di gedung GOR Ken Arok jl. Mayjen Sungkono No. 63 Kota Malang. Wisuda diikuti oleh Lulusan program studi D III dan D IV dari 4 jurusan yaitu jurusan gizi, kebidanan, keperawatan dan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan (PMIK).

13 September 2016

Seminar dan Workshop Keperawatan Emergensi

Bagi perawat UGD/IGD atau mahasiswa keperawatan, seminar ini sangat penting untuk diikuti. Seminar ini akan memberikan update penatalaksanaan kegawatan jantung berdasarkan guideline AHA (American Heart Association) terbaru tahun 2015. 

Topik yang diangkat dalam seminar meliputi penatalaksanaan henti jantung, aritmia lethal, penggunaan AED, dan aspek legal keperawatan emergensi. Sedangkan materi workshop tidak kalah menariknya yaitu update skill primary survey : Airway and breathing, management & mega code BLS + AED guideline 2015.

Preoperative Teaching

Pendidikan preoperatif sangat penting bagi kesiapan klien yang akan menjalani tindakan bedah. Semakin siap pasien menghadapi operasi semakin baik bagi keberhasilan dan perawatan pasien paska bedah. Pendidikan preoperatif membantu klien mulai dari menyiapkan fisik, psikologis, emosional dan spiritual. Berikut adalah beberapa SOP tindakan preoperatif klik disini

12 September 2016

Lulusan Fakultas Kedokteran Swasta Ada yang Nggak Bisa Nyuntik

SURABAYA - Jumlah fakultas kedokteran (FK) di kampus-kampus swasta di Jawa Timur terus meningkat. Daya serapnya juga meningkat. Hal itu menjadi perhatian Dinas Kesehatan Jawa Timur. Di satu sisi, hal itu bisa menjadi solusi pemenuhan kekurangan tenaga kesehatan di daerah. Namun, faktanya, tidak sedikit lulusan FK yang kompetensinya rendah.

Jadwal Supervisi mahasiswa PK KMB II 2016

Praktek Klinik KMB II adalah kegiatan praktek mahasiswa di tatanan nyata pelayanan kesehatan. Kegiatan mahasiswa melaksanakan Asuhan Keperawatan kepada klien baik secara individu maupun kelompok baik bersifat akut maupun kronik. Asuhan Keperawatan dilaksanakan dengan menggunakan metode penyelesaian masalah secara ilmiah (scientific Problem Solving), berlandaskan ilmu dan teknologi keperawatan maju secara tepat guna, serta menggunakan ketrampilan profesional keperawatan yang mencakup ketrampilan intelektual, tehnikal dan interpersonal yang dilandasi etika profesi keperawatan.

Qurban Kampus 2 In Action

Sebagaimana umat Islam pada umumnya, setelah menunaikan sholat idul adha warga muslim kampus 2 Poltekkes Kemenkes Malang terutama yang tinggal di lingkungan asrama melaksanakan penyembelihan hewan qurban. Menurut ketua pelaksana panitia qurban, Indrawan (mahasiswa tingkat 2b program studi D3 Keperawatan Lawang) hewan qurban tahun ini berjumlah 7 ekor kambing, meningkat 3 ekor jika dibandingkan tahun lalu. 7 ekor tersebut berasal dari dosen 2 orang dan 5 ekor dari mahasiswa. 

11 September 2016

Khutbah Idul Adha 1437 H


Ikutilah Sholat Idul Adha 1437 H pada tanggal 10 Dzulhijjah 1437 H (12 September 2016) di Lapangan Asrama Kampus 2 Poltekkes Malang (Prodi Keperawatan Lawang) dengan Imam dan Khotib : Arief Bachtiar, S.Kep., Ns, M.Kep, Mulai 05.30 s/d Selesai. Berikut Isi Khutbah dengan Tema "Kisah Teladan Nabi Ibrahim AS" yang akan disampaikan pada khutbah Idul adha 1437 H,

Renungan Arafah



Subhanallaah ... Gambar ini tidak hanya tentang berjuta-juta manusia yg sedang melaksanakan rukun haji, dan merupakan puncak dari kegiatan haji yg dilakukan yaitu wukuf di Arafah, tapi juga mengingatkan kita akan hari saat kita dibangkitkan kembali dan di padang Mahsyar. Hari saat manusia pertama Nabi Adam alaihissalam hingga manusia terakhir yg dilahirkan dikumpulkan Dan akan memberikan pertanggungjwabannya di hadapan Allah Subhanallohu wata'ala atas kehidupannya di dunia .

Latihan Nafas Dalam


Bagi seorang perawat perioperatif, salah satu tindakan yang sering dilakukan pada masa preoperatif adalah latihan nafas dalam. Latihan nafas dalam adalah serangkaian aktifitas latihan otot-otot pernapasan terutama diafragma dan otot perut. Otot diafragma adalah otot utama pernafasan yang berada di antara rongga torak dan rongga abdomen. Tujuan dilakukannya tindakan nafas dalam adalah untuk: